
"Membuka hati untuk perasaan lain setelah rasa yang menyakitkan bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan.
Terutama jika hal itu meninggalkan trauma yang cukup dalam, tentunya sulit untuk berpura-pura bahwa dirimu baik-baik saja.
Kadang terbesit dalam benak untuk berdamai dangan lembaran baru dan mencoba membuka hati untuk sosok yang bisa menentramkan jiwa ini.
Tapi kenyataannya, aku tak cukup berani untuk melawan trauma yang menggerogoti hati dan pikiran ini.
Ya, itulah yang kurasakan saat ini, aku menjadi sosok yang pengecut, takut untuk merasa nyaman jika pada akhirnya aku akan mengalami sakit dan kecewa lagi"
********
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, membersihkan diri dan menunaikan shalat dua rakaat.
Di akhir sujud tak lupa kumeminta agar tuan Hisyam bisa kembali sehat seperti sedia kala, serta berjanji pada diri sendiri untuk tidak memaksakan kehendakku padanya lagi.
Setelah menyelesaikan sesi dialog dan mengadukan semuanya kepada sang pencipta, akupun kembali membereskan sofa, satu-satunya tempat di mana aku bisa merehatkan diri semalam, meski ku tau ada petugas yang akan membersihkannya tanpa harus di suruh, tapi aku sudah terbiasa dengan semua itu.
Sedang fokus membersihkan setiap sudut kamar, pandanganku pun tiba-tiba teralihkan pada sebuah bantal dan sehelai selimut yang biasa di gunakan untuk para pasien di rumah sakit ini.
"Bukankah semalam aku tak menggunakan bantal maupun selimut...." Pikirku, sambil mengingat-ingat bagaimana bisa semua benda itu ada di sini.
Segera ku lirik tuan Hisyam yang masih terlena di ranjangnya dan benar saja pria itu tak mengenakan bantal maupun selimut yang semalam masih menghangatkan tubuhnya.
Ku dekati pria yang hampir setahun ini menjadi suamiku, ku tatap wajah tegas yang di tumbuhi bulu halus itu, lalu menghela napas dan menghembuskannya perlahan.
"Ku mohon, berhentilah bersikap baik padaku" Bisikku dalam hati.
Meski perlakuanya itu sebenarnya begitu menentramkan jiwaku yang telah lama haus akan perhatian seorang pria.
Sebisa mungkin ku tepis rasa yang menggelora ini, tak ingin terbiasa dengan semua kenyamanan yang di berikan Hisyam dan keluarganya selama ini.
Tak ingin mengulit luka di masa lalu, akupun kembali menyelimuti tuan Hisyam yang sedikitpun tak terusik dengan kehadiranku di sisinya.
"Ehm...." Suara dokter Daniel membuatku segera tersadar dari lamunan.
"Dokter di sini? Ke-kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" Ucapku kaget dan sedikit menjauh dari Hisyam.
"Aku sudah mengetuknya berkali-kali, tapi kamunya terlalu fokus memandangi Hisyam, hingga tak sadar kalau aku ada di sini" Goda Danel dengan pose melipat tangan di depan dada.
"Daniel, kamu di sini?" Ucap Hisyam yang baru terbangun dan menyadari kehadiran Daniel di kamar ini.
"Ya, aku di sini sejak tadi, tapi istrimu sama sekali tak menyadari kadatanganku"
"Um, aku dengar, hanya saja... aku takut jika tuan terusik dengan kedatangannya"
Sengaja aku memotong kata-kata Daniel agar dokter itu tak melanjutkan kata-katanya, tapi sayangnya aku melupakan sesuatu, dan hal itu membuat dokter Daniel menelisik penuh tanya.
"Apa? Kamu masih memanggilnya dengan sebutan, tuan?" Daniel membelalak.
"Haha.... baguslah kamu di sini, Daniel, beritahu perawat itu untuk membawakan makanan yang sesuai dengan seleraku!"
Perintah Hisyam saat melihat beberapa perawat membawakan sarapan untuk kami.
Dan dengan angkunya Hisyam pun tak segan-segan menolak semua menu makanan yang di siapkan oleh rumah sakit.
Tapi meski begitu, kini aku mulai lega melihat sikap angkuh tuan Hisyam yang menunjukkan bahwa pria itu sudah baik-baik saja, sekarang.
Setelah omelan Hisyam mereda, Daniel pun mendekati para perawat tadi, membisikkan sesuatu, hingga satu persatu dari mereka membawa kembali makanan tadi lalu meninggalkan kami bertiga.
"Ck... ck... ck...!" Daniel berdecak kesal sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah ku duga, pasien satu ini akan menyiksaku selama menginap disini"
Gumam Daniel kemudian mendekati pasien sekaligus sahabatnya itu untuk berbincang.
"Hm.... sekarang mereka mengabaikanku lagi, seakan diri ini tak terlihat oleh mereka.
Merasa tak di butuhkan, aku pun meraih ponsel, memainkan sebuah game dan mulai larut dalam permainan tersebut.
Di saat aku mulai terbawa suasana, tiba-tiba seorang pria dan wanita datang, membawa beberapa hidangan ber-logo sebuah restoran mewah yang begitu kukenal.
"Chinese food, lagi? Argh... kenapa ia tak pernah puas dengan hidangan itu"
Gumamku kesal.
Dan saking jengkelnya diri ini, tak sedikitpun ku tunjukkan sikap ramah apa lagi berniat untuk membantu kedua pelayan yang sedang menata makanan di hadapanku.
"Selamat menikmati nona, tuan" Ucap kedua pelayan tadi sebelum meninggalkan kami bertiga.
"Baiklah, selamat menikmati makanan kalian" Daniel pun ikut bangkit.
"Lho, dokter tidak ikut makan?" Aku menimpali.
"Tidak, kalian saja yang makan, masih banyak pasien yang harus ku periksa" Jawabnya lagi.
"Tapi makanannya terlalu banyak untuk kami bardua...."
"Sudahlah, biarkan saja dia pergi, lagi pula dia sudah terbiasa dengan makanan di sini" Potong Hisyam angkuh, lalu menancapkan sumpitnya pada hidangan sushi dan mencoba satu persatu makanan di hadapannya.
Di situ aku baru sadar kalau hidangan di hadapanku bukanlah makanan yang sering di santap oleh Hisyam, melainkan chicken katsu dan berbagai makanan khas jepang lainnya.
"Ini bukan makanan chinese yang ...."
"Aku tau, terakhir aku mengajakmu ke chinese restaurant kamu tampak tak menikmatinya"
"Bukannya tidak suka, aku hanya...." Suaraku tercekat di tenggorokan
"Haruskah aku jujur? Argh... itu sama saja mempermalukan diri sendiri"
Aku terus menimbang-nimbang dalam hati.
"Kenapa diam saja? Makanlah" Titah tuan Hisyam sembari mengulurkan sepasang sumpit padaku.
Ku raih pemberian tuan Hisyam dengan ragu, tapi bukannya langsung menggunakannya, chopstick di tanganku malah terjatuh ke lantai.
Dengan cepat aku membungkuk untuk meraihnya dan kembali duduk ke posisi semula.
"Aaa...."
Aku tertegun melihat aksi tuan Hisyam yang tiba-tiba mengulurkan makanan ke mulutku.
"Ayo di makan"
"Tapi aku bisa sendiri"
"Dengan chopstick kotor itu?"
Hisyam melirik sumpit di tanganku, dan karna tak punya pilihan lain aku pun menyambut suapan dari tuan Hisyam.
Meski ragu dan terasa canggung tapi ini lebih baik dari pada harus mengakui jika aku sama sekali tak bisa menggunakan benda itu.
"Bagaimana, enak bukan?"
Tanyanya yang kemudian menyuapkan sushi dengan sumpit yang sama ke mulutnya.
"Kalau kamu tidak suka kita bisa memesan yang lain..."
"Aku suka! Makanannya enak"
Potongku spontan, selain makanannya enak aku juga begitu menikmati suapan lembut dari tuan Hisyam dan tentunya itu untuk yang pertama kalinya ia menyuapiku selama pernikahan kami.
"Kenapa tidak jujur saja padaku?"
"Uhuuk.... uhuuk....!" Tanpa ku minta Hisyam mengulurkan segelas air padaku.
"Ma-maksudku, tuan?" Tanyaku setelah menelan sisa makanan yang tercekat di tenggorokanku.
"Hm... bukannya memberitahuku lebih awal, kamu malah berpura-pura tak terbiasa dengan semua makanan yang aku pilih"
Aku menunduk, "Maaf...."
Ucapku pelan, dan dapat ku rasakan pipiku terasa panas mungkin terlihat merona karna menahan malu.
"Lain kali kamu harus belajar menggunakan chopstick"
Mendapat saran dari Hisyam membuatku tak bisa berkata-kata, hanya bisa mengangguk malu, apa lagi saat tangan Hisyam kembali menjulur ke mulutku.
"A-aku bisa menggunakan tangan" Jawabku pelan.
"Kapan kamu bisa kalau tidak di latih, atau... mau ku ajarkan?"
Usulnya sembari bangkit dan melabuhkan bokongnya di sampingku.
Tanpa meminta persetujuanku dia langsung melingkarkan tangannya di tubuhku, mengajariku cara memegang batang sumpit.
Awalnya terasa canggung, tapi lama kelamaan aku mulai beradaptasi dengan kedekatan kami, apa lagi sikap kepemimpinan yang di tunjukkan Hisyam seolah-olah menunjukkan bahwa ia sama sekali tak memanpaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Hisyam terus mengajariku dengan sabar, hingga keakraban di antara kami terjalin begitu natural dan mengasyikkan.
Tapi memang dasar, tangan kaku ini tak bisa di ajak kompromi hingga tak ada satu pun makanan yang berhasil masuk ke dalam mulutku.
Hisyam terus mengajariku cara memakai sumpit, meski kadang ia tertawa, ketika semua makanan terjatuh mengotori pakaianku, tapi tak sedikitpun aku merasa berkecil hati dengan tanggapannya itu.
Lama bercengkrama hingga kami tak sadar waktu begitu cepat berlalu dan tersadar kala mendengar suara berisik dari luar.
Kami menatap satu sama lain saat tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.
Karna penasaran aku bergegas bangkit menuju pintu sedang Hisyam masih duduk di sofa.
Baru saja aku ingin menggapai ganggang pintu, tiba-tiba dokter Daniel masuk di ikuti beberapa orang dengan kamera menerobos masuk tanpa permisi.
"What the hell!"
Suara Hisyam menggelegar saat melihatku tersungkur dengan dorongan para wartawan yang semakin anarkis dan melupakan tata tertib.
Namun itu hanya sementara, nyatanya tuan Hisyam segera meredam amarahnya saat menyadari ada banyak mata yang tartuju pada reaksinya.
"You oke?"
Dokter Daniel yang sudah tak bisa membubarkan kerumunan itu, kini mengulurkan tangan padaku dan membantuku untuk berdiri.
"Aku baik-baik saja" Jawabku sambil mengelus siku yang luka akibat ulah para wartawan.
"Syukurlah kalau begitu, um.... mungkin sebaiknya kamu keluar dulu sampai keadaan benar-benar terkendali"
Usul Daniel sebelum menghampiri Hisyam yang sudah di kelilingi oleh para wartawan.
Mendengar usul Daniel, aku pun menjauh saat orang-orang mulai mendekati Hisyam dan tak memperdulikan keberadaanku lagi di sana.