
Bimo yang melihat wajah Meca yang tenang dengan sedikit senyum di wajahnya membuat Bimo merasa tenang dan nyaman saat memandang wajah Meca.
"Jadi ini ketenangan yang Elo maksud?" Tanya Bimo sambil memandang wajah Meca dengan senyum manisn di wajahnya.
"Kakak merasakannya?" Jawab Meca sambil menoleh pada Bimo.
Saat Meca menoleh, ia sedikit terkejut karena Bimo memandangnya dengan tatapan seperti terkagum padanya.
Entah sampai kapan Bimo sudah memandangnya dengan tatapan seperti itu.
"Iya gue merasakan ketenangan yang Elo maksud itu." Kata Bimo.
"Tapi,kenapa Kakak malah natap gue. Bukannya gue tadi bilang caranya pertama itu tutup mata?" Heran Meca.
"Menurut gue,natap Elo sudah sudah memberi gue ketenangan." Jawab Bimo dengan santainya.
"Jangan merayu gue! Gue nggak akan tersipu." Kata Meca sambil membuang muka pada Bimo.
Bimo hanya tersenyum melihat perilaku Meca yang menurut Bimo lucu.
Angin berhembus pelan membuat udara di dataran tinggi seperti ini menjadi lebih dingin.
Bimo melihat Meca merasa kedinginan. Apalagi badan Meca yang terlihat sedikit menggigil karena pakaiannya yang tipis . Memang hari ini Meca hanya memakai t-shirt dan dibaluti dengan kemeja kotak-kotak seperti biasa.
Untungnya hari ini pakaian Bimo berbalut jaket dengan dalaman kaos polos berwarna putih.
Tanpa pikir panjang,Bimo langsung melepas jaketnya dan memberikannya ke pundak Meca untuk melindungi Meca dari kedinginan.
Meca sedikit terkejut karena ada kain yang menempel di pundaknya sekarang.
Ia pun langsung menoleh ke arah Bimo.
"Pakai jaket gue,cuaca semakin dingin." Kata Bimo.
"Udah tau dingin. Tapi,kenapa Kakak malah ngasih jaket Kakak ke gue?Kakak nggak dingin? Tanya Meca.
"Nggak apa-apa. Gue kebal terhadap dingin." Jawab Bimo.
"Apa Kakak beruang kutub?" Canda Meca sambil menunjukkan senyumannya.
"Ishh..bahkan beruang kutub lebih imut daripada Kakak." Kata Meca.
"Terserah Elo. Gue marah." Kata Bimo sambil memalingkan wajah dari Meca dengan imut seperti anak kecil saat sedang ngambek.
"Siapa yang anak baik? Anak baik..." Kata Meca sambil mengelus rambut Bimo seperti anaknya sendiri.
Bimo langsung menoleh pada Meca saat Meca mengelus kepalanya.
Ia langsung merubah tatapan matanya pada Meca menjadi tatapan yang serius.
Begitu juga dengan Meca,yang sebelumnya tatapannya pada Bimo biasa,tetapi sekarang berubah menjadi serius karena Bimo yang menatapnya dengan tatapan tersebut.
Meca pun langsung menarik tangannya dari atas kepala Bimo.
Tetapi saat Ia akan menariknya,Bimo menahan tangan Meca dan meletakkannga kembali ke kepalanya.
"Jangan lepas dulu! Karena gue menyukainya." Kata Bimo sambil memegang tangan Meca yang ada di atas kepalanya.
"Ta..pi,tangan gue pegel." Gugup Meca.
Mendengar keluhan Meca,Bimo pun langsung melepaskan genggaman tangan Meca darinya.
"Kak,ini waktunya gue masuk kerja. Sebaiknya kita harus cepat pulang." Kata Meca.
"Masa? Padahal gue masih mau disini sama Elo." Kata Bimo.
'Nggak tahu kenapa,sepertinya laki-laki ini bakal punya cara yang banyak buat ngrayu gue. Itu alasannya gue harus pulang cepat.' Batin Meca sambil melirik Bimo.
"Ayo! Gue nggak mau terlambat." Ajak Meca lalu pergi dari Bimo yang masih duduk di kursi.
"Elo ninggalin gue? Elo nggak akan bisa pulang." Teriak Bimo pada Meca yang mulai menjauh darinya.
"Mec,apa Elo akan seperti ini terus sama gue." Gumam Bimo
Bimo pun memutuskan untuk berdiri dan pergi menyusul Meca.
Jangan Lupa Vote dan Like ya😀