
POV Alia.
Setelah meninggalkan kediaman tuan Hisyam, aku terus berlalu tanpa menoleh kebelakang.
Tinggal dan menunggu sampai wanita lain keluar dari ruangan suamiku, hanya akan menumpuk lebih banyak luka dan kekecewaan pada pria itu, apa lagi wanita itu pernah menjadi bagian hidup tuan Hisyam di masa lalu dan sekarang ada Ozan di antara mereka, tentu ada banyak kenangan manis yang sulit untuk mereka lupakan.
Mendengar suara riuh dari beberapa anak-anak yang sedang bermain membuatku tersadar dari lamunan.
Tanpa sadar ternyata aku sudah berada di kawasan taman yang berjarak beberapa blok dari kediaman tuan Hisyam.
Kuputuskan untuk berhenti di sana, lagi pula tak mungkin aku kembali lagi dan membiarkan diriku terbakar api cemburu dan tentu saja tuan Hisyam juga tak akan senang jika aku mengacaukan rencananya kali ini, pikirku lagi.
Ku labuhkan bokong di sebuah bangku yang berada di tepi kolam. Tempat ini selalu menjadi tempat favoritku sejak dulu.
Disinilah tempat pertama kali aku bertemu Hamish dan tak pernah ku sangka pria yang perhatian dan selalu membuatku tersenyum itu adalah adik kandung dari tuan Hisyam dan kini telah menjadi adik iparku sendiri.
Meski Hamish begitu baik, tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman dan anehnya hati ini malah terpaut pada Hisyam si pria dingin dan tak berperasaan itu.
Huh! Seperti kata Agnes Monica, cinta memang tak ada logika, ketika kamu telah merasakan kehadirannya dalam hatimu, segalanya seakan baik-baik saja.
Bahkan setelah menyakiti perasaanku dengan ucapan dan caciannya kala itu, hati ini malah terpikat dengan hal kecil yang di tunjukkannya padaku....
Ya, kelemahanku memang ada pada titik itu, dimana aku lebih lemah jika itu berkaitan dengan Assyifa-putri kecilku, tuan Hisyam benar-benar bisa meluluhkanku dengan perhatiannya pada Assyifa dan aku tak berdaya untuk menolak pesonanya itu.
Padahal jika di pikir lagi semuanya masih terekam jelas di ingatanku, bagaimana perlakuan tuan Hisyam di awal pertemuan kami saat itu.
Dan ketika nyonya Farida meminta kami agar segera menikah, dia pun menerimaku, bukan karna cinta, tapi kecekatannku mengurus Ozan-lah yang membuatnya menyetujui perjodohan ini, dan dengan bodohnya aku mulai merasa nyaman dan bergantung padanya, meski ku tahu impianku untuk membina bahtera rumah tangga bersamanya hanyalah khayalan semata..... Hah! Betapa miris bukan?
"Arkh! Alia, kamu masih belum berubah juga, masih naif dan sepolos yang dia katakan!"
Aku mencaci diri sendiri hingga tak sadar hari pun kian senja dan tuan Hisyam sudah berdiri tepat di belakangku, mengalungkan jas hitamnya di kedua bahuku.
* * * * * * *
Alia mengakhiri drama yang di ciptakan Hisyam di tengah-tengah taman dengan mengiakan permintaan suaminya itu untuk mengantarkannya pulang ke apartemen Nisha.
Mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu, Hisyam bangkit dengan penuh semangat dan langsung menarik Alia tanpa memperdulikan sebagian orang yang tengah menyaksikan aksinya yang bak telenovela romantis itu.
Sementara Alia yang kaget dengan aksi Hisyam yang tiba-tiba menariknya kini tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menundukkan wajahnya ketika melalui satu persatu orang-orang yang sedari tadi memerhatikan mereka.
"Hey! Lihatlah, bukankah pria itu sangat tampan? Seperti aktor turki itu, siapa namanya? Hm...." Bisik seorang wanita muda pada salah satu temannya, sambil mengingat-ingat nama aktor turki yang di maksudnya.
"Burak Deniz!" Seru salah seorang dari mereka.
"Iya, benar! Tapi, siapa wanita yang bersamanya itu, apa wanita itu kekasihnya?" Yang satunya lagi tampak penasaran.
"Tidak mungkin, wanita itu terlalu sederhana dan sedikit, kampungan...."
"Benar katamu, menurutku wanita itu terlalu sederhana untuk pria se-sampurna dia!" Cibir salah seorang dari mereka di ikuti suara tawa renyah segerombolan anak muda itu.
Alia menutup mata sambil menelan pasrah semua cibiran yang di dengarnya.
"Silahkan...." Hisyam membukakan pintu untuk Alia.
Tapi wanita itu hanya terdiam, namun Hisyam tak tuli, ia tahu wanitanya itu sedang berusaha terlihat baik-baik saja dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Mau ku gendong?"
"Hah!" Alia tercengang mendengar godaan suaminya.
"Just kidding...." Hisyam memperjelas ucapannya saat mendapat lirikan tajam dari Alia dan akhirnya ia menarik kembali uluran tangannya yang sejak tadi mengapung di udara.
Hisyam melajukan mobilnya dengan pelan dalam keheningan, setelah beberapa saat barulah Alia membuka suara setelah menyadari mereka malah menuju ke arah mansion milik Hisyam.
"Kenapa kita kembali kesini? Bukankah tuan ingin mengantarku pulang?" Protes Alia dengan tatapan tajamnya.
"Mama begitu mengkhawatirkan dirimu, tidak apa-apa, kan, jika menemuinya sebelum pulang"
Hisyam tahu Alia sangat dekat dengan mamanya, hingga berpikir wanita di sampingnya ini tak akan tega membiarkan Farida mengkhawatirkan dirinya, jadi terpaksa ia menyeret nama mamanya dalam masalahnya kali ini.
Melihat Alia tak lagi bertanya, Hisyam pun dengan senyum lega kembali melajukan mobilnya melewati gerbang mansion.
Farida yang baru saja melangkah masuk setelah lelah menunggu kabar dari putranya kini kembali berlari keluar saat mendengar suara mobil Hisyam berhenti di depan mansion sedangkan Alia masih di dalam mobil, ia hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca melihat bagaimama antusias nyonya Farida menyambut kedatangannya.
Hisyam keluar mengitari mobilnya lalu membuka pintu untuk istrinya, "Ayo...."
"Lihat, mama sudah tidak sabar untuk menyambutmu" Alia mengerling ke arah Hisyam kemudian kembali menatap mansion di hadapannya yang serba mewah dengan keseluruhan interiornya.
Betapa banyak perbedaan di antara mereka, dan berapa banyak rintangan yang akan ia taklukan untuk menyamai perbedaan itu.
Alia menghela napas beratnya.
Sementara Farida yang sudah tak sabar, akhirnya dengan sendirinya wanita itu mendekati mobil mengisyaratkan pada putranya untuk memberi mereka sedikit ruang untuk berbincang dan melepas rindu satu sama lain.
Sesampainya di sisi mobil, Farida merentangkan kedua tangannya untuk menyambut menantu kesayangannya itu.
Sementara Alia yang memang sudah sangat merindukan belaian kasih sayang dari wanita paruh baya itu tanpa berpikir panjang langsung memeluk erat tubuh hangat Farida yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Alia terisak sangat pelan karna haru dengan perlakuan lembut Farida padanya, dan hal seperti inilah yang ia takutkan jika ia kembali ke keluarga ini, takut jika ia tak bisa menghindar dari kasih sayang tulus dari nyonya Farida lagi.
"Maafkan mama karna membiarkan semua ini terjadi padamu" Ucap Farida juga di tengah-tengah isakannya.
Alia yang tahu wanita itu ikut bersedih karna dirinya, segera ia melerai pelukannya, menampakkan senyum manis di bibirnya.
"Mama jangan pernah menyalahkan diri sendiri, Alia sendiri yang memilih untuk pergi...."
"Tapi kenapa, nak?"
"Melihat hanya mama yang berharap tinggi pada hubungan kami, Alia merasa tertekan hingga pada akhirnya, Alia sadar, Alia juga masih belum siap untuk memulai hubungan lagi"
Tak ingin Farida merasa bersalah, Alia akhirnya mengakui keraguannya pada hubungan mereka, apa lagi sudah sangat jelas, selama pernikahan ini, ia tak pernah menemukan tatapan cinta di mata suaminya, apa lagi melihatnya dirinya sebagai seorang istri.
Farida menyimak alasan menantunya, namun, ia tak sebodoh itu, wanita yang telah melalui banyak hal dalam hidupnya itu tahu, apa yang menjadi keraguan terbesar Alia dalam hubungan mereka, selain takut Hisyam hanya mempermainkan perasaannya, Alia juga masih takut jika kegagalan rumah tangganya di masa lalu akan terulang kembali dan menambahkan trauma baru baginya.
Farida mengangguk pelan, mengerti dengan alasan yang di berikan menantunya, membuat wanita paruh baya itu hanya bisa menerima keputusan Alia dengan berat.
"Mungkin sebaiknya aku membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, dengan begitu mereka bisa saling memahami bahwa di antara mereka hanya ada satu masalah, yaitu sama-sama takut jika kegagalan rumah tangga sebelumnya akan terulang kembali.
Farida menatap kepergian menantunya dengan rasa tak puas, tadi ia sempat mengajak Alia untuk menemui Ozan dan menceritakan perkembangan balita itu, berharap bisa merubah pendirian Alia, tapi Alia malah mengalihkan pembicaraan dan malah meminta izin untuk segera pulang.
"Hm.... berusaha menahan diri untuk tak menemui Ozan, pasti akan sangat sulit bagimu, Alia" Lirih Farida sambil menatap mobil putranya yang hampir tak terjangkau dari pandangannya lagi.
* * * * * * *
Hisyam begegas keluar dari mobil setelah memastikan tak ada seorang pun yang mengenali mereka, meski suasana di dalam mobil tadi terasa begitu canggung dan tak nyaman bagi keduanya, tapi setelah pria itu keluar dari mobil ekspresi Hisyam kini kembali serius dan aura dominan itu kembali di rasakan setiap mata yang menatap ke arahnya.
Melihat Hisyam dengan langkah tegas menghampirinya, Alia bergegas membuka pintu dan segera keluar dari mobil.
"Um, terima kasih sudah mengantarku pulang.... tuan bisa pulang sekarang" Ucap Alia canggung tapi secara terang menyuruh suaminya pulang.
"Aku akan mengantarmu sampai ke atas dan memastikan tak ada yang mengikutimu.... bersikap santailah"
"Huft!" Alia mendengus sebal, menurutnya Hisyam terlalu mementingkan reputasinya dari pada kenyamanan dirinya.
Tak mengindahkan peraturan yang di berikan oleh Hisyam agar tak jadi pusat perhatian, Alia langsung masuk tanpa berkata apa apa lagi.
"Tuan bisa pulang sekarang, terima kasih telah mengantarku sampai sejauh ini" Ucapnya lagi sesaat setelah mereka tiba di unit apartemen Nisha.
"Tunggu dulu, Alia!" Cegah Hisyam sambil menutup kembali pintu yang sempat di buka oleh Alia.
"Ijinkan aku menemui Assyifa sebentar"
Bukannya menyetujui, Alia malah melepas genggaman Tangan Hisyam sembari memerhatikan sekeliling.
Alia menatap suaminya heran, tadi Hisyam besikap seolah tak ingin jadi pusat perhatian tapi sekarang dia malah sengaja membuat kehebohan di depan apartemen Nisha.
"Assyifa sudah tidur di jam seperti ini, sebaiknya tuan menemuinya lain kali saja....
Lagi pula, semakin lama tuan berada di sini semakin banyak pula orang yang akan mengenali anda dan tentunya mereka akan mencari tahu apa yang sedang anda lakukan di tempat ini" Alia mencoba mencari alasan yang logis untuk pria keras kepala seperti suaminya itu.
"Baiklah, aku akan menunggu di mobil, tapi di luar sangat dingin, um.... can i get a cup of coffee before i leave"
Alia memutar bola mata, jengah mendengar permintaan terakhir suaminya.
"I thnk, thats means, no?"
Tambah Hisyam sebelum dirinya benar-benar pergi dan Alia akhirnya kini bisa bernapas lega melihat Hisyam tak lagi bersikeras agar bisa menemui Assyifa.