
Meca dan Bimo masih didepan tempat karaoke. Meca memutuskan untuk kembali masuk kedalam tempat karaoke meskipun Ia sebenarnya masih kesal dengan kejadian yang Ia alami tadi.
Saat Ia akan melangkah pergi,Bimo menahannya.
"Elo mau masuk kedalam lagi?" Tanya Bimo sambil menahan Meca pergi.
"Iya Kak. Gue nggak enak sama Kak Citra." Jawab Meca.
"Mec,gue nggak mau elo kayak tadi lagi. Mending elo ikut gue ke cafe aja,lebih aman buat elo." Kata Bimo pada Meca.
"Tapi Kak Citra gimana?" Tanya Meca
"Nanti elo bisa hubungin dia. Pasti dia akan ngerti sama elo." Jawab Bimo
"Ya udah gue telpon dulu Kak Citranya." Kata Meca sambil mengeluarkan handphonenya dari saku celananya.
Meca langsung mencari kontak Citra dan langsung memulai menelepon Citra.
Tak lama panggilan mereka pun terhubung.
Meca : Halo Kak.
Citra : Halo Mec. Elo dimana? Elo nggak papa kan?
Meca : Gue nggak papa kok Kak. Tapi Kak sebelumnya gue mau minta maaf karena gue nggak bisa gabung sama Kakak di tempat karaoke.
Citra : Oh...nggak papa kok. Gue juga tahu elo nggak kebiasa sama tempat kayak gini.
Meca : Iya Kak. Maaf ya sekali lagi. Ya udah Kak gue tutup teleponnya.
Citra : Iya.
Akhirnya Meca lega karena sudah memberitahu keberadaannya.
Meca pun menyimpan handphonenya lagi ke saku celananya.
"Ya udah yok ke cafe!" Ajak Bimo pada Meca.
"Kak,boleh nggak kalau gue minta ke tempat yang ingin gue datangi." Pinta Meca pada Bimo.
"Tempat yang pengen elo datangi. Dimana?" Tanya Bimo dengan penasaran.
"Pokoknya ada. Mending langsung berangkat aja." Saran Meca pada Bimo.
Bimo sedikit bingung tetapi karena Ia penasaran dengan tempat yang ingin Meca datangi akhirnya Bimo hanya menyetujui kemana Meca ingin pergi.
Bimo dan Meca akhirnya naik mobil sport Bimo.
"Kak,nanti jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Karena gue nggak mau ada yang senasib sama gue." Sindir Meca pada Bimo.
Meca hanya terdiam menanggapi permintaan maaf Bimo yang sepertinya tidak ikhlas.
Tiba-tiba terdengar nafas dari dekat wajah Meca. Meca pun menoleh dan terkejut melihat Bimo yang sudah dekat dengan wajahnya.
"Kakak mau ngapain? Jangan macem-macem ya." Gugup Meca.
"Jangan berpikiran kotor. Gue mau ingetin elo,jangan lupa pakai sabuk pengaman!" Suruh Bimo.
Meca pun langsung menoleh ke kiri untuk mengambil sabuk pengaman dan langsung memakainya.
"Mec,elo kayaknya anti banget sama laki-laki." Kata Bimo sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Kak,apa elo udah lupa sama perkataan gue di depan tempat karaoke tadi? Gue nglakuin ini untuk harga diri gue." Jawab Meca
"Pasti susah kalau ada cowok yang jadi pacar elo." Sindir Bimo sambil menyetir mobilnya.
"Maksudnya?" Tanya Meca.
"Ya elo aja anti banget sama cowok. Gimana nanti pacar elo betah sama elo." Canda Bimo.
"Itu bukan urusannya Kakak. Yang pasti nanti gue akan milih cowok yang bener-bener nerima gue apa adanya. Dan... yang pasti sifatnya nggak akan sama Kakak. " Balas Meca pada Bimo sambil menekankan kata-kata akhirnya.
Setelah mendengar perkataan Meca,Bimo seperti ditusuk-tusuk hatinya. Ia hanya terdiam dan berpikir jika Meca memang tidak menyukainya sama sekali.
"Apa elo benci sama gue?" Tanya Bimo dengan wajah yang melas.
"Enggak. Kenapa Kakak bilang kayak gitu?" Tanya Meca bingung.
"Setelah elo bilang nggak akan milih cowok yang sifatnya sama kayak gue." Jawab Bimo.
"Oh... yang itu. Yang Gue nggak suka dari Kakak adalah sifat Kakak yang playboy doang." Kata Meca.
"Apa? Elo pikir gue playboy gitu?" Tanya Bimo dengan nada bicara yang marah.
"Iya. Gimana gue nggak bilang Kakak playboy. Kakak itu banyak modusnya sama cewek. Sok-sok perhatian terus bikin cewek-cewek suka sama Kakak,terus nembak Kakak dan sama Kakak pasti ditolak. Ya kan?" Jelas Meca panjang lebar.
Bimo mendengar perkataan Meca pun hanya terdiam dan melamun.
Bimo sampai lupa dengan memperhatikan jalan.
Sampai-sampai ada seorang anak yang menyebrang akan ditabraknya.
Meca pun panik dan menjerit pada Bimo.
"Kak,Awas !" Teriak Meca pada Bimo.