
Ibu Rengga sedang duduk dengan wajah yang cemas.
Melihat Ibu Rengga begitu kasihan,Meca pun menghampirinya.
Bimo pun hanya mengikuti Meca di belakangnya.
"Permisi,tante kenapa terlihat sedih?" Tanya Meca pada Ibu Rengga sambil mengelus punggung Ibu Rengga yang sedang duduk dengan wajah yang menunduk.
Ibu Rengga pun tersadar dari lamunannya setelah ditanya oleh Meca.
Ia pun mendongak ke atas untuk melihat siapa orang yang sedang bertanya kepadanya.
Ibu Rengga bernafas lega setelah melihat seorang gadis yang Ia kenal dengan baik yaitu Meca.
"Meca ternyata. Tante kira siapa. Sini duduk di samping tante." Ucap Ibu Rengga dengan melemparkan senyumannya.
Seakan-akan kesedihannya tadi hilang ketika Meca datang menghampirinya.
Setelah disuruh duduk oleh Ibu Rengga,Meca pun langsung duduk disampingnya.
Begitu juga dengan Bimo,Ia pun ikut duduk di samping Meca.
"Ada apa tante? Tante disini lagi nunggu orang sakit?" Tanya Meca.
"Iya,tante lagi nunggu Rengga." Jawab Ibu Rengga dengan nada bicara pelan.
Meca pun terkejut jika Rengga sedang sakit,masalahnya kemarin-kemarin Meca bertemu dengannya terlihat baik-baik saja.
"Rengga sakit apa tante?" Tanya Meca dengan khawatir.
"Siapa yang sakit?" Tanya Bimo pada Meca.
Walaupun jarak duduk Bimo dengan Meca dekat,tetapi Bimo tidak bisa mendengarnya dengan baik karena posisi duduk Meca yang membelakanginya. Ditambah suara Ibu Rengga yang pelan.
"Rengga Kak." Jawab Meca.
"Oh....baguslah." Ucap Bimo dengan santainya.
Meca pun langsung memukul lengan Bimo karena kesal dengan ucapan Bimo yang malah senang ketika Rengga sakit.
"Apa sih Mec?" Tanya Bimo dengan kesal karena Meca memukulnya.
"Terserah." Jawab Meca dengan sewot lalu Ia menoleh kembali ke arah Ibu Rengga.
"Jadi,Rengga itu sakit apa tante?" Tanya Meca.
"Tante juga nggak tahu,tadi itu tante ditelpon pihak kampus disuruh ke rumah sakit karena Rengga pingsan dan nggak siuman sampai sekarang. Tante jadi khawatir kalau Rengga kenapa-kenapa." Ucap Ibu Rengga dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar penjelasan Ibu Rengga,Bimo pun teringat saat Ia di UKS tadi Meca bilang kepadanya bahwa petugas UKS tidak ada karena sedang mengantar orang pingsan ke rumah sakit.
Kemungkinan orang yang pingsan itu adalah Rengga.
"Iya kayaknya Kak." Jawab Meca setelah berpikir sejenak.
"Tante yang sabar ya....semoga aja Rengga nggak apa-apa." Ucap Meca berusaha menenangkan Ibu Rengga.
Brak...
Suara pintu terbuka,terlihat dokter keluar dari ruangan yang digunakan untuk memeriksa Rengga.
Ibu Rengga pun spontan langsung berdiri dan menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaan Rengga.
Diikuti juga dengan Meca dan Bimo yang mengikuti Ibu Rengga dibelakangnya.
"Gimana dok keadaan anak saya?" Tanya Ibu Rengga.
"Anak Ibu mengidap tumor otak. Walaupun tumornya masih kecil,tapi mulai membuat anak Ibu merasakan gejalanya seperti pingsan tadi." Jelas Dokter
Ibu Rengga mendengar penyakit yang diderita anaknya itu pun langsung kaget dan sesekali tak percaya.
Karena selama ini,Ia selalu melihat anaknya dalam keadaan sehat.
"Tumor otak?" Tanya Meca dengan kagetnya karena tak percaya.
Meca pun juga merasakan kesedihan Ibu Rengga.
Ia tahu apa yang sedang dirasakan oleh seorang Ibu jika tahu anaknya mengidap penyakit yang cukup berbahaya yang bisa mengancam nyawa.
"Tolong Ibu,ikut saya ke ruang konsultasi dulu. Ada yang mau saya bicarakan." Kata Dokter pada Ibu Rengga.
Ibu Rengga hanya bisa menyetujui arahan dokter itu.
"Tante pergi dulu ya..." Pamit Ibu Rengga pada Meca.
"Iya tante...." Jawab Meca.
Bimo melihat wajah Meca yang terlihat sedih. Ia mulai berpikir jika Meca takut kehilangan Rengga. Buktinya sampai Meca ikut sedih mendengar penyakit yang diderita Rengga.
Bimo pun mulai terbakar api cemburu.
"Kenapa Elo terlihat sedih banget? Takut kehilangan Rengga ya?" Tanya Bimo.
Meca pun menatap Bimo dengan sinis. Ia tak mengerti lagi dengan Bimo.
Disaat seperti ini,Bimo masih menanyakan hal yang tidak jelas.
Karena kesal,Meca pun tidak menjawab pertanyaan Bimo. Ia pun pergi meninggalkan Bimo.
"Mec,Tungguin gue..." Teriak Bimo sambil berusaha mengikuti Meca.