ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 154



Di lain waktu,lain suasana,dan lain negara.


Disilah Bimo saat ini berada yaitu Amerika.


Dua jam yang lalu,Ia telah sampai di tempat tujuannya yaitu Amerika.


Saat ini,Ia telah berada di hotel bersama Ibu dan Ayahnya.


Sesampainya Ia di hotel,Ia langsung beristirahat di kamarnya.


Saat Ia bersandar di kasurnya,Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 10 malam waktu Amerika.


Lalu Bimo pun mengecek ponselnya untuk melihat waktu di Indonesia.


Ternyata,disana masih menunjukkan waktu siang.


Secara tiba-tiba Bimo terpikir untuk menghubungi Meca. Ia ingin menyampaikan kepada Meca jika Ia sudah sampai dengan selamat.


Tanpa pikir lama lagi,Bimo pun segera mencari nomor ponsel Meca lalu langsung meneleponnya.


"Kenapa dia menolak telepon gue?" Gumam Bimo sambil melihat ponselnya.


Bimo pun tak menyerah,Ia mencoba sekali lagi untuk menelepon Meca.


Tetapi,lagi-lagi panggilan teleponnya tidak terjawab oleh Meca.


Bimo pun menghela nafasnya dengan kasar,saat gagal untuk menelepon Meca.


Setelah gagal menelepon Meca,Bimo pun kembali bersandar di kasurnya sambil memejamkan kedua matanya.


Tiba-tiba saja kedua matanya langsung menyala,ketika Ia mengingat jika nomor telepon Meca sudah tidak aktif lagi.


Tetapi,yang membuatnya terkejut adalah bagaimana bisa tadi Meca menolak panggilan teleponnya jika nomornya sudah tidak aktif lagi.


Dari situlah,Bimo menyimpulkan bahwa Meca tidak mengganti nomornya.


Nomor yang Ia telpon tadi masih aktif,itu artinya Ia masih bisa menghubungi Meca.


"Tapi,kenapa tadi dia menolak panggilan telepon gue? Apa dia masih marah sama gue?" Gumam Bimo.


*******


Ibunya Rengga tampak cemas menunggu proses operasi putranya.


Dengan air mata yang mengalir di pipinya,Ibunya Rengga tak henti-hentinya berdoa sambil memejamkan kedua matanya.


Sedangkan Meca masih setia menunggu operasi Rengga hingga nanti saat operasi telah usai.


Meca juga berdoa agar operasi Rengga berjalan lancar dan pastinya keadaan Rengga akan membaik.


Meca baru ingat jika Ia belum mengabari Ibunya tentang kondisi Rengga. Ia juga akan meminta izin untuk menjaga Rengga di rumah sakit.


Lantas,Meca pun langsung membuka ponselnya. Saat Ia membuka ponselnya,Ia mendapati ada dua panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak dikenal.


Meca yakin jika nomor yang tidak dikenal itu adalah nomor yang pertama meneleponnya saat Ia akan mengantarkan Rengga ke ruang operasi tadi.


Saat Meca akan menelepon balik nomor yang tidak di kenalnya itu,tiba-tiba ada sebuah panggilan telepon masuk yang ternyata dari Ibunya.


Tanpa pikir lama,Meca pun langsung menjawab panggilan telepon dari Ibunya tersebut.


Di dalam panggilan telepon tersebut Meca berkata tentang kondisi Rengga dan pastinya tidak lupa Ia meminta izin kepada Ibunya untuk menjaga Rengga.


Untungnya Ibunya langsung setuju. Dan Ibunya juga berkata ingin menjenguk Rengga setelah Rengga selesai operasi nanti.


Setelah berteleponan dengan Ibunya,Meca pun menyimpan ponselnya kembali.


Sepertinya Ia lupa untuk menelepon nomor yang tidak dikenal tadi.


Tak terasa dua jam telah berlalu,kini operasi Rengga telah usai.


Berkat doa seorang Ibu,akhirnya operasi Rengga berhasil dan tinggal menunggu Rengga siuman saja.


Saat ini Rengga telah dipindahkan ke ruang rawat inap karena telah selesai di operasi.


Lagi-lagi Ibunya Rengga masih setia menunggu di samping ranjang putranya yang terbaring lemas dengan selang-selang yang ada di tubuh Rengga.


Waktu sudah menunjukkan siang hari. Saat siang hari kebanyakan orang akan makan siang.


Dari situlah,Meca berpikir akan membelikan makan siang untuk Ibunya Rengga.


Meca yakin jika Ibunya Rengga belum sempat makan dari pagi. Karena saat masih pagi tadi,Ibunya Rengga langsung pergi ke rumah sakit.


Karena khawatir dengan kondisi Ibunya Rengga,Meca pun memutuskan pergi ke kantin guna membeli makanan untuk Ibunya Rengga dan dirinya.


Sekitar dua menit membeli makanan di kantin rumah sakit,akhirnya Meca kembali dengan membawa dua bungkus makanan.


Meca pun langsung menghampiri Ibunya Rengga yang duduk di sebelah ranjang Rengga.


"Maaf,tante...."


"Iya...." Ucap Ibunya Rengga sambil menoleh ke arah Meca.


"Ini,tante makan dulu. Pasti tante belum makan kan dari tadi pagi?"


"Maaf,tante nggak lapar. Kamu aja yang makan."


"Tenang aja,tante nggak akan sakit kok. Beneran tante nggak nafsu untuk makan."


"Tapi,tan...


"Permisi..." Ucap seorang suster yang masuk ke ruang inap Rengga.


Akhirnya pembicaraan Meca dan Ibunya Rengga pun terpotong karena kedatangan seorang suster tersebut.


"Iya,sus. Ada apa ya?" Tanya Ibunya Rengga.


"Maaf,disini siapa keluarga pasien?" Tanya suster.


"Saya sus." Sahut Ibunya Rengga.


"Oh,kalau begitu. Mari ikuti saya dulu.." Ucap suster itu dengan ramah.


"Baiklah sus. Meca,tolong jaga Rengga dulu ya...kalau ada apa-apa langsung telpon tante aja." Pesan Ibunya Rengga.


"Iya tante." Jawab Meca sambil tersenyum.


Setelah itu,Ibunya Rengga dan suster tadi keluar dari ruang inap bersama.


Meca pun menyimpan makanan yang dibelinya tadi di kulkas untuk dimakan nanti.


Setelah itu,Meca pun duduk di sebelah ranjang Rengga sambil melihat kondisinya yang memperhatinkan.


"Maaf,karena gue sudah buat Elo terbaring di rumah sakit seperti ini." Gumam Meca.


Tiba-tiba Meca teringat perkataan Ibunya Rengga.


"Rengga berusaha melindungi kamu. Dia tidak mau orang yang dia sayang terluka"


"Huh....kenapa Elo harus segitunya demi gue?" Gumam Meca sambil menatap Rengga yang masih belum siuman.


"Gue harap Elo cepat bangun,gue kasihan lihat Ibu Elo. Dia pasti akan cemas kalau Elo nggak bangun-bangun."


"Gue janji,akan mengajak Elo jalan-jalan kalau Elo mau bangun dari siuman Elo. Bukannya Elo mau jalan-jalan berdua sama gue?"


Entah apa yang dipikirkan Meca,sampai Ia berbicara pada orang yang belum siuman seperti Rengga.


Walaupun begitu,Meca berharap bisa membuat Rengga bangun dari komanya dengan janji yang dibuatnya itu.


Tut...tut...tut....


Ponsel Meca lagi-lagi berbunyi,itu artinya ada yang meneleponnya.


Dengan cekatan,Meca pun langsung mengambil ponselnya lalu mengecek siapa gerangan yang meneleponnya.


Setelah dilihat,ternyata nomor yang tidak dikenalnya tadi.


Karena penasaran dengan siapa orang di balik nomor yang tidak dikenalnya itu dan juga alasan mengapa orang itu sering membuat panggilan telepon di nomor lamanya. Akhirnya Meca pun menjawab panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenalnya tersebut.


"Maaf,ini dengan siapa ya?"


"Mec,akhirnya gue bisa telpon Elo. Gue Bimo. Kok Elo nggak tahu kalau ini nomor gue?


"Oh...Ini Elo Bim. Maaf,kontak yang gue simpan di nomor gue ini sudah gue hapus semua. Gue udah ganti nomor."


"Oh..pantas Elo nggak jawab telpon gue dari tadi."


"Tapi,kenapa Elo telpon gue?" Tanya Meca.


"Gue ingin bilang sama Elo kalau gue sudah sampai di Amerika. Mulai besok,gue sudah masuk kuliah."


"Oh...syukurlah. Elo selamat sampai tujuan."


"Eh...Mec. Elo lagi apa disana?"


"Gue.... Ha....Reng...Elo udah bangun.


Meca pun terkejut saat menoleh ke arah Rengga. Karena Rengga sudah siuman dari komanya.


Saking terkejutnya,Ia berbicara saat sedang berteleponan dengan Bimo.


"Elo sama siapa?? Tanya Bimo dalam telepon.


"Bim,sudah dulu ya. Nanti gue telpon lagi."


Setelah berpamitan dengan Bimo,Meca pun segera menutup panggilan teleponnya dengan Bimo.


*****


Kira-kira bagaimana perasaan Bimo setelah Ia mendengar kata Rengga saat Ia bertelepon dengan Meca??


Kalau penasaran,ikutin terus ceritanya!!


Jangan lupa klik ikon 👍🏻 untuk menaikkan popularitas novel saya....


Happy reading 😉😉🥰


Maaf ya...baru update 😔😔


Author usahain bakal rajin update deh 🙂🙂