
Meca pun akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh dari pohon tersebut.
Bimo yang melihat Meca jatuh pun langsung membelakkan matanya karena terkejut.
Bimo langsung mencari posisi yang pas untuk menangkap Meca supaya tidak salah posisi saat menangkap Meca nanti.
"Ahhhhhhh." Teriak Meca karena ketakutan karena jatuh.
Untungnya Bimo langsung menangkap Meca dengan cekatan dan pastinya dengan posisi yang pas.
Meca pun jatuh di pelukannya Bimo.
Dengan posisi Bimo yang sedikit mengangkat tubuh Meca ke atas dan menahan tubuh Meca agar tidak jatuh ke tanah. Kedua tangannya Ia kalungkan pada pinggang Meca untuk menahan badan Meca.
Sedangkan Meca hanya bisa menutup matanya rapat-rapat karena masih takut.
"Kenapa Gue nggak kerasa sakit kalau jatuh?" Gumam Meca sambil menutup matanya.
"Buka mata Elo!" Pinta Bimo.
Meca pun perlahan membuka matanya. Saat Ia membuka matanya Meca terlihat terkejut karena di depannya ada Bimo. Apalagi sangat dekat dengan wajahnya belum lagi tatapan lekat mata Bimo dan sedikit senyuman yang menyungging di bibir Bimo yang membuat Meca agak gugup untuk melihat Bimo.
"Ke...napa Kakak natap gue kayak gitu?" Tanya Meca dengan gugup.
"Elo gugup ya?" Ejek Bimo pada Meca sambil memandang wajahnya.
"Enggak Kok. Turunkan gue!" Pinta Meca yang langsung dituruti oleh Bimo.
"Elo nggak apa-apa?" Tanya Bimo
"Sebenarnya nggak apa-apa,tapi masih deg-deg an karena jatuh tadi." Jawab Meca.
"Apa Elo yakin deg-deg an Elo saat ini karena jatuh tadi?" Tanya Bimo
"Apa maksud Kakak?" Tanya Meca bingung.
"Bisa jadi,Elo deg-deg an saat Elo tatap gue tadi. Soalnya dari mata Elo sudah bisa ketahuan kalau Elo gugup tadi." Kata Bimo sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Meca.
"Tuh kan! Elo gugup natap gue ha..ha..ha.." Ejek Bimo sambil tertawa
"Berhenti Kak! Apa Kakak mencoba menggoda gue? Gue nggak akan kegoda oleh rayuan Kakak." Kesal Meca sambil pergi dari hadapan Bimo.
"Hei! Meca jangan pergi dulu,Elo belum ucapin terima kasih sama gue." Teriak Bimo pada Meca yang sudah mulai menjauh darinya.
Meca pun tak menghiraukan Bimo. Ia tetap tidak berhenti dan meneruskan jalannya.
"Sepertinya Meca mulai selangkah menyukai gue. Dia memang cewek yang jual mahal." Gumam Bimo sambil menunjukkan senyum smirknya.
Saat Meca berjalan,Ia terus memikirkan tentang ucapan Bimo tadi sambil tangannya memegangi dadanya yang masih terasa deg-deg an.
"Benar juga ya...kok gue masih deg-deg an gini,padahal gue udah nggak ngerasa takut lagi." Gumam Meca sambil memegangi dadanya dan merasakan detaknya yang cepat.
Tin..tin..tin...
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Meca.
Mobil sport hitam menghampiri Meca yang tengah berdiri di pinggir jalan.
Mobil itu pun berhenti di samping Meca.
Pengendara mobil itu pun langsung membuka kaca jendela mobilnya untuk melihat Meca.
Terlihat seorang laki-laki berwajah tampan dan memakai kacamata hitam yang bertengger di kedua matanya.
Laki-laki itu pun membuka kacamatanya dan keluar dari mobil mewahnya tersebut untuk menghampiri Meca.
Meca hanya berdiri mematung melihat laki-laki itu. Ia tampak agak bingung dengan perilaku laki-laki itu yang tiba-tiba menghampirinya.
Walaupun wajah laki-laki tampak tidak asing baginya karena hampir setiap hari Ia bertemu dengan laki-laki tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Bimo Ardiansyah.