ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 93



Setelah melihat Kakaknya nyata telah meninggal,Bimo berencana sebelum Kakaknya dimakamkan,Ia membawa Kakaknya ke rumah sakit untuk di otopsi. Ia yakin Kakaknya meninggal karena dibunuh. Karena saat pertama kali melihat Kakaknya,Kakaknya terlihat bersimbah darah.


Untuk mengetahui pembunuh yang membunuh Kakaknya itu,Bimo segera membawa jenazah Kakaknya ke rumah sakit untuk di otopsi.


Ibunya Bimo pun setuju dengan rencana Bimo. Ia juga mengingingkan pembunuh anaknya itu bisa dihukum menurut peraturan yang berlaku.


******


Rumah Sakit


Bimo dan Ibu Vina pun sampai ke rumah sakit.


Sebelum sampai ke rumah sakit,Bimo terlebih dahulu menelepon pihak polisi untuk membantu menyelidiki siapa pembunuh Kakaknya itu.


Para polisi pun berdatangan ke rumah sakit setelah Bimo dan Ibu Vina sampai ke rumah sakit.


Bimo dan Ibunya duduk di kursi tunggu sampai hasil otopsi selesai.


Ibu Vina terus menangis di pelukan Bimo.


Bimo mencoba menenangkan Ibunya yang dari tadi menangis tiada henti.


"Ma,jangan nangis terus. Udah ya Ma...." Lirih Bimo sambil menepuk bahu ibunya dengan pelan.


"Mama nggak nyangka Bim,Kakak kamu bisa pergi secepat ini...padahal Mama tadi mau kasih baju buat Kakak kamu,pasti kalau Kakak kamu pakai baju yang dipilihkan Mama tadi pasti cantik." Kata Ibu Vina sambil terus menetaskan air matanya.


Bimo pun tak kuasa menahan air matanya yang mulai jatuh.


Ia segera menghapus air matanya yang jatuh di pipinya itu.


Ia tidak mau terlihat sedih dihadapan Ibunya.


Ia ingin menguatkan Ibunya,tetapi malah Ia tidak bisa berhenti menangis setelah mengingat wajah Kakaknya.


Saat larut dalam kesedihan,tiba-tiba ada seorang laki-laki serumuran Ibu Vina datang menghampiri Bimo dan Ibunya.


"Sina bagaimana keadaanya?" Tanya laki-laki yang datang menghampiri Bimo dan Ibunya tadi.


Mendengar suara laki-laki itu,Bimo dan Ibunya pun menoleh ke arah laki -laki itu.


Ibunya Bimo pun langsung berhamburan memeluk laki-laki tersebut.


"Pa...Sina meninggal..." Ucap Ibunya Bimo sambil terus menangis di pelukan laki-laki itu.


Laki-laki itu adalah ayahnya Bimo yang bernama Ardiansyah.


Ia adalah CEO dari perusahaan ternama.


Sementara itu,Bimo heran mengapa ayahnya bisa tahu keadaan Kakaknya,jika Ia dan Ibunya dari tadi belum memberikan informasi kepada ayahnya itu tentang kematian Kakak perempuannya.


Bimo pun berdiri dan menghadap ayahnya.


"Tunggu,Papa kok tanya tentang keadaan Kak Sina tadi? Apa papa sebenarnya tahu Kak Sina udah meninggal?" Tanya Bimo.


"Sebenarnya tadi ada yang mengirim pesan ke Papa,katanya Sina dalam bahaya. Papa khawatir kalau Sina kenapa-kenapa terus Papa pulang. Tadi Papa ke rumah katanya pembantu di rumah kalian pada ke rumah sakit,terus Papa nyusul kalian ke sini." Jelas Ayahnya Bimo.


"Pa...mana nomer hp yang mengirim pesan ke Papa tadi?" Tanya Bimo.


"Itu dia...saat Papa telfon balik tiba-tiba Papa orang yang mengirim pesan itu sudah ngeblok nomer Papa,jadi nomer itu nggak bisa dihubungi lagi." Jawab Ayahnya Bimo.


Bimo pun menggeram kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya.


Ia yakin kalau pembunuh itu sudah merencanakan semuanya untuk membunuh Kakaknya itu.


Tak lama polisi keluar dari dari ruang otopsi.


Bimo,ayah,dan Ibunya pun menghampiri polisi itu.


"Gimana Pak apa sudah ada hasilnya?" Tanya Bimo pada seorang polisi.


"Hasilnya pasti kalau itu pembunuhan,tetapi kita belum bisa mengetahui siapa pembunuh korban itu." Jawab salah seorang polisi.


"Pak,tolong cari pembunuhnya secepatnya kalau bisa." Pinta Bimo.


"Iya,kami akan berusaha sekerasa mungkin untuk menyelidiki kasus pembunuhan ini. Setelah ini kami akan ke tkp (tempat kejadian perkara) untuk memeriksa barang bukti yang mungkin masih ada di tempat kejadian." Jelas salah seorang polisi.


"Iya pak silahkan." Kata Bimo.


Polisi itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Lalu para polisi itu pun pergi ke rumah Bimo untuk menyelidiki tempat kejadian saat dibunuhnya Sina.


Ibu Vina dan Bimo berharap polisi bisa cepat menemukan pembunuh Kakaknya itu.


Sedangkan ayah Bimo dari tadi raut mukanya sangat khawatir,entah karena kematian anaknya ataupun kasus penyelidikan kematian anaknya itu.