Single Parents

Single Parents
KEMBALINYA RENATA.



Suasana pagi mulai riuh oleh aktifitas masyarakat yang sedang bersiap untuk mengais rezeki pagi.


Alia termenung di balkon, memerhatikan satu persatu mobil yang terparkir di depan gedung mulai meninggalkan parkiran apartemen yang di huni Nisha dan Alia.


Alia tampak tak bersemangat dan lelah, mata sendu di lingkari warna hitam menandakan dirinya kurang tidur, wanita itu sedang resah, selain memikirkan keadaan anak sambungnya, ada juga hal lain yang sedang mengusik ketenangannya.


Beberapa hari yang lalu saat dirinya menikmati tontonan acara di televisi, tak sengaja ia melihat kabar viral tentang keluarga Osmand.


Selain kabar tentang suaminya yang di isukan sedang dekat dengan beberapa wanita cantik, ia juga mengetahui bahwa kondisi Ozan sedang drop hingga di larikan ke rumah sakit.


"Hm...." Alia mendesah sambil meremas tangannya.


"Apa tidak sebaiknya kamu mengabari keluargamu, mereka pasti mengkhawatirkan kalian"


Usul Nisha sembari meletakkan dua mug berisi coklat panas di atas meja, lalu ikut duduk di samping Alia.


Nisha hanya menebak, ia tak tahu apa yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya itu, tapi yang ia lihat, akhir-akhir ini Alia sering termenung dan hanya bicara seperlunya saja.


"Thanks" Ucap Alia, dengan senyum hambar ia meraih mug dan menyeruput isinya.


"Aku tidak ingin membebani mereka, mereka sudah mengurus dan membesarkanku seperti putri kandungnya sendiri, kali ini tak akan ku biarkan mereka bersedih memikirkan nasib pernikahanku yang sedang berada di ujung tanduk" Jelas Alia sembari menerawang jauh.


"Tapi apa bedanya jika pada akhirnya mereka akan tau juga, Alia.... atau bahkan mereka sudah mendengar kabar ini dari suamimu?"


Nisha menebak lagi, sementara Alia hanya terdiam untuk beberapa saat.


"Dia tak mungkin melakukan hal sebodoh itu"Gumam Alia namun masih bisa di dengar oleh Nisha.


"Maksud kamu?" Nisa mengerling heran ke arah sahabatnya.


Alia tersenyum kecut, "Jika kamu berpikir suamiku akan menceritakan masalah ini dan mencari solusinya dengan berbicara pada keluargaku? Itu tidak mungkin"


"Why? Mungkin dia berubah pikiran dan menyesal setelah melepasmu pergi, who knows..." Nisha mengangkat bahu.


"Nis, kamu tidak mengerti.... meskipun dia memperlakukan kami dengan sangat baik, tapi pernikahan kami hanya sebatas kesepakatan baginya dan aku tidaklah begitu penting jika di bandingkan dengan karir dan popularitas yang telah ia raih sebelum ia menikahi seorang pengasuh sepertiku"


Ungkap Alia dengan netra berkaca.


"Tapi pengabdianmu selama ini bukanlah hal mudah untuk di lupakan! Memang sekaya apa sih, dia? Apa dia pikir air susu bisa seenaknya dia ganti dengan air putih! Bisa-bisanya ia mencampakkanmu setelah tak membutuhkanmu lagi!"


Nisha meradang, ia tampak kebakaran jeggot setelah mendengar cerita dari sahabatnya, kalau saja Alia memberi tahu Nisha identitas suaminya pasti dia tidak akan segan mendatangi kediaman keluarga Osmand untuk meluapkan kekesalannya atas apa yang telah mereka perbuat pada sahabatnya itu.


"Tenanglah, sekuat apapun kita berusaha, kita tak akan pernah bisa mengubah keputusan seseorang untuk mencintai kita" Bujuk Alia dengan menunjukkan sisi tegarnya.


"Tapi aku masih merasa kesal pada suamimu itu, sepopuler apa sih, dia? Kalau saja aku tahu dia memperlakukanmu dengan semena-mena, aku sudah melepas selang infusnya dan mencekiknya di rumah sakit waktu itu!"


Umpat Nisha kesal, hingga tanpa sadar ia menyeruput coklat panasnya hingga tandas, alhasil janda beranak satu itu pun meringis menahan panas di mulutnya dan Alia pun akhirnya tertawa, melupakan sejenak permasalahan yang saat ini sedang ia hadapi.


-


"Tokk! Tokk!"


Seperti yang biasa Alia lakukan saat masih berada di rumah itu, Hisyam juga selalu menyempatkan diri untuk mengajak mamanya untuk sarapan bersama atau sekadar menyapa, meski tak pernah sekalipun mamanya menggubris ajakannya tersebut.


Bahkan sudah hampir seminggu wanita paruh baya itu mendiami kamar namun tetap teguh dengan pendiriannya,


Menurutnya apa yang di lakukan putranya begitu sangat mengecewakan dirinya , hingga ia tetap kekeuh, tak akan beranjak dan tak akan menyapa siapapun sebelum Hisyam membawa menantu kesayangannya kembali ke rumah itu.


"Tokk! tokk!" Sekali lagi Hisyam mengetuk pintu, berharap mamanya segera keluar dan membantunya untuk mengurus Ozan yang sejak semalam tak bisa ia tenangkan.


"Mom! Please, open the door!" Hisyam panik dan mulai mengeluh.


"Oz-Ozan terus menangis dan tak bisa di diamkan.... I need your help!" Hisyam memohon meski ragu.


"CEKLEEKK!"


Farida akhirnya membuka pintu, dengan wajah datar ia melangkah keluar.


"Kupikir kamulah yang lebih tau dalam mengurus putramu!"


Sindir Farida.


Dengan nada tegas wanita paruh baya itu berlalu, meninggalkan putranya yang masih mematung, mencerna sindiran yang keluar dari mulut mamanya.


"Hisyam, cepat, panggil Dokter Daniel kemari!"


Teriakan nyonya Farida seketika membuyarkan lamunan Hisyam dan dengan cepat ia berlari ke kamar putranya.


"What's wrong! Apa yang terjadi?"


"Ozan demam tinggi! Siapkan mobil, kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang!"


Titah Farida sembari mendekap Ozan dalam pelukannya, sementara Hisyam berlari ke bawah, menyiapkan mobil dan membawa putranya ke rumah sakit.


-


Mobil yang di kendarai Hisyam melaju di kecepatan seratus kilometer per jam, hal yang mustahil ia lakukan saat dirinya tidak dalam pengaruh alkohol, apa lagi saat mama dan putra semata wayangnya itu ikut bersamanya.


Hanya butuh beberapa menit mobil pun terparkir di depan pintu darurat rumah sakit.


Beberapa tim medis sudah pun menunggu kedatangan mereka yang sebelumnya sudah di beri tahu kondisi darurat yang di alami Ozan.


Tiba di IGD, Dokter Daniel mengambil alih, dengan sigap pria bermata sipit itu mengeluarkan stetoskop dan menempelkan ke telinganya, memeriksa keadaan Ozan yang sedari tadi hanya memejamkan mata.


"Benar! Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi pada cucuku"


Nyonya Farida ikut menimpali, terlebih lagi saat melihat Dokter Daniel hanya terdiam seraya memasukkan stetoskop ke dalam sakunya.


"Ozan di serang demam yang cukup tinggi.... tapi tenang saja, ini cuma demam biasa, aku telah memberinya obat penurun panas dan dia sekarang sedang tidur, tapi, bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah selama ini Ozan baik-baik saja" Jelas Daniel sambil menepuk pundak sahabatnya.


"Um, itu....


"Itu semua karna Ozan terlalu merindukan Alia, dan ini semua karena kamu!" Sambung Farida, dengan nada kesal ia mengerling tajam ke arah putranya.


"Um, Auntie, Hisyam, i gonna go...."


Melihat suasana mulai tegang Daniel segera undur diri, tak ingin ikut campur dan memperkeruh suasana.


"Mom, please!" Ucap Hisyam saat hanya tinggal mereka berdua di sana tanpa sadar sepasang mata tengah mengintai mereka dari jarak jauh.


"Mom, aku kan sudah bilang...."


"Apa? Memang benar, kan, apa yang mama katakan! Jangan bilang, kamu mencampakkan Alia karna masih menyimpan perasaan pada wanita itu, iya, kan!" Pekik Farida.


Dengan kerongkongan tersekat wanita itu berusaha mengendalikan diri agar darah tingginya tidak naik namun, apa boleh buat jika ia justru tidak bisa menahan emosinya lagi hingga apa yang di takutkan pun terjadi.


Farida meringis sambil memegang tengkuknya, hampir saja ia terjatuh ke lantai namun dengan sigap Hisyam menahan tubuh mamanya.


"Hisyam ada apa dengan mama?"


Renata yang sejak tadi menunggu waktu yang tepat, akhirnya menampakkan diri dengan topeng malaikatnya.


"You!" Pekik Hisyam kesal melihat kehadiran Renata di sana.


"It doesn't metter now, sebaiknya kamu urus mama dulu, biar aku yang menjaga Ozan disini!" Usul Renata.


Si ratu drama itu mulai melancarkan aktingnya di hadapan Hisyam.


Hisyam terdiam sejenak memikirkan kata-kata Renata, "Benar apa yang di katakan Renata, berdebat tidak akan menyelesaikan masalah"


Hisyam berpikir dengan kepala dingin, meski masih dalam keadaan marah ia bangkit dan terpaksa menuruti kata-kata Renata, kemudian dengan cepat melarikan mamanya ke ruang IGD.


Farida telah di tangani oleh tim medis, sementara Hisyam hanya bisa duduk terpaku di depan ruang instalasi gawat darurat.


"Niatku untuk melindungi Alia, mengapa Ozan dan mama malah terkena imbasnya.... semoga semuanya baik-baik saja" Tutur Hisyam sambil menyapu wajahnya prustasi, sedang dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa semoga semua masalahnya cepat terselesaikan dan bisa menjemput Alia kembali padanya.


Ozan dan Farida sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Hisyam yang baru saja kembali dari ruangan Dokter Daniel untuk membahas keadaan mamanya kini di kejutkan dengan penampakan yang tak biasa di depan matanya.


Hisyam terpaku, bukan tersentuh, tapi ia malah merasa ada yang janggal ketika melihat Renata sedang menangis sambil mencium tangan mamanya yang masih belum sadarkan diri.


"Ehm!"


Hisyam berdehem, seolah memberi tahu keberadaannya yang entah benar-benar tak di sadari atau sengaja tak di sadari oleh wanita licik itu.


"Um, Hisyam...." Renata segera menghapus air matanya seraya menghampiri mantan suaminya itu.


"Bagaimana? Apa yang di katakan Dokter tentang mama, um, sorry, maksudku nyonya Farida" Tanya Renata, sengaja ingin menunjukkan kepeduliannya.


"Mama baik-baik saja" Jawab Hisyam singkat.


"Ozan?"


"Dia juga baik-baik saja, terima kasih atas bantuanmu hari ini dan, ku harap ini yang terakhir kalinya kamu datang menemui Ozan" Jujur Hisyam tanpa basa-basi.


Raut wajah Renata seketika berubah, padahal tadi ia sudah yakin Hisyam sudah mulai luluh dengan sikap manisnya.


"Aku hanya ingin menebus kesalahanku selama ini pada mama dan Ozan" Tutur Renata dengan wajah sendu.


"Kamu bisa menebusnya dengan membiarkan kami hidup tanpa kehadiranmu dalam keluargaku"


"Tapi setidaknya...."


"Drrttt... drrttt...!"


Deringan ponsel menghentikan rengekan Renata yang mengharap simpati dari Hisyam.


"What!"


Jawab Hisyam setelah menempelkan benda pipih itu ketelinganya.


"Bagaimana keadaan Ozan dan nyonya Farida? Mereka baik-baik saja, kan?"Tanya Asisten Davis khawatir.


"Mm, mereka sudah di pindahkan ke ruang perawatan.... bagaimana dengan penyelidikanmu, apa sudah menemui titik terang?" Bisik Hisyam yang dengan santai menjauh dari tempat Renata berdiri, tak ingin wanita itu mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu benar, seseorang sedang memegang kendali permainan yang di perankan Mr.Lee"


"Bagaimana kamu begitu yakin?"


"Aku sudah menyelidiki dana fantastis yang di terima Mr.Lee akhir-akhir ini...."


"Siapa? Dari mana?" Tanya Hisyam penasaran.


"Namanya Amanda, seorang wanita malam yang kebetulan beberapa bulan terakhir ini datang ke indonesia, menginap di salah satu hotel terkenal di jakarta dan, Mr.Lee, adalah salah satu pelanggan yang kerap kali mendapat pelayanan dari wanita itu, and you know what, di hari yang sama, Renata juga memesan kamar di hotel itu saat berlibur ke indonesia" Jelas Davis panjang lebar.


"Okay, now, i know what i have to do" Ucap Hisyam sebelum memutuskan panggilan teleponnya dengan Davis.