
Setelah selesai dengan makanannya, kini Alia beralih dengan makanan penutup yang baru saja di sajikan oleh salah seorang waiters untuknya.
Meski desserts yang di sajikan terlihat lezat dan menggugah selera, entah kenapa ia tak dapat merasakan kenikmatan dari makanan itu.
Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, begitupun pikirannya mulai meracau ke mana mana, entah karena takut Hisyam tak akan kembali, atau karena hal lain.
Terlihat Alia sesekali melirik ke arah pintu restoran, berharap Hisyam dan Ozan segera kembali menghampirinya.
Berusaha menghilangkan kekhawatirannya ia pun mengeluarkan ponselnya berniat menekan tombol dial pada nama big boss yang tertera di layar ponselnya.
"Alia..."
Alia tersontak bangkit namun tak segera menoleh saat suara yang menyebutkan namanya terdengar tak asing di pendengarannya.
Alia berpikir sejenak mengumpulkan memory yang berkaitan dengan suara itu.
"Alia! Ini aku..."
"Deg...!"
Seketika detak jantung Alia berhenti sebelum akhirnya berpacu lebih cepat dari biasanya, begitupun dengan tubuhnya yang ikut merasakan getaran yang cukup hebat, hingga siapapun yang memandang dirinya bisa merasakan kegusaran yang di alami ibu muda itu.
"Alia please! Tatap aku, aku tau kamu masih merindukan aku, kan?"
"GLEKK....!"
Alia dengan susah payah menelan saliva saat pria di belakangnya mulai menyentuh tangannya tanpa permisi.
Ingin pergi, tapi takut Hisyam akan kembali dan mencari keberadaannya.
Tak bisa menghindar lagi, kini dengan mantap ia menghadap pria yang pernah menjadi separuh dari hidupnya suatu ketika dulu.
Ya, dia adalah Adam, sosok pria yang pernah menjanjikan masa depan yang bahagia dalam hidupnya.
Mengisi hari harinya dengan harapan yang hancur dalam sekelip mata, dialah seorang suami yang telah meninggalkan goresan luka yang sulit untuk di sembuhkan oleh siapapun dan sampai kapanpun.
"Akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi, Alia" Adam memulai kata-katanya, pria itu bahkan langsung memeluknya tanpa rasa bersalah.
"Lepaskan aku!" Alia melerai.
"Aku berusaha menemuimu di rumah besar itu, tapi para penjaga itu, mereka tak mengijinkan aku untuk masuk ke sana" tambah Adam lagi, setelah Alia hanya merespon dingin.
"Kenapa kamu datang kesini? Bukankah sudah tak ada apa-apa lagi di antara kita?"
Tanya Alia, ia berusaha terlihat santai, namun tak ada yang tahu ada rasa sedih, benci, marah, serta dendam yang sedang bergejolak dalam hatinya dan sudah bersiap untuk di lontarkan pada pria di hadapannya saat itu.
"Alia, aku sangat merindukanmu, sudah lama aku menanti saat ini tiba, ikutlah denganku aku akan melindungimu dari orang-orang yang ingin memanfaatkanmu"
Adam kembali meraih tangan Alia namun wanita itu lagi-lagi menepis tangan Adam dengan sopan.
"Apa maksudmu memanfaatkanku?Siapa yang kamu maksud?" Tanya Alia penasaran, meski ia tak ingin lagi mempercayai kata-kata Adam begitu saja.
"Alia, dengarkan aku, bosmu itu, dia bukan pria baik-baik, dia hanya memanfaatkanmu aku baru saja mendengar mereka membicarakan dirimu"
"Huh! Kenapa aku harus mempercayaimu! kamu saja tidak lebih baik darinya, kan" Sindir Alia, tak ingin tertipu untuk kedua kalinya.
"Oke, tapi sebelum itu, kamu harus melihat ini, aku sempat mengambil beberapa gambar bosmu dengan seseorang dan tak sengaja aku mendengar mereka membicarakan soal foto dan perjanjian, entah itu foto apa dan kesepakatan apa , tapi yang pasti semua itu ada kaitannya denganmu"
Adam berusaha meyakinkan Alia hingga memperlihatkan foto yang baru saja di ambilnya secara diam-diam.
"Jadi, setelah keluar dari toko tadi, tuan Hisyam pergi menemui tuan Mike? Apa waktu itu tuan Hisyam sengaja membawa Mike dan memperkenalkanku padanya, jadi itu artinya foto yang mereka bicarakan adalah fotoku bersama Mike, dan tuan Hisyam memang sudah tahu adanya foto itu?"
Alia mulai gusar dan tak tahu harus mempercayai siapa sekarang, pasalnya apa yang di katakan Adam juga terasa masuk di akal.
Di tambah lagi ia mulai merasa kedatangan Mr. Lee dan Mike ke kediaman Hisyam waktu itu adalah awal dari semuanya, dan tak menutup kemungkinan semua yang terjadi ada kaitannya dengan insiden di kamar hotel malam itu.
"Alia, kamu baik-baik saja kan?" Adam menyela, membuat Alia kembali ke alam sadarnya.
"Ikutlah denganku, aku akan melindungimu dari pria itu, pria kaya itu hanya..."
"Is everything all right here?"
Akhirnya Hisyam menghampiri keduanya setelah memerhatikan gerak gerik Adam sedari tadi, bahkan ia sudah mengirimkan foto Adam pada Davis agar asistennya lebih mudah menyelidiki latar belakang pria yang sedang bersama dengan pengasuh dari putranya tersebut.
"Ti...tidak ada apa-apa, tuan" Jawab Alia gugup.
"Good, kalau begitu ayo kita pulang, lagi pula Ozan juga sudah pasti lelah" Ucap Hisyam datar.
Mengerti tatapan dari bosnya, ia pun berlari kecil menyamai langkah Hisyam, sedang Adam yang belum puas dengan rencana mengambil hati mantan istrinya kembali, hanya bisa menghembuskan napas beratnya sambil menatap Alia penuh ketertarikan.
"Hm... kenapa aku baru sadar, kalau hanya dengan sedikit polesan dia sudah terlihat begitu cantik dan menggemaskan"
Ungkap Adam, tak ingin mengalihkan pandangannya dari Alia, bukannya merasa bersalah, malah semakin memicu hasratnya untuk mendapatkan kembali berlian yang telah ia sia siakan selama ini.
-
Alia hanya terdiam memerhatikan Hisyam memasang safety carseat pada Ozan yang sudah tertidur pulas.
Dengan posisi Ozan yang sudah aman di jok belakang, berarti dia juga harus pasrah, sekali lagi ia harus duduk di samping Hisyam yang selalu memamerkan ke angkuhan di wajahnya.
Untung saja setelah pertemuannya dengan Adam di restoran tadi, Alia banyak terdiam dan larut dalam dunianya sendiri, hingga dirinya tak begitu canggung dengan suasana hening saat itu.
"DERTTT.... DERTTT..."
Getaran ponsel milik Hisyam mengagetkan pemiliknya yang diam diam memerhatikan wajah sendu wanita di sebelahnya.
Dengan sigap Hisyam meraih benda pipih yang terletak pada dashboard, terlihat notif singkat dari aplikasi yang menghubungkannya dengan asisten kepercayaannya.
Hisyam mengurangi kecepatan setelah melihat pesan dari Davis.
"Shiit..!" Sambil memukul stir, Hisyam mendesis kesal setelah melihat personal data dan semua yang berkaitan dengan Adam kini tertera di layar ponselnya.
"Huh...! Jadi dia mantan suamimu, pantas saja kamu berusaha melindunginya!"
Berapa lama mereka terdiam, hingga Hisyam baru membuka suara saat mobil kini memasuki pekarangan mansion.
Alia terkesiap setelah mendengar penuturan sinis dari Hisyam yang tiba-tiba.
"Aku tidak melindunginya, aku hanya ingin berdamai dengan semua masalah yang terjadi dalam hidupku"
Jawab Alia datar dan kembali melempar pandangannya ke luar jendela, ia tak ingin semua masalah kembali mengusik kehidupannya.
"Fine! Kamu tidak melindunginya! Tapi kamu mencoba menyembunyikan fakta tentang dirinya dan aku tak suka dia terus muncul di hadapanmu dan mengganggu ketenangan keluargaku!"
Tekan Hisyam dengan tegas, hingga tak sadar ia memberhentikan mobilnya secara mendadak di tengah taman mansion, mengakibatkan Ozang yang sedang terlelap kini menangis sejadi jadinya.
"Hmm.... terserah!" Alia menarik napas dan menjawab singkat.
Tak ingin tenaganya terkuras hanya karna bersitegang dengan majikannya yang sudah terkenal akan keegoisannya, ia pun keluar dari mobil berniat menghampiri Ozan.
"Alia tunggu! Oke, fine! Aku hanya ingin melindungi keluargaku dan juga dirimu, aku tahu kamu tidak nyaman bertemu dengan mantan suamimu itu..."
"Tuan salah, aku lebih lega bila dia ada disini, itu artinya keluargaku akan tetap aman tanpa gangguannya...
Dan, tolong berhenti bersikap baik padaku, karna semakin baik tuan memperlakukanku, semakin pula aku takut akan hal itu"
Ucap Alia kecewa ia merasa Hisyam benar-benar menyembunyikan sesuatu darinya.
Setelah membuka safety belt yang di kenakan Ozan, dengan rasa kecewa pengasuh itu berlalu meninggalkan Hisyam yang masih terpaku mencerna kata-kata Alia yang sama sekali tak bisa ia pahami.
"Apa maksud dari kata-katanya tadi? She's scared of me?"
Gumam Hisyam sembari mengekori pengasuh itu, dan meninggalkan mobilnya begitu saja.
"Eh! Alia, Hisyam, kalian sudah pulang, ayo, duduk sini!"
Seru nyonya Farida saat mendapati keduanya buru buru ingin segera meninggalkan ruang tamu di mana ada dirinya dan bik di sana.
"Coba cerita, apa yang kalian lakukan seharian ini?"
Tanya nyonya Farida antusias, penasaran bagaimana kemajuan dari rencananya mendekatkan putra sulungnya dengan pengasuh kesayangannya itu.
"Um... maaf, saya harus ke kamar untuk menidurkan Ozan"
Tolak Alia sopan, hingga ia berlalu meninggalkan nyonya Farida yang baru saja memberi ruang untuk Alia duduk di sampingnya.
"Ee... ada apa dengannya? Hisyam! kamu buat dia sedih lagi, ya?"
"Who knows! Mungkin dia sedang merindukan mantan suaminya" Jawab Hisyam datar sambil mengangkat bahunya, ia pun berlalu ke kamarnya.
"Ada apa dengan mereka? Bukannya akur, malah semakin parah urusannya, hm...baiklah kali ini gagal tapi rencana berikutnya harus berhasil"
Farida masih tak ingin menyerah, tekadnya untuk menjadikan Alia sebagai menantunya semakin menggebu gebu.