
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Itu artinya,Meca sudah pulang dari kerjanya. Malam ini,Bimo berencana untuk menjemput Meca lalu mengantarkannya pulang.
Sejak Bimo sudah resmi berpacaran dengan Meca,Ia merasa ingin selalu bertemu dengan Meca.
Di pikirannya hanya ada Meca dan Meca.
Karena hampir setengah hari tidak bertemu Meca,maka dari itu Bimo berencana mengantarkan pulang Meca untuk bisa bertemu dengannya.
Bimo berencana menggunakan motornya untuk menjemput Meca.
Karena dengan menggunakan motor,pasti akan lebih cepat sampai dibandingkan menggunakan mobil.
Dengan itu,Bimo akan lebih cepat bisa bertemu dengan Meca.
Dan benar saja,dengan waktu kurang dari 15 menit Bimo telah sampai di toserba tempat kerja Meca.
Sesampai di depan toserba,Bimo langsung membuka helm yang Ia pakai.
Saat Bimo baru membuka helm,samar-samar Ia melihat seorang laki-laki paruh baya yang sangat di kenalnya keluar dari toserba Meca.
Ya,Bimo kenal betul dengan laki-laki paruh baya itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah Ayahnya.
Dari penglihatannya,Ayahnya keluar dari toserba lalu langsung masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi.
Untung saja,Ayahnya tidak melihatnya disana. Kalau saja Ayahnya melihatnya,pasti Ia langsung disuruh untuk kembali pulang.
"Kenapa Papa pergi ke toserba?" Gumam Bimo sambil berpikir.
Seingat Bimo Ayahnya memang tidak pernah pergi ke toserba hanya untuk membeli makanan atau barang lainnya.
Kalau tidak sedang keadaan darurat,Ayahnya tidak akan pernah pergi ke toserba sendiri.
Jika memang Ayahnya memerlukan sesuatu,pasti Ia akan menyuruh sekretaris atau pembantunya yang ada di rumah.
Melihat Ayahnya pergi ke toserba sendiri,membuat Bimo menjadi curiga.
"Paling Papa memang sedang membutuhkan sesuatu." Gumam Bimo setelah menepis rasa curiga pada Ayahnya sendiri.
Dengan hati gembira,Bimo pun berjalan memasuki toserba untuk menemui Meca.
Sesampai di depan toserba,Bimo pun langsung membuka pintu toserba.
Betapa senangnya saat Bimo melihat wajah Meca dari kejauhan.
Tetapi tiba-tiba wajah Bimo menjadi suram setelah melihat raut muka Meca terlihat sedih sambil melamun.
Tanpa pikir lama,Bimo pun segera menghampiri Meca untuk menanyakan kondisinya saat ini.
"Meca!!" Panggil Bimo.
Meca pun sempat terkejut,karena sebelumnya Ia melamun lalu Bimo telah membuyarkan lamunanya.
"Oh..Bimo. Kenapa Elo kesini?" Tanya Meca.
Melihat Bimo datang,Meca pun secepatnya merubah raut mukanya yang sebelumnya sedih menjadi ceria.
"Gue mau anter Elo pulang." Jawab Bimo.
Meca pun mengangguk lalu berberes sebentar di meja kasir.
Setelah selesai berberes,Meca pun keluar dari meja kasirnya lalu mengajak Bimo keluar dari toserba.
Kini Bimo dan Meca sudah ada di depan motor Bimo yang terparkir.
Saat Meca akan naik bocengan motor Bimo,Bimo langsung mencegahnya agar tidak naik motor terlebih dahulu.
"Elo sakit ya?" Tanya Bimo sambil memegang dahi Meca untuk memastikan Meca demam atau tidak.
Setelah menempelkan telapak tangannya ke dahi Meca,Bimo juga menempelkan telapak tangannya ke dahinya sendiri guna mengecek suhu tubuhnya dengan suhu tubuh Meca.
Bimo melakukannya bukan karena sebab.
Bimo melihat wajah Meca terlihat pucat,maka dari itu Ia khawatir jika Meca tengah sakit.
"Gue nggak sakit kok. Gue cuma lelah." Ucap Meca mencoba menjawab rasa khawatir Bimo kepadanya.
"Oh gitu. Tapi,Elo benar-benar nggak apa-apa kan?" Tanya Bimo sekali lagi.
Meca hanya mengangguk pelan sambil menunjukkan senyum singkatnya.
Setelah berbincang singkat,Bimo pun naik motornya lalu diikuti Meca yang naik boncengan motornya.
Tak lupa mereka memakai helm saat mengendarai motor.
Saat perjalanan,Meca hanya diam dan masih saja memikirkan ucapan Ayahnya Bimo tadi.
Setiap perkataan yang diucapkan Ayahnya Bimo masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Meca memutuskan untuk menyembunyikan masalahnya dengan Ayahnya Bimo pada Bimo.
Jika Bimo mengetahuinya akan berdampak buruk pada hubungannya dengan Ayahnya. Apalagi,Bimo pernah bercerita jika Ia tidak begitu suka pada Ayahnya.
Akan lebih baik jika Ia menyembunyikannya saja.
Dari kaca spion motornya,Bimo melirik wajah Meca yang terpampang jelas di spionnya.
Terlihat murung dan sedih.
Entah apa yang membuat kekasih hatinya itu sedih dan murung seperti itu.
Karena lelah? Atau ada masalah yang membuat Meca sedih?
Kedua pertanyaan itu membuat Bimo dilema.
Tak lama kemudian,Bimo pun telah membawa motornya sampai rumah Meca.
Setelah sampai di depan rumahnya,Meca pun langsung turun dari motor Bimo.
Sedangkan Bimo masih duduk di motornya sambil melepas helm dari kepalanya.
Setelah turun dari motor Bimo,tak lupa Meca melepas helm lalu langsung mengembalikan helmnya pada Bimo.
"Makasih ya..udah anter gue pulang." Ucap Meca.
Bimo tak menjawab pertanyaan Meca,Ia malah berpikir akan menanyakan sesuatu pada Meca yang dari tadi ada di dalam otaknya.
"Elo ada masalah ya?" Tanya Bimo yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Meca pun sempat terkejut dengan pertanyaan Bimo barusan. Apakah terlalu terlihat jika Ia sedang sedih di hadapan Bimo sekarang? Sehingga Bimo menyangka jika Ia sedang ada masalah.
"Nggak kok. Apa muka gue kelihatan kayak ada masalah?" Tanya Meca.
"Iya. Elo dari tadi kelihatan sedih. Gue nggak mau ngelihat muka Elo sedih gitu." Sahut Bimo.
"Iya deh. Gue senyum nih.." Ucap Meca lalu menunjukkan senyum manisnya di hadapan Bimo.
Melihat Meca tersenyum,malah membuat Bimo menjadi salah tingkah.
Ia memilih memalingkan wajahnya agar tidak melihat senyuman manis Meca yang membuatnya salah tingkah.
"Mec! Kalau Elo ada masalah apapun,Elo bisa cerita sama gue. Karena gue udah jadi pacar Elo. Kita bukan orang asing,Elo sama gue itu udah deket." Ucap Bimo dengan penuh keseriusan.
Meca terenyuh mendengar ucapan Bimo.
Bimo memang laki-laki yang baik dan pengertian terhadap Meca. Tapi,sayang Meca tidak bisa membalas ketulusan Bimo padanya. Meca merasa selalu membuat Bimo kecewa. Buktinya sekarang,Ia tak mampu untuk menceritakan semua masalahnya pada Bimo dan malah membuat Bimo khawatir padanya.
Mendengar ucapan Bimo,Meca hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat.
"Ya udah...sana masuk. Cepat istirahat!! Kalau tidur nanti jangan lupa mimpiin gue." Ucap Bimo diselingi oleh gombalan.
Mendengar gombalan Bimo,Meca pun tertawa ringan sambil menyengirkan mulutnya karena sifat kegeeran Bimo.
"Gue pulang ya.." Pamit Bimo.
"Iya. Hati-hati.." Ucap Meca sambil melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Bimo pun hanya tersenyum lalu memakai helmnya dan tancap gas motornya untuk melajukan motornya pergi.
Setelah melihat Bimo hilang dari penglihatannya,Meca pun langsung masuk ke dalam rumahnya.
Seperti biasa,Meca langsung masuk ke dalam kamarnya.
Meca pun langsung menuju kamar mandi untuk mandi sebelum tidur agar badannya lebih segar.
Tak butuh waktu lama,Meca pun telah selesai mandi dan telah berganti pakaian.
Meca memutuskan untuk mengulangi kembali pelajaran yang diberikan dosen pada saat kuliah tadi pagi. Ia pun duduk di kursi meja belajarnya lalu membuka buku untuk dibaca dan dipelajari.
Ting...
Bunyi notifikasi ponsel Meca membuatnya menghentikan sementara kegiatan belajarnya dan memilih untuk melihat ponselnya.
Setelah Meca melihat ponselnya,Meca melihat nama Bimo yang tertera di notifikasi pesannya.
Tanpa pikir lama,Meca pun langsung melihat isi pesan Bimo tersebut.
Bimo
Mec,boleh keluar sebentar? gue sekarang ada di depan rumah Elo.
Setelah membaca isi pesan dari Bimo,Meca pun bingung mengapa Bimo kembali lagi ke rumahnya.
Karena tak mau penasaran,Meca pun langsung keluar dari kamarnya lalu pergi menemui Bimo yang ada di depan rumahnya.
Setelah Meca keluar dari rumahnya,Bimo sudah ada didepan rumahnya sambil berdiri di samping motornya.
"Ada apa?" Tanya Meca sesampainya Ia di depan Bimo.
Bimo pun hanya diam,Ia mendekati Meca lalu langsung memeluknya dengan erat.
Meca pun terkejut mengapa tiba-tiba Bimo memeluknya.
"Elo pasti takut setelah Papa gue ancem Elo? Jangan takut!! Ada gue disini." Ucap Bimo masih dengan memeluk Meca.
"Kok Elo tahu?" Tanya Meca dengan terkejutnya saat tahu jika Bimo telah mengetahui semua masalahnya dengan Ayahnya yang sengaja Ia tutupi.
Jangan Lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya.
Happy reading ๐