
Setelah masalah-masalah Citra selesai. Meca merasa tenang dan lega jika,Citra tidak bersedih lagi. Apalagi Citra juga sudah ikhlas dengan penolakan cinta yang dilakukan oleh Bimo.
Waktu berlalu dengan cepat.Hari yang baru dimulai lagi. Kini semua berjalan dengan normal lagi. Rumor tentang Meca pun juga berangsur-angsur hilang. Anak-anak di kampusnya juga sudah tidak membicarakan Meca lagi. Maka dari itu,Meca pun bersyukur dan tenang. Kini Ia bisa menjalani kegiatan di kampus dengan nyaman tanpa kekhawatiran sedikitpun.
Hari ini adalah hari Minggu. Itu artinya Meca libur dari kampusnya. Biasanya hari minggu adalah hari yang digunakan anak-anak muda untuk jalan-jalan atau mencari hiburan. Tetapi tidak untuk Meca. Ia hari ini harus bekerja ditoserba untuk memenuhi kebutuhannya. Malahan kalau hari Minggu biasanya Meca mengambil jam lembur sampai malam sekitar jam 7 malam. Uang yang didapat Meca saat lembur pun bertambah banyak sampai 2 kali lipat dari gaji normalnya. Itu artinya Ia bisa gunakan uang itu untuk keperluan pribadi lainnya. Seperti untuk membeli pakaian dan sepatu.
Meca terlihat sedang melayani pelanggannya.
"Terima kasih,silahkan datang lagi." Kata Meca dengan ramah pada seorang wanita yang usianya berkisar 40 tahunan.
Wanita itu pun menganggukkan kepalanya. Tak lupa juga membalas senyuman ramah dari Meca.
Tring....tring.... (suara telepon)
Tiba-tiba handphone Meca pun berbunyi. Menandakan ada panggilan masuk.
Meca pun langsung mengambil handphonenya yang ada di saku celanannya. Ia melihat layar teleponnya untuk melihat siapa yang meneleponnya.
Ternyata yang meneleponnya adalah Citra.
Meca pun langsung mengangkatnya.
Meca : Halo Kak, ada apa?
Citra : Halo Mec,sekarang Elo ada dimana?
Meca : Gue lagi kerja di toserba Kak
Citra : Oh... Elo ternyata selama ini kerja ya
Meca : Hehe...iya Kak
Citra : Gue sih tadinya mau ajak Elo jalan-jalan dan juga mau traktir Elo makan.Tapi Elo nya masih kerja.
Meca : Oh... gue punya ide Kak. Gimana kalau jalan-jalannya nanti malam Kak?Soalnya gue pulangnya kerja entar malem Kak.
Citra : Oh... gitu. Ya udah gue setuju sama Elo. Entar kita ketemuan dimana?
Meca : Gimana kalau ditoserba tempat gue kerja aja ?
Citra : Ok... Elo tinggal share lokasi sama gue dimana alamat toserba tempat kerja Elo.
Citra : Ok deh. Gue tutup ya. Sampai ketemu nanti.
Meca : Ya Kak.
Setelah menutup panggilan Citra.Meca pun segera share lokasi tempat kerjanya yaitu toserba kepada Citra.
"Gue harus cepet nylesein pekerjaan gue. Biar nanti nggak terlambat." Gumam Meca dengan penuh semangat.
Meca pun segera menata barang-barang yang ada dikardus untuk disusun di etalase. Tadinya Meca berencana untuk menatanya agak siangan. Tetapi Ia ingin langsung cepat menyelesaikan tugas-tugasnya karena dia ada janji dengan Citra.
Tiba-tiba saat Meca sedang menyusun barang-barang,ada pelanggan datang menghampiri Meca.
"Hei mbak kasir,gue beli minuman ni. Gue mau bayar." Kata pelanggan itu.
Meca yang tadinya sedang berjongkok untuk menyusun barang pun akhirnya berdiri dan menoleh ke pelanggan yang mengajak Ia ngobrol tadi. Wajah Meca langsung kesal karena pelanggan itu adalah Bimo.
Bimo langsung menunjukkan senyum manisnya pada Meca. Meca pun hanya menatap Bimo dengan muka datar.
"Ya udah gue layanin Kakak dulu.Tapi habis ini langsung pergi ya. Soalnya Gue sibuk banget." Kata Meca sambil berjalan menuju tempat kasir.
"Yang namanya kerja itu juga sibuk.Omong aja Elo nggak mau ketemu sama gue." Kata Bimo sambil mengikuti Meca disampinya.
"Bener Kak,soalnya gue mau cepet-cepet selesain pekerjaan gue. Supaya nanti nggak telat gue janjian sama Kak Citra." Jelas Meca.
"Oh... Elo ada janji sama Citra. Mau kemana?" Tanya Bimo.
"Mau jalan-jalan." Jawab Meca singkat.
"Gue ikut." Kata Bimo yang membuat Meca terkejut.
"Nggak boleh. Nanti Kak Citra sedih lagi." Kata Meca.
"Kenapa ngungkit masalah itu lagi sih? Gue sama Citra nggak jadi musuhan Kok. Justru gue mau jadiin teman seperti dulu lagi." Kata Bimo.
"Ya bener juga sih. Ya udah Kakak boleh ikut." Kata Meca.
"Gitu dong.Tenang aja gue nggak sendiri. Gue nanti ajak Dio juga." Kata Bimo.
Meca pun hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya.