
Setelah gagal menelepon Meca,Bimo pun memutuskan untuk mandi sebelum tidur supaya badannya terasa segar.
Sesudah mandi dan berpakaian baju tidur,Ia pun langsung berbaring di kasur yang empuk.Tak lupa Ia mematikan lampu sebelum tidur.
Saat Bimo bersiap untuk tidur,tiba-tiba di pikirannya terus terlintas Meca dan Meca.
Bimo pun mencoba menghilangkan Meca di dalam pikirannya. Ia pun mencoba merubah posisi tidurnya yang semula berbaring biasa menjadi berbaring miring ke kanan.
Setelah Bimo mencoba merubah posisi tidurnya,Ia pun memejamkan kedua matanya. Tetapi,lagi-lagi pikirannya selalu ada Meca.
Bimo pun tak menyerah,Ia mencoba lagi merubah posisi tidurnya menjadi berbaring ke kiri.
Tetapi,lagi-lagi kedua matanya tidak bisa tidur dengan pulas.
Karena frustasi,Bimo pun langsung bangun sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Kenapa Elo selalu ada di pikiran gue?" Gumam Bimo.
Supaya pikirannya menjadi lebih tenang,akhirnya Bimo memutuskan untuk menelepon Meca sekali lagi.
Ia pun menghidupkan lampu kamarnya kembali lalu mengambil ponselnya.
Setelah mengambil ponselnya,Ia pun langsung mencari nomor Meca dan melakukan panggilan telepon kepadanya.
Senyum Bimo pun langsung merekah saat Ia telah berhasil membuat panggilan telepon dengan Meca.
Setelah berhasil berteleponan dengan Meca,Bimo pun langsung mengutarakan kabarnya di Amerika kepada Meca.
Supaya Bimo bisa lebih lama berteleponan dengan Meca,Ia pun mencoba berbasa-basi kepada Meca. Contohnya,seperti menanyakan apa yang sedang dilakukan Meca disana.
Tetapi,ada yang aneh saat Bimo menanyakan hal tersebut.
Meca seperti berpikir lama untuk menjawab pertanyaan yang dibilang cukup mudah itu.
Yang paling membuat Bimo merasa aneh dengan Meca adalah saat Ia tiba-tiba mendengar Meca berkata "Rengga,Elo udah bangun".
Bimo pun tak mau berpikiran negatif terhadap Meca terlebih dahulu. Ia mencoba menanyakan maksud perkataan Meca tersebut.
Tetapi,pertanyaannya itu tak kunjung di jawab oleh Meca. Malah,Meca langsung menutup panggilan teleponnya secara sepihak.
Pikiran Bimo semakin kacau,Ia mulai berpikiran negatif terhadap Meca.
Apa dia sedang dengan Rengga?
Kenapa Meca sangat senang saat Rengga bangun?
Apa mereka...??
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang saat ini ada di pikiran Bimo.
Untuk menepis pikiran negatifnya itu,Bimo pun sekali lagi mencoba menelepon Meca untuk meminta penjelasan darinya.
Bimo pun menunggu panggilan teleponnya tersambung dengan Meca,tetapi hasilnya nihil. Karena ponsel Meca sudah tidak aktif atau dimatikan daya.
Bimo tak menyerah begitu saja,Ia lalu memutuskan untuk menelepon Rengga.
Anehnya,ponsel Rengga juga tidak aktif atau dimatikan daya. Jadi,Bimo tidak bisa menghubungi Rengga maupun Meca.
******
Begitu melihat Rengga bangun dari komanya,Meca pun langsung menanyakan kondisinya.
Rengga pun menjawab jika kepalanya masih terasa sakit.
Karena khawatir dengan kondisi Rengga,akhirnya Meca pun memutuskan untuk memanggil dokter guna memeriksa kondisi Rengga.
Tut...tut...tut...
Bunyi panggilan telepon menggema di telinga Rengga.
Rengga pun mendapati jika ponsel yang berbunyi itu adalah ponsel Meca.
Ternyata ponsel Meca tertinggal di ranjang inapnya.
Lalu Rengga pun mengambil ponsel Meca yang tak jauh darinya tersebut.
Setelah,Ia lihat ternyata ada sebuah panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal.
Tetapi,Rengga bisa memastikan jika nomor telepon itu adalah nomor Bimo.
Karena sebelumnya Ia tahu jika Meca sedang melakukan panggilan dengan Bimo saat Ia baru sadar dari komanya tadi.
Tanpa pikir lama,Rengga pun langsung mematikan ponsel Meca. Dengan itu,Bimo tak bisa menghubungi Meca lagi.
"Ini balasan untuk Elo,karena Elo nggak mau beri tahu gue soal keberadaan Meca." Ucap Rengga sambil tersenyum sinis.
"Kapan Rengga tadi siuman?" Tanya Ibunya Rengga di luar ruang inap.
"Baru saja,tante." Sahut Meca.
Mendengar Meca kembali,Rengga pun segera meletakkan ponsel Meca kembali seperti keadaan semula supaya Meca tak curiga.
Dan benar saja,setelah itu Meca,Ibunya,beserta Dokter datang ke ruang inap Rengga.
Dokter pun langsung memeriksa keadaan Rengga.
"Iya dok. Terima kasih." Sahut Ibunya Rengga.
Setelah memeriksa kondisi Rengga,dokter pun pamit keluar kepada Ibunya Rengga.
"Syukurlah kamu sudah siuman. Ibu sangat khawatir sama kamu." Ucap Ibunya Rengga sambil memegang tangan Rengga.
Melihat Ibunya Rengga dapat tersenyum kembali,Meca pun cukup lega.
Tiba-tiba Meca pun teringat jika Ibunya Rengga belum makan. Berhubung Rengga sudah siuman,pasti pikiran Ibunya Rengga menjadi lebih tenang. Ini waktu yang tepat untuk menyuruh Ibunya Rengga makan.
"Oh...iya. Tante,kan belum makan. Bagaimana kalau tante makan dulu?" Saran Meca.
Ibunya Rengga pun senyum kepada Meca lalu berkata "Iya. Tante akan makan. Kamu jangan khawatir lagi!"
"Tapi,tante makanan yang saya beli tadi,ada di kulkas. Bentar,saya panaskan dulu!" Ucap Meca sambil tersenyum.
"Nggak usah repot-repot."
"Nggak apa-apa kok tante."
Lalu,Meca pun bergegas mengambil makanan di kulkas lalu keluar untuk memanaskan makanan yang dingin karena disimpan di kulkas tersebut.
"Anak yang sangat baik." Puji Ibunya Rengga saat melihat Meca keluar guna memanaskan makanan untuknya.
"Ibu,suka sama Meca?" Tanya Rengga.
"Iya. Dia anak yang baik dan perhatian." Sahut Ibunya Rengga.
"Itulah mengapa Rengga juga suka sama Meca. Tapi,Meca tidak menyukai Rengga." Ucap Rengga dengan raut wajah sedih seketika.
"Jangan sedih!! Mungkin kamu belum berjodoh dengan Meca."
"Ibu,boleh aku minta tolong?" Pinta Rengga.
Ibunya Rengga pun tampak bingung sesaat dengan pertanyaan anaknya itu.
"Minta tolong apa?"
"Aku ingin Meca menginap malam ini disini. Jadi,aku mohon sama Ibu untuk buat Meca mau menginap malam ini." Ucap Rengga.
Ibunya Rengga tampak berpikir sejenak,lalu berucap kembali pada Rengga "Tapi,Meca dari pagi belum istirahat karena nunggu kamu di rumah sakit. Kamu nggak kasihan?"
"Tolong bu! Ini waktu yang tepat untuk Rengga dekatin Meca." Pinta Rengga sekali lagi.
Ibunya Rengga hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar menyikapi permintaan putranya itu.
Ia pun tak bisa menolak permintaan putranya itu,apalagi Rengga tengah sakit seperti ini. Ia takut jika Ia tak menuruti keinginan anaknya,putranya itu akan kepikiran dan membuat kondisi kesehatanya menurun.
"Ya udah. Tapi,kamu nggak akan berbuat macam-macam kan,sama Meca?"
"Ibu,tenang aja. Aku masih bisa berpikir jernih kok. Lagipula,Ibu kan juga ada disini."
Tak lama kemudian,Meca pun masuk ke ruang inap Rengga dengan membawa makanan yang sudah Ia panaskan tersebut.
"Tante,ini silahkan di makan,sebelum dingin." Ucap Meca saat menghampiri Ibunya Rengga yang tengah duduk di samping ranjang rumah sakit yang di tempati Rengga.
"Terima kasih ya..." Ucap Ibunya Rengga dengan tersenyum.
"Sama-sama tante." Sahut Meca.
Sebenarnya Ibunya Rengga tak tega untuk meminta Meca menginap di rumah sakit malam ini.
Karena Ia tahu,pasti Meca juga sudah merasa lelah.
Tetapi,mau bagaimana lagi ini semua demi putra satu-satunya yaitu Rengga.
Sebelum bicara kepada Meca,Ibunya Rengga pun menarik nafasnya perlahan lalu mencoba berbicara kepada Meca dengan pelan.
"Meca...."
"Iya,tante. Ada apa?"
"Maaf,merepotkan kamu,tapi kamu mau nggak menginap disini malam ini? Tante,nggak punya teman untuk jagain Rengga soalnya." Tanya Ibunya Rengga sambil tersenyum.
"Iya...tante. Saya mau kok." Ucap Meca sambil tersenyum.
Meca pun hanya bisa mengiyakan kemauan Ibunya Rengga. Jika mau menolaknya pun Meca tak enak,karena Ia lah yang membuat Rengga sampai di rumah sakit ini.
Kini saatnya Meca membayar atas rasa bersalahnya pada Rengga maupun Ibunya.
Mendengar Meca setuju,Rengga pun senang bukan main.
Dia akan memanfaatkan malam ini untuk lebih dekat dengan Meca tanpa ada halangan dari Bimo pastinya.
********
Gimana menurut kalian sifat Rengga??
Jangan lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya....๐๐
Happy reading ๐ฅฐ๐ฅฐ