ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 157



Setelah bermalam di rumah sakit untuk menjaga Rengga,akhirnya pagi ini Meca pamit untuk pulang ke rumahnya.


Meca pun hanya berpamitan kepada Ibunya Rengga jika Ia akan pulang. Bukannya tanpa alasan Meca tak berpamitan juga dengan Rengga.


Kebetulan pada saat itu,Rengga masih tidur. Meca tak mau membangunkan Rengga hanya untuk berpamitan kepadanya.


Maka dari itu,Meca hanya menitipkan salam kepada Ibunya Rengga untuk diberitahukan kepada Rengga saat Ia sudah bangun nanti.


Sebenarnya,Meca juga tak apa-apa menemani Ibunya Rengga untuk menjaga Rengga. Akan tetapi,untuk pagi ini Meca tidak bisa karena ada kelas di kampusnya.


Berhubung Meca lama tidak masuk kuliah,akhirnya Ia pun memutuskan untuk masuk kuliah hari ini juga.


Jika terus-terusan Ia membolos kuliah,bisa jadi Ia akan mendapatkan nilai yang buruk.


Karena kuliahnya mendapatkan jam pagi,Meca pun segera pamit pulang saat waktu subuh.


Dengan itu,Ia nanti tidak akan terlambat ke kampusnya.


Meca juga sudah mempertimbangkan waktu yang Ia gunakan untuk pulang dari rumah sakit dan menuju kampusnya nanti.


Ia pikir pasti membutuhkan waktu yang lama,belum lagi nanti ada kemacetan saat Ia akan pergi ke kampusnya nanti dengan naik bus.


*****


Sekitar 15 menit dari rumah sakit,akhirnya Meca pun telah sampai di rumahnya.


Sesampainya Meca di rumah,Ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil handuk dan pakaian ganti.


Setelah itu keluar kamar dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Sekitar 15 menit kemudian,akhirnya Meca keluar dari kamar mandinya lengkap dengan berpakaian dari baju yang di bawanya tadi.


"Meca! Kapan kamu pulang?" Tanya Ibunya Meca yang kebetulan ada di dapur.


"Baru aja bu. Ini aku mau berangkat kuliah." Jawab Meca sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk karena habis keramas.


"Oh...gitu. Ya udah kamu makan dulu gih...kamu pasti belum makan kan?" Tawar Ibunya Meca.


Meca pun hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke meja makan.


Meca pun menarik kursi lalu duduk untuk makan. Tak lupa Ia menaruh handuknya tadi di sandaran kursi yang Ia duduki saat ini.


"Apa ada yang bisa aku bantu,bu?" Tanya Meca.


"Nggak usah. Cuma bawa sepiring nasi sama lauk untuk kamu aja kok." Sahut Ibunya Meca lalu datang ke meja makan untuk membawa makanan untuk Meca.


"Terima kasih,bu." Ucap Meca saat Ibunya menyodongkan sepiring nasi dan lauk di hadapannya.


"Memang Ibu nggak makan?" Tanya Meca.


"Nggak. Ibu baru saja selesai makan tadi."


"Oh iya...Mec. Bagaimana kondisi Rengga sekarang? Dia sudah sembuh belum?"


Meca pun tak langsung menjawab pertanyaan Ibunya tersebut. Ia mengunyah makanannya dahulu sampai tertelan setelah itu baru Ia menjawab pertanyaan Ibunya.


"Sudah baik kok bu,operasinya juga berjalan dengan lancar. Tinggal tunggu Rengga pulih aja."


"Oh...syukurlah kalau begitu."


"Tapi,kenapa Ibu kemarin nggak jadi jenguk Rengga?"


"Sebenarnya Ibu mau jenguk,tapi mau bagaimana lagi kamu Ibu telfon nggak aktif. Ibu mau nyuruh kamu pulang untuk jaga rumah sebenarnya. Tetapi,kemudian Ibunya Rengga telpon Ibu kalau kamu mau menginap disana. Ya sudah,Ibu nggak jadi jenguk. Mungkin nanti siang Ibu akan kesana." Jelas Ibunya Meca panjang lebar.


"Maaf,Bu. Kemarin ponsel aku baterainya....


Meca pun tak jadi melanjutkan ucapannya,karena teringat jika Ia lupa untuk mencharge ponselnya. Apalagi,nanti akan Ia bawa untuk kuliah.


Lantas,Meca pun langsung lari terbirit-birit menuju kamarnya.


"Eh,mau kemana? Makanan kamu belum habis." Teriak Ibunya Meca yang melihat putrinya itu lari meninggalkannya.


Meca pun tak menggubris teriakan Ibunya.


Ia hanya fokus untuk segera mencharge ponselnya yang baterainya habis.


Sesampainya di kamar,Meca pun langsung mencari ponselnya di tas ransel yang Ia gunakan tadi malam.


Setelah menemukan ponselnya,lalu Meca pun langsung mengambil charge ponselnya dan mencolokkan chargenya ke tempat yang tersedia.


Meca pun tampak bingung dengan ponselnya. Pasalnya,saat Ia charge baterai ponselnya masih tersisa 50 persen. Itu artinya masih tersisa setengah dari daya isi baterainya.


Yang membuat Meca bingung adalah mengapa Rengga mengatakan jika baterai ponselnya telah habis,padahal baterainya masih dibilang penuh.


Dan mengapa Rengga mematikan ponselnya tanpa meminta izin darinya?


Apa jangan-jangan Rengga menyembunyikan sesuatu darinya?


Karena tak mau curiga lebih kepada Rengga,Meca pun memutuskan untuk membuka ponselnya guna memastikan apa yang terjadi di ponselnya semalam.


Tak butuh waktu lama,ponselnya pun berhasil menyala.


Dengan segera,Meca pun mengecek ponselnya.


Meca pun sontak terkejut,karena banyak sekali panggilan tak terjawab dari Bimo.


Walaupun belum pasti jika itu nomor ponsel Bimo,akan tetapi orang yang terakhir meneleponnya kemarin adalah Bimo. Dan disitu tertera nomor yang sama setelah Ia berteleponan dengan Bimo. Meca yakin,jika nomor ponsel itu adalah nomor Bimo.


Meca pun sontak berpikir jika Rengga ingin menyembunyikan panggilan telepon Bimo darinya.


Maka dari itu,Rengga berbohong kepadanya soal ponselnya. Rengga mengatakan jika baterainya habis,padahal masih penuh.


Tetapi mengapa Rengga berbuat seperti itu?


Jika seperti ini,Meca tak enak dengan Bimo. Pasti Ia kebingungan karena tak kunjung mendapat jawaban darinya.


Akhirnya Meca pun memutuskan untuk menelepon nomor Bimo tersebut. Sebelum itu,tak lupa Ia menamai nomor Bimo dengan namanya.


Meca pun menunggu panggilan teleponnya bisa tersambung dengan Bimo.


Alhasil panggilan teleponnya tak dapat tersambung,karena ponsel Bimo sedang tidak aktif.


"Sepertinya dia sedang tidur. Gue yakin disana masih malam." Gumam Meca sambil melihat ponselnya.


Meca pun memutuskan untuk menelepon Bimo nanti saat waktunya tepat.


Lagi pula Ia akan berangkat kuliah sebentar lagi.


Meca pun mencabut kembali ponselnya dari colokan.


Toh,baterainya masih bisa digunakan tidak menipis-nipis amat.


Meca pun segera bersiap untuk berangkat kuliah. Tak lupa juga Ia menyelesaikan makannya yang belum habis tadi.


Setelah makan,Ia pun segera bersiap diri dengan berdandan ala kadarnya lalu setelah selesai Ia pun langsung berangkat menuju kampusnya.


Sesampainya Meca ke kampus,seperti biasa Ia langsung masuk ke dalam kelasnya dan menerima pelajaran serta pengetahuan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang,itu artinya kuliahnya pun telah selesai.


Begitu kelas selesai,Meca pun keluar dari ruang kelasnya untuk pulang.


Tut...tut....tut......


Tiba-tiba bunyi dering ponsel Meca berbunyi.


Meca pun sempat berpikir jika yang meneleponnya adalah Bimo. Mungkin Bimo meneleponnya balik,karena tadi pagi Ia meneleponnya tetapi tidak terjawab oleh Bimo.


Dengan semangat,Meca pun segera mengambil ponselnya lalu melihat layar ponselnya.


Meca pun menghela nafas dengan berat,setelah tahu yang meneleponnya bukanlah Bimo melainkan Ibunya Rengga.


Bukan berarti,Meca tak menjawab panggilan telepon dari Ibunya Rengga karena kecewa. Meca pun tetap menjawab panggilan telepon tersebut.


Meca pikir pasti ada sesuatu hal yang penting,maka dari itu Ibunya Rengga meneleponnya.


"Halo,tante....ada apa?"


"....................."


"Iya,tante aku sudah selesai kuliah kok."


".................."


"Iya tante. Nanti aku kesana."


"............."


"Iya.Sama-sama tante."


Alasan Ibunya Rengga menelepon Meca adalah karena ingin memintanya untuk menjaga Rengga.


Sebenarnya Meca merasa aneh setiap kali Ibunya Rengga memintanya untuk menjaga Rengga.


Yang membuatnya merasa aneh adalah saat Ia telah sampai di ruang inap Rengga, pasti Ibunya Rengga selalu menghilang entah kemana.


Dan anehnya,Ibunya Rengga tak kunjung kembali ke ruang inap Rengga bahkan sampai Ia pulang.


Atau mungkin sedang mengurusi sesuatu hal,maka dari itu Ibunya Rengga menyuruhnya untuk menjaga Rengga.


Ya,mungkin karena itu. Meca pun memukul kepalanya sendiri karena sudah berprasangka buruk terhadap Ibunya Rengga.


Terlepas dari itu,Meca pun memutuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit. Ia merasa tidak enak jika sampai di rumah sakit terlambat.


Pasti Ibunya Rengga akan menunggunya lama.


********


Di tempat lain,yaitu rumah sakit atau lebih tepatnya di ruang inap Rengga.


Rengga lagi-lagi merengek kepada Ibunya untuk menelepon Meca supaya Meca mau menemaninya di rumah sakit.


Terkesan kekanak-kanakan,tetapi Rengga tak memperdulikan hal tersebut.


Yang Ia pedulikan adalah ingin selalu bersama Meca saat waktunya tepat seperti ini. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan saat Ia sakit.


Ia ingin perhatian dari Meca,senyuman darinya dan hal lainnya yang pasti membuatnya senang.


Lagi-lagi Ibunya Rengga tak bisa menolak kemauan putranya itu.


Sebenarnya Ibunya Rengga tak setuju dengan akal bulus putranya itu demi mendapatkan perhatian dari Meca. Tetapi,mau bagaimana lagi,Ia sudah tak punya cara untuk menghentikan perilaku putranya itu.


Yang Ia lakukan saat ini adalah semacam pengorbanan seorang Ibu untuk anak kesayangannya.


*******


Gimana menurut kalian readers??


Sempat kesal kah dengan sifat Rengga??


Jangan lupa klik ikon ๐Ÿ‘untuk menaikkan popularitas novel saya....๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Happy reading ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ