ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 131



Ya,Meca masih mengenal betul dengan senyuman jahat orang itu. Peringainya,sikap,dan perilakunya masih terlintas di benak Meca.


Siapa lagi kalau bukan Ayahnya Bimo.


"Bisa tinggalkan saya sendiri dengan anak ini?" Pinta Ayahnya Bimo pada Bapak kepala Direktur.


"Iya. Baik." Sahut Bapak Kepala Direktur itu.


Setelah Bapak Kepala Direktur keluar dari ruangan,Ayahnya Bimo pun memutuskan untuk duduk di kursi Kepala Direktur tadi agar berhadapan dengan Meca yang ada di depan meja Kepala direktur.


"Kamu pasti terkejut kan? Saya juga tak kalah terkejutnya saat tahu anak yang saya beri beasiswa adalah kamu." Ucap Ayahnya Bimo dengan senyum seringainya.


"Bagaimana Bapak bisa tahu semua tentang saya?" Tanya Meca.


Flashback


Saat Ayahnya Bimo tengah menghadap ke arah laptopnya,tiba-tiba seseorang laki-laki muda yang berpakain serba hitam pun datang menghampirinya.


"Permisi,Pak. Saya sudah menyelesaikan tugas saya." Ucap seorang laki-laki tersebut.


Seakan tahu maksud dari seorang laki-laki itu,Ayahnya Bimo pun menghentikan aktifitasnya sejenak untuk menghadap seorang laki-laki yang menjadi orang suruhannya selama ini. Ia menyuruh seorang laki-laki itu untuk mencari informasi tentang Bimo dan orang terdekat Bimo yaitu Meca.


Tampak seorang laki-laki tadi,menyerahkan amplop coklat besar pada Ayahnya Bimo.


Tanpa pikir lama,Ayahnya Bimo pun membuka isi amplop yang diberikan orang suruhannya tersebut.


Senyumnya menyeringai setelah melihat isi amplop yang isinya foto-foto Meca dan Bimo saat bersama yang berhasil dipotret oleh orang suruhannya itu.


Apalagi,foto Meca saat berada di toserba.


Dengan foto itu Ayahnya Bimo tahu,jika kekasih Bimo hanyalah orang biasa yang bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


Setelah semua foto telah dilihatnya,kini tinggal secarik kertas berisi biodata Meca.


Ayahnya Bimo membaca setiap isi biodata Meca. Ternyata ada hal yang menarik yang tertuang di secarik kertas tersebut yang membuat Ayahnya Bimo tersentak.


"Apa ini benar jika anak ini kuliah di kampus yang sama dengan Bimo?" Tanya Ayahnya Bimo.


"Iya. Saya mengikuti putra anda dengan kekasihnya itu saat naik mobil bersama.


Ternyata setelah saya ikuti,mereka pergi ke kampus yang sama." Jelas seorang laki-laki suruhan tadi.


Sejenak Ayahnya Bimo pun berpikir tentang bagaimana Meca bisa memenuhi biaya kuliah di kampus xxxxxx yang biayanya dibilang cukup mahal untuk kuliah disana,sedangkan Meca hanya orang biasa yang bekerja di toserba.


'Apa dia dapat beasiswa disana?' Batin Ayahnya Bimo setelah menemukan jawaban dari masalah yang dipertanyakan oleh dirinya sendiri.


Setelah mantap dengan kesimpulannya itu,Ayahnya Bimo pun menelepon pihak kampus untuk meyakinkan kebenaran dari dugaanya tersebut.


Setelah dapat menelepon pihak kampus itu dan langsung mendapat jawaban atas pertanyaanya,Ayahnya Bimo pun memutus sambungan teleponnya.


Senyumnya menyeringai setelah mendapati jika dugaannya benar,Meca adalah anak penerima beasiswa.


Dan itu artinya,Ia dapat memanfaatkan situsasi ini untuk melawan Meca dengan cara yang telah Ia pikirkan selama ini.


Flashback Off


"Bagaimana Bapak bisa tahu semua tentang saya?" Tanya Meca.


"Itu kamu nggak perlu tahu. Tapi,sekarang yang perlu kamu tahu adalah saya akan menang melawan kamu." Ucap Ayahnya Bimo sambil menunjukkan senyum seringainya.


"Apa maksud Bapak?" Tanya Meca dengan perasaan sedikit takut.


"Saya pernah bilang sama kamu,jika saya pasti akan menang. Sepertinya,ini waktunya. Saya akan buat kesepakatan lagi. Saya harap kamu akan setuju dengan kesepakatan yang akan saya buat,kalau kamu masih tidak setuju,kemungkinan kamu nggak akan bisa wujudin cita-cita kamu." Jelas Ayahnya Bimo.


"Ke..sepakatan apa lagi?" Tanya Meca dengan gugupnya.


Entah kenapa,nyali Meca tiba-tiba ciut saat berhadapan dengan Ayahnya Bimo saat ini.


Beda sekali saat Ia berhadapan dengan Ayahnya Bimo waktu di toserba lalu.


Saat ini,Meca merasa takut dan gugup. Meca dapat merasakan jika kesepakatan yang akan dibuat Ayahnya Bimo saat ini pasti lebih menakutkan dibandingan kesepakatan yang sebelumnya.


"Permintaan saya masih sama,saya ingin kamu segera putus dengan Bimo. Jika kamu setuju putus dengan Bimo,maka saya akan meneruskan beasiswa kamu dan tidak akan menganggu kehidupan kamu lagi. Tapi,jika kamu masih tidak mau putus dengan anak saya,maka beasiswa yang saya berikan ke kamu akan saya hentikan. Jadi,pikirkan baik-baik kesepakatan ini!" Ucap Ayahnya Bimo.


Meca pun hanya bisa diam setelah mendengarkan semua ucapan yang dilontarkan oleh Ayahnya Bimo.


Ia tidak bisa menolak langsung kesepakatan yang dibuat Ayahnya Bimo itu,seperti yang dilakukannya sebelumnya.


Karena kesepakatan itu berhubungan dengan beasiswanya.


Meca sudah bekerja keras untuk bisa mendapatkan beasiswa di kampus ini.


Dan dengan beasiswa itu,Ia berharap dapat mencapai cita-citanya dan membanggakan almarhum Ayahnya dan Ibunya.


Ia tak bisa membiarkan beasiswanya hilang begitu saja hanya karena masalah seperti ini,tetapi di lain sisi Ia juga harus merelakan seseorang untuk tetap mendapatkan beasiswanya.


Bingung,bimbang,ragu itulah yang dirasakan Meca saat ini.


"Ini kartu nama saya. Saya beri kamu waktu seminggu untuk tahu jawaban dari kamu.


Saat waktunya telah tiba,hubungi nomor saya untuk bilang kalau kamu menyetujuinya atau tidak. Ingat pikirkan baik-baik!!" Ucap Ayahnya Bimo sambil menyodorkan kartu namanya pada Meca.


Setelah selesai dengan tujuannya untuk menemui Meca,Ayahnya Bimo pun memutuskan untuk beranjak dari duduknya lalu pergi dari ruangan Kepala Direktur dengan santainya,tanpa merasa bersalah.


Meca pun hanya bisa mengeluarkan nafas beratnya.


Sekali lagi,Meca hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apa-apa. Memohon pada Ayahnya Bimo pun juga tidak berguna,karena ini bukan perintah melainkan kesepakatan antara Ia dan Ayahnya Bimo.


"Bagaimana ini?" Gumam Meca dengan raut muka kebingungan.


Jangan Lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya.


Happy reading ๐Ÿ˜