
Setelah keluar dari rumah sakit,Meca segera bergegas pergi menuju tempat pemberhentian bus atau biasa disebut dengan halte. Ia berencana naik bus untuk pulang ke rumahnya.
Walaupun waktu sudah malam,Meca harap ada bus yang masih beroperasi,sehingga Ia bisa pulang dengan naik bus.
Meca terus berjalan untuk mencari tempat yang Ia tuju yaitu halte.
Meca berjalan melewati trotoar sambil menengok kanan kiri.
Saat Meca berjalan,di depanya ada seorang laki-laki seusia Kakak laki-lakinya.Mungkin kira-kira umur 26 tahunan.
Meca dapat melihat laki-laki itu bukanlah orang yang baik. Laki-laki itu berjalan terhuyung-huyung seperti sedang mabuk setelah meminum minuman keras.
Sedikit takut,Meca pun memutuskan untuk tidak melihat laki-laki yang ada di depannya tersebut.
Meca terus berjalan lurus ke depan tanpa menghiraukan laki-laki yang ada di depannya tersebut.
Saat Meca berjalan semakin dekat dengan laki-laki itu,tiba-tiba saja laki-laki itu menghadang jalan Meca dengan berdiri tepat di depan Meca.
Meca pun terkejut serta takut akan laki-laki itu.Ia terus menundukkan kepalanya.
"Mau kemana sayang? Jangan pergi!!" Ucap Laki-laki itu sambil tersenyum nakal.
"Permisi.. saya mau lewat." Ucap Meca dengan takutnya.
"Jangan pergi dulu...main sama abang dulu ya..ha..ha..ha.." Ucap laki-laki itu sambil tertawa dengan puasnya.
Meca pun memilih tidak menghiraukan laki-laki itu. Ia memutuskan untuk melarikan diri dari hadangan laki-laki yang berada di depannya dengan cepat.
Tetapi usahanya tidak berhasil karena tangannya sudah ditarik oleh laki-laki itu.
"Mau kemana? Mau lari...tetap nggak bisa sayang..ha..ha..ha.." Ucap laki-laki itu saat berhasil menahan Meca sambil memegang tangan Meca dengan erat supaya tidak bisa melarikan diri darinya.
"Tolong.." Teriak Meca mencoba meminta tolong pada orang yang sedang lewat.
"Elo mau teriak tolong ke siapa? Lihat keadaan aja sudah sepi...ha..ha..ha.." Ucap Laki-laki itu masih dengan tawanya yang menyebalkan.
Memang benar apa yang telah diucapkan laki-laki itu,jalanan mulai sepi karena hari sudah mulai larut malam. Hendak minta tolong pun pasti tidak ada yang dengar karena suara bising kendaraan motor,ataupun kendaraan lainnya.
Meca masih belum menyerah,Ia terus mencoba melepaskan genggaman tangan laki-laki itu darinya.
Tetapi semakin Meca berusaha melepas,laki-laki itu malah semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Meca.
Meca merasakan sakit pada pergelangan tangannya karena cengkraman tangan laki-laki itu.
"Woy!!" Teriak seorang laki-laki dari belakang Meca dan laki-laki itu.
Tanpa aba-aba laki-laki yang berteriak tadi langsung lari dan menendang tubuh laki-laki yang mabuk tadi sampai ambruk ke tanah.
Akhirnya Meca tertolong oleh laki-laki yang berteriak tadi.
Laki-laki pemabuk tadi bangun kembali setelah Ia jatuh ke tanah. Ia tidak terima dan ingin membalas perlakuan laki-laki yang menyerangnya tadi.
Saat laki-laki pemabuk itu akan menyerang laki-laki itu,Laki-laki yang menolong Meca tadi langsung menghindarinya dan memukul pemabuk itu secara terus-menerus hingga pemabuk itu kalah.
"Pergi sana!!"Bentak laki-laki itu pada pemabuk tadi.
Setelah pemabuk itu pergi,Meca pun mendatangi laki-laki yang telah menyelamatkannya itu.
Semakin dekat dengan laki-laki itu,Meca merasa pernah kenal dengan laki-laki yang telah menyelamatkannya tersebut.
Tiba-tiba Meca teringat oleh laki-laki yang selalu melindunginya yaitu Bimo.
Begitu teringat,Meca pun langsung berlari ke arah laki-laki yang Ia anggap sebagai Bimo itu.
"Kak Bimo nggak apa-apa kan?" Tanya Meca.
Laki-laki itu pun langsung menoleh ke arah Meca.
"Gue bukan Bimo,Mec." Jawab laki-laki itu.
"Oh...ternyata Kak Dio."Sahut Meca dengan wajah kecewa saat mengetahui yang menolongnya tadi bukan Bimo.
"Jadi,Elo yang diganggu sama laki-laki sialan tadi. Tapi,Elo nggak apa-apa kan?" Tanya Dio.
"Gue nggak apa-apa kok Kak. Kak Dio sendiri juga nggak apa-apa kan?" Tanya Meca balik.
"Gue nggak apa-apa. Elo harus lebih hati-hati kalau dijalanan yang lumayan sepi gini. Apalagi ini kan juga udah malem,Elo tadi dari mana kok belum pulang jam segini?" Tanya Dio.
"Sebenarnya gue tadi mau pulang,gue mau cari halte tadi." Jawab Meca.
"Elo jam segini naik bus? Bus kalau jam segini udah nggak beroperasi Mec." Sahut Dio.
"Gue bingung mau naik kendaraan apalagi Kak." Ucap Meca.
"Ya udah Elo bareng gue aja pulangnya. Mau nggak?gue mumpung baik nih.." Kata Dio.
"Sepertinya gue udah nggak punya pilihan lain. Ya udah gue bareng Kak Dio aja." Ucap Meca.
"Ya udah ayok." Ajak Dio.
Lalu Dio berjalan dahulu,diikuti Meca di belakangnya.
Setelah sampai di depan parkiran motor Dio,Dio langsung menaiki motornya.
Diikuti Meca yang naik di boncengan motor Dio.
Setelah Meca naik,Dio pun memakai helmnya.Melihat Dio memakai helm,Meca pun juga ingin memakainya untuk keselamatannya di jalan.
"Helm gue mana Kak?" Tanya Meca.
"Gue cuma bawa satu. Elo nggak pakai nggak apa-apa." Jawab Dio.
"Huh...tapi jangan kenceng-kenceng bawa motornya karena gue nggak pakai helm." Sahut Meca.
"Iya..Bawel banget sih." Ucap Dio dengan sewotnya.
Meca pun hanya menyengirkan bibirnya setelah di bilang bawel oleh Dio.
Ingin mengingatkan,malah Meca dibilang bawel. Cukup mengesalkan bukan?