
Beberapa hari lalu,saat waktu menunjukkan pukul 8 pagi di Amerika.
Bimo baru saja bangun dari tidurnya yang lelap. Biasanya Ia akan bangun lebih awal di pagi hari. Tidak seperti pada pagi hari ini,Ia terlambat bangun. Itu karena,malam kemarin Ia tidak bisa tidur sampai tengah malam. Sebabnya masih sama,yaitu memikirkan Meca dan Meca.
Bimo masih menunggu telepon dari Meca sepanjang hari. Bahkan,saat kuliah pun Ia tetap mengamati ponselnya untuk memastikan jika Meca meneleponnya.
Tetapi,hasilnya masih sama tidak ada panggilan telepon dari Meca,bahkan panggilan teleponnya pun tak kunjung juga di jawab oleh Meca.
Karena hal itulah yang membuat Bimo frustasi hingga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terus berpikiran buruk terhadap perilaku Meca akhir-akhir ini.
Apa Meca tidak ingin berhubungan lagi dengannya?
Apa Meca tidak sedikitpun merindukannya?
Atau Meca memang sudah melupakannya dan berpaling di hati cowok lain?
Ataukah cowok itu Rengga?
Kira-kira pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat Bimo berpikir buruk terhadap Meca.
Sebenarnya Bimo tak masalah jika Meca tak meneleponnya balik.
Tetapi,satu hal yang Bimo permasalahkan. Hal itu adalah penjelasan dari Meca mengenai Rengga yang saat itu ada pada saat Ia berteleponan dengannya.
Ya,hal itulah yang membuat Bimo terus menunggu telepon dari Meca. Ia sudah tak sabar menanyakan alasan yang sebenarnya mengapa pada saat itu Rengga bersama dengan Meca. Apalagi waktu itu adalah malam hari di Indonesia.
Bimo pun terus memikirkan hal negatif setelah kejadian tersebut.
Terlepas dari masalah itu,pagi ini Bimo sungguh bahagia. Pada saat Ia mengecek ponselnya ternyata ada satu panggilan telepon dari Meca.
Bimo pun masih tak percaya saat mendapat panggilan telepon dari Meca. Ia terus mengecek apakah benar nomor itu adalah nomor Meca.
Setelah di cek berkali-kali ternyata memang benar adanya jika Meca meneleponnya semalam.
Tetapi,sayang Bimo tak bisa menjawab panggilan telepon dari Meca karena tengah terlelap dalam tidurnya.
Ada sebercak rasa senang di hatinya,Bimo berharap semua pikiran negatifnya terhadap Meca tidak akan terjadi.
Sebenarnya Bimo ingin langsung menelepon Meca balik,akan tetapi Ia mengurungkan niatnya setelah tahu waktu di Indonesia masih begitu malam.
Ia tak tega meneleponnya saat Meca tengah terlelap dalam tidurnya.
Biarlah nanti saja saat waktunya telah tepat,Bimo akan menelepon Meca.
Tak terasa petang pun telah tiba,Bimo telah menyelesaikan rutinitasnya.
Saatnya Ia pulang dan menikmati kesendiriannya di rumah.
Saat inilah yang Bimo tunggu,Ia memang telah memutuskan untuk menelepon Meca saat waktunya lebih tepat.
Waktu inilah yang tepat untuk melakukan panggilan telepon dengan Meca.
Bimo berharap Meca nanti bisa menjawab panggilan teleponnya dengan segera.
Dengan hati yang berbunga-bunga Bimo pun mencari kontak Meca di ponselnya.
Setelah Ia menemukannya,dengan segera Bimo menekan ikon telepon berwarna hijau untuk melakukan panggilan bersama Meca.
Bimo masih menunggu panggilan teleponnya bisa tersambung dengan Meca.
Satu menit telah berlalu,tetapi tak kunjung juga tersambung dengan Meca.
Dua menit.....
Tiga menit.....
Empat menit.....
Sampai pada akhirnya saat lima menit kemudian,Meca malah menolak panggilan telepon dari Bimo.
Bimo pun tak mau berkecil hati dahulu,Ia berusaha mencoba menelepon Meca lagi.
Tak menunggu waktu begitu lama seperti saat pertama tadi,Meca pun dengan segera menolak panggilan teleponnya.
"Elo kenapa sih Meca? Jangan buat gue bingung kayak gini !" Gumam Bimo.
Bimo sudah tak mau mencoba menelepon Meca lagi. Ia sudah lelah akan penantiannya.
********
Siang hari ini Meca akan berangkat ke kampusnya.
Seperti biasa Ia akan menunggu bis datang di halte.
Sembari menunggu,biasanya Meca memainkan ponselnya untuk sekedar memilih lagu untuk Ia dengarkan saat di dalam bis nanti.
Saat Meca tengah berselancar ria di ponselnya,tiba-tiba Ia teringat akan Bimo.
Ya,lagi-lagi Meca lupa untuk menelepon Bimo.
Meca yakin pasti Bimo menunggu telepon darinya. Karena beberapa kali Bimo meneleponnya,Meca selalu menolak panggilan telepon darinya.
Mau bagaimana lagi,Bimo selalu meneleponnya saat Ia bersama Rengga.
Mau tidak mau Meca harus menolak panggilan telepon dari Bimo.
Tanpa pikir lama lagi,Meca pun segera mencari kontak Bimo.
Setelah menemukannya,Meca pun hendak menekan ikon telepon.
Saat Ia akan berhasil menelepon Bimo,tiba-tiba bus yang Ia tunggu telah datang.
Meca pun mengurungkan niatnya lagi untuk menelepon Bimo.
Lalu Meca pun menyimpan ponselnya kembali dan berjalan masuk ke dalam bis yang ditunggunya tadi untuk menuju kampusnya.
Waktu berlalu dengan cepat,tak terasa matahari hampir tenggelam,waktu sudah sore hari.
Itu artinya,kuliah Meca hari ini sudah selesai.
Saat ini Meca dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Setelah 30 menit di perjalanan,akhirnya Meca pun sampai di depan rumahnya.
Begitu sampai,Meca pun langsung memutar gagang pintu rumahnya supaya terbuka.
Tetapi,entah mengapa pintu rumahnya tak bisa dibuka meskipun Meca mencoba mendobrak pintu tersebut.
Meca sudah yakin jika pintu rumahnya telah terkunci.
"Ibu dimana ya? Kok belum pulang jam segini?" Gumam Meca.
Karena Meca tidak bisa masuk jika tak ada kunci,akhirnya Ia pun memutuskan untuk menelepon Ibunya.
Tak butuh waktu lama panggilan teleponnya langsung tersambung dengan Ibunya.
"Halo,bu....."
"Iya,halo Mec. Kamu pasti sudah pulang ya?"
"Iya nih. Ibu dimana? Kok belum pulang?"
"Oh...ibu menjenguk Rengga di rumah sakit. Kamu kesini aja,Mec. Kan kuncinya Ibu bawa."
"Ya udah deh. Sudah dulu ya bu....."
Setelah itu panggilan Meca dan Ibunya pun berakhir.
Sebenarnya Meca sudah lelah untuk menuju rumah sakit. Tetapi,mau bagaimana lagi demi kunci rumahnya Meca harus kuat untuk ke rumah sakit.
Cukup lama di perjalanan,akhirnya Meca telah sampai di rumah sakit.
Begitu sampai,Meca pun langsung menuju ruang inap Rengga.
Sampailah akhirnya Meca di depan ruang inap Rengga.
Tok...tok...tok...
"Permisi....."
"Masuk aja Mec!" Teriak Ibunya Rengga dari dalam ruangan.
Mendengar perintah dari Ibunya Rengga,Meca pun segera masuk ke dalam ruang inap Rengga.
Saat masuk ke dalam ruang inap Rengga,Meca pun langsung menghampiri Ibunya yang duduk bersama Ibunya Rengga di kursi sofa dan menanyakan tentang kunci rumahnya.
"Kamu mau langsung pulang? Nggak nunggu Ibu pulang nih?"
"Ya udah deh. Aku tunggu di taman ya..bu."
"Apa gue boleh ikut?" Tanya Rengga dengan tiba-tiba sambil bangun dari tempat tidurnya.
"Tapi,kan kondisi Elo masih sakit. Gue nggak mau Elo kayak kemarin lagi."
"Gue benar-benar sudah sehat Mec. Elo bisa tanya Ibu gue."
Lalu Meca pun menoleh ke arah Ibunya Rengga dengan tatapan penuh tanya.
"Iya sudah sehat kok. Tadi,dokter juga bilang kalau besok lusa kemungkinan sudah boleh pulang." Ucap Ibunya Rengga dengan yakin.
"Ya udahlah Mec,nggak apa-apa kok. Kasihan juga Rengga dari tadi diam nggak ada teman untuk ngobrol." Imbuh Ibunya Meca.
"Baiklah,Gue ijinin Elo ikut." Ucap Meca dengan pasrah.
Rengga pun tampak tersenyum bahagia setelah mendapat persetujuan dari Meca.
Memang kalau rezeki tidak akan kemana-mana.
Kebetulan kursi rodanya sudah ada di ruang inap Rengga,jadi Meca tak perlu repot-repot mengambil.
Langsung saja Meca membantu Rengga untuk duduk di kursi roda lalu mendorong kursi roda tersebut menuju taman.
Sebelum keluar dari ruang inap,tak lupa Meca dan Rengga berpamitan kepada Ibu mereka masing-masing.
Beberapa menit kemudian,sampailah Meca dan Rengga di taman.
Seperti biasa Meca duduk di kursi taman,sedangkan Rengga tetap duduk di kursi rodanya.
Cuaca terasa panas walaupun sudah sore,hal ini membuat Meca merasa tenggorokannya kering. Ia butuh penyegar untuk tenggorokannya.
"Rengga Elo mau minuman nggak? Gue soalnya mau beli minuman."
"Boleh."
"Mau minuman apa?"
"Air putih aja."
"Ok. Tunggu sebentar ya...gue ke kantin dulu."
Setelah itu Meca pun beranjak pergi dari taman untuk membeli minuman di kantin.
Tak butuh waktu lama,Meca pun kembali ke taman sambil membawa dua botol minuman. Yang satu minuman isotonik dan satunya lagi air putih.
"Nih....minuman Elo." Ucap Meca sambil menodongkan satu botol air putih pada Rengga.
"Makasih."
Meca pun mengangguk pelan. Tanpa menunggu lama lagi,Meca pun segera membuka botol minumannya lalu meneguk air isotonik itu sampai habis setengah dari isi botol.
"Elo haus banget ya?"
"He..he...gue lelah banget setelah kuliah tadi. Jadi,gue haus banget."
"Elo pasti lebih lelah setelah dorong kursi roda gue tadi."
"Enggak kok. Gue nggak lelah. Santai aja...."
Saat Meca dan Rengga tengah santai-santainya tiba-tiba ada dua anak kecil yang kejar-kejaran. Dua anak kecil itu berlari melewati Rengga.
Parahnya saat salah satu anak kecil itu berlari tanpa sengaja anak kecil itu menabrak tubuh Rengga.
Nahasnya,saat itu Rengga sedang memegang botol minumannya. Karena di tabrak oleh anak kecil tadi,jadi minuman yang ada di botol tadi tumpah di badan Rengga.
Meca pun tampak terkejut setelah mengetahui badan Rengga basah. Ia tak mempermasalahkan jika air tadi mengenai badan Rengga,tetapi air tadi mengenai tangan Rengga yang ada selang infusnya.
Karena takut infeksi atau apa,dengan segera Meca meraih tangan Rengga yang ada infusnya lalu mengelap tangan Rengga yang terkena air dengan hati-hati.
"Untung belum sampai masuk ke infus Elo. Dimana sih,orang tuanya sampai biarin anaknya berkeliaran kayak gitu!" Ucap Meca sambil mengelap tangan Rengga.
"Apa Elo selalu baik kepada semua orang?"
Meca pun mendongakkan kepalanya lalu sambil berkata "Apa maksud Elo?"
"Gue cuma tanya aja kok. Gue nggak mau salah paham dengan sikap Elo."
Setelah tangan Rengga sudah kering karena dilapnya,kini Meca membenarkan tubuhnya menjadi tegak lalu menoleh ke arah Rengga.
"Iya,gue memang baik kepada semua orang. Kecuali pada orang yang jahat."
"Apa Elo juga seperti ini sama Bimo? Pasti Bimo juga salah paham dengan kebaikan Elo ini."
Meca pun mulai geram dengan perkataan yang dilontarkan oleh Rengga tersebut.
"Jadi,Elo pikir gue berbuat baik untuk membuat orang salah paham?"
"Nggak gitu,Mec!"
"Rengga!! Gue selama ini sudah sabar dengan perkataan dan perbuatan Elo seperti ini. Tapi,Elo terus saja membual yang tidak-tidak seperti ini. Jika Elo terus kayak gini,gue juga bisa marah."
Rengga pun tampak terdiam setelah Meca memarahinya. Ia tak mampu untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya lagi.
"Ayo,kita kembali ke ruang inap Elo. Sebelum kemarahan gue menjadi-jadi."
Lalu,Meca pun berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya.
Saat Meca baru melangkah,tiba-tiba Rengga menarik tangan Meca lalu memeluk Meca.
Rengga duduk di kursi rodanya sambil memeluk Meca yang posisinya tengah berdiri di depannya.
Meca pun terkejut sambil berkata "Rengga,Elo ngapain sih?"
"Mec! Gue tahu kalau salah,tapi gue seperti ini demi mendapatkan cinta dari Elo. Gue mau buat Elo sadar,kalau gue cinta sama Elo."
Meca mendengus kesal lalu berkata "Udah Reng,kita kembali ke ruang inap Elo aja."
Meca pun melepas tangan Rengga dari pinggangnya. Meca sudah malas untuk meladeni Rengga jika sudah seperti itu.
Lalu Meca pun berjalan kembali untuk mendorong kursi rodanya Rengga.
Tetapi, secara tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah melihat seseorang yang Ia kenal berdiri di depannya. Karena orang itu lebih tinggi daripada Meca,Ia pun menengadahkan kepalanya agar mampu melihat orang yang berdiri di depannya itu
"Bimo! Ini Elo?" Ucap Meca dengan mata terbelalak.
Apa ini halusinasinya?
Meca pun mengucek-ngucek kedua matanya agar penglihatannya ini tidaklah salah. Ternyata Memang benar,orang yang ada di depannya ini adalah Bimo.
Meca berharap jika ini bukanlah halusinasinya saja.
Apa benar itu Bimo???
Ikutin terus ceritanya....
Jangan lupa klik ikon ๐untuk menaikkan popularitas novel saya...๐๐
Happy reading ๐ฅฐ๐ฅฐ