Single Parents

Single Parents
Pengakuan



Duar..


"gak!, gak mungkin!." Dira menggeleng pelan.


"ini pasti salah. Aku gak mungkin hamilkan Cla?!." masih tidak percaya.


"Dir.."


Dira terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri, atau lebih tepatnya menertawakan nasibnya.


Ia menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana.Terdengar isakan-isakkan kecil dari sana.


"kenapa?!, kenapa Tuhan begitu tidak adil padaku Cla?!"


"dia sudah mengambil papahku, adikku, mamahku, dan sekarang dia malah memberiku anak?!, hahaha.. hikz.."


Dira bergumam disela-sela Isak tangisnya, ia menertawakan nasibnya yang begitu sial menurutnya.


Hening sesaat.


Clara hanya diam, setia menunggu kata apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh sahabatnya.


"apa salahku Cla, hingga Tuhan menghukum aku seperti ini?." Dira mendongak, menatap nanar pada Clara yang hanya diam mematung disamping ranjangnya. Isak tangisnya pun juga mulai mereda.


"kau tau?!, padahal aku udah minum pil kontrasepsi sebelum melakukannya. Tapi kenapa bisa hamil juga?!."


"aku tidak hanya minum satu butir pilnya, bahkan aku minum satu kaplet pil itu."


"kamu dokter kandungan kan Cla?!, seharusnya kamu tau hal seperti ini kan?!."


cih, bodoh, pantesan aja hamil!, orang minumnya satu kaplet. rutuk Clara dalam hati.


Clara menghela nafasnya pelan.


"hah.. boleh aku nanya sesuatu sama kamu Dir?."


"kamu pasti mau tanya kenapa aku ngelakuin hal ini kan?." tebak Dira. Clara hanya mengangguk pelan, tatapannya terus tertuju pada Dira, entah apa yang ia pikirkan.


Dira terkekeh pelan "aku ngelakuin ini buat mama, mamah butuh uang banyak waktu itu, jadi aku menjual kehormatanku agar aku bisa membiayai mama." hening sejenak.


"tapi ternyata.." Dira menunduk "mamah kecewa sama apa yang aku lakukan untuknya, mamah memilih pergi selamanya ninggalin aku." buliran kristal kembali lolos dari kedua bola mata Dira.


Dira mendongak, mencoba menahan laju air matanya. "mungkin mamah tau aku bakal hamil, jadi mamah memilih pergi agar tidak ikut menanggung rasa malu."


"D Dir.." suara Clara bergetar, ia menyentuh bahu Dira.


"aku harus gimana Cla?." Dira menatap langit-langit ruangan tersebut.


"kamu tau sendirikan mulut ibu-ibu kompleks tempat aku tinggal?, semuanya kaya cabe rawit, gak ada gulanya sedikit pun, pedes." Dira terkekeh pelan ketika mengingat ibu-ibu kompleks tempat ia tinggal sekarang.


"aku gak bisa ngebayangin jika mereka tau aku hamil dan gak punya suami." Dira bergidik ngeri, membayangkan dirinya akan digunjing, dan lebih parahnya lagi akan diusir dari sana.


"Dir, jangan mikir terlalu jauh, kita gak tau kedepannya bakal gimana."


"apa kamu mau menggugurkannya saja?." ragu-ragu Clara bertanya.


"gak!, gak mau!. Aku mau menyusul papa, mama dan adikku ke surga Cla, kalau aku gugurkan kandungan ini, aku bakal nambah dosa, dan aku gak mungkin bis ketemu papa, mama dan adikku disurga." tolak Dira.


Kedua mata Clara membulat sempurna "kamu mau bunuh diri?!." pekiknya.


Bugh..


Dira memukul lengan Clara cukup keras.


"sembarang aja kalo ngomong!, bunuh diri juga nambah dosa!, gak mungkin nanti aku bisa ketemu papa sama mama disurga!." pekik Dira.


"lalu apa?." mode bego Clara mulai on.


"apanya yang apa Cla?!." Dira mulai geram.


"a a apa ya..." Clara menggaruk keningnya pelan dan tersenyum bodoh.


"hah.. dasar kau ini!."


"kau kenal dengan pria itu?." seru Clara tiba-tiba.


"pria?." Dira mengerutkan keningnya.


"iya, pria yang tidur denganmu?!."


Dira menggeleng pelan "aku gak kenal."


"hah.. wajahnya!, mau ingat dengan wajahnya?."


Lagi-lagi Dira menggeleng pelan "aku juga gak ingat."


"astaga.." Clara menepuk keningnya.


"aku gak berani liatnya Cla, tatapan matanya nyeremin, aku hanya melirik sekilas, menakutkan." Dira bergidik ngeri.


"kalau begini, bagaimana caranya agar pria itu mau bertanggung jawab padamu Dir."


"aku gak butuh pertanggung jawaban Cla, dia udah membayar aku, jadi aku gak mau cari masalah lagi sama dia, udah." tegas Dira.


"aku akan membesarkan dan merawat anak ini sendiri, apapun yang akan terjadi nanti." tekadnya.


Clara menyunggingkan senyumnya "bagus, aku dukung keputusan mu Dir. Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi nanti."


"makasih Cla."


Keduanya saling berpelukan, melepaskan rasa haru yang tiba-tiba saja datang menyapa.


🖤