Single Parents

Single Parents
PENGAKUAN.



Hisyam keluar dari mobil sportnya, lalu memberikan kunci pada seorang pria tegap berjas hitam yang sedang berjaga di pintu masuk sebuah gedung hotel.


"Ayo, kita sudah sampai...."


Uluran tangan Hisyam membuat Alia seketika tersadar.


Meski masih penasaran Alia tetap mengikuti Hisyam memasuki hotel yang menjulang tinggi di hadapannya.


Selain hotel gedung itu juga memiliki fungsi lain, yaitu sebuah restoran megah yang terdapat di lantai bawah dan mereka sekarang sedang menuju restoran yang membuat Alia takjub dengan kemegahannya.


Meski dulu ia sering di ajak ke tempat-tempat mewah oleh Hisyam maupun nyonya Farida, tapi untuk pertama kalinya Hisyam mengajaknya sebagai istri dari seorang Hisyam Al Jaziri Osmand dan tentu saja hal itu menjadi moment yang bersejarah dalam hidupnya.


"Good night, sir, please this way...."


Sambut sepasang pelayan pria dan wanita yang dengan ramahnya mengantarkan suami istri itu ke sebuah meja.


Dan anehnya, selain pelayan, hanya mereka berdua yang ada di restoran tersebut.


"Kenapa kita di sini?"


"Duduklah dulu..."


Hisyam menarik kursi untuk Alia namun wanita itu hanya tertegun heran dengan perlakuan spesial Hisyam yang tak seperti biasanya.


"Tapi kemana semua orang dan...."


Alia tak melanjutkan kata-katanya tatkala menyadari raut Hisyam yang tampak serius dan sepertinya pria bermata emerland itu ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.


Sambil memerhatikan sekeliling Alia kemudian duduk tanpa di minta lagi.


"Sangat tak masuk akal jika restoran megah dan berada di tengah jantung kota ini tak memiliki pengunjung lain"


Gumam Alia sambil menyentuh tengkuknya yang terasa meremang.


Selain udara dingin dari aircond restoran, situasi sekitar yang hanya mengandalkan cahaya neon dan ribuan lilin di setiap penjuru terasa asing untuknya.


Di tambah lagi tingkah aneh Hisyam yang mencurigakan, membuatnya bergidik ngeri dengan perlakuan Hisyam yang tak biasa itu.


"Sebenarnya, aku sengaja memesan seluruh tempat ini khusus untukmu"


"U-untukku.....?"


Hisyam mengangguk sambil menunjukkan senyuman yang begitu jarang ia tunjukkan.


"Astaga.... senyuman itu lagi! Apa ramalan nyonya Farida tadi banar-benar akan terwujud"


Pikiran Alia di penuhi bunga yang bermekaran, semua hal buruk yang sempat menguasai pikirannya kini hilang setelah yakin apa yang di katakan mertuanya akan segera terwujud.


"Ehm....!"


Hisyam berdehem sembari memperbaiki posisi duduknya.


Sementara Alia yang berusaha menghilangkan kegugupannya kini fokus pada pria di hadapannya.


"Alia, aku tahu selama ini hubungan kita sangat tidak baik, aku sering membuatmu sedih dan menyusahkanmu, maka dari itu aku ingin...."


"Tuan.... apa kita bisa memulainya sekarang?"


Tanya seorang pelayan yang tiba-tiba datang, menunjukkan bahwa musik telah pun siap untuk menghibur mereka.


"Uh, you cant start now" Jawab Hisyam, sembari bangkit pria itu melirik jam Rolex di tangannya.


"Tuan?" Panggil Alia saat Hisyam tak kunjung menyelesaikan kata-katanya yang sempat terhenti


"Apa sebenarnya yang ingin tuan sampaikan padaku?"


Tanya Alia.


"Oh, itu.... aku perlu memeriksa sesuatu terlebih dahulu, tidak apa-apa, kan, jika kamu menunggu di sini sebentar?"


"Oh..... baiklah...."


Dengan bingung Alia tetap mengangguk meski sebenarnya ia begitu geram dengan sikap Hisyam yang terus mengulur waktu.


Setelah meminta izin Hisyam pun bergegas pergi sembari mengutak ponsel di tangannya.


"Cih! Apa setinggi itu harga dirinya, tapi dia terlihat begitu menggemaskan saat gugup seperti itu...."


Bisik Alia sembari menatap punggung suaminya yang semakin jauh dari pandangannya.


****


"Gleek....!."


Dengan satu tegukan, gelas berisi air di tangan Alia kini tandas tak tersisa.


Dua gelas kosong yang tadinya berisi air putih kini berjejer di hadapan wanita dengan balutan gaun bermodel sabrina itu.


Terlihat Alia begitu gelisah menunggu Hisyam yang telah berjanji akan kembali sesegera mungkin untuknya.


"Hm...."


Alia menghela napas panjang, dengan bosan ia memainkan gelas di hadapannya.


Meski musik mengalun begitu merdu namun hal itu tak bisa menentramkan hatinya yang resah bercampur penasaran akan rencana Hisyam yang masih menjadi tanda tanya baginya.


"Apa tuan sengaja ingin mempermainkan perasaanku lagi" Bisik Alia lirih.


Dengan perasaan kecewa, ia pun bangkit ingin mengakhiri penantiannya yang terasa sangat membosankan.


Tapi, baru saja ia mengatur langkahnya tubuh mungilnya pun hampir terpental saat bertubrukan dengan sosok tinggi dan kekar yang entah dari mana asalnya.


"Bruuukkk....!"


"Tuan sudah kemba.... Hamish?"


"A-Alia! Kamu juga ada di sini?" Tanya Hamish tak kalah kaget melihat Alia berada di hadapannya saat ini.


Dan yang lebih membingungkannya lagi, kemana Hisyam pergi, mengapa hanya ada Alia di meja itu, padahal kakaknya itu telah berjanji akan menemuinya seorang diri.


"Um, aku dan tuan Hisyam sedang.... kamu saja duluan yang bicara"


Alia menghentikan penjelasannya saat melihat Hamish juga ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Uh, iya, aku juga di sini karna Hisyam mengajakku, tapi aku malah tidak tahu kalau kamu juga akan datang"


"Aku sengaja mengundang kalian berdua kesini, karna, ada hal penting yang ingin ku sampaikan...."


Suara tegas Hisyam membuat Alia tersentak kaget apa lagi saat pikirannya berselancar, mencari tahu apa sebenarnya maksud dari rencana makan malam Hisyam kali ini.


"Hay, Hamish! Finally"


Hisyam menghampiri adiknya, lalu memegang pundak pria muda itu.


"Apa semua ini? Kenapa Alia juga ada di sini?" Tanya Hamish tanpa basa-basi.


"Itu karna ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian...."


Hamish dan Alia menatap satu sama lain.


"Hamish, aku percayakan Alia padamu, kamu pria baik, pantas mendapatkan wanita baik seperti Alia"


Ucap Hisyam lalu beralih meraih tangan istrinya yang terlihat shock mendengar kata-kata suaminya yang begitu mengejutkannya.


Meski sekarang tangan Alia sudah dalam genggaman Hamish, tapi pandangannya terus menatap lekat suaminya, seolah memelas, berharap semuanya hanya lelucon dan Hisyam hanya mengerjainya.


"Alia dengar, Hamish lebih pantas mendampingimu di bandingkan aku


Kalian masih muda, perjalanan kalian masih panjang, jangan sia-siakan hidupmu dengan memilih pria egois dan mengerikan sepertiku...."


Mendengar pernyataan Hisyam membuat Alia tersulut emosi, ia dengan keras menghentakkan tangan Hamish dan beralih mendekati suaminya.


"Plaakk!"


Tangan mungil Alia mendarat di pipi Hisyam.


"Apa perasaanku hanya lelucon bagi, tuan! Aku bukan barang yang bisa tuan berikan pada orang lain! Aku punya hak atas hidupku...." Ungkap Alia yang mulai tersedu.


Dengan linangan air mata yang sedari tadi di tahannya Alia terlihat begitu kecewa dengan sikap Hisyam yang semena-mena mempermainkan perasaannya.


"Alia, listen to me" Hisyam meyakinkan istrinya layaknya seorang ayah yang sedang membujuk putrinya.


"Hidupmu akan lebih baik jika bersama Hamish....


maksudku, kamu tak perlu bersusah payah mengimbangi hidupku yang sangat jauh dari karaktermu


Kamu masih muda, Alia, tak seharusnya kamu memikul tanggung jawab berat dengan menjadi istri dari pria dewasa sepertiku dan menjadi ibu untuk Ozan, itu semua tak pantas kamu lakukan"


Penjelasan Hisyam membuat Alia semakin tersedu, hingga tak dapat berkata-kata lagi.


Bukan ini yang ia harapkan, menjadi istri sekaligus ibu dari dua orang balita bukanlah hal yang membebani hidupnya, tapi kenapa Hisyam malah mempermasalahkannya?.


"Alia dengar, aku bisa melihat kalian begitu bersemangat saat menghabiskan waktu bersama, kalian memiliki banyak persamaan, muda, energik, dan, tentu saja dia akan membuatmu bahagia lagi pula....


Kamu tahu sendiri aku sudah tak punya apa-apa sekarang, aku hanya ingin melihatmu bahagia, Alia"


"Bahagia, apa tuan benar-benar tahu apa yang ku inginkan dan membuatku bahagia?"


Alia menghentikan kata-katanya, sambil menundukkan kepalanya ia mencoba mengumpulkan kekuatan.


Mungkin ini bukan karakternya, tapi saat ini ia tak dapat lagi menyembunyikan persaannya.


"Mungkin perasaanku hanya lelucon bagi tuan tapi, tanpa bisa kukendalikan hatiku terasa hangat, bahagia setiap kali tuan menyayangi Assyifa dan memperlakukannya seperti anak kandung tuan sendiri.....


Dan hal itulah yang membuatku bahagia, merasa memiliki keluarga yang utuh"


Dengan mata sembab Alia memberanikan diri menatap pria jangkung yang diam-diam telah mengisi hatinya.


"Tapi ini salah, Alia, bukan aku yang seharusnya mendampingimu dan....


Asal kamu tahu saja, aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun padamu...." Bohong Hisyam.


"Gleekk!"


Alia menelan saliva dengan susah payah, mengakui perasaannya nyatanya tak membuatnya lega tapi malah menambah masalah baru dalam hubungan pernikahannya.


Ya, setelah ini bagaimana ia akan menghadapi Hisyam yang jelas-jelas tak memiliki perasaan padanya, bahkan menolaknya tanpa peduli bagaimana perasaannya.


Hisyam terus meyakinkan Alia yang mulai menyadari posisinya, hingga Hamish yang sejak tadi tak ingin ikut campur, kini mendekati sepasang suami istri itu.


"We need to talk!"


Hamish menyela lalu menarik Hisyam menjauh dari tempat itu.


Bukannya ingin ikut campur tapi, melihat penolakan yang di lakukan Hisyam mengingatkannya pada Renata, wanita yang telah meninggalkannya dan lebih memilih Hisyam hanya karna Hisyam sedang berada di puncak kejayaannya kala itu.


****


"Bruukk!"


Tak di sangka sesampainya di pojok restoran Hamish meluapkan emosinya dan tanpa basa-basi mendaratkan tinjunya di rahang Hisyam.


Melihat aksi sok jagoan dua beradik itu membuat Alia panik namun tak bisa berbuat apa-apa, nyatanya dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Hisyam.


"Tidak Alia, sudah cukup kamu mempermalukan dirimu dengan mengakui perasaanmu..."


Alia akhirnya mundur dan perlahan meninggalkan tempat itu dengan penuh penyesalan, menyesal telah begitu yakin bahwa Hisyam akan membalas perasaannya.