ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 151



Rasa penasaran Meca belum habis,sebelum Ia menemukan jawaban dari rasa penasarannya itu.


Meca masih ingin mengetahui kemana perginya Bimo dan alasan kepergiannya Bimo.


Meca pun mencoba mencari tahu jawaban dari rasa penasarannya itu sendiri.


Meca memutuskan untuk menemui sahabat Bimo yang tidak lain adalah Dio.


Meca yakin jika Dio mengetahui kemana perginya Bimo dan alasan kepergiannya. Ia tahu pasti Bimo akan bercerita terhadap sahabatnya,Dio.


Sebelum masuk ke kelasnya,Meca berencana menemui Dio terlebih dahulu.


Ia memutuskan untuk pergi ke ruang ekstrakurikulernya dulu. Meca harap,Ia dapat menemukan Dio disana.


Tak lama kemudian,Meca pun telah sampai di depan ruang tersebut.


Setelah sampai,Ia pun langsung masuk ke ruang tersebut.


Saat Meca masuk,tidak ada satu orang pun yang ada di dalam ruangan tersebut.


Meca mencoba menelisik di setiap ruangan itu,tetapi lagi-lagi tidak ada satu orang pun yang muncul.


Meca tidak tahu lagi,kemana Ia akan mencari Dio selain di ruangan ekstra ini.


Apalagi,Ia juga tidak tahu dimana ruang kelas Dio berada.


Penelisikan ruang ekstra belum usai,tiba-tiba.....


"Hei!! Siapa Elo?? " Teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam ruang ekstra.


Mendengar teriakan laki-laki itu,membuat Meca sedikit terhentak. Ia pun langsung menoleh kebelakang untuk mengetahui siapa laki-laki yang berteriak padanya itu.


Setelah Meca menoleh,wajahnya pun langsung berubah menjadi sumringah karena laki-laki itu adalah seseorang yang dicarinya saat ini yang tidak lain adalah Dio.


10 menit sebelumnya,saat masuk ke ruang ekstra,Dio mendapati seorang perempuan sedang berjalan sambil menengok kanan dan kiri,seperti hendak mencuri.


Karena curiga,Dio pun segera berteriak kepada perempuan itu.


Tanpa sangka,setelah perempuan itu menoleh ternyata perempuan yang di curigainya tadi adalah Meca.


"Meca? Buat apa Elo kesini?" Tanya Dio yang kebingungan.


"Gue kesini,karena mau cari Kak Dio." Jawab Meca sambil tersenyum tipis.


"Gue?? Kenapa cari gue??" Tanya Dio sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


Karena jarak antara Meca dan Dio sedikit jauh,Meca pun mencoba mendekati Dio supaya saat berbincang lebih nyaman.


"Kak,aku mau tanya soal Bimo. Kak Dio pasti tahu kemana.." Ucap Meca yang belum selesai karena segera dipotong oleh Dio.


"Gue nggak bisa beri tahu Elo soal kemana perginya Bimo. Bimo sudah beri tahu gue,suruh gue rahasiakan kepergiannya dari semua orang,termasuk Elo." Jelas Dio dengan tegas.


"Apa itu semua gara-gara gue?" Tanya Meca dengan wajah melasnya.


"Nggak kok. Bimo pergi karena urusan pribadinya. Nggak ada sangkut pautnya sama Elo." Jawab Rengga.


"Tapi,Kak...tolong beritahu gue...." Ucap Meca yang mencoba memohon kepada Dio.


"Mec!! Maaf,gue nggak bisa beritahu Elo. Seberapa pun Elo mohon kepada gue,gue nggak akan beritahu Elo. Ya udah,kembali ke kelas sana!! Gue sedang sibuk ini." Kata Dio dengan tegasnya.


Tanpa permisi kepada Meca,Dio langsung pergi dari hadapan Meca.


Meca pun juga tak mau menghentikan Dio,karena Ia sudah cukup kesal dengan perilaku Dio tadi.


Toh,jika Meca memohon pun tak akan di gubris oleh Dio.


Tetapi,Meca masih harus mencari cara lagi untuk mengetahui kemana perginya Bimo.


Sambil berjalan keluar dari ruang ekstra,Meca terus memikirkan cara supaya bisa mengetahui dimana Bimo pergi.


Saat Meca melewati ruang direktur kampus,Ia sedikit mendengar percakapan seorang perempuan dengan bapak direktur yang bercakap-cakap.


Awalnya Meca tidak peduli dengan isi percakapan mereka tersebut,tetapi yang membuat Meca terhenti dan penasaran adalah karena Meca sempat mendengar mereka berbicara tentang Bimo.


Meca pun mencoba menguping pembicaraan antara bapak direktur itu bersama seorang perempuan. Ia bersembunyi di balik dinding ruangan direktur tersebut.


"Pak,dokumen tentang keluarnya Bimo dari kampus tadi ada yang belum di tandatangani." Ucap seorang perempuan yang mungkin adalah sekretaris dari direktur kampus.


Meca pun sontak terkejut setelah mengetahui jika Bimo akan keluar dari kampus.


Mengapa Bimo sampai keluar dari kampus hanya untuk menghindarinya?


Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di pikiran Meca.


Belum mendapat informasi lebih tentang Bimo,Meca pun melanjutkan mendengarkan percakapan mereka.


"Oh,ya..Coba kamu perlihatkan kepada saya!" Suruh Bapak direktur.


"Ini Pak....silahkan." Sahut seorang perempuan itu.


Cukup lama Meca berdiri di balik dinding ruangan itu ,tetapi mereka malah diam dan tak bercakap-cakap lagi setelahnya.


Meca pun tak mau menyerah,Ia terus menunggu di depan ruang direktur itu sampai Ia mendapat informasi dimana perginya Bimo.


"Maaf,Pak. Kalau boleh saya tahu,alasan Bimo keluar kampus itu apa Pak?Padahal kan Ayahnya adalah pemilik kampus ini." Tanya seorang perempuan itu.


Mendengar pertanyaan dari seorang perempuan itu,kedua mata Meca pun langsung menyala karena sudah penasaran dengan jawaban bapak direktur itu.


"Kalau itu saya nggak sempat tanya. Tapi,yang saya ketahui,jika Bimo itu akan pergi ke Amerika." Jawab Bapak direktur tersebut.


Mendengar jawaban dari Bapak direktur tadi,membuat Meca terkejut. Tanpa sadar,Ia berteriak. Padahal saat ini Ia sedang diam-diam menguping pembicaraan Bapak direktur dengan seorang perempuan tadi.


"Amerika??" Teriak Meca.


"Siapa itu??" Teriak Bapak Direktur setelah mendengar Meca berteriak.


Sebelum Bapak direktur itu mengetahuinya dan mungkin akan menghukumnya karena menguping pembicaraanya,Meca pun segera melarikan lari dari ruang direktur dengan kencangnya.


Untungnya Meca berhasil melarikan diri dari ruang direktur tadi. Jadi,bapak direktur tidak menangkapnya saat Ia ketahuan menguping pembicaraannya.


Setelah Meca tahu,jika Bimo akan pergi ke Amerika. Kini,Meca ingin tahu alasan Bimo pergi jauh sampai ke Amerika.


Apa benar ini karenanya?


Pertanyaan itu terus muncul di otak Meca.


Meca pun lagi-lagi bolos kuliah untuk menyusul Bimo di bandara.


Sebelum Bimo berangkat ke Amerika,Meca teringin menemuinya sebentar untuk meminta penjelasan darinya.


Meca pun segera mencari kendaraan untuk membawanya ke bandara.


Setelah menemukan ojek,Meca pun langsung naik dan bilang kepada Pak supir untuk mempercepat laju motornya.


Dengan naik ojek,Meca berharap bisa tepat waktu untuk sampai di bandara tanpa mengalami kemacetan.


Sekitar 20 menitan di perjalanan,akhirnya Meca telah sampai di bandara.


Setelah sampai,Meca pun segera memasuki bandara. Ia pun langsung melihat jadwal keberangkatan pesawat,terutama keberangkatan ke Amerika.


Setelah Meca melihat,ternyata jadwal keberangkatan ke Amerika tinggal 5 menit lagi. Itu artinya,Meca hanya mempunyai waktu kurang dari 5 menit untuk menemui Bimo.


Meca berlari sambil melihat sekeliling bandara untuk menemukan Bimo.


Karena bandara begitu besar dan lagi tentunya banyak orang. Hal itu membuat Meca sulit untuk menemukan Bimo.


Tetapi,Meca tak langsung menyerah. Ia tetap terus melanjutkan pencariannya sebelum waktunya habis.


Waktu terus berjalan,5 menit itu terasa begitu cepat.


Dan pada akhirnya,Meca gagal untuk menemukan Bimo.


Ia hanya bisa menyaksikan pesawat Bimo yang sudah berangkat ke Amerika.


Meca merasa sedih dan merasa menyesal karena telah membuat Bimo pergi menjauh darinya.


Kakinya lemas karena sudah berlari kesana kemari,Meca pun berjongkok sambil menangisi kepergian Bimo.


Meca baru tahu,jika kehilangan seorang yang Ia sayanginya itu sangatlah menyakitkan.


Di dalam hatinya,Meca terus menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Bimo.


Rasa menyesal dan rasa bersalah terus ada di benaknya.


Hiks...hiks....hiks....


Suara tangis Meca yang cukup keras membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya langsung berhenti lalu menyaksikan Meca yang sedang menangis.


Diantara mereka ada yang membicarakan Meca dan mengira jika Meca adalah orang yang gila,karena menangis di tempat umum seperti bandara ini. Sebab,itulah tidak ada yang berani mendekati Meca.


Meskipun banyak orang yang menyaksikannya sedang menangis,Meca masih juga tak menyadarinya,karena wajahnya Ia tangkupkan ke kedua lututnya sembari berjongkok.


Entah siapa,tiba-tiba ada tangan yang mengelus rambut Meca sambil berkata dengan pelan "Jangan nangis! Gue disini."


Mendengar suara laki-laki,Meca pun langsung mendongakkan kepalanya. Ia kenal betul dengan suara laki-laki itu. Yang tidak lain adalah Bimo.


"Gue kira Elo udah pergi." Ucap Meca sambil menangis.


"Kenapa Elo kesini,dengan menangis gini? Ayo berdiri dulu!" Ucap Bimo sambil membantu Meca berdiri.


Setelah Bimo dan Meca berdiri,mereka bertatapan sejenak.


Melihat Meca menangis,lantas Bimo pun menghapus air mata Meca dengan jarinya.


"Bim,gue tahu....kita udah nggak ada hubungan lagi. Tapi.....buat apa Elo pergi sejauh ini hanya untuk melupakan gue?" Tanya Meca masih dengan menangis sesenggukan.


Bimo pun tampak tersenyum tipis lalu menjawab pertanyaan Meca.


"Maaf,sebelumnya gue nggak beri tahu Elo tentang apa yang terjadi sama gue. Tapi,yang penting gue pergi bukan untuk melupakan Elo. Gue pergi,untuk kuliah di luar negeri."


Meca pun kebingungan dengan jawaban Bimo. Ia seperti tak percaya jika Bimo akan pergi kuliah di luar negeri.


"Kuliah?? Kenapa Elo tiba-tiba kuliah di luar negeri? Bukannya Elo pernah bilang kalau Elo nggak mau?" Serbu Meca dengan beberapa pertanyaan.


Tut...tut.....tut.....


Disaat Meca menunggu jawaban dari mulut Bimo ,tiba-tiba ponsel Bimo berbunyi.


Bimo pun langsung melihat ponselnya,dan ternyata Ayahnya lah yang meneleponnya.


Bimo pun memilih untuk tidak menjawab telepon dari Ayahnya,karena Ia sudah tahu alasan Ayahnya menelepon adalah ingin memberitahunya agar segera ke lobi kembali. Sebab,keberangkatannya tinggal beberapa menit lagi.


"Mec,Gue akan jelasin semua nanti saat gue pulang dari Amerika. Ingat,jaga diri Elo baik-baik disini!! Tunggu saja,gue pulang!!" Ucap Bimo dengan terburu-buru.


Sebelum Bimo benar-benar pergi,tak lupa ia memberikan sesuatu yang manis pada Meca yaitu ciuman perpisahan. Tetapi,bukan berciuman dengan bibir melainkan Bimo hanya mengecup dahi Meca. Tak mungkin Ia mengecup bibir Meca di tempat umum seperti bandara ini.


Lalu Bimo pun mengecup dahi Meca sejenak lalu mengatakan sampai jumpa kepada Meca sembari pergi dari hadapan Meca.


Sedangkan Meca hanya berdiri terpaku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Ia merasa kebingungan dengan apa yang telah terjadi.


Banyak pertanyaan yang muncul di otaknya dan dari semua pertanyaan itu tidak ada yang terjawab sedikitpun.


"Kok gue bingung sih? Kenapa gue nggak merasa sedih lagi?" Gumam Meca sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Drung......


Suara pesawat yang baru lepas landas,membuat Meca langsung menoleh ke atas.


Meca yakin jika pesawat itu adalah pesawat yang Bimo tumpangi saat ini.


Meca berharap Bimo bisa selamat sampai tujuan.


Walaupun,Meca nanti akan lama tidak berjumpa dengan Bimo. Tetapi,Ia sadar jika ada kalanya kita berpisah dengan orang yang kita sayangi.


Seperti kata pepatah "Ada pertemuan pasti ada perpisahan"


Entah kenapa,hati Meca sedikit lebih tenang saat mengetahui bahwa alasan Bimo pergi bukanlah karenanya.


Rasa bersalah dan rasa penyesalannya tiba-tiba menghilang. Walaupun Ia sebenarnya masih bingung dengan semua yang telah terjadi.


********


Jangan lupa klik ikon 👍🏻untuk menaikkan popularitas novel saya.


Happy reading 🥰🥰