
Meca menggandeng tangan cewek yang dirundung tadi menuju rooftop kampus.
Mereka berdua duduk di tempat duduk yang terbuat dari semen.
"Lo tenangin diri lo dulu ya." Kata Meca pada cewek itu.
Cewek itu pun mengangguk.
Setelah beberapa menit cewek itu pun angkat bicara.
"Makasih ya dah nolongin gue. Oh ya kenalin nama gue Adhira Risti biasanya dipanggil Dhira." Kata Dhira dengan ramah sambil mengajak salaman Meca.
"Nama gue Mecalina Putri,lo bisa panggil gue Meca." Kata Meca pada Dhira sambil bersalaman.
Adhira Risti adalah seorang cewek yang lemah lembut. Parasnya lumayan cantik dan feminim. Karena masalah masa lalunya,ia sering ditindas oleh ketiga cewek tadi. Sebut saja mereka Angel,Dea dan Lina. Ketua dari ketiga cewek itu adalah Angel. Dea dan Lina selalu menurut pada perintah Angel. Entah tak tau mengapa mereka berdua sangat takut pada Angel.
"Meca kenapa lo mau nolongin gue? Cewek-cewek yang ngeliat gue dari tadi aja nggak berani liat apalagi membela gue." Heran Dhira pada Meca.
"Ya karena gue nggak suka orang lain itu ditindas,sebisa mungkin gue bela dengan cara apapun itu." Kata Meca pada Dhira.
"Lo emang baik banget ya,gue sampai kagum lihat lo." Kata Dhira pada Meca sambil memegang bahu Meca.
"Kalau gue boleh tanya,lo ada masalah apa sih sama ketiga cewek itu?" Tanya Meca sambil menoleh melihat Dhira.
Saat Meca bertanya wajah Dhira terlihat bingung dan takut.
"Gue nggak mungkin kan bilang kalau gue berkhianat sama si Angel,kalau gue bilang gitu Meca pasti nyangka kalau gue orang jahat." Kata Dhira dalam batinnya.
"Kalau lo belum siap cerita nggak papa kok,gue ngertiin." Kata Meca sambil tersenyum pada Dhira.
Meca menenangkan Dhira di bahunya dengan menepuk-nepuk bahu Dhira.
"Makanya lo harus berani sama mereka,kalau nggak lo bisa diginiin terus sampai lo lulus kuliah nanti." Kata Meca pada Dhira.
"Gue nggak sama kayak lo Mec,gue nggak bakal berani sama mereka karena mereka selalu mengancam gue dengan cara mencelakai keluarga gue. Maka dari itu gue nggak berani sama mereka." Kata Dhira sambil menghapus air matanya.
"Kasian banget ya lo,pasti lo setiap hari merasa kesepian dan ketakutan." Kata Meca sambil mengelus punggung Dhira.
"Iya Mec,gue juga nggak berani ngomong sama keluarga gue. Kalaupun gue ngomong pasti mereka nggak percaya dan pikir mereka gue ngomong bohong." Kata Dhira kepada Meca.
"Kok bisa gitu?" Tanya Meca heran.
"Y karena ayah gue itu kerja di perusahaannya cewek yang lo lawan tadi,dan kalaupun keluarga gue percaya,mereka akan diam aja karena takut kalau dipecat dari perusahaannya cewek itu." Jelas Dhira pada Meca.
"Owh gitu, ya udah gimana kalau lo butuh temen cerita atau kalau lo sedang ditindas sama merek bertiga,lo bisa datang ke gue." Tawar Meca pada Dhira.
"Makasih ya Mec. Lo mau nggak jadi temen gue?" Tanya Dhira pada Meca.
"Ya mau kok." Kata Meca
Dhira dan Meca pun berpelukan.
"Mec tapi lo juga harus hati-hati ya soalnya Cewek tadi pasti anggep lo musuh sekarang." Kata Dhira sambil melepaskan pelukannya dari Meca.
"Tenang aja gue nggak akan takut." Kata Meca dengan percaya diri.
Meca dan Dhira pun pergi dari rooftop untuk kembali ke kelasnya masing-masing.