ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 118



Semua orang pun berusaha mencari Meca sambil meneriaki nama 'Meca' berulang kali.


Mereka semua berpencar untuk berkeliling di sekitar tempat camping bersama kelompok masing-masing.


Di lain sisi,Meca masih berjalan untuk mencari jalan keluar. Tetapi semakin Ia berjalan,malah semakin Ia tersesat.


Karena di hutan banyak sekali jalan yang berliku serta luas,Meca pun sulit untuk mengira-ngira mana jalan keluar dari hutan ini.


Saat Meca melewati pohon yang bercabang-cabang,tiba-tiba kuncir rambutnya tersangkut di ranting pohon yang lumayan rendah tersebut.


Meca pun refleks tertarik ke belakang.


Merasa kesakitan karena rasanya seperti sedang dijambak,lantas Meca pun mencoba melepas kuncir rambutnya dengan pelan sambil menarik ranting pohon tersebut.


Tetapi saat hendak terlepas,tali rambutnya malah ikut terlepas dan terpental bersama ranting yang Meca tarik tadi. Tali rambutnya pun terbang entah kemana.


Meca pun mendengus kesal karena rambutnya terurai dengan bebasnya.


Selama ini Meca jarang sekali membiarkan rambutnya terurai seperti ini.


*****


Di lain sisi,Bimo pun terus mencari Meca dengan membawa handphone di tangannya yang Ia jadikan sebagai senter.


Bimo pun mulai khawatir pada Meca karena hari sudah mulai gelap dan Meca belum juga ditemukan.


Pikirannya pun tak karuan mengingat hal-hal yang mungkin terjadi pada Meca saat hilang.


Tetapi Bimo berusaha berfikir positif pasti Meca selamat dan hanya tersesat saja.


Semua orang yang mencari-cari Meca pun sudah mulai sedikit karena ada yang lelah dan juga ada yang takut akan kegelapan.


Hanya beberapa saja yang masih ikut mencari Meca.


Bimo dan Rengga lah yang tak kenal lelah mencari Meca. Mereka berdua berpencar dan sendirian saat mencari Meca.


Tanpa rasa takut,mereka terus berjalan di penjuru sekitar tempat camping ini untuk menemukan Meca.


Saat Bimo berjalan melewati pinggir sungai,tiba-tiba Ia menemukan tali rambut warna hitam yang terjatuh di tanah.


Bimo pun segera mengambil tali rambut tersebut dan melihatnya sejenak.


Mata Bimo pun terbelalak saat mengingat Meca yang hampir setiap hari menguncir rambutnya.


Bimo pun membuat kesimpulan jika tali rambut yang Ia temukan adalah tali rambut yang dipakai Meca. Dan itu artinya pasti Meca pernah pinggir sungai ini.


"Apa Meca tersesat di hutan ya?." Gumam Bimo sambil menoleh ke arah hutan.


Tanpa pikir lama,Bimo pun segera lari masuk ke dalam hutan belantara itu.


Bimo pun terus mengarahkan senter dari ponselnya ke kanan dan ke kiri untuk menemukan keberadaan Meca sambil terus memanggil nama 'Meca'.


****


Setelah berjalan cukup lama,Meca pun merasa lelah.


Lalu Meca pun memutuskan untuk mencari tempat yang tidak begitu banyak pepohonan dan ingin istirahat disana.


Setelah menemukan yang tempat yang Ia inginkan,Meca pun langsung duduk di batu yang lumayan besar.


Sinar dari bulan dan beberapa bintang lumayan bisa menerangi kegelapan di tempat yang tidak banyak pepohonan.


Jika banyak pepohonan,pasti sinarnya terhalang oleh pohon-pohon tersebut,apalagi kalau pohon itu besar.


Maka dari itu,Meca pun memilih untuk duduk dan bersitirahat disini.


Sambil duduk, Meca pun mendongak ke atas untuk melihat bintang-bintang yang terpancar di langit malam.


"Makasih ya. Kalian para bintang udah nemenin gue di hutan yang gelap ini." Gumam Meca sambil melihat bintang-bintang di langit.


Langit sudah malam,tetapi Meca belum bisa kembali ke tempat camping. Ia juga sudah berusaha mencari jalan keluar,tetapi Ia malah semakin tersesat.


Sekarang Meca hanya bisa pasrah dengan keadaanya sekarang.


Untung jika nanti ada yang menyelamatkannya dan jika tidak ada mungkin Meca akan berusaha menjalani kehidupan di hutan belantara ini.


Kebanyakan wanita pasti takut dan menangis jika tersesat di hutan seperti ini,tetapi tidak dengan Meca. Ia berusaha menepis rasa takutnya dan berusaha untuk tenang.


"Mec!! Elo dimana?Meca!!" Teriak seseorang dari kejauhan.


Tiba-tiba Meca mendengar ada seseorang yang memanggil-manggil namanya.


Merasa belum yakin,Meca pun mencoba mendengarkan suara tersebut.


Dan benar saja,jika suara itu nyata adanya.


Jika di dengar suara itu adalah suara seorang laki-laki.


Meca pun lalu beranjak dari duduknya dan mencoba menemukan asal suara seseorang yang memanggil namanya itu.


"Meca!!! Teriak seorang laki-laki itu lagi.


"Gue disini.. Elo dimana. Gue disini!!!" Teriak balik Meca.


Tak lama kemudian,sebuah cahaya menerangi wajah Meca.


Meca pun memicingkan matanya karena silau dengan cahaya senter tersebut.


Meca mencoba melihat siapa orang yang telah menemukannya itu.


Tetapi,tetap saja Meca tidak dapat melihatnya karena keadaan gelap.


Dan cahaya dari senter orang itu tidak menerangi wajahnya melainkan menerangi wajah Meca.


"Meca...akhirnya gue nemuin Elo." Ucap seorang laki-laki itu lalu berhamburan berlari dan langsung memeluk Meca.


Meca pun terkejut karena laki-laki itu langsung memeluknya dengan erat.


Saat laki-laki itu memeluknya,Meca mencium aroma minyak wangi di tubuh laki-laki itu.


Meca merasa tidak asing dengan bau minyak wangi yang Ia hirup ini.


Meca pun mencoba melepas pelukan dari laki-laki itu dan menatap wajah laki-laki itu.


"Kak Bimo?" Ucap Meca setelah berhasil melepas pelukan dari laki-laki yang Ia sangka adalah Bimo.