ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 96



Bimo pun berpikir 'apa iya yang membunuh Kakak perempuannya itu ayahnya sendiri,tetapi juga tidak mungkin'.


Bimo mencoba untuk berpikir positif dengan maksud perkataan ayahnya itu.Ia berharap pikiran negatifnya itu tidak benar-benar terjadi.


Dengan berat hati,akhirnya Ardiansyah(ayah Bimo) mulai menceritakan semuanya.


"Sebenarnya akhir-akhir ini Papa berhasil merebut saham dari perusahaan xxxx,CEO dari perusahaan itu sangat marah pada Papa. Lalu tiba-tiba dia mengancam Papa jika Papa tidak mengembalikan saham perusahaannya,maka dia akan membunuh salah satu keluarga Papa. Papa juga nggak takut akan ancamannya,Papa pikir itu cuma untuk buat Papa takut aja.


Lalu dua hari setelahnya Papa dikirimi pesan oleh orang yang tidak dikenal. Orang itu mengirimi pesan jika Sina dalam bahaya. Papa langsung takut lalu pulang ke rumah,dan ternyata Sina telah meninggal." Jelas Ardiansyah pada Bimo.


Bimo tidak tahu harus senang atau sedih,disamping sisi Ia lega jika pikiran negatifnya tentang ayahnya tidak menjadi nyata. Akan tetapi,jika dipikir-pikir kematian Kakak perempuannya disebabkan oleh keserakahan ayahnya.


Ibu Vina pun langsung syok setelah mendengar penjelasan suaminya itu,bisa-bisanya seorang kepala keluarga bisa mengorbangkan anggota keluarganya demi sebuah saham.


Air mata Ibu Vina mulai menetes di pipinya yang sudah mulai keriput.


"Papa bisa-bisanya anggap ancaman itu cuma sepele!! Sekarang lihat Pa...Kak Sina udah nggak ada,Kak Sina udah meninggal.


Kenapa sih Papa hanya mentingin uang dan uang? Kenapa!!" Marah Bimo pada Ayahnya lalu menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan Papa Bim,Papa juga nggak tahu kalau bakalan begini. Maafkan Papa..." Pinta Ardiansyah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kalau Papa minta maaf sekarang,itu udah nggak guna Pa...Kak Sina juga nggak bisa kembali lagi di dunia ini." Sahut Bimo.


Para polisi hanya bengong melihat pertengkaran antara Ardiansyah dan Bimo.


Mereka juga tak menyangka karena cuma masalah sepele saja bisa membuat orang berbuat berani berbuat yang tidak manusiawi seperti itu.


"Kalau begitu,silahkan bapak ikut saya ke kantor untuk kita tanyai tentang pelaku tersebut." Pinta polisi pada Ayah Bimo.


"Baik Pak..." jawab Ardiansyah.


Ardiansyah menoleh pada istrinya,Ia melihat istrinya juga merasa terpukul setelah mendengar ceritanya tadi.


Ia pun menghampiri istrinya yang dari tadi cuma menundukkan kepalanya sambil menangis.


"Ma...maafkan Papa ya..." lirih Ardiansyah pada Vina.


Ibu Vina tidak menoleh ke wajah Ardiansyah sedikitpun,Ia tetap menundukkan kepalanya. Mendengar permintaan maaf dari suaminya malah membuat Ia lebih sedih dari sebelumnya.


Melihat Ibunya yang begitu sedih,Bimo pun mengahampiri Ibunya itu.


Ardiansyah hanya terdiam,lalu berbalik badan dan keluar bersama para polisi itu.


*******


Flashback off


Setelah Bimo menceritakan semua tentang penyebab kematian Kakak perempuanya,Meca juga bisa merasakan kesedihan yang dialami Bimo waktu itu.


Tanpa sadar,air mata Bimo menetes di pipinya saat kembali mengingat peristiwa yang paling menyedihkan di dalam kehidupannya itu.


"Yang sabar ya Kak...kita semua di dunia ini pasti mengalami hal yang menyedihkan.


Gue pun juga pernah merasakan kehilangan seseorang yang gue sayangi yaitu ayah gue. Waktu itu,gue juga merasa tidak rela jika ayah gue meninggal secepat itu,tapi gue berusaha menerimanya dengan ikhlas. Kebahagiaan yang kita raih di dunia ini cuma sesaat,setelah itu datanglah kesedihan yang siap menimpa kita.


Sampai sekarang pun gue masih merasa jika gue sedang menerima sebuah kebahagiaan,pasti setelah itu gue juga akan menerima kesedihan. Semua kebahagiaan dan kesedihan itu sudah diatur oleh sang maha Kuasa." Jelas Meca.


Prok...prok...prok....


Sebuah tepuk tangan dari Bimo untuk Meca.


Entah kenapa,Bimo merasa kesedihannya langsung hilang jika Meca mencoba menenangkannya dengan penjelasan yang sangat masuk di akal.


Meca bingung kenapa Bimo tiba-tiba Bimo bertepuk tangan,padahal tadi Bimo merasa sedih.


"Kok Kakak tepuk tangan? " Tanya Meca dengan heran.


"Perkataan Elo tadi bisa buat hati gue jadi adem lagi, memang pantes Elo pilih jurusan psikolog." Ucap Bimo sambil melemparkan senyumannya pada Meca.


"Jadi,Kakak udah nggak sedih lagi?" Tanya Meca.


"Enggak. makasih ya..." Ucap Bimo lalu tersenyum pada Meca.


"Maka dari itu,mengapa gue pilih jurusan psikolog,karena gue bisa bikin orang yang sedih bisa bahagia lagi." Kata Meca lalu tersenyum dengan puasnya.


Bimo ikut tersenyum melihat Meca yang terlihat tersenyum.


Entah kenapa Bimo merasa senang jika melihat Meca tersenyum dengan puasnya.