
"Bimo! Ini Elo?" Ucap Meca dengan mata terbelalak.Ia masih tak percaya dengan kehadiran Bimo secara tiba-tiba seperti ini.
Meca pun terdiam sesaat lalu berkata kembali "Tapi,bukannya Elo masih kuliah? Kenapa baru beberapa hari sudah kembali?"
Dengan ekspresi datar,Bimo menyahut pertanyaan dari Meca.
"Kenapa? Elo kaget ya...gue pulang,apalagi saat gue mergoki Elo bermesraan dengan laki-laki lain?"
Meca pun sontak terkejut dengan perkataan Bimo barusan.
"Maksud Elo?"
"Cukup Mec! Jangan pura-pura nggak tahu dengan apa yang Elo perbuat. Gue sudah muak!!"
Karena terbawa emosi,Bimo pun marah dan berteriak kepada Meca.
Mendapat amarah dari Bimo,tanpa sadar air mata Meca mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Bim....gue benar-benar nggak ngerti sama perkataan Elo. Elo tiba-tiba marah..
"Gimana gue nggak marah? Gue selama ini nunggu telepon dari Elo sampai gue hampir gila. Tapi,apa!!Elo disini malah berduaan sama laki-laki si*l*n itu(Rengga)!! Apa Elo pernah mikirin perasaan gue? Huh....gue kecewa sama Elo,Mec."
Walaupun Meca merasa sedih setelah mendengarkan perkataan Bimo,Ia mencoba menahan rasa sedihnya dan mencoba menjelaskan kesalahpahaman Bimo terhadapnya.
Meca yakin jika Bimo telah salah paham mengenai kehadiran Rengga.
"Bim!! Dengerin gue....ini cuma salah paham Elo saja. Percaya sama gue....gue akan jelaskan ini semua."
"Tapi,gue harus gimana,kalau gue lebih percaya sama apa yang gue lihat?"
Bimo pun sudah kecewa terhadap Meca,Ia tak mau lagi mendengar penjelasan darinya.
Bimo pun meninggalkan Meca tanpa pamit.
Melihat Bimo pergi dari hadapannya,Meca pun segera mengikutinya dan menahan Bimo pergi,supaya mau mendengarkan penjelasan darinya dulu.
"Bimo!! Tunggu!!" Teriak Meca sambil mengejar Bimo.
"Meca!! Elo mau ninggalin gue sendiri?" Ucap Rengga dengan nyaring,sampai terdengar juga di telinga Bimo.
Meca pun berhenti sejenak untuk mengejar Bimo. Ia menoleh ke arah Rengga.
Tak hanya Meca saja yang menghentikan langkahnya,Bimo pun juga berhenti lalu menoleh ke arah Rengga juga.
"Mec! Ini pilihan terakhir Elo! Elo mau pilih temenin Rengga atau tetap mengejar gue?" Ucap Bimo dengan cukup nyaring karena Ia berada cukup jauh dari tempat Meca sekarang berdiri.
Bingung,dilema. Itulah yang Meca rasakan saat ini. Ia tidak tahu harus bagaimana.
Di satu sisi,Ia ingin meluruskan semua kesalahpahaman Bimo padanya.
Tapi,di sisi lain ada Rengga yang sendiri di taman,apalagi Ia tengah sakit.
Jika Ia tetap mengejar Bimo,bagaimana dengan Rengga?
Tidak! Meca tak mau meninggalkan orang yang sedang sakit sendiri. Apalagi,Ia sudah bertanggung jawab kepada Ibunya Rengga untuk menjaga Rengga.
Jika terjadi apa-apa dengan Rengga,pasti Ibunya Rengga akan sedih lagi.
Tidak! Meca tidak mau itu!
Walaupun hati terasa berat untuk meninggalkan Bimo,akan tetapi Meca harus membuat pilihannya.
Meskipun begitu,Meca sudah menentukan apa yang harus Ia lakukan setelah ini.
Lalu,Meca pun menoleh ke arah Bimo sejenak dengan tatapan mata sayunya, setelah itu Ia berbalik badan dan berjalan menghampiri Rengga yang masih duduk di kursi roda.
Melihat Meca lebih memilih menemani Rengga,Bimo hanya bisa tersenyum dengan kecut. Rasanya Ia tak lagi kecewa pada Meca,melainkan benci terhadap Meca.
Tak mau berdiri seperti orang bodoh disini,Bimo pun segera berlari dan pergi dari rumah sakit.
Pastinya Bimo pergi dengan perasaan yang sedih dan marah.
Lain halnya dengan Bimo yang marah,Rengga malah senang dan puas akhirnya Ia bisa menang bersaing dengan Bimo untuk mendapatkan perhatian dari Meca.
"Ayo kita kembali ke ruang inap Elo!!" Ucap Meca saat sampai di hadapan Rengga.
"Sekarang?" Tanya Rengga.
"Gue ada urusan setelah ini."
Tanpa ada basa-basi lagi,Meca pun segera mendorong kursi roda Rengga untuk kembali ke ruang inapnya.
Rengga pun hanya bisa menuruti apa yang Meca katakan,karena Ia tahu Meca saat ini mungkin sedang kesal kepadanya. Maka dari itu,Ia memilih untuk diam.
Setelah sampai di depan ruang inapnya Rengga,Meca pun segera masuk ke dalam.
Begitu masuk ke dalam ruang inap Rengga,Meca langsung berpamitan untuk pulang pada Ibunya dan Ibunya Rengga.
Bahkan tanpa membantu Rengga turun dari kursi rodanya. Meca membiarkan Rengga duduk di kursi rodanya.
Melihat Meca pergi dengan terburu-buru,Ibunya Meca pun jadi bingung.
Ia menduga pasti ada yang terjadi saat Meca di taman tadi.
Lantas,beliau pun menanyakan hal itu pada Rengga.
"Rengga! Meca kenapa? Kok kayak buru-buru gitu?"
"Sepertinya dia sedang mengejar Bimo." Jawab Rengga dengan nada bicara pelan.
"Bimo?"
Ibunya Meca sempat terkejut saat mendengar nama Bimo. Pasalnya,beliau tahu jika hubungan antara Meca dan Bimo sedang buruk.
Ibunya Meca yakin jika Meca sedang menyelesaikan perselihannya dengan Bimo. Beliau pun memilih untuk membiarkannya dan tak ikut campur dalam urusan pribadi anaknya.
*****
Meca pun bergegas pergi mengejar Bimo.
Ya,Meca selalu punya rencana dengan apa yang dipilihnya.
Setelah selesai mengantar Rengga ke dalam ruang inapnya,Ia merasa tanggung jawabnya untuk menjaga Rengga telah selesai.
Maka dari itu,baru Meca akan mengurusi masalah pribadinya.
Kini,Meca harus fokus untuk mencari Bimo. Ia tak mau menunggu terlalu lama lagi untuk menemukan Bimo. Ia harus segera menemukannya dan menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi.
Sepertinya Meca sudah terlambat untuk mengejar Bimo,saat Ia kembali ke taman rumah sakit Bimo sudah tidak ada disana.
Bahkan Meca sudah mencari sampai keluar rumah sakit,tetapi juga tak kunjung menemukan Bimo.
Tak mau langsung menyerah mencari Bimo,Meca pun memutuskan untuk pergi ke rumah Bimo.
Meca berharap Bimo ada di rumahnya.
Tanpa lama lagi,Meca pun segera mencari kendaraan untuk pergi ke rumah Bimo.
Sekitar 20 menit di perjalanan,akhirnya Meca pun sampai di depan rumahnya Bimo.
Entah kenapa Meca tidak yakin jika Bimo ada rumahnya. Pasalnya,rumahnya Bimo tampak sepi dan gerbang rumahnya pun juga masih terkunci.
Meca mencoba menengok kesana kemari untuk mencari orang yang mungkin bisa Ia tanyai.
Tetapi,tak ada satu orang pun yang bisa Meca jumpai disana.
"Maaf,mbak mau cari siapa?" Tanya seorang satpam kepada Meca.
Mendengar suara laki-laki,secara refleks Meca langsung menoleh ke seorang laki-laki yang ternyata adalah seorang satpam.
"Oh...iya,Pak. Apa di rumah ini nggak ada orang? Soalnya saya mau bertemu dengan Bimo,penghuni rumah ini."
"Oh...mau cari nak Bimo. Itu bukannya sekeluarganya pergi ke luar negeri ya mbak? Kalaupun mau pulang,pasti hubungi saya dulu. Soalnya saya yang bawa kunci gerbangnya."
"Jadi,tadi belum ada orang yang kesini Pak?"
"Belum,mbak. Saya juga nggak lihat nak Bimo dari tadi."
"Ya udah kalau begitu Pak,terima kasih."
"Iya,mbak sama-sama."
Ternyata Bimo tidak ada di rumahnya.
Lantas Ia kemana?
Sambil berjalan pergi dari rumah Bimo,Meca pun memikirkan cara supaya bisa menemukan Bimo.
Tak habis akal,Meca pun mencoba menelepon Bimo.
Meca pun segera membuka ponselnya,lalu mencari kontak Bimo dan langsung meneleponnya.
Dan sayangnya,ponsel Bimo sedang tidak aktif. Jadi,Meca tidak tahu lagi kemana perginya Bimo.
Meca pun tak mau menyerah begitu saja,Ia akan mencari Bimo kemanapun sampai Bimo ketemu.
Meca mencoba mencari Bimo di tempat yang pernah Ia kunjungi bersama Bimo.
Seperti di area pegunungan,cafe,dan taman bermain.
Ya,tempat-tempat itu yang pernah Ia kunjungi bersama Bimo.
Beberapa jam kemudian.....
Hari sudah mulai gelap,matahari sudah tak menampakkan wujudnya lagi.
Sudah begitu lama Meca mencari Bimo. Ia pun juga sudah mencari Bimo di ketiga tempat yang pernah Ia kunjungi bersama Bimo,akan tetapi tak kunjung juga Ia menemukan Bimo di ketiga tempat tersebut.
Kini,Meca tengah berada di halte bis untuk menunggu bis datang.
Sepertinya Ia mulai menyerah untuk mencari Bimo.
Akan lebih mudah jika Ia tahu tempat persembunyian Bimo,tetapi malangnya Ia tak tahu apa pun tentang hal itu.
Untuk sekali lagi,Meca akan mencoba menelepon Bimo sebelum Ia pulang. Meca berharap kali ini Bimo akan menjawab telepon darinya.
Dalam hitungan detik,akhirnya Bimo menjawab telepon dari Meca.
Meca pun langsung senang bukan main.
"Halo,Bim. Elo dimana?" Ucap Meca di telepon dengan antusias.
"Maaf,kalau boleh saya tau ini siapa ya?"
Meca pun mengerutkan dahinya setelah tahu orang yang berbicara dengannya di telepon bukanlah Bimo.
"Ini siapa ya? Dimana Bimo?"
"Saya pekerja bar xxxx. Pemilik ponsel ini sedang mabuk berat sampai marah-marah di bar. Tolong jika anda adalah orang yang dikenal oleh pemilik ponsel ini,mohon segera kesini!! Sebelum pemilik ponsel ini membuat keributan disini."
Kedua mata Meca langsung terbelalak setelah mendengar Bimo di bar dengan kondisi mabuk berat.
Meca mencoba menenangkan dirinya sejenak lalu berkata lagi dalam panggilan teleponnya.
"Iya,saya kenal dengan pemilik ponsel ini. Kalau boleh tahu dimana alamat barnya?"
"Alamatnya ada di jalan xxxxx no 33 depan toko loak."
"Oh.. iya. Saya akan segera kesana. Terima kasih....
Setelah panggilan teleponnya berakhir,Meca pun bergegas pergi ke alamat yang diberikan oleh pekerja bar tadi.
Rasa cemasnya terus menghantuinya saat Ia dalam perjalanan ke bar.
Meca khawatir dengan kondisi Bimo disana. Apalagi pekerja bar tadi sempat bilang jika Bimo marah-marah di bar sana.
********
Bagaimana ya..keadaan Bimo saat sedang mabuk?๐ฅฒ๐ฅฒ
Ikutin terus ceritanya ๐๐
Jangan lupa klik ikon ๐untuk menaikkan popularitas novel saya....
Please...๐๐
Happy reading ๐ฅฐ๐ฅฐ