Single Parents

Single Parents
AWAL YANG BAIK.



POV ALIA.


Kami seolah sedang bermain tali, aku mundur menarik talinya sedangkan tuan Hisyam malah semakin mendekat mengikuti tali yang sedang ku genggam, begitulah situasi kami saat ini.


"Jadi, tuan ingin semua orang tau kejahatan yang di lakukan nyonya Renata?" Tuan Hisyam mengangguk membenarkan.


Namun aku tak fokus dengan jawabannya, karna aku hanya memerhatikan bagaimana tuan Hisyam semakin mengurangi jarak di antara kami.


"Gleekk!" Aku menelan saliva saat bokongku membentur meja kerja di ruangan itu.


"Ba-bagaimana de-ngan tuan, apa tuan juga sudah siap jika semua orang tau, bahwa tuan telah menikahi seorang janda beranak satu dan yang parahnya lagi wanita itu seorang pengasuh dari...."


"CUP...."


Sebuah kecupan yang tak terduga seketika membungkam bibir yang sama sekali tak mempersiapkan diri akan serangan itu.


Seolah tak ingin mendengar apa yang akan ku ucapkan, tuan Hisyam pun tak ingin segera mengakhiri kecupan langka itu.


Tatapanku semakin melotot saat tuan Hisyam semakin memperdalam kecupannya


Aku masih menanggapinya tanpa respon, atau lebih tepatnya belum terbiasa dengan permainan seperti itu tapi seiring berjalannya waktu aku mulai menikmatinya, mungkin karna tuan Hisyam melakukannya dengan sangat lembut dan penuh cinta?


Entahlah, tapi aku merasa semakin terhanyut dalam gelombang cinta yang tuan Hisyam salurkan.


Semakin lama semakin memabukkan, tapi hal itu tak membuatku melupakan apa yang menjadi masalah terbesar dalam hubungan kami.


Aku segera mendorong tubuh tuan Hisyam yang masih menempel padaku. "Tuan masih belum menjawab pertanyaanku tadi! Apa tuan benar-benar tidak masalah jika sampai orang tau hubungan ini?"


Dengan nada yang sedikit meninggi aku masih mempertanyakan kesungguhannya dalam hubungan kami, meski aku juga sempat merasakan detak jantung ini semakin tak beraturan saat tuan Hisyam menciumku dengan penuh rasa


yang tak pernah ku rasakan sebelumnya.


Aku benar-benar mendorongnya.


Tak ada amarah yang di tunjukkan saat aku melepas pangutannya secara tiba-tiba , bahkan tuan Hisyam kembali meraih tangan ini dan menggenggamnya dengan sangat erat, "Aku tahu sangat sulit untuk mempercayaiku setelah semua yang telah ku lakukan padamu, tapi lihatlah ke dalam mataku, apa aku terlihat sedang membual?"


Tuan Hisyam terlihat serius, tapi bukan berarti aku sepenuhnya percaya padanya.


Di bingkainya wajah ini sambil menarik nafas dan melepaskannya perlahan, "Kembalilah ke rumah ini, di luar sangat bahaya untuk kalian, aku akan lebih tenang saat kalian ada dalam jangkauanku"


Tuan Hisyam kembali memohon dan sepertinya ia masih tak menyadari semua keraguan dalam diriku juga berawal dari perlakuannya yang telah menggoreskan luka yang terlalu dalam di hati ini.


"CUP...."


Sekali lagi aku tersentak kaget dan kembali membeku saat tuan Hisyam kembali mendaratkan kecupannya secara tiba-tiba, meski itu hanya sekilas dan tak sedalam sebelumnya.


"Mulai sekarang aku akan menjaga kalian, ku mohon percayalah padaku dan jangan pergi lagi dariku"


Bagai terhipnotis kata-kata tuan Hisyam kali ini, aku langsung luluh kala kalimat itu keluar dari bibirnya.


Menjaga kami? Apa itu artinya tuan Hisyam akan menjaga Assyifa layaknya seorang ayah yang melindungi putrinya?


Aku semakin terenyuh dengan mata berkaca-kaca, janji yang di berikan Hisyam adalah impian terbesarku selama ini.


Bahkan sejak Assyifa lahir aku berusaha keras menjadi sosok ibu sekaligus ayah yang baik, agar putri kecilku tak merasakan kekurangan kasih sayang dari sosok seorang ayah yang tak pernah ia rasakan sejak lahir.


"Alia, bisakah kamu berjanji untuk tidak lari lagi dariku?"


"Hum...." Aku mengangguk pelan hingga meloloskan buliran bening yang sejak tadi hanya mengapung di pelupuk mata.


Tuan Hisyam ikut menghapus buliran bening yang meluncur begitu saja, di ikuti kecupan lembut yang mendarat di keningku.


"Cup...." Sekali lagi tuan Hisyam mengecupku dan kembali membawaku ke dalam pelukannya.


"Aku akan menjemput kalian setelah menyelesaikan masalahku dengan Renata, i promise"


Janji tuan Hisyam, dan tak bosan menghirup aroma mint yang menyeruak dari rambutku, "Apa ini kebiasaan barunya?"


Tentu saja pertanyaan itu hanya dalam benakku, karna aku masih tak berani meluahkannya.


Aku hanya mengangguk perlahan, hati ini memang terasa berbunga-bunga dan kata-kata tuan Hisyam juga terdengar begitu meyakinkan tapi, apakah dia sudah benar-benar yakin ingin memperkenalkanku ke khalayak publik bahwa wanita yang dulu hanyalah seorang pengasuh dari putranya sendiri kini menjelma menjadi istri dari Hisyam Al Jaziri Osmand?


"Huft...!" Aku menghela sambil meregangkan diri dari pelukannya.


"Ada apa?" Tuan Hisyam menangkup wajah ini lembut, tapi suaraku sudah tercekat di tenggorokan.


"Apa tuan Hisyam akan berpikir aku sudah kehilangan urat malu jika menanyakan hal ini padanya?


"Apa masih ada hal yang mengganggu pikiranmu, hum?" Tuan Hisyam kembali bertanya dengan lembut sambil menyentuh pipi yang polos tanpa sentuhan make up sedikit pun.


Akh! Seharusnya aku menerima jasa make up yang di tawarkan Nisha sebelum datang kemari.


"Ada apa, katakan apa yang masih mengganggu pikiranmu?" Tuan Hisyam kembali bertanya sembari mengelus puncak kepalaku.


"A-aku hanya..... Huft!" Aku menghela napas lagi.


"Ma-maksudku.... apa kali ini tuan tidak akan menyembunyikan status.... pernikahan ini lagi?'" Tanyaku ragu-ragu dan kalimat terakhir sengaja ku turunkan hingga terlihat di ekor mataku tuan Hisyam mengernyitkan dahinya.


Setelah itu aku tak tahu lagi bagaimana tanggapan tuan Hisyam mendengar pertanyaan tadi yang sebenarnya berbunyi harapan, karna saat ini aku benar-benar tak berani bersitatap langsung dengan pria itu.


"Um... lupakan saja kata-kataku tadi..." Ucapku dengan wajah yang sudah memanas karna merasa malu dan tak tau diri.


"A-aku harus pergi...."


Aku kembali meraih handle pintu namun lagi-lagi tuan Hisyam mencegahnya dan langsung mendaratkan kecupan sekali lagi di bibir ini.


Deegg! Argh... pria ini benar-benar tak bisa di tebak.


Saking kagetnya aku sampai tak bisa berkata-kata.


Aku terpojok kaku dengan tangan yang masih memegang handle pintu.


"Aku akan melakukanya" Jawab Hisyam setelah melepas pangutannya.


"Semua orang akan tau, bahwa kamulah istriku, istriku satu-satunya, istri dari Hisyam Al Jaziri Osmand"


"Bagaimana jika...."


Belum sempat aku melanjutkan kata-kata, pintu tiba-tiba di buka oleh seseorang dan....


Bruukkk!


Sekuat tenaga aku mendorong tubuh atletis tuan Hisyam yang masih menempel padaku.


Dengan tatapan bingung Tuan Hisyam menatapku penuh tanda tanya.


Aku menempelkan telujuk di bibir, bersamaan dengan gerutu Renata yang terdengar kesal karna pintu tak bisa ia buka dengan mudah.


"Where is she!"


Tanya Renata seperti sang detektif yang sedang menyelidiki sebuah kasus.


"Siapa yang kamu maksud?" Hisyam pura-pura tak mengerti.


"Tentu saja gadis kampung yang tak tau diri itu!" Cemooh nyonya Renata dengan tatapan yang mengarah ke arah sofa yang masih rapi.


Tak ada kejanggalan disana Renata lalu menerobos masuk ke dalam ruangan yang selalu di gunakan tuan Hisyam untuk melepas penat saat berjam jam berkutat dengan pekerjaannya.


Aku yang sudah siap dengan ancang-ancan kini tak membuang waktu dan mengambil kesempatan itu untuk pergi.


Tuan Hisyam sepertinya ingin mendekatiku, namun aku hanya menggelengkan kepala, seolah ada bahaya yang sedang mengintai pergerakan kami saat ini.


Tuan Hisyam menghela napas dan seketika menghentikan langkahnya , dia sepakat, apa yang ku lakukan sudah sangat benar, karna kalau sampai Renata memergoki kami ada di ruangan ini pasti wanita gila itu akan sangat murka dan akan melakukan berbagai macam cara agar bisa menyingkirkan aku dari hidupnya.


"Hm! Padahal masih banyak hal yang ingin ku katakan padamu, Alia" Bisik tuan Hisyam sambil memandangi kepergianku dengan sangat tidak rela, mungkin? Pikirku lagi.


"Tapi setidaknya ini awal yang baik bagi hubungan kami"


****


Setelah memastikan Alia keluar dengan aman, tuan Hisyam pun kembali menghampiri Renata yang masih berada di dalam dengan semua kecurigaannya.


"Renata! You have to leave now!" Usir Hisyam dengan nada geram.


Hisyam geram karna waktu kebersamaan yang telah ia tunggu sejak lama, kini telah di kacaukan oleh wanita licik itu dan sekarang ia harus mencari waktu lagi untuk meyakinkan Alia bahwa dirinya benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka.


Mendengar perintah Hisyam, Renata tak menghubrisnya, wanita itu malah memutar bola mata, jengah dengan semua alasan Hisyam agar dirinya segera pergi dari ruangan itu.


Karna tak puas hati, Renata kembali menyusuri setiap sudut ruangan itu, mulai dari ruang kerja, ruang istirahat, bahkan kamar mandi pun telah ia telusuri dan tak ada tanda-tanda bahwa Alia baru saja berada di sana.


Tapi setelah melihat tempat tidur di ruangan itu masih tetap rapi, akhirnya wanita itu bisa bernafas lega, tandanya Hisyam tak melakukan hal gila bersama wanita itu di belakangnya.


Renata tersenyum penuh kemenangan, kecurigaannya tidaklah mendasar dan ia harus bisa meyakinkan Hisyam bahwa semua itu hanyalah sebuah salah paham.