
Meca pun langsung berjongkok dan menempatkan kepala Rengga di pangkuannya.
"Tolong panggilkan ambulan!!" Pinta Meca pada sekumpulan orang tadi.
"Rengga! Bangun!!" Rengek Meca sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rengga.
Tak lama kemudian,ambulan pun datang menghampiri Rengga yang sudah tergeletak lemas dan tak berdaya.
Para petugas kesehatan pun langsung mengangkat tubuh Rengga menggunakan pandu dan dimasukkan ke ambulan untuk dibawa ke rumah sakit.
Dan Meca pun ikut masuk ke ambulan tersebut untuk menemani Rengga ke rumah sakit nanti.
Tanpa waktu lebih lama,akhirnya ambulan pun sampai di rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit,Rengga langsung dibawa ke ruang IGD untuk penanganan lebih lanjut.
Sedangkan Meca menunggu di luar ruang IGD dengan perasaan cemas.
Saat menunggu Rengga,Meca teringat jika Ia belum memberitahu Ibunya Rengga tentang kondisi Rengga saat ini.
Tanpa pikir lama,Meca pun segera mengambil ponselnya lalu langsung menelepon Ibunya Rengga. Kebetulan Ia sudah meminta nomor telepon Ibunya Rengga saat Ibunya Rengga menyuruhnya untuk menjaga Rengga pada saat itu.
"Halo,tante....
"........."
"Sekarang Rengga ada di rumah sakit ××××× dan sedang dalam di rawat di ruang IGD."
"................."
"Iya.tante."
Saat bertelepon dengan Ibunya Rengga tadi,Meca bisa merasakan jika Ibunya Rengga sedang khawatir setelah mendapatkan kabar tentang Rengga.
Tanpa basa-basi lagi Ibunya Rengga langsung menutup panggilan teleponnya untuk segera menghampiri Rengga di rumah sakit.
Meca merasa tidak enak pada Ibunya Rengga. Ia memutuskan untuk memberitahu pada Ibunya Rengga saat datang nanti tentang apa yang telah terjadi pada Rengga sebelum jatuh pingsan.
Tak lama kemudian,Ibunya Rengga pun datang menghampiri Meca saat Meca duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana kondisi Rengga sekarang?" Tanya Ibunya Rengga begitu datang ke hadapan Meca.
Meca pun langsung beranjak dari duduknya lalu menghadap ke arah Ibunya Rengga.
"Belum tahu tante,masih di periksa." Jawab Meca.
"Huh....bagaimana Rengga tadi bisa pingsan?" Tanya Ibunya Rengga dengan khawatir.
Pertanyaan itulah,yang membuat Meca takut untuk menjawab. Tetapi,bagaimanapun juga Ia harus jujur dengan apa yang telah terjadi.
Sebelum memberikan penjelasan,Meca menelan ludahnya dengan perlahan lalu mulai berbicara.
"Maaf,tante. Ini semua karena saya." Kata Meca dengan suara pelan.
"Maksud kamu?" Tanya Ibunya Rengga.
"Jadi,tadi saya jalan-jalan sama Rengga di pusat perbelanjaan. Karena keadaan ramai,ada seseorang yang menabrak saya dari belakang. Tanpa sengaja,saya jatuh ke depan tubuh Rengga. Lalu,Rengga pun menahan tubuh saya sampai kepalanya terbentur tiang listrik cukup kuat. Tak lama kemudian,Rengga jatuh pingsan. Mungkin saja karena kepalanya tadi terbentur,Rengga jadi jatuh pingsan." Jelas Meca dengan panjang lebar.
"Sekali lagi,Maafkan saya tante." Ucap Meca sambil menundukkan kepalanya.
Ibunya Rengga pun diam sejenak lalu duduk di kursi tunggu dengan raut wajah sedih.
"Itu semua bukan salah kamu. Rengga berusaha melindungi kamu. Dia tidak mau orang yang dia sayang terluka. Kamu tahu kan,kalau Rengga cinta sama kamu?"
"Saya tahu...tante. Tapi,saya nggak bisa membalas perasaanya. Maaf....tante." Ucap Meca dengan pelan.
"Tante bisa ngerti kok. Tapi,tolong jangan terlalu menyakiti perasaan Rengga! Ini juga untuk kesehatannya saat ini." Pesan Ibunya Rengga dengan sabarnya.
"Iya. tentu saja tante." Sahut Meca sambil tersenyum pada Ibunya Rengga.
Tak lama kemudian,dokter pun keluar dari ruang IGD.
Meca dan Ibunya Rengga pun langsung berhamburan menghampiri dokter tersebut.
Saat ditanya,dokter berkata,jika Rengga harus segera di operasi karena ada pembuluh darah di otaknya yang pecah.
Dokter menyimpulkan jika tidak segera di operasi akan membahayakan nyawa Rengga.
Mendengar perkataan dokter tersebut,Ibunya Rengga langsung shock ditambah panik dengan kondisi Rengga.
Ibunya Rengga pun langsung menuruti perintah dokter untuk segera mengoperasi anaknya itu.
Sama halnya dengan Ibunya Rengga,Meca pun juga ikut panik dan pastinya merasa bersalah karena sudah membuat Rengga pingsan tadi,walaupun itu tidak di sengaja.
Saat ini Meca hanya bisa mencoba menenangkan Ibunya Rengga agar kecemasannya sedikit berkurang.
Meca berjanji pada dirinya sendiri,jika Ia akan menemani Ibunya Rengga dalam menjaga Rengga sampai Rengga sembuh dari sakitnya.
Saat Rengga di bawa keluar dari ruang IGD,Ibunya Rengga pun langsung menangis histeris sambil memanggil-manggil nama Rengga berulang.
Ia pun ikut kemana Rengga akan di bawa oleh petugas kesehatan tersebut.
Meca pun juga ikut menangis melihat Ibunya Rengga yang menangis tersedu-sedu itu.
Meca tahu bagaimana perasaan seorang Ibu,jika melihat anaknya terluka apalagi sampai terbaring lemah di rumah sakit seperti itu.
Tut...tut....tut.....
Tiba-tiba ponsel Meca berbunyi saat Ia sedang kepanikan seperti ini.
Takut jika ada hal yang penting,Meca pun segera mengambil ponselnya lalu melihat siapa orang yang meneleponnya.
Setelah dilihat ternyata dari nomor yang tidak dikenalnya.
Terlihat tidak penting,akhirnya Meca memutuskan untuk menolak panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenalnya itu.
Lalu,Meca pun lanjut mengikuti Ibunya Rengga untuk membawa Rengga ke ruang operasi.
*******
Siapakah nomor yang tidak dikenal itu??
Hayo.....🤫🤫
Nantikan terus ya.....😉😉
Jangan lupa klik ikon 👍🏻untuk menaikkan popularitas novel saya
Happy reading 🥰🥰