
Tak terasa waktu berlalu cepat. Malam hari pun tiba,itu artinya waktu pulang kerja Meca segera tiba.
Meca keluar dari toserbanya dan berjalan menuju pulang ke rumahnya.
Beberapa menit berlalu setelah perjalanan dari toserba ke rumahnya ditempuh,akhirnya Meca sampai di depan rumahnya.
Sampai rumah Ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.
Ibunya yang sedang menonton televisi pun langsung menoleh ke arah Meca.
"Mec,sini dulu Ibu mau ngomong sesuatu." Kata Ibu Meca.
"Ada apa? Kalau nggak penting jangan diomongin sekarang ya...soalnya aku capek banget." Kata Meca.
Ibu Meca pun menghampiri Meca yang berdiri mematung di depan pintu dan menarik Meca untuk mengikutinya duduk di kursi sofa.
Meca pun mengikuti kemauan Ibunya untuk bicara sebentar dengannya.
"Sini duduk dulu....." Kata Ibu Meca.
Meca pun duduk di kursi sofa dan mendengarkan apa yang akan dibicarakan ibunya kepadanya.
"Sesuai keinginan kamu,Ibu udah ngomong sama Ibunya Rengga kalau kamu sama Rengga nggak jadi dijodohin." Kata Ibu Meca.
"Beneran?" Tanya Meca dengan semangatnya.
Wajah Meca terlihat bersemangat,padahal sebelumnya Ia wajahnya terlihat lesu karena lelah.
Flashback On
Ibu Meca mendatangi rumah Ibu Rengga untuk bicara tentang perjodohan Meca dan Rengga yang dibatalkan.
Ia sempat gugup sebelum mengetuk pintu rumah Ibu Rengga karena takut jika Ibu Rengga marah.
Tetapi demi Meca,Ia memberanikan diri untuk bicara dengan Ibu Rengga. Toh,yang buat perjodohan adalah dirinya sendiri jadi Ia harus menyelesaikannya sendiri.
Tok...tok...tok....
Suara ketukan pintu dari tangan Ibu Meca yang langsung dibukakan pintunya oleh pemilik rumahnya yaitu Ibu Rengga.
"Eh,ada besan kesini.....ayo masuk..." Kata Ibu Rengga dengan gembiranya karena Ibu Meca datang mengunjunginya.
Ibu Meca memaksakan senyumannya untuk menanggapi sambutan dari Ibu Rengga.
Ibu Rengga mempersilahkan Ibu Meca duduk di kursi yang berada di ruang tamunya.
Ibu Meca pun duduk bersama Ibu Rengga secara berhadap-hadapan.
"Ada apa kesini,kok tumben?" Tanya Ibu Rengga.
"Sebenarnya saya mau bicarakan hal penting." Jawab Ibu Meca.
"Hal penting? Soal apa?" Tanya Ibu Rengga.
"Soal perjodohan Meca dan Rengga." Jawab Ibu Meca.
"Oh.....gimana perkembangan hubungan mereka berdua? Udah cukup dekat kan? Apalagi kan mereka satu kampus." Kata Ibu Rengga.
" Itu dia masalahnya kayaknya mereka itu nggak cukup dekat. Soalnya Meca itu nggak pernah cerita sama saya tentang hubungannya dengan Rengga dan parahnya lagi Meca malah ngomong sama saya kalau dia sudah punya pacar. Dia minta Perjodohan itu dibatalin." Kata Ibu Meca.
"Apa? Meca sudah punya pacar?" Tanya Ibu Rengga dengan syoknya.
"Iya... tapi kalau dipikir-pikir jika Perjodohan ini diterusin ke jenjang lebih lanjut,takutnya nanti ada banyak masalah diantara mereka. Mereka kan juga nggak saling suka Takutnya nanti mereka malah merasa tertekan karena perjodohan ini." Jelas Ibu Meca.
"Jadi,keputusannya kita batalkan perjodohan ini?" Tanya Ibu Rengga.
"Iya...Maaf sebelumnya karena saya yang membuat perjodohan ini dan malah saya yang batalin perjodohannya. Tapi saya nggak bisa biarin anak saya menderita karena masalah ini." Kata Ibu Meca.
"Nggak apa-apa kok. Huh....Rengga sepertinya juga nggak suka sama perjodohan ini. Sebenarnya masalah kita itu sama,jodohin anak kita karena takut jika anak kita tidak bisa mempunyai jodoh. Tapi kita malah maksa mereka buat nurutin kemauan kita tanpa mikir perasaan mereka." Kata Ibu Rengga.
"Itu artinya kamu setuju buat batalin perjodohan ini?" Tanya Ibu Meca.
"Iya....biarlah mereka memilih pasangan hidupnya sendiri." Jawab Ibu Rengga.
"Terima kasih atas pengertiannya. Kamu memang temen terbaik pokoknya...." Kata Ibu Meca lalu memeluk temannya yang tidak lain adalah Ibu Rengga.
Tanpa sadar,Rengga menguping pembicaraan Ibunya dan Ibu Meca.
Setelah mendengar pembicaraan itu,harusnya Ia senang,tetapi anehnya wajah Rengga sedikit sedih mendengar pembatalan perjodohannya dengan Meca.
Apa itu artinya Ia ingin melanjutkan hubungan dengan Meca?
Ataukah Ia mulai menyukai Meca?
Pertanyaan Itu semua terngiang-ngiang di kepala Rengga.