ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 73



Bimo masih mencium Meca walaupun Meca sudah mendorongnya dengan cara memukul-mukul dada Bimo agar Bimo menghentikan ciumannya pada Meca.


Tin....tin....tin...


Suara klakson mobil Rengga berbunyi membuat Bimo menghentikan ciumannya kepada Meca. Ia pun menoleh ke arah mobil Rengga yang mulai menjauh dari depan toserba.


Perlahan Ia memundurkan wajahnya dari wajah Meca,sedangkan Meca hanya terdiam dan menundukkan kepalanya ke bawah tanpa memandang wajah Bimo.


"Maaf Mec,gue nggak..." Kata Bimo terpotong karena Meca buru-buru menyelanya.


"Sebaiknya Kakak pulang, gue mau kerja. Hati-hati pulangnya." Kata Meca lalu pergi dari hadapan Bimo.


Meca pun pergi kembali ke meja kasirnya. Bimo dapat melihat Meca yang sedang ketakutan karenanya. Entah sudah berapa kali Ia membuat Meca ketakutan seperti itu,sekarang Ia pun merasa kesal terhadapa dirinya sendiri.


'Kenapa gue bodoh banget gini sih? Maaf Mec,sekali lagi.' Batin Bimo sambil melirik Meca dengan tatapan penuh iba.


Bimo pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Meca sendiri ,Ia tidak mau memaksa Meca untuk mendengar penjelasannya. Karena Ia tahu Meca masih kesal terhadapa dirinya. Ia hanya ingin membiarkan Meca tenang terlebih dahulu.


Bimo pun membuka pintu toserba untuk keluar dari toserba dengan sesekali menengok kebelakang untuk melihat Meca. Ia pun keluar dari toserba dan masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari toserba.


Meca melihat mobil Bimo yang sudah pergi pun akhirnya bisa bernapas lega.


Tidak tahu mengapa ciuman Bimo padanya masih terngiang-ngiang di kepala Meca,tetapi Meca berusaha menghilangkan pikiran itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dia selalu aja bikin gue kesel kayak gini. Selalu aja bertindak semaunya sendiri tanpa mikirin perasaan orang lain. Kak Bimo apa yang Elo lakuin hari ini ke gue?" Gumam Meca sambil merengek.


"Mbaknya nggak apa-apa kan?" Tanya pelanggan wanita yang berada tepat di depan meja kasirnya.


"Oh...saya nggak apa-apa. He...he...he..." Jawab Meca sambil melemparkan senyum bodohnya.


Pelanggan wanita itu pun menatap Meca dengan tatapan seperti menatap orang aneh.


Meca pun segera melayani pelanggan wanita itu.


"Semuanya jadi Rp.25.000.Ini mbak belanjaannya. Terima kasih dan silahkan datang kembali." Kata Meca sambil memberi barang belanjaan pelanggan wanita itu padanya.


Pelanggan wanita itu pun memberikan uang pada Meca sebesar Rp.50.000.


"Terima kasih. Saya permisi." Kata pelanggan wanita itu pada Meca.


Meca pun menganggukkan kepalanya sambil melemparkan senyumannya untuk menanggapi ucapan yang dilontarkan pelanggan wanita itu.


Tiba-tiba pelanggan wanita itu kembali dan menemui Meca.


"Ada yang kurang barang yang mau dibeli?" Tanya Meca dengan ramah.


"Mbak jangan sering ngelamun kalau jaga kasir,nanti kesambet kayak tadi kan bahaya." Ingat pelanggan wanita tadi pada Meca lalu pergi dari hadapan Meca.


Meca pun sedikit bingung dengan maksud perkataan pelanggan wanita tadi padanya. Setelah berpikir lama akhirnya Meca paham dengan maksud pelanggan wanita tadi.


"Ketika gue teriak tadi. Apa dikira kesambet? Haduh...padahal kan enggak huh...." Gumam Meca sambil menepuk dahinya dengan pelan.


Di sisi lain Bimo menyetir mobilnya sambil memikirkan apa yang telah diperbuat dengan Meca tadi.


Ia pun memutuskan untuk mampir ke sebuah cafe untuk minum kopi sebentar. Ia harap dengan meminum kopi bisa sedikit menenangkan pikirannya.


Setelah sampai di depan cafe,Ia memakirkan mobilnya lalu keluar dari mobilnya dan langsung memasuki cafe.


Disana Ia langsung disambut oleh pelayan untuk bertanya apa yang akan dipesan oleh Bimo.


"Mbak saya mau kopi cappucino satu." Kata Bimo pada pelayan wanita tersebut.


Pelayan wanita itu pun langsung paham dan segera pergi untuk menyiapkan pesanan Bimo.


Tak lama pesanan Bimo datang.pelayan itu langsung menaruh kopi ke meja yang ditempati Bimo.


"Mec,apa Elo akan benci lagi sama gue? Gumam Bimo sambil melihat jendela cafe yang terpampang sebuah jalan yang dilintasi banyak kendaraan yang berlalu lalang.


"Mas,ini kopinya. Mas...Mas..." Kata Pelayan wanita itu sambil terus memanggil Bimo yang sedang melamun. Tak lama Bimo pun tersadar dari lamunanya.


"Eh...iya. Terima kasih." Timpal Bimo.


"Bahkan gue nggak bisa fokus gini gara-gara mikirin Elo Mec." Gumam Bimo.