
Satu minggu telah berlalu. Dua hari setelah Meca berjumpa dengan Bimo,Ia pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah lamanya.
Meca merasa jika rencananya telah berhasil untuk membuat Bimo melupakannya,maka dari itu Ia memutuskan kembali ke rumah lamanya.
Walaupun hatinya masih terasa sakit setelah pertemuannya dengan Bimo itu,tetapi Meca berusaha untuk menguatkan hatinya karena memang dirinyalah yang membuat hubungannya dengan Bimo memburuk.
Meca tak menyangka jika hubungannya dengan Bimo akan berakhir secepat ini.
Padahal diantara Meca dan Bimo masih saling mencintai satu sama lain.
Hanya saja,mereka tak kuat untuk menerima masalah yang datang menyela di saat mereka sudah saling mencintai.
Sebenarnya Bimo mampu menghadapi semua masalah itu bersama Meca,tetapi sayang Meca tak bisa menyetujui jika harus menghadapi masalah bersama.
Meca tak ingin kehidupannya menjadi terganggu jika tetap bersikukuh menghadapi masalah yang mungkin cukup susah untuk menyelesaikannya dan satu hal lagi,Meca tak mau menyusahkan Bimo dengan masalah itu. Maka dari itu,Meca memilih untuk mundur sebelum masalah semakin membesar.
******
Seperti biasa,pada siang hari ini Meca langsung berangkat ke kampus setelah beberapa minggu meminta cuti.
Setelah berberes di rumah lamanya, Meca pun segera berangkat ke kampus.
Setelah beberapa menit di perjalanan,akhirnya Meca telah sampai di depan kampus.
Sesampainya Meca di depan kampusnya,Ia dibuat penasaran dengan sekumpulan orang,khususnya perempuan sedang ada di tempat parkir.
Mereka semua berkerumun di salah satu mobil yang terparkir.
Setelah Meca lihat dengan jelas,ternyata mobil yang dikerumuni para perempuan itu adalah mobil Bimo.
Meca masih kenal betul dengan mobil Bimo. Karena Ia juga sering naik mobil Bimo tersebut.
Tetapi,mengapa para perempuan itu berkerumun di samping mobil Bimo?
Itulah pertanyaan yang Meca pikirkan di otaknya.
Karena sudah penasaran,Meca mencoba mendekati kerumunan itu untuk mengetahui apa yang terjadi.
Saat Meca baru melangkahkan kakinya,Ia melihat Bimo berjalan menuju mobilnya dengan membawa koper di tangan kanannya.
Meca pun memilih untuk mengurungkan niatnya untuk menghampiri para perempuan itu dan memilih untuk melihat apa yang terjadi dari tempat sekarang Ia berdiri.
Setelah Bimo sampai di depan mobilnya,para perempuan tadi langsung menghampirinya lalu bertanya kepada Bimo seraya berkata " Bimo,kamu mau pergi kemana?"
Itulah pertanyaan yang terdengar di telinga Meca. Memang cukup nyaring,apalagi para perempuan itu berteriak hampir bersamaan dengan menanyakan pertanyaan yang sama.
Tetapi,pertanyaan mereka tak kunjung juga dijawab oleh Bimo.
Bimo malah langsung berjalan menerobos kerumunan wanita itu dan berusaha masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Meca masih berdiri di tempatnya sambil memandang Bimo dari kejauhan. Setelah Meca melihat kejadian itu,Ia baru sadar apa yang telah terjadi. Ternyata,para perempuan tadi berkerumun karena ingin tahu kemana Bimo akan pergi. Wajar saja,jika para perempuan itu sangat kepo tentang Bimo. Secara Bimo adalah laki-laki idaman di kampus yang Meca tempati ini.
Pertama kali berjumpa dengan Bimo pun,Meca juga melihat banyak perempuan yang mendekati Bimo.
Tetapi,tak hanya para perempuan itu saja yang penasaran dengan kepergian Bimo.
Meca pun juga merasa kepo kemana kira-kira Bimo pergi sampai membawa koper segala.
Tiba-tiba Meca teringat jika,Bimo pernah berkata padanya saat terakhir kali Ia dan Bimo bertemu.
'Lagipula,gue ngga akan lama disini. Gue akan pergi jauh.'
Ya,perkataan Bimo itu ternyata terjadi saat ini juga. Waktu itu,Meca bertanya pada Bimo tentang maksud perkataannya itu,tetapi Bimo tak mau menjawabnya dan malah menyuruh Meca menjaga diri dengan baik-baik.
Apa ini semua karenanya,yang membuat Bimo memutuskan untuk pergi jauh?
Dua pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala Meca. Rasa khawatir dan rasa bersalah menghantuinya saat ini.
Meca mulai berpikir jika Bimo pergi ada kaitannya dengannya.
Pikir Meca,mungkin memang Bimo ingin melupakannya. Maka dari itu,Ia memutuskan pergi jauh.
Walaupun hubungannya dengan Bimo sudah berakhir,tetapi rasa khawatir Meca belumlah pudar. Entah kenapa, Meca ingin tahu kemana Bimo pergi.
Tak lama kemudian,mobil Bimo mulai melaju meninggalkan kampus.
Saat mobil Bimo melaju melewatinya,Meca mencoba menghentikan laju mobil Bimo yang melaju dengan pelan itu.
Meca berlari serta memukul pelan kaca jendela mobil Bimo,sambil berteriak " Tunggu,Bim. Gue mau ngomong!!"
Entah apa yang dilakukan Meca,sehingga Ia melakukan hal seperti itu. Ia tak peduli lagi pada orang-orang kampus yang melihatnya melakukan hal memalukan seperti itu. Bahkan ada Angel dan kedua temannya sedang memandang Meca dengan tatapan remeh.
Pada percobaan pertama tak berhasil,Meca terus mencoba agar laju mobil Bimo berhenti dengan berteriak " Tunggu,Bim. Gue mau ngomong!!"
Saat ini,Bimo tidak menyetir mobil sendiri,melainkan ada supir suruhan Ayahnya untuk mengawasi Bimo sampai ke bandara nanti.
******
Memang setelah satu minggu bertemu Meca lalu,Bimo sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke Amerika guna kuliah disana.
Keputusan itu Ia ambil karena pada akhirnya,Ayahnya mengijinkan Ibunya untuk ikut ke Amerika bersamanya.
Maka dari itu,Bimo sedikit lebih tenang jika Ibunya ikut pergi bersamanya.
Walaupun sebelumnya,Bimo masih mengekang untuk tidak pergi kuliah di Amerika,tetapi dengan paksaan Ayahnya Bimo tidak bisa lagi menolaknya.
Tak hanya itu,Bimo juga tak mau Ayahnya menyakiti orang yang Ia sayangi lagi jika Ia menolak kemauan Ayahnya.
Dengan hati terpaksa,Bimo akhirnya pergi ke Amerika untuk kuliah disana.
******
Melihat ada seorang cewek yang mencoba menghentikan laju mobil yang Ia bawa. Supir mobil Bimo,langsung menghentikan laju mobilnya sejenak dan langsung turun untuk menghampiri Meca.
Tetapi,sebelum Supir itu turun dari mobil,Bimo langsung mencegat supir suruhan Ayahnya itu sebelum Supir itu menghampiri Meca.
"Pak,langsung jalan saja. Jangan hiraukan cewek yang diluar itu!" Suruh Bimo.
"Tapi,cewek itu ganggu Mas." Sahut Supir laki-laki itu.
"Pokoknya jalan aja Pak. Jangan hiraukan cewek itu!!" Perintah Bimo sekali lagi pada pak supir itu.
Pak Supir itu pun akhirnya menuruti perintah Bimo. Ia pun kembali duduk di jok mobilnya dan menyalakan mesin mobil kembali.
'Maafin gue,Mec. Gue nggak mau bertemu Elo saat ini. Semoga Elo baik-baik aja.' Batin Bimo sambil melihat Meca yang berada di luar kaca mobilnya.
Bimo tak mau jika Meca khawatir karenanya,maka dari itu Bimo memutuskan untuk tidak memberitahu Meca kemana Ia pergi. Bimo berharap,Meca tidak mencari tahu kemana Ia akan pergi. Bahkan,Bimo meminta Dio untuk tidak memberitahu Meca kemana Ia pergi.
Di samping itu,Bimo sudah berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan segera menyelesaikan kuliahnya di Amerika dan segera pulang kembali untuk membangun kembali hubungannya dengan Meca. Bimo masih yakin jika Meca masih mencintainya. Walaupun nanti Meca sudah tidak mencintainya,Bimo akan membuat Meca jatuh cinta lagi padanya.
*****
Jangan lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya..
Happy reading ๐๐