
Bimo ikut tersenyum melihat Meca yang terlihat tersenyum.
Entah kenapa Bimo merasa senang jika melihat Meca tersenyum dengan puasnya.
Meca tidak sadar,bila Bimo dari tadi memandangi wajahnya itu.
Ia pun lalu menoleh pada Bimo untuk menanyakan sesuatu.
"Eh,terus pelakunya dipen.." Kata Meca terhenti setelah melihat wajah Bimo yang dekat dengan wajahnya.
Ia terkejut bukan main,karena jarak wajahnya dengan wajah Bimo hanya beberapa incin saja,bukan senti.
Meca pun langsung memundurkan wajahnya supaya tidak dekat dengan wajah Bimo.
"Tadi,Elo tanya apa?" Tanya Bimo.
"E..itu. Pelaku pembunuhannya udah dipenjara kan?" Tanya Meca dengan sedikit gugup.
"Udah,bahkan dipenjara seumur hidup dengan orang yang menyuruh pelaku pembunuhan itu untuk membunuh Kak Sina." Jawab Bimo.
"Jadi,yang nyuruh pelaku pembunuhan itu CEO dari perusahaan yang sahamnya diambil oleh ayah Kakak tadi?" Tanya Meca.
"Iya. Mungkin saking kesalnya dia sama Papa gue." Jawab Bimo.
Tut...tut...tut...
Di tengah pembicaraan antara Bimo dan Meca,tiba-tiba ada bunyi dari sebuah handphone berdering.
Meca dan Bimo langsung memeriksa saku celana mereka masing-masing untuk memastikan handphone siapa yang berbunyi.
Ternyata suara handphone yang berdering adalah berasal dari saku celana Meca.
Meca pun langsung melihat layar handphonenya untuk melihat siapa yang meneleponnya.
Betapa terkejutnya Ia setelah melihat nama yang tertera di layar panggilannya.Disitu tertulis ' Bapak pemilik toserba'.
Meca lupa hari ini harus bekerja di toserba. Biasanya Meca tidak pernah lupa waktu,mungkin karena tadi mendengarkan cerita Bimo tentang Kakaknya yang membuat Meca lupa akan kewajibannya yaitu bekerja di toserba.
Mungkin bapak pemilik toserba itu meneleponnya karena menanyakan keberadaannya mengapa Ia tidak datang-datang ke toserba tersebut.
"Siapa yang nelfon,kok Elo kelihatan cemas gitu?" Tanya Bimo dengan penasaran karena melihat raut wajah Meca yang tampak khawatir setelah melihat siapa orang yang meneleponnya.
"Bapak pemilik toserba,harusnya gue kan jam segini udah sampai di toserba. Kayaknya bapak pemilik toserba nyariin gue Kak. Gue angkat dulu teleponnya." Ucap Meca sambil menekan tombol hijau di layar hadphonenya
"Iya..." Jawab Bimo.
Panggilan telepon
Meca : Halo,Pak. Bapak nyariin saya ya?
Bapak pemilik toserba : Iya,Kamu dimana?udah waktunya kamu ke toserba kan?
Bapak pemilik toserba : Oh,gitu. Ya udah kamu cepat-cepat kesini. 10 menit bisa sampai kesini?
Meca : Iya pak saya akan usahakan.
Bapak pemilik toserba : Iya. Udah ya..
Meca : Iya Pak.
Lalu panggilan telepon mereka pun berakhir.
Meca pun langsung menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku celananya.
"Kak,gue harus cepet-cepet ke toserba. Gue pamit pulang dulu ya.." Ucap Meca.
"Mau gue anter nggak?" Tawar Bimo.
Meca pun berpikir sejenak,dia bimbang untuk mengatakan iya. Di satu sisi,Ia harus cepat sampai toserba,bahkan waktunya hanya 10 menit. Tetapi jika Ia mengatakan iya untuk diantar Bimo,Meca juga merasa tidak enak pada Bimo.
"Tapi,bukannya Kakak tadi lukanya belum sembuh?" Tanya Meca.
"Ini nggak sakit sama sekali Mec. Ayok,buruan gue anter aja. Elo mau telat kesananya?" Tanya Bimo.
"Ya nggak mau sih. Ya udah gue mau dianter Kakak." Jawab Meca dengan terpaksa. Bila tidak harus cepat-cepat ke toserba,mungkin Meca akan menolak untuk diantar oleh Bimo.
Lalu mereka pun turun dari rumah pohon,karena dari tadi mereka memang berada di rumah pohon.
Setelah sampai kebawah,Meca dan Bimo Ia langsung berjalan keluar dari rumah Bimo.
Tetapi sebelum itu,Meca teringat untuk berpamitan terlebih dahulu pada Ibunya Bimo.
Meca pun menghentikan langkahnya,Bimo pun juga menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Ada yang ketinggalan?" Tanya Bimo.
"Nggak ada kok.Cuman kan gue belum pamitan sama Ibunya Kakak." Ucap Meca.
"Oh..itu ya. Tenang aja,nanti gue yang bilang. Yang penting sekarang Elo harus cepat-cepat ke toserba." Kata Bimo.
"Tapi,beneran nggak papa?" Tanya Meca dengan ragu.
"Nggak papa,ayok ah.." Ucap Bimo lalu menggandeng tangan Meca supaya tidak berhenti-berhenti lagi.
"Eh.." Ucap Meca karena terkejut tiba-tiba Bimo langsung menggandeng tangannya.
Meca dan Bimo telah sampai di halaman rumahnya Bimo. Lalu Bimo pun melepas genggaman tangannya dari tangan Meca untuk mengambil kendaraan yang akan digunakan untuk mengantar Meca ke toserba nanti di garasi.
Meca terkejut setelah melihat Bimo mengeluarkan motor ninja dari garasi rumahnya. Dia bingung mengapa Bimo mengantarnya menggunakan motor dan bukan mobil yang biasa Bimo pakai sehari-hari.
Jangan lupa Like dan Vote 😉😉