ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 102



Meca tak sadar jika dirinya sedang diperebutkan oleh Bimo dan Rengga.


Meca malah merasa bingung dengan tingkah laku dua orang laki-laki itu(Bimo dan Rengga).


"Mec,jangan dengerin kata Bimo. Gue beneran sudah nggak apa-apa kok." Ucap Rengga sambil menarik tangan Meca kembali.


"Rengga Elo harus nurutin kata gue. Elo tuh harus banyak istirahat." Sahut Bimo dengan nada bicara mulai meninggi karena kesal pada Rengga.


"Kenapa gue harus nurutin kata Elo?" Tanya Rengga dengan gaya meledek pada Bimo.


"Elo tuh..ya.."Kata Bimo terpotong karena disela oleh Meca.


"Berhenti!!" Bentak Meca.


Meca merasa kesal pada Rengga dan Bimo. Jika mereka bertemu pasti mereka bertengkar dan yang melerainya sudah pasti itu Meca. Jika Meca tidak melerai pasti Bimo dan Rengga akan pukul-pukulan.


Jika Meca tidak cepat berteriak bisa jadi Bimo dan Rengga akan pukul-pukulan di rumah sakit,apalagi kondisi Rengga sedang sakit seperti itu.


Mendengar teriakan Meca,Bimo dan Rengga pun langsung menoleh ke arah Meca. Begitu juga dengan Ibunya Meca dan Ibunya Rengga yang dari tadi menyaksikan adegan seperti drama itu.


Meca pun menghempaskan tangannya yang dari tadi dipegang oleh Bimo dan Rengga. Lalu melipat kedua tangannya dan menempatkannya ke bawah dadanya seperti orang yang akan menantang berkelahi.


"Gue nggak ngerti sama kalian berdua. Kenapa sih kalian selalu bertengkar kalau bertemu. Dan pasti jika kalian bertengkar selalu ada gue disitu...huh..." Marah Meca sambil menghembuskan nafas dengan gusar.


"Ha..ha..ha...ha..." Tawa Ibunya Meca dengan keras.


Meca dikejutkan oleh suara tawa Ibunya dengan tiba-tiba disaat Ia sedang memarahi Bimo dan Rengga.


"Ibu..kenapa kok tertawa?" Tanya Meca dengan raut wajahnya yang kebingungan.


"Meca,meca kamu itu kok nggak ngerti ngerti. Mereka berdua itu sedang ngrebutin kamu. Makanya mereka berdua selalu berantem kalau bertemu karena salah satu dari mereka pengen dapetin hati kamu." Jelas Ibunya Meca sambil menahan tawa karena melihat kepolosan anaknya mengenai masalah percintaan.


Meca pun langsung diam seribu bahasa setelah mendengar penjelasan dari Ibunya.


Ia berpikir sambil mencerna kata-kata dari Ibunya tadi.


Sedangkan Bimo dan Rengga hanya menundukkan kepalanya dengan malu setelah tahu Ibunya Meca bisa menyadari perasaan mereka berdua terhadap Meca.


"Ternyata kamu suka sama Meca ya..kenapa kamu nggak bilang sama Ibu. kalau Ibu tau kamu suka sama Meca,pasti Ibu usahain biar perjodohan kamu sama Meca tetap lanjut dan nggak dibatalin." Ucap Ibunya Rengga pada Rengga.


Karena ucapan Ibunya Rengga cukup keras,Bimo pun mendengarnya. Setelah mendengarnya,Bimo merasa kaget setelah tahu Meca dan Rengga telah dijodohkan.


"Perjodohan? Mec,jadi Elo sama Rengga udah dijodohin selama ini?" Tanya Bimo pada Meca.


Meca pun hanya diam dengan menatap Bimo dengan tatapan sayu.


"Iya,kenapa nggak terima?" Tanya Rengga pada Bimo dengan nada yang meledek.


"Jangan nyolot Elo. Gue bukan mau ngomong sama Elo. Mec,ikut gue.." Ucap Bimo lalu menarik tangan Meca.


Melihat Meca akan dibawa keluar oleh Bimo,Rengga pun mencoba menghentikannya dengan menarik tangan Meca agar tidak pergi bersama Bimo. Tetapi usahanya tidak membuahkan hasil,karena kalah cepat dengan Bimo yang menarik tangan Meca lalu membawa Meca keluar dari ruangan inapnya.


"Kenapa gue selalu kalah sama Bimo itu?" Gumam Rengga dalam batinnya dengan kesal.


******


Sementara itu,Bimo masih menarik tangan Meca tanpa melepasnya sedikitpun. Meca pun hanya diam mengikuti Bimo tanpa memberontak saat tangannya ditarik oleh Bimo. Mungkin karena genggaman tangan Bimo tidak terlalu kuat yang membuat tangan Meca tidak terasa sakit.


Bimo pun membawa Meca untuk keluar dari rumah sakit. Lebih tepatnya,Ia membawa Meca ke taman depan rumah sakit.


Setelah sampai taman,Bimo pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Meca.


"Elo harus jelasin ke gue tentang perjodohan Elo sama Rengga." Kata Bimo dengan nada bicara yang datar.


"Tapi,kenapa gue harus jelasin ke Kakak?" Tanya Meca.


"Elo pura-pura nggak tahu,apa Elo sengaja nggak tahu? Elo tau kan gue itu cinta sama Elo Mec." Ucap Bimo.


"Gue tahu kalau Kakak cinta sama gue. Tapi,apa gue harus jelasin masalah pribadi gue juga ke Kakak?" Tanya Meca.


"Masalah pribadi? Ini bukan masalah pribadi Elo Meca. Ini masalah laki-laki,pantes aja kalau gue berhak untuk bertanya. Karena orang kalau sudah cinta pasti orang itu pernah merasa cemburu." Ucap Bimo.


"Tapi,gue nggak suka sama sifat Kakak yang overprotektif gini. Apa Kakak pernah tahu kalau cinta itu nggak harus memiliki?" Tanya Meca.


"Maksud Elo?" Tanya Bimo.


"Kak,gue tahu kalau Kakak cinta sama gue. Tapi,cinta Kakak itu nggak harus terbalas sama gue. Jadi Kakak jangan merasa kalau Kakak itu udah jadi pacar gue,terus Kakak bebas tahu apa yang selalu gue lakukan. Gue juga punya privasi Kak." Jelas Meca.


"Jadi,maksud Elo gue nggak akan pernah dapat cinta dari Elo? Terus apa yang elo maksud gue harus ngejar-ngejar Elo sampai tahu perasaan Elo ke gue? Jadi,selama ini Elo cuma mainin perasaan gue gitu?" Tanya Bimo bertubi-tubi pada Meca.


"Enggak gitu Kak.." Lirih Meca.


"Terus gimana ha? Gue selama ini udah berjuang keras untuk dapetin cinta dari Elo. Tapi,elo malah bilang sama gue,kalau cinta gue nggak mungkin terbalas sama Elo. Kalau Elo nggak bisa cinta sama gue,kenapa nggak bilang dari awal? Jadi gue nggak perlu capek-capek ngejar Elo." Ucap Bimo dengan kesalnya lalu pergi meninggalkan Meca tanpa berpamitan.


Meca pun berbalik badan lalu menghadap Bimo untuk menanyakan sesuatu sebelum Bimo pergi lebih jauh.


"Apa Kakak serius ngomong kayak gitu tadi?" Teriak Meca pada Bimo karena Bimo mulai berjalan menjauh darinya.


Setelah mendengar Meca bertanya,Bimo pun menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke belakang menghadap Meca.


"Iya.." Jawab Bimo dengan nada bicara yang dingin lalu melanjutkan langkah kakinya untuk pergi.


Meca tidak tahu harus berkata apa lagi pada Bimo, ia hanya bisa diam mematung di tempatnya berdiri. Hendak menjelaskan atas kesalahpahaman tadi pun tak bisa karena Meca bingung harus mulai dari mana.


Di samping itu,Meca pun masih tak percaya jika Bimo berkata sejahat itu padanya. Tiba-tiba Meca merasa sedih sampai air mata kesedihannya pun mulai menetes di pipinya.


Kesedihannya bukan karena perkataan Bimo yang jahat saja,melainkan Ia juga merasa bersalah pada Bimo atas perkataanya yang mungkin tadi melukai hatinya Bimo.