Single Parents

Single Parents
FAKTA MENGEJUTKAN.



Alia termenung menikmati pemandangan persawahan yang terbentang luas dari sudut jendela.


Meski malam semakin larut dan gelap, tetap saja suasana nyaman dan tentram masih terasa seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana dirinya masih menyandang status remaja.


Di pangkuannya, Assyifa hampir terlelap menikmati belaian lebut jemarinya, seakan balita itu juga memendam rindu yang teramat dalam pada sosok seorang ibu.


Alia sesekali melirik papanya yang tidur tak jauh dari tempat duduknya.


Semenjak kedatangannya, tak pernah sekalipun ia meninggalkan kamar itu, bahkan saat malam semakin larut ia masih setia di samping papanya dan hanya akan keluar seperlunya saja.


Alia menggelar tilam tipis berisikan kapuk di samping ranjang papanya, lalu meletakkan Assyifa di sana, merasa enggan meninggalkan papanya, ia pun memutuskan untuk tidur di kamar itu.


Sedang ia memperbaiki posisi Assyifa, pintupun di ketuk oleh seseorang, buk Retno melangkah masuk.


"Alia, tidurlah di kamarmu, biarlah tuan Hisyam tidur di kamar Amel malam ini"


Titah buk Retno yang langsung memeriksa keadaan suaminya tanpa menoleh sedikitpun pada putrinya.


"Ndak apa-apa, ma, Alia akan tidur di sini bersama papa saja" Jawab Alia dengan aksen sulawesi.


"Terserah kamu saja tapi, temui pria itu sebelum kamu tidur, mama kesulitan mengartikan kata-katanya....


Dan satu hal lagi, tanyakan padanya, apa keluarganya akan datang di hari pernikahan kalian nanti?"


Ucap buk Retno datar, tanpa menoleh putrinya sedikitpun wanita paruh baya itu keluar meninggalkan kamar.


Mengerti sikap dingin yang di tunjukan oleh mamanya, membuat Alia hanya bisa menghela napas beratnya.


"Huft.... mama pasti sangat kecewa denganku" Lirih Alia sembil menarik selimut papanya hingga menutupi dada.


"Pa, Alia tinggal sebentar, ya..."


Ucapnya lembut lalu mendaratkan kecupan hangat di pipi pria yang terbaring kaku di tempat tidur.


"Tok.... tok....! Apa aku bisa masuk, tuan!"


Suara Alia terdengar ragu namun ia tetap masuk karna ada banyak hal yang harus mereka bicarakan.


"Come in!"


"Aku membawakan selimut untuk...."


Alia menghentikan kata-katanya saat mendapati Hisyam sedang berbicara serius dengan seseorang di telepon.


"Good, i want you to find her!" Ucap Hisyam tegas lalu memutus panggilan teleponnya.


"Apa semuanya baik-baik saja?"


"Ya, tentu saja, uh, aku sudah mengabari mama, mereka akan datang setelah semua persiapannya selesai"


Ucap Hisyam sembari menutup jendela dan duduk di samping calon pengantinnya.


"Maaf, tuan pasti kaget, melihat keadaan keluargaku yang kacau seperti tadi...." Ucap Alia menyesal.


"Tidak juga, aku selalu siap dengan keadaan seperti apa sekalipun, aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi...."


Diam sejenak, "Um.... gadis yang memakimu tadi, apa dia adikmu?" Tanya Hisyam heran.


"Benar, dia lebih muda satu tahun dariku, apa tuan lihat bagaimana marahnya dia tadi?


Hm.... dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk, bukankah dia tumbuh jadi gadis dewasa sekarang?"


Ucap Alia dengan senyum yang di buat-buat.


"Benar, dia semakin dewasa, tapi bukan berarti dia bisa memperlakukanmu seakan kamu orang asing bagi mereka" Sindir Hisyam.


"Itu artinya aku harus extra sabar, aku sadar aku salah, dan sebagai putri tertua, aku seharusnya bisa menjaga nama baik keluarga ini"


"Tapi, bukankah seharusnya mamamu...." Hisyam menjeda kata-katanya.


"Maksudku, seharusnya sebagai seorang ibu, dia mendengarkan penjelasanmu, bukan memojokkanmu seperti tadi"


Alia terdiam, meski merasa kata-kata Hisyam ada benarnya, tapi dengan cepat ia membuang kecurigaannya itu, kecurigaan yang selama ini bersarang di benaknya.


"Hah.... ha... ha..." Alia tergelak lucu "Apa yang tuan bicarakan, tentu saja dia ibuku, jadi tuan pikir aku anak...."


"Aku tak pernah mengatakan dia bukan ibumu, apakah.... selama ini kamu merasakan seperti itu?"


Alia lagi-lagi tak bisa menjawab pertanyaan Hisyam, bahkan ia terperangkap dengan leluconnya sendiri.


"Um... sebaiknya tuan beristirahat, kalau butuh sesuatu, tuan bisa mencariku di kamar papa"


Tak ingin terjebak oleh kata-katanya sendiri, Alia berusaha mengakhiri pembicaraan mereka.


"Alia!" Panggil Hisyam saat Alia mulai melangkah keluar dari kamar itu.


"Cobalah untuk tidur nyenyak...." Pesan Hisyam pada calon pengantin kecilnya.


"Tuan juga...." Balas Alia singkat.


Malam terasa begitu cepat berlalu, setelah sekian lama akhirnya Alia bisa menikmati tidur tanpa mimpi buruk seperti yang selama ini ia alami.


Mungkin karena Assyifa dan papanya, orang yang sangat ia sayang kini bersamanya saat ini, membuatnya merasa tak mengkhawatirkan apa-apa lagi.


Begitupun dengan Hisyam, meski semalam ia masih mengandalkan obat yang selalu di konsumsinya, tapi tak bisa di pungkiri tidurnya lebih nyenyak dari sebelumnya, semua itu karna suasana pedesaan lebih sejuk dan alami, sehingga membuatnya terlihat lebih segar di pagi itu.


Merasa suntuk di dalam kamar, pria itu pun keluar ingin menikmati udara pagi.


Namun pada saat mendekati ruang tamu, spontan ia menghentikan langkahnya tatkala mendengar suara buk Retno sedang berbicara serius dengan seseorang lewat panggilan telepon.


"Bagaimana ini Rima, setelah melihat video itu, kakak jadi ngeri memikirkannya, orang-orang akan kembali mengaitkannya, tentang ayah kandung Alia?"


Ucap buk Retno dengan suara yang sangat perlahan.


"Kak, kakak yang merawatnya dari bayi, kakak lebih mengenalnya lebih dari siapapun, Alia tak mungkin melakukan hal serendah itu, dan....


Bagaimna kakak bisa berpikir seperti itu, meski Alia tidak lahir dari rahim kakak, tapi dia masih anak dari almarhum kak Ratna, adik kandung kakak juga...."


"Tapi kamu lihat sendiri, kan, di video, ia memperlihatkan kemesraannya bersama seorang pria dan....


Hari ini dia datang bersama pria lain, bagaimana aku tidak khawatir, Rima!"


"Cukup kak! Jangan libatkan Alia dengan kesalahan ayahnya di masa lalu, lagi pula pria itu sudah tidak ada lagi di dunia ini, apa kakak tidak kasihan pada Alia, hanya kita yang ia miliki sekarang, jadi ku mohon berhenti membicarakan hal ini, jangan sampai Alia mendengarnya...."


Suara Rima terdengar bergetar hingga tak bisa melanjutkan kata-katanya dan menutup panggilan telepon secara sepihak.


"Apa dia pikir hanya dia yang sayang pada Alia, aku lebih menyayanginya! Aku yang merawatnya dari bayi! Meski dia bukan anak kandungku, tapi kami menyayanginya seperti kami menyayangi Amel"


Buk Retno mulai menggerundel, mengingat Rima mulai mempermasalahkan kasih sayangnya pada Alia selama ini.


Padahal, demi menutupi cerita miring tentang adiknya, ia rela melepas Rahman kekasihnya, agar bisa menikahi Ratna adiknya yang telah menjadi korban pemerkosaan dan waktu itu sedang mengandung Alia.


Tak jauh dari tempat buk Retno, Hisyam mundur memperbaiki posisinya, ia sangat shock mendengar pembicaraan buk Retno dan tante Rima tentang asal usul Alia yang sebenarnya.


"Jadi, kecurigaanku memang benar, Alia bukan anak mereka, melainkan anak dari adik buk Retno, lantas, siapa ayah kandung Alia dan, apa yang terjadi dengan ayah kandung Alia" Pikir Hisyam.


"Nak, sejak kapan anda di sini? Apa kamu membutuhkan sesuatu?"


Tanya buk Retno gugup, berpikir Hisyam bisa saja mendengar semua pembicaraannya dengan Rima.


"Tidak terima kasih...." Jawab Hisyam dengan tatapan menelisik.


"Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu" Buk Retno buru-buru ingin menghindar .


"Apa yang terjadi dengan ayah kandung Alia ?" Lontar Hisyam tanpa basa-basi.


Retno menghentikan langkahnya, dengan ragu wanita paruh baya itu kembali menghadap Hisyam yang tak sabar menunggu jawaban atas pertanyaannya.


"Apa yang kamu katakan, bukankah sudah jelas, suami saya sedang terbaring lemah di tempat tidur"


Meski gugup buk Retno berusaha bersikap santai.


"Aku mendengar semuanya, anda dan pak Rahman bukanlah orang tua kandung Alia...."


Hisyam terdiam sejenak, begitupun dengan buk Retno.


"Apa aku harus menanyakan langsung pada tuan Farhan? Dia tak akan menyembunyikan apapun dariku!" Lanjut Hisyam seakan menekankan.


"Saya tahu anda adalah bos dari Alia dan Farhan, tapi maaf saya merasa anda tak berhak ikut campur masalah keluarga kami"


Buk Retno mulai tak menyukai cara bicara Hisyam yang seakan ingin menggunakan kekuasaanya untuk mengancamnya.


"Baiklah! Aku rasa anda tak menyukai caraku ini, tapi, bagaimana jika aku meminta penjelasan sebagai calon suami Alia, bukankah aku punya hak untuk itu...."


Kata-kata Hisyam membuat buk Retno berpikir.


"mungkin lebih baik jika aku jujur padanya, di situ aku bisa tahu, apa dia benar-benar menginginkan pernikahan ini, jangan sampai Alia terluka untuk yang kedua kalinya"


"Bagaimana! Apa alasanku masih kurang...."


Suara Hisyam membuat buk Retno kembali ke alam sadarnya.


"Huft.... baiklah, kalau itu memang maumu!"


Ucap buk Retno mantap dan mulai memberi tahu Hisyam bagaimana ia menikahkan adiknya yang telah menjadi korban p*m*rkosaan dan saat itu sedang mengandung Alia.


"Lantas, siapa ayah kandung Alia, dan bagai mana pak Rahman bisa...."


"Kami menikah setelah kematian ibu kandung Alia, akibat depresi berat yang di alaminya, Ratna menghembuskan nafas terakhirnya saat Alia berumur satu bulan dan ayah kandung Alia....


Pria itu di temukan meninggal tanpa di ketahui siapa pembunuhnya, padahal waktu itu ia sudah bersedia untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya"


Jelas buk Retno dengan linangan air mata.


"Sekarang kamu sudah tahu semua tentang Alia, jadi kamu bisa mengakhirinya sebelum semuanya terlambat, karna aku tak ingin Alia terpuruk lebih dalam lagi"


Lanjut buk Retno dengan suara parau, meski acuh dan kecewa tentang video itu, tapi wanita paruh baya itu terlihat tulus dengan semua ucapannya.