
Alia beserta dua balitanya melangkahkan kaki menuju rumah besar milik nyonya Farida.
Rumah yang tak kalah megah dari mansion milik putranya itu terlihat megah dengan arsitektur klasik juga tampak asri dengan berbagai jenis tanaman hijau di sekeliling tamannya.
Alia bersama dua balitanya berhenti di sebuah patung, monumen.
Sebuah patung pria yang berdiri dengan setelan taxedo itu terlihat gagah memegang sebatang tongkat di tangannya.
"Monumen itu di buat saat O.Z group berada di puncak kejayaannya...."
Jelas Hisyam setelah selesai menurunkan tas milik Ozan dan Assyifa dari mobil.
"Saat berada di puncak? Apa itu artinya O.Z Group sebelumnya juga pernah mengalami krisis seperti sekarang ini?"
"Itu...." Hisyam terlihat enggan menceritakannya.
"Um.... Maaf, seharusnya aku tak menanyakan hal sepribadi itu"
Sambung Alia sembari menangkap tangan Ozan dan Assyifa yang saling mengejar mengelilingi monumen bersejarah keluarga Osmand.
"Bukankah patung itu terlihat gagah!"
Teriak nyonya Farida yang baru saja keluar dari rumah, merentangkan kedua tangan, tak sabar ingin menghampiri menantunya.
"Gemaa...! Gemaaa....!"
Dengan cadel Ozan dan Assyifa melepaskan tangan mamanya dan berlari menyambut wanita yang di panggilnya grandma.
"Kenapa begitu lama, mama sampai bosan menunggu kalian?" Tanya Farida dengan mulut yang sedikit di manyunkan.
"Itu karna Alia ingin membawa semua pakaian beserta lemarinya kesini" Sindir Hisyam sambil melirik Alia di sampingnya.
"Bukan begitu, mah, Alia hanya...."
"Sudah, sudah, jangan berdebat disini, Ayo kita masuk, bik Ina sudah menyiapkan makan siang untuk kalian" Seru nyonya Farida.
"Biar saya yang membawa kopernya, tuan...."
"Tidak usah, biar aku saja, urus saja anak-anak, lihat, mereka tidak bisa berhenti berlarian, bagaimana kalau mereka terjatuh!"
Ucap Hisyam datar, matanya tak lepas dari kedua balita yang sedang berlarian kesana kemari.
"Hisyam benar, Alia, biarkan dia yang membawanya, kamu tak perlu merasa sungkan sama suami sendiri"
Sambung Farida sambil mengedipkan mata pada putranya, "Nah, kalau begini, kan kalian terlihat seperti pasangan suami istri" Goda nyonya Farida lagi.
Dengan menggandeng tangan menantunya, ia memuji sikap putranya yang sudah tak mempermasalahkan jika harus menarik koper di kiri dan kanannya, tanpa meminta bantuan pelayan.
-
"Biarkan pelayan membawa barang kalian ke kamar" Saran nyonya Farida saat Hisyam ingin membawa tas milik Alia ke kamar tamu.
"Tapi, mah...."
"Alia, kita ke meja makan, ya, mama sudah lapar gara-gara menunggu kalian terlalu lama"
Potong Farida, tak ingin mendengar alasan Hisyam yang tentunya menolak untuk berbagi kamar dengan istrinya, sedang Alia hanya menurut, tak mengerti maksud dari rencana mertuanya.
"Oya Hisyam, Hamish kembali dari luar negeri besok, kamu bisa, kan, menjemputnya di bandara?"
"Benarkah...!" Suara Alia terdengar nyaring, berseru girang.
Awalnya Hisyam yang tadi tak menanggapi ajakan mamanya ke meja makan, seketika menghempas tas di tangannya melihat reaksi istrinya yang begitu bersemangat kala mendengar nama Hamish di sebut.
"Bagaimana, Hisyam, kamu mau, kan, menjemput Hamish di bandara?"
Nyonya Farida kembali bertanya saat Hisyam hanya bergeming, menatap kosong makanan yang di siapkan Alia ke dalam piringnya.
"Tuan....!" Panggilan Alia membuat Hisyam tersadar dari lamunannya.
"Kenapa tidak meminta Alia saja yang menjemputnya!"
Tiba-tiba jawaban itu yang keluar dari mulut Hisyam, membuat nyonya Farida dan Alia saling menatap satu sama lain.
"A-Alia? Kenapa harus dia?" Tanya nyonya Farida, tak mengerti dengan usul Hisyam yang tak masuk akal itu.
"Um, maksudku, ada pak Farhan, pamannya Alia, dia bisa menjemput Hamish, kan" Hisyam gugup, mencoba memberi penjelasan yang masuk akal pada mamanya.
"Hisyam, bukankah kamu ingin memperbaiki kembali hubungan kalian yang sempat renggang? Dengan menjemputnya, kalian bisa berbicara dengan santai dan kepala dingin" Farida mulai kesal .
"Tapi mom...."
"Tapi apa, lagi! Kamu tahu adikmu, dia tak pernah menyimpan dendam padamu atas kepergian papa, dia juga tahu kalau kamu hanyalah korban dari kelicikan Renata, jadi, berhenti menyalakan diri sendiri, nak...."
Mendengar nama Renata di sebut oleh mamanya membuat Hisyam seketika bangkit.
"Maaf mom tapi, Hisyam sudah punya rencana sendiri besok dan please, jangan bicara tentang wanita itu lagi hadapanku!"
Tekan Hisyam dan tanpa permisi pria itu meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanannya sedikit pun.
Selama ini ia tahu suaminya memiliki sikap dingin dan keras kepala, tapi ia sama sekali tak menyangka jika Hisyam bisa sekesal itu pada mamanya hanya gara-gara nyonya Farida menyebut nama Renata di hadapannya
"Cih! Kenapa dia sangat kesal mendengar nama itu, padahal tak ada yang bisa merubah fakta, bahwa nyonya Renata adalah ibu kandung Ozan...."
Gumam Alia sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Sudah seharusnya Hisyam marah dan benci pada Renata, karna ulahnya, kedua putraku saling membenci dan aku kehilangan suamiku di waktu yang sama!"
Gleeekk....!
Alian menelan makanannya dengan susah payah, apalagi saat melihat nyonya Farida terbawa emosi hingga mengepalkan kedua tangannya.
"Maaf, seharusnya Alia tidak mengatakan hal itu sebelum mengetahui duduk permasalahannya seperti apa...."
"Eh, tidak, bukan seperti itu, sayang, mama hanya terbawa emosi jika mengingat wanita itu....." Raut Farida kembali serius.
"Oya, Alia, kamu mau kan membujuk Hisyam untuk membatalkan rencananya dan bersedia untuk menjemput Hamish di bandara besok?" Rayunya sambil menggenggam tangan menantunya.
Meski tak yakin jika Hisyam akan mendengarkan kata-katanya, tapi ia tetap mengangguk, menyanggupinya hanya untuk menyenangkan hati mertuanya.
"Ya sudah, kamu naiklah, kamarmu ada di atas, di samping kamar Ozan dan Assyifa, masalah Hisyam dan Hamish mama percayakan padamu, hm... tak sabar rasanya melihat mereka berdua kembali akur seperti dulu"
Farida yang tadi sempat sedih memikirkan kedua putranya kini kembali ceria, membayangkan bagaimana bahagianya jika kedua putranya mulai akur, lebih-lebih lagi jika melihat sikap Hisyam yang sepertinya sudah bisa menerima Alia dalam hidupnya.
"Tapi, mah.... sebenarnya apa yang terjadi antara tuan Hisyam dan Hamish? Dan... apa hubungannya dengan kepergian tuan Osmand" Tanya Alia ragu.
Meski merasa tak punya hak untuk menanyakan masalah keluarga Osmand, tapi ia begitu penasaran dan tak bisa lagi menahan diri, ingin mengetahui cerita sebenarnya.
"Alia.... sebenarnya sudah lama mama ingin memberitahumu tentang masa lalu keluarga ini, tapi mama takut kamu salah paham dan menyerah untuk memperbaiki hubungan kalian jika tahu kematian suami saya ada hubungannya dengan Hisyam"
"Apa yang terjadi, mah?" Alia semakin penasaran.
"Sebenarnya, sebelum Hisyam mengenal Renata, Hamish lebih dulu mengenal wanita itu, tapi karna melihat Hisyam lebih berpotensi mengelola bisnis, Renata mulai menyusun rencana untuk mendekati Hisyam, sampailah mereka menikah dan memiliki Ozan"
Farida menghela panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Sebenarnya dari awal Renata hanya mengincar pewaris keluarga Osmand, setelah menikah dengan Hisyam barulah Renata tahu, bahwa Hisyam akan memberikan perusahaan induk itu atas nama Hamish, sementara Hisyam akan membangun bisnisnya sendiri, dan pada saat itulah Renata berncana untuk kembali pada Hamish"
Farida terus menceritakan asal mula pertikaian Hisyam dan Hamish, mulai dari Renata menjebak Hamish, menuduh bahwa Hamish telah menodainya, bahkan mengatakan ayah biologis Ozan adalah putra kedua dari keluarga itu.
"Lantas, apa hubungannya kematian tuan Osmand dengan masalah ini?" Tanya Alia masih tak mengerti.
"Hm.... karna cintanya pada Renata begitu besar, dengan bodohnya Hisyam percaya kata-kata istrinya dan...."
Sekali lagi nyonya Farida menjeda kata-katanya dan menitikkan air mata.
"Jika begitu berat untuk di ceritakan, mama bisa menceritakannya lain kali..."
Ucap Alia dengan menggenggam tangan wanita yang sudah di anggapnya seperti ibu kandungnya itu.
"Tidak Alia, kamu harus tahu cerita yang sebenarnya, mama tidak mau kamu mendengarnya dari orang lain"
Setelah menghela cukup dalam nyonya Farida kembali mengumpulkan kekuatannya dan mulai menceritakan semuanya.
"Malam itu mereka berdua di kuasai oleh amarah, mereka saling menodongkan senjata dan....
Suamiku berusaha melerai kedua putranya dan.... tanpa sengaja senjata milik Hisyam mengenai dada papanya, hiks...."
Mendengar cerita mertuannya membuat Alia seketika menutup mulutnya, tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.
"Ya Tuhan! Apa tuan Hisyam melenyapkan papanya sendiri?" Pikir Alia.
"Alia, berjanjilah kamu tak akan meninggalkan Hisyam setelah mendengar cerita ini, dia tidak sengaja, nak....
Hisyam, Hisyam bahkan membawa papanya ke rumah sakit dan dokter sempat melakukan operasi tapi, tuhan berkehendak lain, dan nyawa papanya tidak tertolong"
Farida panik melihat reaksi menantunya, ia takut Alia akan pergi meninggalkan putranya dan yang paling ia khawatirkan adalah Ozan, bagaimana cucu kesayangannya itu akan hidup tanpa Alia.
"Alia, mama mohon padamu, jangan tinggalkan Ozan dan Hisyam" Farida berlutut di hadapan Alia, hingga Alia merasa tak nyaman di buatnya
"Mah, tolong jangan lakukan ini...."
"Tidak, Alia, kamu harus tahu, Hisyam sangat menyesali perbuatannya dan sampai sekarang perasaan bersalahnya selalu menghantui pikirannya...."
"A-apa karna itu, tuan Hisyam sampai mengalami insomnia?" Alia menebak-nebak.
Mendengar pertanyaan Alia, Farida kembali bangkit dan kembali menggenggam tangan Alia.
"Benar Alia, selama bertahun-tahun Hisyam mengalami kesulitan untuk tidur dan setelah peristiwa itu Hisyam tak pernah lagi datang kemari, tapi karna dirimu, ia kembali menginjakkan kaki di rumah ini setelah sekian lama...."
Nyonya Farida berusaha meyakinkan Alia.
"Benarkah Hisyam melakukan itu hanya karna aku? Apa dia sudah mulai melupakan istri pertamanya dan menerimaku dalam hidupnya?"
Alia bertanya-tanya dalam hatinya, meski ia sendiri bisa merasakan perilaku Hisyam memang sudah jauh berubah dari sebelumnya tapi di satu sisi ia masih takut untuk menanggapinya dengan serius
Masih begitu melekat dalam pikirannya bagaimana pria yang terlihat bersungguh-sungguh tulus mencintainya bisa mematahkan hatinya dan menyisakan trauma yang begitu mendalam dalam hidupnya.