ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 129



"Kok Elo tahu?" Tanya Meca dengan terkejutnya saat tahu jika Bimo telah mengetahui semua masalahnya dengan Ayahnya yang sengaja Ia tutupi.


Bimo pun melepas pelukannya,lalu menatap mata Meca dengan lekat.


Flashback On


Setelah mengantar Meca,Bimo pun langsung pulang ke rumahnya.


Bimo juga tidak berpikir akan mampir ke cafe atau tempat lainnya. Ia hanya ingin beristirahat dengan cepat pada malam hari ini.


Dengan mengendarai motornya pada kecepatan rata-rata yang cukup membutuhkan waktu yang lama,akhirnya Bimo telah sampai di depan rumahnya.


Sesampainya di halaman rumahnya,Bimo pun segera memasukkan motornya ke dalam garasi lalu setelah itu langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Dari mana?" Bertemu dengan pacar?" Tanya Ayahnya Bimo dengan nada bicara meledek.


Saat Ayahnya Bimo sedang bersantai sambil membaca koran,Ia melihat putranya masuk ke dalam rumah dan berjalan melewatinya. Lantas,Ia pun langsung menghentikan kegiatannya dan menegur putranya itu.


Mendengar pertanyaan dari Ayahnya,Bimo pun langsung menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan 'pacar' yang dilontarkan Ayahnya. Ucapan 'pacar' membuat Bimo terperangah.


"Kenapa Papa ngira kalau aku ketemu sama pacar aku?" Tanya Bimo dengan penuh kecurigaan.


"Papa hanya menebak aja. Ternyata,tebakan Papa benar." Sahut Ayahnya Bimo dengan masih memegang koran di kedua tangannya.


"Papa apa tau kalau aku punya pacar?" Tanya Bimo.


Ayahnya Bimo pun meletakkan korannya di meja lalu menghadap ke arah Bimo yang cukup jauh darinya.


"Papa tau semua tentang kamu. Papa sengaja nyuruh orang untuk ikutin kamu agar Papa tau kehidupan kamu diluar sana." Jawab Ayahnya Bimo dengan jujur.


Karena sudah mengetahui semua tentang Bimo,Ayahnya Bimo pun memilih jujur atas apa yang telah dilakukannya terhadap Bimo.


Bimo pun terkejut dengan raut wajah yang marah setelah mendengar jawaban dari Ayahnya itu. Bimo tidak habis pikir dengan cara Ayahnya itu. Bisa-bisanya Ayahnya menyuruh orang untuk mengikutinya kemanapun Ia pergi. Bodohnya,Bimo tidak tahu jika Ia selama ini selalu diikuti oleh orang suruhan Ayahnya.


Lalu Bimo pun menghampiri Ayahnya yang sedang duduk dengan amarah yang tidak bisa terpendam lagi.


"Kenapa Papa nyuruh orang untuk ikutin aku? Kenapa Papa nggak pernah beri kebebasan sama aku!!" Ucap Bimo dengan nada meninggi karena sudah emosi.


"Papa ingin tahu alasan kenapa kamu nggak ingin kuliah di luar negeri. Tapi,setelah Papa nyuruh orang untuk ikutin kamu,ternyata kamu ada seseorang yang kamu sayangi yang bekerja di toserba itu. Kini Papa tahu,sebenarnya alasan kamu tidak mau kuliah di luar negeri karena wanita di toserba itu." Ucap Ayahnya Bimo.


Mendengar penjelasan Ayahnya Bimo,membuat Bimo naik pitam.


Apalagi Ayahnya menyuruh orang untuk mengikuti Meca juga.


Tiba-tiba Bimo mengingat saat Ayahnya tadi pergi ke toserba tempat kerja Meca.


Mungkin kecurigaannya tadi benar,mungkin saja Ayahnya tadi ke toserba hanya untuk menemui Meca dan bukan untuk membeli sesuatu.


Apalagi Bimo mengingat betul saat Ia melihat Meca sedih setelah Bimo melihat Ayahnya baru keluar dari toserba.


Mungkin saja Ayahnya mengancam Meca atau mengintimindasi Meca yang membuat dirinya terlihat sedih saat bersama Bimo tadi.


"Walaupun dengan cara apapun yang Papa buat,Aku nggak akan pernah mau kuliah di luar negeri. Dan jangan pernah ganggu pacar aku lagi!!" Ucap Bimo sebelum pergi dari hadapan Ayahnya.


Bimo pun memutuskan untuk pergi menemui Meca. Ia sudah tidak sabar untuk menanyakan semua yang telah dilakukan Ayahnya kepada Meca,sehingga Meca terlihat sedih dan murung.


Bimo merasa bersalah pada Meca,karena masalahnya Meca pun ikut tertekan.


Saat Bimo akan keluar dari rumah,Ibunya melihatnya lalu menghentikannya.


"Mau kemana? Ini udah malem lo.."Ucap Ibunya Bimo dengan khawatir.


"Mama jangan khawatir,aku nggak akan lama." Sahut Bimo yang mencoba menenangkan Ibunya.


Lalu Bimo pun langsung membuka pintu,dan keluar dari rumahnya.


"Itulah penyebab kamu suka manjain anak kamu. Dia akan selalu bantah perintah kamu." Ucap Ayahnya Bimo pada istirnya yang masih berada di depan pintu.


Mendengar ucapan suaminya,Ibunya Bimo hanya bisa diam sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


****


Bimo pun membawa motornya dengan kecepatan di atas rata-rata agar cepat sampai di tempat tujuannya yaitu rumah Meca.


Dan benar saja hanya beberapa menit dari rumahnya,Bimo sudah sampai di depan rumah Meca.


Begitu sampai di depan rumah Meca,Bimo langsung mengambil ponselnya untuk memberitahu Meca lewat pesan yang Ia kirimkan.


Bimo sengaja tidak mengetuk pintu Meca,karena takut jika menganggu Ibunya Meca yang mungkin saja sudah tidur.


Apalagi sudah larut malam seperti ini.


Bimo pun berharap jika Meca belum tidur,sehingga Meca bisa menemuinya. Setelah Bimo melihat pesan yang Ia kirim pada Meca tadi,ternyata pesannya telah dibaca oleh Meca.


Itu artinya,Meca belum tidur dan akan menemuinya. Akhirnya Bimo pun bisa lega.


Bimo pun melepas pelukannya,lalu menatap mata Meca dengan lekat.


"Kenapa Elo nggak mau bilang sama gue kalau Elo sedih karena habis diancam sama Papa gue?" Tanya Bimo.


"Gue nggak diancam sama Ayah Elo kok. Gue hanya nggak mau Elo tambah benci sama Ayah Elo sendiri setelah gue ceritain semua masalah gue sama Ayah Elo." Sahut Meca.


"Tapi,ini juga menyangkut gue Mec!! Sekarang Elo ceritain semua apa yang dilakukan Ayah gue sama Elo!! Ayo cepat!!" Desak Bimo yang sudah penasaran.


Meca pun menghela nafasnya dengan berat. Ia hanya bisa pasrah dengan desakan Bimo yang mengharuskannya menceritakan semua masalahnya dengan Ayahnya Bimo.


Hendak disembunyikan dari Bimo pun juga tidak berguna. Toh,Bimo juga sudah mengetahui dahulu jika Meca mempunyai masalah dengan Ayahnya Bimo.


Meca pun bercerita semua yang dibicarakannya dengan Ayahnya Bimo di toserba,mulai dari membuat kesepakatan yang Ayahnya Bimo buat dan setiap perintah yang Ayahnya Bimo ucapkan.


Bimo pun menyimaknya dengan seksama dan Ia pastikan jika Ia sudah memahami semua ucapan Meca yang dilontarkan dari mulutnya.


"Sebenarnya,gue itu sedih bukan karena takut sama ancaman Ayah Elo,melainkan gue sedih karena gue merasa bersalah karena sudah membantah perintah yang diberikan Ayah Elo sama gue." Ucap Meca setelah selesai bercerita dengan Bimo.


"Mec!! Elo jangan pernah merasa bersalah sama Papa gue!! Elo tuh nggak salah,yang salah itu Papa gue. Jadi,berhenti nyalahin diri Elo sendiri dan jangan pernah nurutin semua perintah Papa gue!!" Perintah Bimo pada Meca.


"Jadi,menurut Elo gue nggak salah?" Tanya Meca.


"Iyalah!! " Sahut Bimo dengan tegas.


Jika menurut Bimo,Meca tidak melakukan hal yang salah,mungkin Meca tidak akan merasa bersedih lagi karena rasa bersalahnya.


Meca berpikir,jika Ia sudah melakukan hal yang benar.


"Mec,asal Elo tahu. Gue semakin cinta sama Elo,saat gue tahu Elo nolak kesepakatan Papa gue hanya karena Elo nggak mau nyakitin hati gue." Ucap Bimo dengan malu-malu di hadapan Meca.


Meca pun menyunggingkan bibirnya lalu berkata " Gue nggak mau bikin Elo kecewa lagi dan lagi sama gue,apalagi bikin Elo sakit hati lagi. Gue juga mau berkorban untuk Elo,seperti Elo yang selalu berkorban untuk gue." Sahut Meca.


Mendengar ucapan Meca,Bimo sangat bahagia sampai loncat-loncat seperti anak kecil yang mendapatkan permen saja.


Tak lupa Ia memeluk Meca dengan erat untuk mengungkapkan rasa sayangnya dan rasa bahagianya saat ini untuk Meca.


Setelah berpelukan singkat,Bimo menatap wajah Meca dengan lekat sambil memegang kedua pundak Meca


Melihat wajah Meca dari dekat,membuat hasrat Bimo melonjak.


Bimo pun memiringkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya lalu memajukan wajahnya,sehingga lebih dekat dengan wajah Meca.


Seakan tahu dengan apa yang akan dilakukan Bimo,Meca pun refleks menutup kedua matanya sambil menunggu bibir Bimo menempel di bibirnya.


Meca dapat merasakan jika Bimo sudah dekat dengannya sampai nafas yang keluar dari hidung Bimo terasa di wajahnya.


Tut...tut....tut....


Tiba-tiba deru ponsel Bimo berbunyi di tengah adegan romantisnya bersama Meca.


Bimo pun menggerutu kesal. Bagaimana tidak? Tinggal beberapa senti saja,Bimo sudah berhasil menempatkan bibirnya ke bibir Meca. Tetapi,aksinya itu digagalkan hanya karena panggilan telepon.


Mendengar suara telepon,Meca pun membuka kedua matanya lalu langsung menyuruh Bimo untuk menjawab panggilan telepon tersebut.


Dengan sangat terpaksa,Bimo pun menjawab panggilan telepon tersebut.


Saat Bimo menerima panggilan telepon,Meca berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak karuan saat Bimo akan menciumnya tadi.


Meca mencoba menarik nafas lalu mengeluarkan nafasnya dengan pelan agar rileks.


Ternyata Bimo mendapat panggilan telepon dari Ibunya.


Di panggilan telepon tersebut,Ibunya menyuruh Bimo untuk segera pulang karena sudah larut malam.


Karena tidak mau membuat Ibunya khawatir padanya,Bimo pun memutuskan untuk pulang.


"Mec!! Inget kalau Papa gue buat masalah lagi buat Elo,Elo harus cerita sama gue!!" Ingat Bimo sebelum pergi dari hadapan Meca.


"Iya. Jangan khawatir!!" Sahut Meca.


Bimo pun naik motornya lalu memakai helm.


"Gue pulang duluan ya.." Pamit Bimo.


"Iya. Hati-hati..Dan jangan balik lagi,gue mau tidur." Ucap Meca sambil bercanda.


Bimo pun hanya tersenyum menanggapi candaan Meca. Lalu Bimo pun menghidupkan motornya dan menancapkan gas motornya untuk pergi dari rumah Meca.


Setelah Bimo perlahan hilang dari penglihatannya,lalu Meca pun masuk ke dalam rumahnya.


Jangan Lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya.


Happy reading ๐Ÿ˜