ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 137



Rengga pun menunjukkan senyum seringainya lalu berkata" Cih...cewek Elo? Bukannya Elo udah putus sama Meca?"


"Maupun kita udah putus,tapi kita saling mencintai satu sama lain. Nggak kayak cinta Elo yang bertepuk sebelah tangan aja." Ucap Bimo sambil tersenyum miring karena berhasil mengejek Rengga.


"Maupun cinta gue bertepuk sebelah tangan,tapi gue nggak akan nyerah untuk dapetin Meca sama seperti Elo dapetin dia." Sahut Rengga sambil tersenyum miring seperti yang dilakukan Bimo tadi.


Semakin geram dengan perkataan Rengga,Bimo pun refleks memukul kembali bibir Rengga dengan satu kepalan tangannya.


Walaupun Rengga tak sampai jatuh tersungkur seperti sebelumnya,tetapi pukulan Bimo yang sangat kuat dan juga meninju area yang sama saat Bimo pertama kali meninjunya. Hal itu mampu membuat bibir Rengga mengeluarkan darah.


Tak terima dengan perlakuan Bimo,Rengga pun memukul balik Bimo dengan sekuat tenaga sampai bibir Bimo juga mengeluarkan darah.


"Rasain Elo b*r*ngs*k!!" Bentak Rengga sambil mengumpat di hadapan Bimo.


Merasa bibirnya berdarah,Bimo pun segera mengelap darah dari bibirnya dengan telapak tangannya.


"Ok. Gue buat taruhan. Kalau Elo menang lawan gue,gue biarin Elo dapetin hatinya Meca. Tapi kalau Elo kalah,Jangan pernah deketin Meca lagi!! Gimana?" Tawar Bimo.


"Ide bagus." Sahut Rengga sambil menunjukkan senyum seringainya.


Setelah mereka sama-sama menyetujui taruhan. Mereka pun memulai perkelahian sengit. Dari tatapan mata mereka menggambarkan amarah yang membara dan siap untuk melampiaskan amarah lewat perkelahian sengit ini.


Bimo pun memulai perkelahian dengan meninju bagian pipi Rengga dengan kepalan tangannya. Merasa tidak terima,Rengga pun langsung membalas pukulan Bimo dengan pukulannya yang Ia layangkan ke perut Bimo.


Walaupun merasa sakit,Bimo pun tak menyerah begitu saja. Ia terus memukul Rengga dengan sekuat tenaga agar bisa memenangkan taruhan ini.


Sama halnya dengan Bimo,Rengga pun juga tak menyerah meskipun sudah merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun tetap berusaha bangkit dan mengikuti semua permainan Bimo.


Buk...buk...buk..


Bunyi pukulan dari perkelahian antara Bimo dan Rengga pun terdengar cukup keras.


Karena bunyi pukulan itulah,yang membuat Meca terbangun dari tidur lelapnya.


"Bunyi apa itu?" Gumam Meca sambil mengucek kedua matanya yang masih buram karena baru bangun dari tidurnya.


Setelah kedua matanya sudah bisa melihat dengan jelas,Meca pun langsung terkejut karena melihat Rengga dan Bimo yang berkelahi di depan mobil.


Dengan cepat,Meca pun membuka pintu mobil lalu menghampiri Rengga dan Bimo yang sedang berkelahi.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Meca dengan terkejutnya sampai kedua matanya terbelalak.


Meca sungguh terkejut dengan kejadian saat ini. Bagaimana tidak? Di saat Ia sedang ketiduran di mobil,tidak ada yang membangungkannya.


Saat Meca bangun dari tidurnya,malah Ia melihat Rengga dan Bimo berkelahi sampai wajah mereka babak belur dan tidak ada orang yang melerainya.


Untung Ia cepat bangun untuk melerai mereka. Jika Ia tidak cepat bangun,pasti Rengga atau Bimo akan terluka lebih parah dari yang Meca lihat saat ini.


Mendengar Meca berteriak,Rengga dan Bimo pun menghentikan perkelahian mereka sejenak sambil menoleh ke arah Meca.


"Mec. Jangan deket-deket sama laki-laki b*r*ngs*k kayak dia ini!! Walaupun kita udah putus,kita harus jaga perasaan satu sama lain bukan? Kita masih saling mencintai." Ucap Bimo sambil melirik Rengga saat mengucapkan laki-laki b*r*ngs*k.


"Dasar laki-laki posesif. Cewek mana yang mau sama laki-laki posesif kayak Elo. Cih.." Ejek Rengga sambil menyengirkan mulutnya.


"Udah cukup!!" Bentak Meca.


Meca pun mencoba mengontrol emosinya dengan membuang nafas dengan perlahan lalu berucap kembali.


"Tunggu...Apakah kalian berkelahi hanya karena gue? Apa kalian taruhan?" Tanya Meca yang mencoba menerka-nerka alasan mereka berkelahi.


Mendapat pertanyaan dari Meca,Rengga dan Bimo pun hanya diam tanpa mengeluarkan suara apa pun.


Mereka hanya saling pandang satu sama lain lalu melirik kanan dan kiri seolah sedang mengalihkan pembicaraan.


Dari ekspresi mereka berdua,Meca dapat mengerti jika tebakannya tidaklah salah,melainkan benar adanya.


Meca sungguh tak mengerti pada mereka,bisa-bisanya mereka berkelahi hanya karenanya.


Apa Meca sebegitu berharganya terhadap mereka sehingga mereka sampai mempertaruhkan nyawanya hanya untuknya?


Tidak. Meca harus membiarkan mereka melupakannya. Ia sudah tidak mampu melihat mereka bertingkah kekanakan seperti itu hanya untuk memperebutkannya. Meca akan berusaha untuk membuat mereka dewasa kembali.


"Kenapa kalian begitu terobsesi sama gue? Bahkan,Gue bukan cewek sempurna untuk kalian sukai." Ucap Meca dengan tatapan mata yang tak berdaya.


Lagi-lagi Rengga dan Bimo hanya diam dan menatap Meca dengan tatapan sayu.


Mereka tak tahu harus menjawab pertanyaan Meca dengan cara apa.


"Jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi!! Jangan pernah berkorban untuk gue!! Jangan jatuh cinta sama gue!! Karena gue....tidak pantas menerima pengorbanan atau cinta dari kalian. Hiks...hiks..hiks.." Ucap Meca dengan terbata-bata karena menangis.


Meca memang mengatakan yang sebenarnya pada Rengga dan Bimo tanpa dibuat-buat. Ia merasa tidak pantas untuk dicintai oleh Rengga atau Bimo karena menurutnya Ia hanya gadis bodoh yang tidak tahu percintaan,karena kebodohannya itulah yang membuat Rengga dan Bimo akan terluka.


Meca hanya tak ingin menyakiti perasaan mereka,seperti Ia menyakiti perasaannya Bimo. Sudah cukup baginya untuk menyakiti perasaan seseorang,Meca tak mau menyakiti perasaan orang lagi dengan kebodohannya dalam percintaan.


Maka dari itulah,Meca memutuskan untuk mengakhiri semua urusan percintaan bersama Rengga dan Bimo.


Mungkin dengan Ia mengeluarkan isi hatinya pada malam ini,bisa membuat mereka mengerti dan sadar jika Ia adalah bukan perempuan yang baik terhadap mereka. Dari situlah,mereka akan berusaha melupakannya.


Bimo dan Rengga pun sontak terkejut dengan ucapan Meca barusan.


"Mec!!" Panggil Rengga dan Bimo secara bersamaan lalu mendekati Meca yang sedang menangis sesenggukan.


"Jangan mendekat!!" Perintah Meca.


Rengga dan Bimo pun menghentikan langkah kaki mereka.


"Tolong lupakan gue!! Pilihlah perempuan yang layak kalian cintai. Maaf,kalau gue terlalu kasar sama kalian. Gue lakuin ini karena gue sungguh-sungguh ingin kalian bahagia." Ucap Meca.


"Mec!! Ini bukan salah Elo!!" Ucap Bimo.


"Bimo,gue minta maaf karena selalu nyakitin hati Elo. Gue yakin kalau Elo pasti bisa bertemu cewek yang lebih baik daripada gue. Yang selalu buat Elo bahagia." Ucap Meca dengan menunjukkan senyum tulusnya.


Setelah menghadap ke arah Bimo,kini Meca berpaling menoleh ke arah Rengga.


"Rengga,gue juga minta maaf karena nggak bisa balas perasaan Elo. Seperti yang gue bilang tadi,cari perempuan yang bisa buat Elo bahagia dan pastinya bisa menyayangi Elo dengan sepenuhnya." Ucap Meca dengan masih menunjukkan senyum tulusnya.


Mendapat permintaan maaf dari Meca,Rengga dan Bimo pun bukanlah senang melainkan sedih karena secara tidak langsung mereka berdua ditolak oleh Meca.


Tapi,sekali lagi mereka tidak mengerti mengapa Meca menyuruh mereka untuk mencari perempuan yang lebih baik darinya. Karena menurut mereka,Meca lah perempuan yang baik bagi mereka.


"Terima kasih untuk semua yang kalian berikan untuk gue. Cinta dan pengorbanan kalian selama ini. Makasih..." Ucap Meca sambil tersenyum.


"Setelah ini,anggap saja kalian nggak pernah kenal sama gue. Dengan begitu,kalian mudah untuk bisa lupain gue. Bisa kan?" Saran Meca.


"Elo pikir lupain sesuatu itu mudah?" Tanya Bimo.


"Gue ngerti kok. Maka dari itu,gue minta kalian untuk anggap gue sebagai orang asing. Maaf,kalau gue egois,tapi gue hanya ingin kalian dewasa kembali." Sahut Meca sambil memandang Rengga dan Bimo secara bergantian.


"Apa sih yang Elo bicarakan,Mec?" Tanya Rengga yang masih kebingungan dengan maksud dari semua ucapan Meca tersebut.


"Cobalah pahami!! Ya udah...gue masuk duluan. Nanti kalian hati-hati pulangnya dan jangan lupa obati luka kalian itu. Jaga kesehatan kalian ya.." Ucap Meca sambil tersenyum.


"Mec!!" Panggil Bimo dan Rengga secara bersamaan.


"Sampai jumpa..." Pamit Meca sambil melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi dari hadapan mereka.


Melihat Meca pergi,Bimo dan Rengga hanya diam dan berdiri mematung di tempat mereka berdiri.


Salah satu dari mereka juga tak punya keinginan untuk mengejar Meca atau minta penjelasan atas semua ucapan yang Meca lontarkan.


"Semua ini karena Elo b*r*ngs*k. Meca terus merasa bersalah karena Elo. Makanya,dia membuat keputusan ini." Ucap Rengga sambil melirik Bimo dengan tatapan tajam.


Setelah berucap,Rengga pun memutuskan untuk masuk ke mobilnya lalu pulang.


Tin...tin..tin...


"Minggir!!" Teriak Rengga yang berada di dalam mobilnya.


Ia membunyikan klaksonnya untuk mengode Bimo yang berdiri mematung di depan mobilnya supaya mau minggir.


Mendengar suara klakson dan teriakan Rengga,Bimo pun langsung minggir dari depan mobilnya.


"Dasar sialan Elo!!" Umpat Bimo saat mobil Rengga lewat di depannya.


Tiba-tiba saja Bimo berpikir kembali tentang ucapan yang dilontarkan oleh Rengga tadi.


Apa iya ini kesalahannya yang membuat Meca membuat keputusan seperti itu?


Pertanyaan itu sungguh membuat Bimo frustasi.


"Huh..kenapa jadi kayak gini sih?" Gumam Bimo sambil mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi dengan semua masalah yang semakin rumit.


******


Saat Meca baru masuk ke dalam rumahnya,Ibunya langsung menghampirinya dengan wajah yang khawatir.


"Akhirnya kamu pulang. Kamu baik-baik aja kan? Tunggu,kamu habis nangis ya? Kenapa?" Tanya Ibunya Meca dengan cemasnya setelah melihat mata Meca merah dan sembab seperti habis menangis.


"Aku nggak apa-apa kok bu...tadi mata aku kelilipan aja,makanya merah. Ya udah ya..aku masuk kamar dulu. Udah capek aku." Sahut Meca sambil tersenyum tulus pada Ibunya.


Meca pun langsung jalan setelah berucap menuju kamarnya.


Sedangkan Ibunya masih berdiri mematung sambil berpikir mengapa Meca selalu terlihat sedih belakangan ini.


Apalagi,selepas Ia pulang hari ini Meca terlihat seperti habis menangis.


Tetapi,anehnya Meca malah mengelak jika Ia tidak habis menangis,padahal terlihat jelas sekali dari kedua matanya dan hidungnya yang merah itu.


Ada apa sebenarnya dengan Meca? Dan apa yang sebenarnya yang Meca sembunyikan darinya?


Kedua pertanyaan itu sangat membuat penasaran Ibunya Meca.


Karena merasa khawatir dengan Meca,akhirnya Ibunya Meca memutuskan untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi pada anaknya itu pada esok hari.


Jangan Lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya.


Happy reading ๐Ÿ˜