ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 81



Bimo terpaksa bersifat manja pada Meca dan mengakui Meca sebagai pacarnya. Ia tidak peduli jika Meca akan memarahinya nanti.


Bimo melakukan hal yang menurutnya memalukan ini hanya untuk membuat perawat-perawat itu tidak menggodanya. Ia risih apabila digoda oleh perempuan yang genit seperti itu.


Sedangkan Meca hanya pasrah dengan perlakuan Bimo yang membuatnya malu dihadapan perawat-perawat itu.


Sebenarnya Meca tahu Bimo melakukannya untuk menyelamatkannya dari perawat-perawat genit itu,tetapi yang membuat Meca kesal adalah kenapa harus melibatkannya ke dalam rencananya yang memalukan itu.


Dua perawat itu terus mengobati luka Bimo dengan hati-hati dan teliti.


Tak lama,luka Bimo pun mulai tertupi oleh perban. Itu artinya sudah hampir selesai diobati.


"Sudah...selesai.Ingat lukanya jangan kena air dulu,biarkan kering terlebih dahulu." Ingat perawat yang berada di depan Bimo.


Bimo pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang diingatkan oleh perawat itu.


"Maaf mau tanya,itu perbannya nggak perlu diganti selama belum kering?" Tanya Meca pada perawat yang memberi saran pada Bimo tadi.


"Nggak perlu,itu lukanya akan lebih cepet kalau udah minum obat yang sudah saya resepkan nantinya. Kira-kira cuma satu hari nanti bisa dibuka perbannya." Jelas perawat itu.


"Oh....gitu. Terima kasih suster." Kata Meca.


"Iya sama-sama. Oh...iya tolong tunggu sebentar,saya tuliskan resep obat dulu." Kata perawat itu.


"Oh..iya. Silahkan." Kata Meca.


Perawat itu pun langsung ke meja kerjanya lalu menulis resep obat.


Bimo dan Meca menunggu di tempat tidur pasien sambil duduk.


"Makasih ya..Mec." Ucap Bimo secara tiba-tiba.


"Kakak kenapa malah bilang makasih ke gue? Harusnya gue yang harus bilang makasih ke Kakak. Kakak rela terluka hanya mau nolong gue. Lain kali Kakak nggak boleh nyakitin diri sendiri hanya demi nolong gue." Kata Meca.


"Kenapa? Elo nggak mau berurusan sama gue ya?" Tanya Bimo.


"Enggak gitu....gue itu bukan tipe orang yang suka bergantung pada orang lain. Jadi gue lebih suka sendiri." Jelas Meca


"Itu artinya,Elo nggak mau punya pacar?" Tanya Bimo.


'Entah sampai kapan Elo mau menerima gue. Tapi gue akan selalu nunggu elo Mec.' Batin Bimo sambil memandangi wajah Meca.


"Maaf,ini resepnya sudah selesai. Silahkan ditebus di apotik." Kata perawat itu sambil menyodorkan selembar kertas berisikan resep obat pada Meca.


Mendengar perawat itu berbicara,Meca dan Bimo pun langsung menoleh pada perawat itu.


Meca pun segera mengambil kertas resep itu dari perawat.


"Terima kasih. Kita permisi dulu..." Pamit Meca pada para perawat.


"Iya sama-sama.." Ucap perawat dengan ramahnya.


Meca dan Bimo pun keluar dari ruangan tersebut.


"Kak,ini nebus obatnya di rumah sakit ini ada?" Tanya Meca.


"Ada..tapi bukan di dalam ruangan rumah sakit ini,tapi di apotik samping rumah sakit ini." Jelas Bimo.


"Oh...gitu. Ya udah ayo..pergi ke sana." Ajak Meca.


Bimo pun mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan ajakan Meca.


Saat Mereka berjalan,tiba-tiba Meca terhenti setelah melihat seorang ibu yang wajahnya tidak asing baginya.


Melihat Meca berhenti,Bimo pun ikut berhenti lalu menoleh pada Meca.


"Kenapa berhenti?" Tanya Bimo


"Sepertinya gue pernah ketemu ibu yang disana itu." Jawab Meca sambil menunjuk jari telunjuknya pada Ibu itu.


Setelah diperhatikan dengan seksama,ternyata Meca memang mengenalnya. Ibu itu tidak lain adalah Ibu Rengga.


Ibu Rengga sedang duduk dengan wajah yang cemas.


Melihat Ibu Rengga yang begitu kasihan,Meca pun menghampirinya.


Bimo pun hanya mengikuti Meca di belakangnya.