
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 8 malam,itu artinya waktunya Meca untuk pulang kerja di toserbanya.
Ia sudah membereskan semua yang harus dikerjakan sebelum Ia pulang. Setelah semua sudah beres,Meca pun siap untuk pergi pulang.
Seperti biasa,Ia pulang dengan mengendarai bis.Sambil menunggu bis datang, Ia menunggu di halte sambil mendengarkan musik.
Tal lama,lalu bis yang akan ditumpanginya pun datang. Meca segera naik ke bis itu.
Selang beberapa menit,Meca pun sampai di jalan menuju rumahnya.
Dari jalan itu,Meca berjalan menelusuri jalan itu sampai depan rumahnya.
Untungnya jalanan yang Ia telusuri itu tidak jalanan yang kondisinya sepi. Jalanan menuju rumahnya itu cukup ramai. Di pinggiran jalan terdapat toko kecil dan pedagang makanan yang berkedok di rumah yang disewakan.
Dari kejauhan ada seseorang laki-laki yang sedang memandang Meca. Senyum manis terukir di wajahnya setelah melihat Meca juga sedang tersenyum melihat ponselnya sambil mendengarkan musik menggunakan alat pendengar musik yang bertengger di telinga Meca.
Meca semakin berjalan mendekati laki-laki tersebut. Karena memang laki-laki tersebut berada di depan rumah Meca sambil duduk di dalam mobilnya.
Tin...tin...tin...
Meca begitu terkejut setelah mendengar suara klakson yang begitu keras. Sampai-sampai terdengar di telinganya walapun Ia memakai alat pendengar musik.
"AAA..." Teriak Meca karena takut bila ada mobil yang akan menabraknya.
Meca menutup matanya sambil memegangi kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Laki-laki yang ada di dalam mobil itu pun keluar dan menghampiri Meca yang sedang ketakutan.
"Ngapain Elo ?" Tanya laki-laki itu saat berada di depan Meca.
Sedangkan Meca masih menutup matanya. Dan kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Setelah laki-laki itu bertanya padanya,Meca mulai membuka matanya dan tidak lagi menutup kedua telinganya.
Meca kenal betul dengan suara laki-laki itu. Siapa lagi kalau tidak Bimo.
"Kak Bimo? Ngapain Kakak kesini?" Tanya Meca.
"Kenapa Elo muda-muda udah pikun gini sih? Gue kan tadi bilang mau ambil mobil gue di rumah Elo." Jawab Bimo.
"Tunggu..jadi yang nyembuyiin klakson tadi Kakak?" Tanya Meca sambil menoleh pada mobil Bimo yang terparkir di depan rumahnya.
Bimo pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Jangan bunyiin klakson lagi kalau ada gue. Bisa-bisa jantung gue copot gara-gara suara klakson Kakak." Ucap Meca sambil memegangi dadanya yang masih berdetak kencang karena terkejut tadi.
"Gue nggak nyangka Elo bakal kaget sampai kayak gitu." Ucap Bimo.
"Suara klakson mobil itu membuat gue teringat sama almarhum ayah gue. Waktu itu ayah gue meninggal gara-gara nyelamatin gue dari mobil yang mau nabrak gue. Karena itu, sampai sekarang gue takut jika gue sedang berjalan terus ada mobil yang bunyiin klaksonnya." Kata Meca dengan raut muka yang mulai sedih.
"Oh..jadi gitu. Maaf ya..lain kali gue nggak bakal bunyiin klakson lagi kalau ada Elo." Ucap Bimo.
"Nggak apa-apa kok. Lagi pula Kakak juga nggak tahu kalau gue bakal setakut itu." Sahut Meca.
"Meca!! Siapa yang datang?" Tanya Ibunya Meca tiba-tiba datang menghampiri Meca.
Ia keluar rumah karena mendengar suara klakson mobil yang Ia kira ada tamu yang akan datang.
Meca dan Bimo pun langsung menoleh ke arah Ibunya Meca.
Ibunya Meca pun menoleh ke orang yang Meca ajak bicara dari tadi. Dan ternyata orang itu adalah Bimo.
"Oh..Bimo ternyata...kok di luar sih..ayo masuk ke dalam." Ucap Ibunya Meca.
"Ibu..ini bukannya udah malem." Ucapan Meca tidak dihiraukan oleh Ibunya.Malah Ibunya sudah membawa Bimo masuk ke dalam rumahnya.
"Eh..Meca kamu cepet masuk." Ucap Ibunya Meca setelah sampai di depan pintu rumahnya.
"Iya bu.." Jawab Meca.
Di dalam rumah Meca
Ibunya Meca mempersilahkan Bimo duduk di kursi tamunya. Bimo pun hanya menuruti apa yang disuruh oleh Ibunya Meca.
Sedangkan Meca ingin langsung berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan istirahat. Tetapi keinginannya itu dicekal oleh Ibunya. Ibunya ingin Meca menemani Ia dan Bimo mengobrol di ruang tamu.
"Mec,duduk dulu sini." Ucap Ibunya Meca yang tengah duduk bersama Bimo.
Meca pun terpaksa menuruti kata Ibunya dan duduk bersama Bimo dan Ibunya di ruang tamu.
"Mau ngobrol apa sih?" Tanya Meca sambil duduk disebelah Ibunya.
Tut...tut...tut...
Bunyi telepon Ibunya tiba-tiba berdering di saat Meca akan bertanya.
"Bentar,telepon Ibu bunyi." Ucap Ibunya Meca sambil melihat handphonennya yang berada di atas meja.
Ibunya Meca pun mengambil handphonennya itu dan langsung menjawab panggilan telepon itu setelah melihat layar handphonennya ternyata yang meneleponnya adalah Ibunya Rengga.
Ibunya Meca : Halo ada apa jeng ?
Ibunya Rengga : Halo,saya cuma mau ngabarin kalau Rengga ada di rumah sakit sekarang. Terus juga saya mau minta tolong.Jeng bisa temenin saya nggak di rumah sakit malam ini ?
Ibunya Meca : Ya ampun Rengga sakit ternyata. Ya udah saya ke sana sekarang. Kasihan pasti kamu sendiri disana.
Ibunya Rengga : Terima kasih jeng..Ya udah saya tutup dulu teleponnya.
Ibunya Meca : Iya sama-sama.
Setelah itu panggilan mereka pun berakhir.
"Ibu mau ke rumah sakit?" Tanya Meca.
"Iya..kamu udah tau kalau Rengga di rumah sakit?" Tanya Ibunya Meca.
"Udah bu..katanya sakit tumor otak gitu." Jawab Meca.
"Ya ampun. Beneran kamu?" Tanya Ibunya Meca dengan terkejutnya.
"Iya..bu. Tadi aku sama Kak Bimo udah kesana. Tapi belum sempat nengokin Rengga." Jelas Meca.
"Oh..gitu. Ya udah sekarang Ibu mau ke rumah sakit." Ucap Ibunya Meca.
"Ibu naik apa kesananya?" Tanya Meca.
Bimo pun berinisiatif untuk mengantar Ibunya Meca.
Ia merasa kasihan jika Ibunya Meca malam-malam harus mencari kendaraan.
"Gimana kalau saya antar aja tante?" Tawar Bimo.
"Ya udah kalau gitu. Meca kamu juga temenin Ibu ya.." Ucap Ibunya Meca.
"Oh..iya bu." Jawab Meca.
Lalu Meca, Ibunya dan Bimo pun pergi keluar dari rumah Meca. Mereka semua naik ke mobil Bimo dan berangkat menuju rumah sakit.