ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 127



Waktu cepat berlalu,kini Meca telah pulang dari kampusnya. Seperti biasa,Ia akan langsung bekerja di tempat kerjanya yaitu toserba.


Siang hari ini,Meca telah banyak melayani pelanggan yang datang ke toserba.


Semakin siang,toserba makin sepi. Kesempatan ini Meca gunakan untuk beristirahat sambil makan roti untuk mengisi perutnya yang kosong.


Sambil memakan rotinya,Meca melihat pintu toserbanya guna berjaga-jaga jika ada pelanggan yang datang.


Saat sedang melihat,tiba-tiba Meca menangkap sosok laki-laki naik motor dengan helm yang menutupi kepala dan wajahnya.


Dari penglihatan Meca,laki-laki itu sedang membawa ponsel lalu mengarahkan ponselnya ke arah Meca.


"Apa laki-laki itu sedang fotoin gue? Tapi,untuk apa?" Gumam Meca dengan masih memandang laki-laki itu dari kejauhan.


Dan benar saja tebakan Meca,laki-laki itu kelabakan saat Meca mengetahui aksinya saat sedang memotret Meca.


Karena sudah ketahuan oleh Meca,laki-laki itu pun langsung menyimpan ponselnya lalu menancap gas motornya untuk pergi dari toserba.


Entah kenapa Meca merasa takut setelah ada laki-laki yang memotretnya.


Meca takut jika laki-laki itu sengaja mengikutinya lalu melakukan tindak asusila padanya.


"Permisi kak..." Ucap pelanggan wanita yang masih mengenakan seragam sekolah menengah.


Ucapan pelanggan itu,membuat Meca tersadar dari lamunannya.


Lalu langsung menoleh ke arah pelanggan yang mengajaknya berbicara tadi.


"Maaf. Ya..ada apa?" Tanya Meca dengan ramahnya.


"Produk ini apa masih ada stoknya?" Tanya pelanggan wanita tadi.


"Iya masih ada. Tunggu sebentar ya.." Sahut Meca lalu mencari barang yang diminta oleh pelanggan wanita tadi.


*****


Malam pun tiba,sekitar jam 20.00 Meca bersiap-siap untuk pulang dari tempat kerjanya,yaitu toserba.


Saat semua sudah Meca bereskan,Ia pun memutuskan untuk keluar dari toserba.


Tetapi,baru dua langkah Ia keluar dari tempat kasir,tiba-tiba ada seorang laki-laki paruh baya yang masuk ke toserbanya.


Meca pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari toserba dan memutuskan untuk melayani pelanggan laki-laki paruh baya tersebut.


Meca pun kembali ke meja kasirnya.


Tampak laki-laki paruh baya tersebut langsung menghampiri Meca di meja kasir.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Meca pada laki-laki paruh baya itu,yang Meca pikir jika laki-laki paruh baya itu mungkin membutuhkan bantuannya untuk mencari barang yang akan dibelinya.


"Apa kamu kenal saya?" Tanya laki-laki paruh baya itu.


Meca pun sontak terkejut. Bagaimana tidak? secara tiba-tiba pelanggannya itu menanyakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaanya.


"Maksud Bapak?" Tanya Meca pada laki-laki paruh baya yang cocok untuk dipanggil dengan sebutan Bapak.


"Pasti kamu kenal anak saya." Ucap laki-laki paruh baya itu lalu menunjukkan ponselnya yang memuat foto seseorang laki-laki.


Meca pun bingung lagi dengan tingkah laku laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya tersebut.


Karena laki-laki paruh baya tadi menunjukkan foto padanya,Meca pun langsung penasaran lalu melihat siapa yang ada di foto tersebut,sampai laki-laki paruh baya itu mengatakan jika Meca mengenal anaknya yang ada di foto tersebut.


Setelah melihat foto yang di dalam ponsel Bapak itu,Meca pun membelalakkan matanya. Ia terkejut jika laki-laki paruh baya yang ada di depannya itu adalah Ayah dari laki-laki yang selama ini selalu di sampingnya,yaitu Ayah Bimo.


Ya,foto yang ditunjukkan tadi adalah foto Bimo bersama laki-laki paruh baya itu yang tidak lain adalah Ayahnya Bimo.


"Iya. Saya disini,mau kenalan sama pacar Bimo. Saya dengar,pacarnya pekerja sampingan di toserba. Apakah itu kamu?" Ucap Ayahnya Bimo.


"I..ya. Nama saya,Meca." Jawab Meca dengan ragu-ragu.


"Oh...nama kamu Meca. Sebenarnya,saya kesini mau tanya sama kamu. Sudah berapa lama kamu berpacaran dengan anak saya?" Tanya Ayahnya Bimo.


"Baru-baru ini,Pak."Sahut Meca .


"Syukurlah. Sebenarnya saya disini,mau membuat kesepakatan sama kamu." Ucap Ayahnya Bimo yang setengah-tengah membuat Meca merasa gugup.


Entah kenapa Meca merasakan firasat buruk soal kesepakatan yang hendak Ayahnya Bimo berikan padanya.


Dari cara ucapan Ayahnya Bimo,membuat Meca berpikir jika Ayahnya Bimo tidak suka jika Ia berpacaran dengan Bimo.


Tiba-tiba,Ayahnya Bimo mengeluarkan amplop warna coklat yang isinya terlihat tebal. Lalu amplop itu diserahkan di hadapan Meca.


Meca pun dibuat bingung lagi dan lagi oleh Ayahnya Bimo.


Banyak pertanyaan yang melintas di otak Meca. Meca penasaran dengan isi amlop itu,dan mengapa Ayahnya Bimo memberikan amplop warna coklat itu padanya.


"Saya berikan amplop berisi uang yang cukup banyak untuk kamu,tapi kamu harus putus dengan Bimo mulai hari ini. Itulah yang saya maksud membuat kesepakatan dengan kamu." Ucap Ayahnya Bimo sambil menyodorkan amplop berisi uang pada meja kasir Meca.


Mendengar ucapan Ayahnya Bimo,Meca pun mencoba mencerna maksud dari ucapannya tersebut.


Tak lama Meca berpikir,Ia pun tahu betul maksud dari ucapan Ayahnya Bimo tadi.


Memang betul jika firasat buruk Meca tentang kesepakatan yang dibuat Ayahnya Bimo itu terjadi saat ini.


"Maaf,sebelumnya. Saya mengaku jika saya orang kurang mampu,tapi saya bukan seorang pengemis yang minta-minta. Apalagi,menerima uang dari seorang penyuap seperti anda." Sahut Meca dengan tegas.


"Kamu memang orang yang sombong ternyata." Ucap Ayahnya Bimo sambil menarik bibirnya membentuk senyuman yang sinis.


Maupun dibilang sombong,Meca tidak peduli. Ia merasa perilakunya tidak mencerminkan sifat sombong seperti anggapan Ayahnya Bimo itu.


Jika Meca menerima uang sogokan itu,sama saja Ia selama ini hanya memanfaatkan Bimo.


Tidak!! Meca tidak seperti yang dibayangkan oleh Ayahnya Bimo itu.


Ia tidak pernah memanfaatkan seseorang untuk kesenangannya sendiri.


Walaupun nanti,Meca harus dibenci oleh Ayahnya Bimo. Ia terima.


Yang terpenting sekarang Meca tidak mau membuat hati Bimo terluka lagi dan lagi karenanya.


"Maaf,saya tidak bisa menyetujui kesepakatan yang anda buat. Saya tidak akan putus dengan Bimo,kecuali Bimo dulu yang meminta putus dari saya." Ucap Meca dengan sangat yakin.


"Ha..ha...ha..Kamu memang anak yang pintar. Untuk sekarang kamu memang menang,tapi selanjutnya saya yang akan menang. Permisi.." Ucap Ayahnya Bimo dengan bercanda dan diselingi oleh keseriusan dari setiap ucapannya.


Setelah mengatakan ucapannya,Ayahnya Bimo pun pergi dari hadapan Meca dengan membawa kembali amplop yang berisi uang tadi.


Setelah Ayahnya Bimo pergi,Meca hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan lega setelah debat dengan orang yang lebih tua darinya.


Walaupun Meca berbicara dengan sopan pada Ayahnya Bimo,tetapi entah kenapa Meca merasa bersalah setelah membantah setiap perintah dari Ayahnya Bimo.


Meca tidak tahu yang dilakukannya tadi salah atau benar.


Tapi yang pasti Meca melakukan itu semua karena yakin dengan hatinya.


Jangan Lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya.


Happy reading ๐Ÿ˜