
Dira menatap sedih pemandangan didepannya, ia melihat El tengah tertawa riang dengan nyonya Wina dan tuan Wilson disana, tak lupa Dean juga turut serta.
Hati Dira merasa sakit melihat El yang bertingkah seperti layaknya anak kecil seusianya, tidak seperti biasanya yang bersikap lebih dewasa dari umurnya.
Tak terasa air mata Dira lolos dari tempatnya. 'maafkan mommy sayang.' lagi-lagi Dira meremas kuat dadanya.
Ia jadi tidak tega untuk mengajak El pulang sekarang.
"nona.." entah dari mana datangnya maid itu, ia kini berdiri di samping Dira dan mengguncang bahu Dira pelan.
"eh.." Dira menghapus air mata yang meleleh di pipinya.
"iya, ada apa mbak?."
"kenapa nona berdiri di pintu seperti ini?, kenapa tidak menghampiri tuan disana?."
"emm.. saya.."
"Dira sayang.." belum sempat Dira menyelesaikan kata-katanya, Wina sudah berada di samping Dira. "kenapa berdiri di sini?, kamu sudah selesai kan, ayo, mama ajak kamu dan El jalan-jalan keluar." dengan lembut Wina menarik tangan Dira, dan entah sejak kapan Dean, tuan Wilson dan juga El sudah berdiri diantara mereka.
"bersenang-senanglah kalian, papa masih ada kerjaan." tuan Wilson melangkah pergi meninggalkan semua orang.
"ayo.." Wina menggandeng paksa tangan Dira dan Dira hanya bisa pasrah.
🍃
"kita ke mall?." Dira menatap bangunan di depannya.
"iya, kita bersenang-senang merayakan kembalinya cucu dan juga calon mantu ku yang cantik ini. Ayo.." dengan semangat Wina menggandeng tangan Dira dan El bersamaan dan menyeretnya masuk, sedangkan Dean hanya pasrah mengekor dibelakang orang-orang yang di cintainya.
Lebih dari satu jam mereka berkeliling mall tersebut, membeli banyak barang untuk El dan juga Dira, tentu saja dengan lembut Dira menolaknya dan dengan keras kepala Wina membelikannya. Dan dengan tak enak hati pula Dira menerima semua itu.
"huufftt ya sudahlah." gumam Dira pelan. Saat ini mereka sudah berada di zona permainan.
"sayang, kita bermain lempar bola itu, ayo." Wina menarik tangan El pelan.
"saya tunggu disana saja ma.." pinta Dira, ia menunjuk salah satu kursi kosong di zona permainan itu.
"saya juga tunggu disana ma." Dean mengikuti langkah kaki Dira.
"ssttt.." rintih Dira pelan, ia menunduk dan meremas kuat perutnya. Sebenarnya ia sudah menahan sakit di perutnya sedari tadi, tapi ia tahan karena tidak ingin merusak kebahagian El yang hanya sesaat ini.
"kau kenapa?." Dean mengangkat dagu Dira.
"astaga, wajah mu pucat sekali, ada apa?, mana yang sakit?, aku akan mengantarmu ke rumah sakit, ayo." Dean beranjak dari duduknya, membantu Dira berdiri.
"tidak perlu tuan, mungkin ini magh saya kambuh karena tadi saya lupa sarapan pagi." jelas Dira, ia tersenyum tipis pada Dean.
"kalau begitu kita cari makan saja dulu, ayo."Dean menarik tangan Dira pelan pergi meninggalkan Wina dan El.
"tapi El.."
"sudah, nanti mereka biar menyusul, ayo."
☕
"minumlah selagi hangat, agar perutmu lebih baik." Dean menyodorkan minuman hangat untuk Dira.
"terimakasih tuan."
Dean memilih restoran didepan mall tersebut, jadi mereka hanya berjalan kaki beberapa langkah saja.
"makanlah makanan ringan dulu agar perutmu tidak kaget. Nih.." Dean menyodorkan obat pada Dira, entah kapan Dean membeli obat itu.
"ini.. kapan tuan membelinya?." Dira menatap heran obat di tangannya.
"minumlah obatnya, baru setelah itu pesan makanan utama, sebentar lagi mama dan El pasti akan datang, aku sudah mengirim pean pada mama." jelas Dean.
Dira mengangguk pelan "terimakasih tuan."
Tanpa mereka sadari disudut lain, ada dua orang yang tengah mengawasi mereka dengan seksama.
Salah satu dari mereka mengeratkan giginya, menatap penuh benci dan dendam pada Dira.
"ternyata kau memgabaikan peringatanku ya.. lihat saja nanti, apa yang bisa aku perbuat untukmu!!."
🖤🖤🖤