
Tak mau berdiri seperti orang bodoh disini,Bimo pun segera berlari dan pergi dari rumah sakit.
Pastinya Bimo pergi dengan perasaan yang sedih dan marah.
Saat ini Bimo bagaikan orang gelandangan yang tak punya rumah untuk singgah.
Ia terus berjalan sambil menarik koper yang Ia bawa.
Padahal Bimo mempunyai rumah yang begitu besar dan megah untuk Ia singgahi,tetapi entah kenapa Bimo tak ingin pulang ke rumahnya.
Ia malah berjalan lontang-lanting di jalanan.
Bukan tanpa alasan Bimo tak ingin langsung pulang ke rumahnya. Sebenarnya Ia hanya ingin menghilangkan pikirannya tentang Meca dengan berjalan-jalan seperti ini.
Bimo takut jika Ia pulang ke rumahnya dan langsung beristirahat,Ia nanti akan memikirkan Meca dan Meca.
Bimo tak mau menjadi laki-laki lemah hanya karena terus kepikiran oleh seorang Meca. Ia tak mau menangis,melamun dan bersikap seperti seorang yang bodoh demi seorang wanita.
Bagaimanapun,Ia harus kuat menerima semua ini. Jika Meca sudah bersama laki-laki lain,Ia akan berusaha melepaskannya.
Toh,dia punya banyak penggemar wanita di luar sana yang mengharapkan cinta darinya,jadi buat apa Ia sedih hanya karena putus dengan satu wanita.
Tapi,apakah Ia bisa melupakan Meca begitu saja?
Haahhh.....
Bimo berteriak kesal saat memikirkan itu semua. Bimo tak sadar jika Ia berteriak di tempat umum.
Ya,sekarang Bimo tengah beristirahat di depan toserba sambil meminum minuman yang Ia beli di toserba tersebut.
Bimo beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya karena berjalan cukup lama.
Karena teriakan Bimo cukup nyaring,sehingga orang-orang yang ada di sekitar toserba atau sedang lewat di depan toserba langsung menoleh ke arahnya.
Orang-orang itu menatap Bimo dengan tatapan aneh. Ada juga yang menertawakan Bimo.
Mendengar ada orang yang menertawakannya saat Ia sedih,Bimo pun langsung naik pitam.
"Diam!! Berani kalian tertawa di atas kesedihan orang lain!! Pergi sana!!" Ucap Bimo dengan nada meninggi.
Orang yang menertawakannya tadi langsung takut saat mendengar Bimo marah.
Sebelum orang itu beranjak pergi,orang itu masih sempat mengolok-ngolok Bimo dengan menyebut Bimo 'orang gila'.
"Gue bilang Pergi!!" Teriak Bimo.
Karena teriakan Bimo lebih nyaring dari sebelumnya,orang yang menertawakannya tadi langsung pergi dari pandangan Bimo.
"Mas,jangan buat keributan disini!!" Gertak seorang laki-laki paruh baya yang juga pemilik toserba.
Mungkin pemilik toserba itu tak mau ada keributan di toserba miliknya. Jadi,Ia langsung menghampiri Bimo,karena Ia tadi mendengar Bimo berteriak-teriak di depan toserbanya. Pemilik toserba itu tak ingin membuat orang-orang takut ke toserbanya karena ulah Bimo tersebut.
"Maaf,Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Bimo sambil merundukkan badannya.
Bimo pun menyadari perbuatannya,lalu Ia pun langsung pergi setelah meminta maaf dan pamit kepada pemilik toserba tadi.
Bimo pun berjalan lagi menyusuri jalanan.
Tapi,kali ini Ia mempunyai tempat tujuan dari perjalanannya.
Ya,Bimo ingin melampiaskan kesedihannya di bar. Ia ingin minum alkohol supaya dapat melupakan kesedihannya.
Banyak orang yang berkata jika minum alkohol dapat membuat beban pikirannya hilang. (Nggak ya readers,itu nggak bener. Jangan coba-coba,karena alkohol itu dapat merusak kesehatan tubuh kita!!๐ค๐ค)
Bimo seperti kehilangan akal,padahal sebelumnya Ia tak pernah mencoba minum alkohol seperti ini. Seakan-akan Ia lupa dengan efek samping setelah meminum alkohol.
Tak lama kemudian,sampailah Bimo di tempat tujuannya yaitu bar.
Sesampainya di sana,Bimo segera masuk dan langsung menghampiri pekerja bar disana untuk memesan beberapa minuman alkohol.
Sambil menunggu minuman alkoholnya datang,Bimo duduk terlebih dahulu.
Tampak keadaan bar sangat ramai,orang-orang banyak yang sudah mabuk karena minuman alkohol,tapi tak hanya itu saja ada banyak juga dari mereka yang berjoget ria bersama teman atau pacarnya sambil membawa satu gelas bir di tangan mereka masing-masing.
Tak lama kemudian,minuman alkohol yang Bimo pesan telah sampai.
Sebelum meminumnya,Bimo ingin mendengarkan lagu yang genrenya sesuai dengan kondisi hatinya saat ini.
Mendengar lagu yang diputar di dalam bar ini membuat Bimo risih.
Lalu,Bimo pun memilih mendengarkan lagu lewat ponselnya. Ia pun menyalakan ponselnya,setelah menyala Ia pun langsung mencari lagu di aplikasi musik.
Akhirnya Bimo menemukan lagu yang tepat untuk Ia dengarkan.
Ia pun memutar lagu yang dipilihnya dengan suara yang nyaring.
Lagipula,tidak akan ada yang mendengar lagunya karena suara lagu di bar itu lebih nyaring dibandingkan dengan lagu yang diputarnya saat ini.
Tanpa menunggu lebih lama lagi,Bimo pun segera meminum alkohol yang sudah Ia pesan tadi sambil mendengarkan lagu yang Ia putar.
Tanpa Bimo sadari,Ia telah menghabiskan dua botol alkohol.
Meskipun hanya dua botol,tetapi efeknya langsung terasa olehnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai agak kabur.
Sepertinya Bimo mulai mabuk karena telah meminum alkohol.
"Ha...ha...ha....akhirnya gue mabuk. Tapi,kenapa beban pikiran gue belum hilang." Ucap Bimo dengan melantur. Mungkin karena efek dari mabuknya tersebut.
"Apa kurang ya...gue minum? Ha...gue harus nambah lagi. Tolong beri saya dua botol lagi!!"
Mendengar ada pesanan,pekerja bar tadi langsung menyiapkan dua botol alkohol seperti yang Bimo minta.
Dua botol alkohol pun tiba di depan Bimo.
Dengan tangan yang sudah agak lemas,Bimo pun mencoba meraih botol alkohol tersebut.
Glek....glek.....glek ...
Tak butuh waktu lama,Bimo pun telah meminum habis satu botol alkohol tersebut.
Ia merasa mabuknya kali ini semakin bertambah. Bahkan kedua matanya sudah tidak fokus lagi untuk melihat keadaan sekitar.
Tiba-tiba saja Bimo beranjak dari duduknya lalu mengambil kursi dan melemparnya sambil berteriak.
"Aahhhhgg...laki-laki si*l*n itu,berani-beraninya dia rebut cewek gue!!" Ucap Bimo dengan nada meninggi.
Para pengunjung bar langsung terkejut dengan perbuatan Bimo. Apalagi saat Bimo melempar kursi,hampir saja kursi yang dilemparnya itu mengenai pengunjung bar yang ada disana.
Pekerja bar yang ada disana pun langsung menghampiri Bimo,begitu melihat perbuatan Bimo yang bisa membuat para pengunjungnya ketakutan.
"Tolong jangan buat keributan disini,Mas!!" Tolong duduk kembali!!" Perintah seorang pekerja bar laki-laki.
"Elo siapa!! Ha...nyuruh-nyuruh gue!!" Ucap Bimo dengan nada meninggi sambil memegang kerah baju pekerja bar yang mencoba menghentikan perbuatannya itu.
Pekerja bar itu tampak ketakutan saat Bimo marah padanya. Lalu,pekerja bar itu menyuruh teman sesama pekerja barnya untuk membawa Bimo pergi darinya.
Dua orang temannya pun langsung menghampiri Bimo lalu menarik badan Bimo supaya melepaskan pekerja bar tadi.
"Lepaskan!! Pergi!!" Teriak Bimo saat ditarik-tarik oleh dua pekerja bar tersebut.
Entah karena apa,tenaga Bimo semakin kuat sampai dua orang pekerja tadi jatuh hanya karena hempasan dari tubuhnya.
Tut....tut....tut.....
Di tengah keributan yang terjadi,tiba-tiba dering ponsel Bimo berbunyi.
Pekerja bar yang menyuruh temannya tadi melihat ponsel Bimo yang berada di atas meja menyala dan ada sebuah panggilan.
Lalu,pekerja bar tersebut langsung mengambil ponsel Bimo dan tak lupa juga Ia menyuruh kedua temannya tadi untuk menjaga Bimo supaya tidak mengganggunya saat bertelepon.
Kedua temannya pun mengangguk mengerti.
Setelah mendapatkan ponsel Bimo,pekerja bar tadi langsung menjawab panggilan telepon yang entah dari siapa,tapi yang pasti Ia nanti akan meminta tolong pada penelepon ini untuk membawa pulang Bimo dari bar sebelum Bimo membuat keributan yang lebih berbahaya lagi di barnya.
*******
Akhirnya Meca pun telah sampai di bar tempat Bimo mabuk saat ini.
Begitu sampai,Meca pun segera masuk ke dalam bar.
Sebenarnya Meca tak suka dengan pemandangan bar yang ramai dan penuh.Tetapi,Ia berusaha menguatkan diri karena khawatir dengan kondisi Bimo.
"Permisi!! Saya tadi di telepon,kalau ada orang yang membuat keributan disini. Boleh saya ketemu sama orang itu?" Tanya Meca pada pekerja bar laki-laki yang berdiri tepat di pintu masuk bar.
"Ada. Orang itu sedang dijaga saat ini. Silahkan masuk."
Tanpa lama lagi,Meca pun segera masuk ke dalam. Saat baru masuk,Meca sudah mencium bau alkohol dimana-mana.
Lagi-lagi Meca menguatkan dirinya hanya untuk Bimo.
Akhirnya Meca pun menemukan Bimo.
Meca tampak sangat cemas dengan Bimo,bagaimana tidak?
Saat ini Bimo dijaga oleh dua orang yang ada disebelahnya,sedangkan Bimo terlihat tak berdaya sambil menundukkan kepalanya.
Lalu,Meca pun langsung berlari menghampiri Bimo.
"Permisi!! Biar saya yang menjaganya. Ucap Meca begitu sampai di depan Bimo.
Lantas kedua pekerja bar itu pun langsung pergi meninggalkan Meca dan Bimo.
"Bimo!! Elo nggak apa-apa?"
Samar-samar Bimo melihat Meca di depannya. Entah ini halusinasinya atau nyata Ia melihat Meca sekarang ada di depannya.
"Meca!! Elo cantik! Tapi,mengapa Elo khianati gue?"
"Asal kalian tahu!! Cewek ini yang buat gue kayak gini!!" Teriak Bimo tiba-tiba.
Mendengar teriakan Bimo,para pengunjung bar dan pekerja bar langsung melihat ke arah Meca.
Meca pun merasa malu dan kikuk saat dilihat oleh banyak orang.
Meca pun memutuskan untuk segera membawa Bimo pulang sebelum Bimo berbicara melantur kemana-mana dan mempermalukannya disini.
Dengan sekuat tenaga,Meca membopoh tubuh Bimo untuk membuatnya berdiri.
Lengan Bimo Meca kalungkan di pundaknya lalu Ia merangkul pinggang Bimo supaya tidak jatuh.
Untung saja,Bimo tak melawan saat Meca akan membawanya pulang. Memang karena Bimo langsung pingsan atau tidur setelah berteriak tadi.
"Permisi!! Mas ini tadi belum bayar." Ucap pekerja bar saat Meca akan membawa Bimo pulang.
Meca tampak kebingungan saat pekerja bar itu menagih bil kepadanya.
Apalagi saat ini Meca hanya punya uang sedikit.
"Berapa emangnya?"
"Jadi,200 ribu."
"200 ribu?" Tanya Meca dengan terkejutnya.
Bagaimana ini? Meca tak punya uang sebanyak itu.
Tiba-tiba Meca teringat akan koper bawaan Bimo. Meca yakin di dalam koper tersebut pasti ada uang.
"Bisa bantu saya bawa Bimo sebentar?"
"Ya. Bisa."
Meca pun meminta tolong pada pekerja bar itu untuk membopoh Bimo sebentar.
Lalu Meca pun segera mencari koper Bimo.
Setelah Ia menemukannya,Ia pun langsung membuka koper tersebut.
Meca mencari dan sedikit mengacak-ngacak isi koper Bimo.
Dan benar saja,ada satu buah amplop berwarna kuning yang disimpan Bimo di dalam kopernya.
Tanpa pikir lama lagi,Meca pun segera membuka amplop tersebut.
Memang benar dugaan Meca,ternyata isi amplop itu adalah uang seratus ribuan yang jumlahnya lumayan banyak.
Meca pun mengambil dua lembar dua ratus ribuan dari amplop tersebut untuk membayar tagihan Bimo di bar.
"Ini uangnya!! Ucap Meca sambil menodongkan uang pada pekerja bar.
"Terima kasih."
Pekerja bar itu lalu menyerahkan Bimo kembali pada Meca.
Meca pun membawa Bimo kembali dengan posisi yang sama saat Ia membopoh Bimo tadi.
Dengan hati-hati,Meca membawa Bimo keluar dari bar.
Akhirnya Meca berhasil keluar dari bar itu.
Memang cukup lelah,belum lagi badan Bimo lumayan berat.
Kebetulan sekali saat Ia baru keluar,ada taksi yang lewat.
Dengan segera Meca memesan taksi tersebut untuk pulang.
Pertama Meca memasukkan Bimo terlebih dahulu ke taksi,setelah itu Ia menyuruh sopir taksi untuk memasukkan koper Bimo ke dalam bagasi taksi tersebut.
Setelah selesai,baru Meca masuk ke dalam taksi.
Sebelum berangkat,seperti biasa memberikan alamat dahulu pada pak supir.
Meca pun memberikan alamat rumah Bimo pada pak supir.
Melihat kepala Bimo terbentur kaca mobil,Meca pun menjadi tak tega. Ia khawatir nanti kepala Bimo akan luka.
Lalu,Meca pun meraih kepala Bimo dan menyandarkan kepalanya ke pundaknya.
Tut...tut...tut.....
Tiba-tiba ponsel Meca berdering menandakan ada sebuah panggilan telepon.
Meca pun langsung mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya.
Ternyata yang meneleponnya adalah Ibunya. Dengan segera,Meca menjawab panggilan telepon dari Ibunya.
"Halo,bu."
"Meca,kamu ada dimana?"
"Aku sedang makan bersama Bimo."
"Oh...ya udah. Ibu kira kamu ada dimana. Bimo sudah pulang ya? Ibu pengen ngomong sama Bimo dong.
Meca terdiam sesaat,Ia bingung harus bicara apa pada Ibunya. Tak mungkin,Ia jujur pada Ibunya mengenai kondisi Bimo yang sedang mabuk berat seperti ini.
Bahkan,Ia tadi saja berbohong pada Ibunya,jika Ia sedang makan bersama Bimo.
Meca tak mau jika Ibunya tahu Bimo mabuk-mabukkan seperti ini.
"Meca??"
"Oh..iya bu. Itu...Bimo pergi ke kamar mandi. Belum kembali juga dari tadi.
"Oh...gitu. Ya udah deh..kalau begitu."
"Iya. Ya udah ya..bu..ak...
"Tunggu!! Ibu tadi mau ngomong kalau nanti Ibu nggak pulang. Ibu mau nginap di rumah sakit,mau nemenin Ibunya Rengga."
"Oh..gitu. Iya bu,nggak apa-apa."
"Ya udah kamu hati-hati ya...."
"Iya bu."
Meca memikirkan sesuatu setelah bertelepon dengan Ibunya.
Ya,Ia berpikir untuk membawa Bimo ke rumahnya. Mumpung Ibunya tidak ada di rumah,jadi tak apa lah kalau membawa Bimo ke rumahnya.
Toh,nanti juga tidak akan terjadi apa-apa saat Ia hanya berdua bersama Bimo.
Apalagi, dari tadi Bimo tertidur karena efek mabuknya.
Meca pun langsung memberikan alamat kembali kepada pak supir ke alamat rumahnya.
Pak supir tadi pun langsung mengerti dengan alamat yang diberikan oleh Meca.
*****
Jangan lupa klik ikon ๐untuk menaikkan popularitas novel saya....
Please...๐๐
Happy reading ๐ฅฐ๐ฅฐ