ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Simpatik Meca (1)



Meca dan Bimo pun langsung kembali ke mobil untuk lanjut ke rumah anak kecil itu.


"Rumah kamu dimana?" Tanya Bimo pada anak kecil itu sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Di dekat pembuangan sampah akhir itu Kak." Jawab Anak kecil itu.


"Kamu nggak punya rumah ya?" Tanya Meca pada anak kecil itu.


"Nggak Kak. Aku dari dulu tinggal di dekat pembuangan sampah itu." Jawab Anak kecil itu.


"Kamu tinggal sama adik kamu aja disana?" Tanya Meca pada anak kecil itu.


"Ada orang lainnya kok Kak,tapi yang anak-anak kayak aku cuma aku aja." Jawab Anak kecil itu.


Setelah beberapa menit di dalam mobil,akhirnya sampai di dekat pembuangan sampah akhir itu.


"Ini apa bukan rumah kamu?" Tanya Bimo pada anak kecil itu.


"Iya Kak." Jawab Anak kecil itu.


Setelah sampai,mereka bertiga pun turun dari mobil.


Meca sangat prihatin dengan keaadan lingkungan disana. Bagaimana tidak? Lingkungan yang bau dan tidak nyaman digunakan untuk menetap sebagai tempat tinggal. Bahkan tidak ada seorang pun yang mau mengunjungi tempat yang bau dan tidak nyaman ini.


Tetapi beda dengan orang-orang yang tinggal disini,Mereka menguatkan hati untuk bisa bertahan di lingkungan yang seperti ini.


Banyak orang-orang yang tinggal didekat pembuangan sampah itu melihat kedatangan Meca dan Bimo. Dari mata mereka terlihat sebuah harapan dari Meca dan Bimo untuk membantu mereka.


"Kak,terima kasih makanannya. Aku permisi kedalam dulu." Kata anak kecil itu pada Meca dan Bimo.


"Tunggu,Kakak boleh nggak ikut kamu kedalam?" Tanya Meca pada Anak kecil itu.


"Mec,disini lingkungannya nggak nyaman. Mending kita pergi aja." Ajak Bimo.


"Kakak bisa tunggu gue didalam mobil. Gue kedalam bentar aja kok." Kata Meca pada Bimo.


"Kalau gitu,Gue juga ikut kedalam." Kata Bimo.


"Tapi kan tadi Kakak bilang nggak nyaman lingkungannya." Kata Meca.


"Pokokknya gue mau ikut." Yakin Bimo.


Rumah-rumah yang ditempati orang-orang yang ada disini hanya seperti gubuk kecil yang atapnya terbuat dari serabut kelapa yang sudak kering dan dindingnya terbuat dari bambu yang di anyam. Begitu juga dengan rumah anak kecil itu.


"Putri Kakak pulang nih. Lihat Kakak pulang bawa makanan enak nih." Teriak anak kecil itu pada adik perempuannya yang sedang bermain boneka.


Anak kecil itu adalah seorang Kakak laki-laki yang penuh kasih sayang terhadap adik perempuannya.


Meca yang melihat perlakuan anak kecil itu pun tersenyum kagum. Ia jadi teringat pada Kakak laki-lakinya dulu saat Ia masih kecil. Ia juga diberikan kasih sayang dari seorang Kakak.


Tetapi semenjak Kakaknya sudah menikah,rasa kasih sayang Kakaknya kepadanya sedikit berkurang.


Mendengar Kakaknya sudah pulang,adiknya pun langsung menghampiri Kakaknya dengan senyuman yang merekah di wajahnya.


"Kak,aku sudah lapar banget." Kata Adik perempuan anak kecil itu.


"Ini makanannya. Tapi kamu mesti terima kasih dulu pada Kakak berdua ini,karena yang ngasih makanan yang enak ini adalah Kakak berdua ini." Kata Anak kecil itu pada adik perempuannya.


"Terima kasih ya Kakak-kakak yang baik." Kata adik perempuan anak kecil itu.


"Sama-sama. Nanti jangan lupa dihabisin ya makanannya,biar nggak mubazir." Kata Meca dengan ramah sambil berjongkok ke anak perempuan itu untuk menyamai tinggi anak perempuan itu.


Bimo pun akhirnya ikut berjongkok mengikuti Meca.


"Iya Kak pasti." Kata adik perempuan anak kecil itu.


Anak kecil dan adik perempuannya itu pun langsung membuka nasi goreng yang dibungkus itu untuk dimakan.


Meca dan Bimo ikut duduk menemani anak kecil dan adik perempuannya makan.


"Oiya Kak,nama Kakak berdua ini siapa?" Tanya anak kecil itu.


"Oh iya ya,kita tadi belum kenalan. Kenalin nama Kakak Meca dan nama Kakak laki-laki ini Kak Bimo." Kata Meca sambil menunjuk ke arah Bimo.


"Oh.... kalau nama Aku Faris dan nama adik aku Putri." Kata Anak kecil itu sambil menunjuk ke arah adiknya yang sedang makan nasi goreng yang diberikan Meca dan Bimo tadi.


"Kalau boleh tau orang tua kalian itu dulu juga tinggal disini?" Tanya Meca.


"Nggak Kak. Waktu dulu sebelum adik aku lahir. Aku tinggal di kost-kostan,tetapi nggak tau kenapa orang tua aku mengajak tinggal disini." Jelas Faris.


Meca dan Bimo hanya saling memandang satu sama lain. Mereka paham dengan keadaan orang tua Faris mengapa memutuskan untuk tinggal disini. Tetapi Faris terlalu kecil untuk mengetahui alasan orang tuanya.