
Dalam beberapa hari ini,Meca telah menetap di rumah Kakak laki-lakinya.
Dalam kesehariannya,Ia melakukan aktifitas seperti biasanya,namun Ia tidak bekerja dan kuliah. Ia berusaha untuk tidak keluar dari rumah Kakaknya. Kalaupun Ia harus keluar rumah,itupun juga tidak memakan waktu yang lama. Alasan Ia jarang keluar rumah adalah karena Ia harus berjaga-jaga jika mungkin di jalan bertemu dengan Bimo ataupun Rengga. Meca yakin jika sekarang mereka sedang mencari keberadaanya.
Entah sampai kapan,Meca akan menetap di rumah Kakak laki-lakinya.
Meca masih belum merencanakan untuk pulang kembali ke rumahnya yang dulu.
*****
Sementara itu,Bimo dan Rengga masih berlanjut menjalankan misinya yaitu mencari keberadaan Meca.
Mereka terus membawa mobil masing-masing untuk mencari alamat saudara laki-laki Meca.
Entah apa yang membuat mereka yakin,jika Meca sekarang berada di rumah Kakak laki-lakinya. Atau mungkin semua itu disebut insting cinta? Entahlah,tapi yang pasti insting mereka tidaklah salah.
Usaha mereka tidak akan sia-sia jika dapat menemukan alamat yang pasti rumah Kakak laki-laki Meca tersebut,karena memang Meca berada di rumah Kakak laki-lakinya.
Tetapi,menemukan alamat pasti rumah Kakak laki-laki Meca tidaklah mudah,apalagi daerah yang disebutkan oleh Ibunya Rengga itu sangat luas. Terdiri dari beberapa kota dan desa pula.
Lebih sulit lagi,karena Rengga dan Bimo juga tidak tahu nama Kakak laki-lakinya Meca tersebut. Jika mereka tahu namanya,mungkin akan lebih mudah untuk menemukan alamat rumahnya.
Butuh beberapa hari untuk bisa menemukan rumah Kakak laki-laki Meca.
Tak terasa hampir dua hari,Rengga dan Bimo mencari alamat rumah Kakak laki-laki Meca. Dalam dua hari itu,mereka berdua terus bertanya-tanya pada orang-orang di jalan yang mungkin tahu dimana rumah Kakak laki-laki Meca.
Tetapi,hasilnya pun nihil,tidak ada satupun orang yang tahu nama Meca jika Rengga atau Bimo bertanya soal Meca.
Tak mau menyerah,Bimo dan Rengga pun terus berlanjut mencari keberadaan Meca sampai hari ini.
Biasanya mereka berdua akan mencari Meca pada pagi hari sampai siang hari.
Setelah itu,mereka sepakat untuk pulang kembali ke rumah masing-masing.
Seperti pagi ini,Bimo sedang melanjutkan pencariannya dengan bertanya-tanya pada sekumpulan orang yang melintas di jalanan maupun pedagang dan pemilik toko.
Kini Bimo tengah berada di persebrangan jalan. Ia menunggu rambu untuk pejalan kaki menyala sambil membawa satu lembar kertas ditangannya yang memuat foto Meca.
Bimo berencana untuk bertanya pada pemilik toko di seberang jalan. Karena letak toko itu di seberang jalan,maka dari itulah Bimo harus menyebrang untuk sampai ke toko tersebut.
Tak butuh waktu lama,rambu untuk pejalan pun menyala,itu artinya saatnya Bimo untuk menyebrangi jalanan yang akan dilaluinya itu.
Cukup banyak sekali,orang yang akan menyebrang dari sisi kanan maupun kiri.
Bimo saat ini berada di jalanan sebelah kiri dan hendak menyebrang di jalanan sebelah kanan.
"Iya,bu. Bentar lagi,aku pulang kok. Jangan khawatir.." Ucap seorang perempuan di panggilan telepon.
Perempuan itu juga menyebrang,tetapi Ia menyebrang dari sisi kanan. Bertepatan sekali bersampingan dengan Bimo saat perempuan itu sedang bertelepon.
Mendengar suara perempuan yang sedang melakukan panggilan telepon tersebut,membuat Bimo terhenyak dan diam seketika di tengah jalan yang di sebranginya itu.
Suara perempuan itu seperti tidak asing di telinga Bimo. Sepertinya,Ia selalu mendengar suara perempuan tadi.
Tiba-tiba saja Meca terlintas di pikirannya.
Entah apa yang membuat Bimo berpikir jika perempuan tadi adalah Meca.
Untuk menjawab rasa penasarannya,Bimo pun memutuskan untuk mengejar perempuan yang Ia sangka adalah Meca.
Sebelum kehilangan jejak perempuan tadi,Bimo segera berbalik badan dan lari mengejar perempuan itu.
Setelah Bimo berhasil mengejar perempuan yang Ia sangka Meca tadi,ternyata dugaanya tidaklah salah.
Ya,perempuan itu tidak lain adalah orang yang sedang dalam pencariannya yaitu Meca.
Senyum tercetak di wajah Bimo saat berhasil menemukan Meca.
Tetapi,Bimo tak mau gegabah terlebih dahulu untuk menemui Meca dan berbicara kepadanya.
Ia memilih untuk mengikuti Meca di belakangnya dengan perlahan-lahan sampai Meca nanti pulang ke rumah kediamannya selama ini.
Dengan itu,Bimo bisa tahu pasti tempat tinggal Meca saat ini tanpa harus mencari-carinya lagi.
Kapanpun Bimo ingin bertemu dengan Meca,Ia bisa menemui Meca di rumah persembunyiannya selama ini.
Saat Bimo mengikuti Meca dari belakang,sepertinya Meca mulai menyadari,jika ada yang membuntutinya.
Meca pun menoleh ke belakang untuk memastikannya.
Tetapi,dengan cekatan Bimo langsung bersembunyi di balik dinding rumah agar Meca tidak mengetahuinya.
Bimo pun mengintip di balik dinding rumah tersebut,guna memeriksa apakah Meca masih menoleh ke belakang.
Setelah Bimo lihat,ternyata Meca mulai berjalan lagi dengan santainya.
Bimo pun perlahan keluar dari persembunyiannya lalu mengikuti Meca kembali dari belakang tapi jaraknya agak jauh dari sebelumnya agar Meca tidak curiga lagi jika Ia membuntutinya.
Cukup lama,Bimo berjalan mengikuti Meca dari belakangnya. Akhirnya,Meca telah membawa Bimo ke rumah yang selama ini ditempatinya.
Lagi-lagi Bimo hanya memantau Meca dari kejauhan sambil bersembunyi di balik pohon yang cukup besar.
"Hai....Kakak pulang. Lihat,Kakak bawa es krim buat kamu." Ucap Meca dengan tawa riang di wajah cantiknya.
Dari penglihatan Bimo,Meca sedang berbicara pada anak kecil perempuan yang ada di depan rumah yang Meca tempati. Mungkin benar,jika Meca sekarang tinggal di rumah Kakak laki-lakinya dan anak kecil perempuan itu kemungkinan adalah anak dari Kakak laki-lakinya Meca.
Meca tampak tersenyum bahagia saat bercengkrama dengan anak kecil itu. Melihat hal itu,membuat hati Bimo merasa tenang dan ikut bahagia.
"Sepertinya Elo bahagia disini." Gumam Bimo sambil tersenyum tipis.
Tentu saja Bimo ikut bahagia saat melihat tersenyum tanpa beban seperti tadi.
Karena sebelumnya,Meca tampak selalu sedih beberapa hari sampai Ibunya sendiri khawatir terhadap Meca dan bertanya pada Bimo.
Bimo menyadari jika Ia bersalah pada Meca,karena membuatnya sedih dengan sifat egoisnya.
Sejenak Bimo berpikir,jika Ia ada keinginan di benaknya untuk melupakan Meca dan membiarkan hidup Meca tenang kembali seperti sedia kala.
Tetapi,keinginan itu belum pasti akan dilakukannya. Terasa berat untuk melupakan seseorang yang pernah singgah di hatinya. Karena sebelumnya pun,Bimo juga masih gagal akan janji yang Ia buat sendiri untuk berusaha melupakan Meca.
Kadang,Bimo bertanya pada dirinya sendiri.
Akankah bisa,Ia melupakan Meca setelah ini,tanpa ada kata gagal lagi?
Entahlah. Yang pasti sekarang Bimo memilih untuk tidak menganggu Meca terlebih dahulu. Ia ingin Meca kembali seperti sedia kala tanpa merasakan kesedihan lagi.
Cukup lama Bimo melamun di balik pohon besar itu,akhirnya Ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.
*******
Kalau menurut readers bagaimana jika harus menjadi posisi Bimo?
Akankah Bimo akan benar-benar melupakan Meca atau tetap mempertahankan hubungannya?
Tunggu kelanjutnya dan ikutin terus ceritanya....๐๐
Jangan lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya
Selamat membaca ๐๐