
Keringat yang mengguyur wajah pucat Alia semakin deras, terlihat wanita itu berkali-kali menggelengkan kepalanya, seakan menghindar dari bahaya yang menghampirinya.
Entah berapa saat ia bergelut dalam situasi seperti itu, hingga sampai ke titik, ia menemukan jalan keluarnya.
"PERGIII.....!"
Alia terbangun dari mimpi buruknya yang terasa sangat nyata, dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya, Alia mencoba mengatur napasnya yang tersekat di tenggorokannya.
"ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIIM...."
Alia beristighfar sambil mengurut dadanya yang bertalu talu, ia mencoba menetralisir degupan jantungnya yang tak terkontrol saat itu.
Di liriknya jam di layar ponselnya, kini menunjukkan pukul 01:35 am, dan itu artinya ia baru tertidur sekitar sejam yang lalu.
Dengan lunglai ia mendekat ke arah jendela, andaikan langit terlihat cerah malam ini, munkin dia akan keluar memandangi keindahan langit yang bertabur bintang.
Itulah yang sering di lakukannya saat mimpi buruk itu datang dalam tidurnya.
Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Adam, dirinya begitu sulit untuk mendapatkan tidur dengan nyenyak, apalagi saat kata-kata Adam terus terngiang di telinganya, hingga wajah menyeringai Mike pun ikut muncul setiap kali ia memejamkan matanya.
Lama memerhatikan cahaya lampu neon yang tersebar di seluruh taman mansion, Alia pun bergegas keluar dari kamar Ozan dan turun ke lantai bawah.
Setiap ruangan yang di lewatinya hanya mengandalkan cahaya samar dari lampu tamaram pada sudut ruangan, di jam seperti itu tentu saja semua penghuni mansion sudah terlena dalam mimpinya masing-masing.
Sesampainya di ruang dapur Alia meraih panci, merebus air secukupnya untuk membacuh secangkir hot chocho untuk dirinya sendiri.
Sengaja ia tak menggunakan teko pemanas air tak ingin seisi rumah terbangun dengan bunyi bising dari teko tersebut
Sambil menunggu air yang di masaknya mendidih, ia pun mengeluarkan ponselnya dan kembali mencari foto, bukti yang sempat di kirimkan Adam padanya beberapa hari yang lalu.
"Hm... bagaimana caranya untuk memastikan kecurigaanku ini, kalau aku menanyakan hal ini pada tuan Hisyam, akankah ia mengakuinya?
Tapi aku juga tidak bisa semudah itu mempercayai kata-kata Adam, walau jujur, aku sangat takut jika semua yang di katakan Adam benar-benar terjadi..."
"Kenapa belum tidur di jam seperti ini?"
Alia tersontak kaget, hingga ponsel di tangannya ikut melayang, beruntung Hisyam dengan sigap memperagakan aksi keeper yang sedang menghadang bola, sehingga ponsel milik Alia bisa selamat tak tergores sedikit pun.
"Sebegitu kagetnya kamu mendengar suaraku! Cih! "
Cibir Hisyam seraya mengulurkan ponsel itu ke pemiliknya, sehingga dengan senang hati Alia menyambut uluran itu.
"Wait! Foto apa ini?" Hisam kembali menarik tangannya dan menanyakan perihal gambar yang ada di ponsel itu.
"Um... itu...!" Alia menggantung kata katanya, menyadari kelalaiannya tak memasang kunci pengaman pada ponselnya.
"Mungkin ini saat yang tepat untuk memastikan kecurigaanku..."
Alia berpikir sejenak, sebelum memulai kata-katanya, berharap setelah ini kecurigaannya tak lagi mengganjal di pikirannya.
"Ehm... kenapa tuan tak memberitahuku kalau tuan pergi menemui Mike saat itu, atau, ada sesuatu yang tuan sembunyikan dariku?"
Tanya Alia ragu, ia sadar dirinya hanyalah seorang pengasuh, tak sepantasnya ia bertanya seakan tak percaya pada majikannya sendri.
"Um... itu, memang benar aku menemui Mike, dan kami hanya membicarakan bisnis, oya, kamu dapat dari mana foto itu?"
Kali ini giliran Hisyam yang bertanya sekaligus mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan Alia yang seakan mengintrogasi dirinya.
"Dari Adam, dia yang mengambil foto itu, katanya cuma ingin memastikan apa memang benar tuan adalah majikanku... ya, hanya itu"
Jawab Alia asal, sedang Hisyam yang tak akan percaya begitu saja, hanya mengangguk santai walau dalam hatinya begitu penasaran dengan kepribadian seorang Adam yang sudah berani ikut campur dalam masalah pribadinya.
Hisyam kembali ke kamarnya dengan sebotol air mineral di tangannya, sedang tangan lainnya sibuk dengan smartphonenya.
"[What now, boss...?]"
Suara Davis terdengar malas di seberang talian, mungkin pria jomblo itu sedang memimpikan bagaimana cantiknya pujaan hatinya kelak.
"Kamu mendapatkan foto yang ku kirimkan?" Tanya Hisyam kaku.
"[Yup! Why...?]
"Adam yang mengambilnya secara diam-diam, cari tau apa yang dia inginkan, karna aku tak suka dia berkeliaran di hadapanku!"
Hisyam kembali melanjutkan langkahnya setelah memutuskan panggilan telponnya bersama Davis.
"Dari mana saja kamu, nak? Mama mencarimu kemana-mana..."
"Sedang apa mama disini, dan kenapa belum tidur di jam seperti ini?" Tanya Hisyam sambil melabuhkan bokongnya di atas sofa panjang.
"kamu pikir mama bisa tidur, sebelum kamu menjelaskan kemajuan hubunganmu dengan Alia sudah sejauh mana" Nyonya Farida mulai mengutarakan rasa protesnya.
"Mom, aku kan sudah bilang, apapun yang mama mau, shoping, holiday, party, anything you want!"
But, mom please, jangan meminta sesuatu yang tak masuk akal seperti itu, karna Hisyam tak mungkin bisa mengabulkan keinginan mama yang satu itu!"
Hisyam mulai pusing menanggapi sikap mamanya yang bertingkah kekanak kanakan dan kadang merajuk jika putranya itu tak menuruti keinginannya .
"Apanya yang tak masuk akal, justru mama menyarankan hal ini setelah mempertimbangkan berbagai hal....
Hisyam, Alia wanita yang baik, dengan menikahinya Ozan akan memiliki seorang ibu yang menyayanginya dan kamu mendapatkan istri yang bertanggung jawab" Pujuk nyonya Farida penuh harap.
"Hm... ok, anggap saja Hisyam bersedia menikahinya, tapi, apa mama yakin Alia sudah tak mengharapkan mantan suaminya kembali...."
"Hisyam, what do you mean?" Tanya nyonya Farida, tak mengerti maksud kata-kata putranya.
"Mom, Adam, mantan suami Alia, dia ada di sini dan sepertinya dia tahu semuanya, termasuk rencanaku mendekatkan Mike pada gadis indo itu..."
"PRAAKKK!!!"
Suara mug berisi coklat panas terlepas di tangan Alia, hingga Hisyam dan nyonya Farida kompak beralih mencari asal suara tersebut.
Hisyam segera membuka pintu dan menemukan Alia berdiri di hadapannya dengan ekspresi syok dan berkaca-kaca.
"You here...."
"Ma...maaf, aku tidak sengaja menjatuhkannya, biar ku bersihkan sekarang"
Ucap Alia gugup, dengan bingung wanita itu berpura-pura membersihkan pecahan mug yang berserakan hanya karna tak tahu harus bersikap seperti apa setelah mendengar pernyataan Hisyam tadi.
"Alia, aku akan menjelaskan bagaimana semua ini berawal" Tutur Hisyam.
Tak mendapat respon dari Alia, pria itu ikut berjongkok menekuk sebelah lututnya, membantu Alia memungut pecahan mug di lantai.
"Biarkan aku menjelaskan semua yang terjadi selama ini!"
Hisyam menggenggam tangan Alia, berharap pengasuh itu menghentikan aktifitasnya dan mendengarkan apa yang akan di katakannya.
"Apa tuan akan menjelaskan semuanya? Dari awal? Termasuk bagaimana aku bisa di jebak dan di perlakukan tak senonoh oleh tuan Mike saat itu?"
Alia memberanikan diri menanyakan semua yang ingin di ketahuinya selama ini, meski ia sudah bisa menebak pengakuan Hisyam tak akan merubah kenyataan bahwa dirinya adalah korban dari permainan licik Mr. Lee dan tuan Mike selama ini.
"Alia, sebenarnya, dari awal memang, aku sengaja membawa Mike ke sini dan memperkenalkannya padamu, tapi....
Ada sedikit masalah, sehingga aku tidak bisa menghentikan rencana Mr.Lee saat itu"
"Jadi memang benar, kalau semua yang terjadi sudah di rencanakan dan tuan tahu tentang itu?
Lalu bagaimana dengan aksi tuan yang seakan menjadi pahlawan untukku! Apa itu juga sudah di rencanakan"
Suara Alia terdengar parau hingga tersekat di tenggorokannya.
Hisyam terdiam memerhatikan gelagat Alia yang berusaha terlihat tegar, rasa bersalah pun semakin menghampirinya, hingga ia terdiam setelah melihat Alia mulai berkaca-kaca.
Seketika ia sadar akan kesalahannya hingga tak bisa lagi membela diri sendiri.
"Tidak ada gunanya membela diri, kenyataannya aku tak bisa mengobati trauma yang dia alami akibat kelalaianku"
Hisyam membatin menyaksikan Alia yang pura-pura menyibukkan diri di hadapannya.
"Alia, izinkan aku memperbaiki semuanya, biarkan aku menjagamu tetap aman atau kalau kamu mau aku bisa mengirimkan beberapa bodyguard untuk putrimu, how is it?"
Tawar Hisyam lagi, dia benar-benar tidak tahu harus memperbaiki kesalahannya dengan cara apa lagi agar gadis indo itu bisa kembali ceria seperti dulu lagi.
"Tidak perlu! Biarkan saja semuanya berjalan seperti biasanya dan tolong, berhenti bersikap baik padaku karna itu hanya akan membuatku semakin bingung mengartikan sikap anda yang sebenarnya"
Alia bangkit dengan pecahan mug di tangannya, lalu beredar meninggalkan Hisyam tanpa memberi kesempatan pada pria itu untuk mengutarakan kesungguhan hatinya yang ingin menebus kesalahannya.
"Dengan cara apa lagi aku mengembalikan keceriaannya yang dulu, dia bahkan tidak tertarik dengan barang-barang mewah"
"I know what hee needs... holiday"
Hisyam menghadap mamanya yang tiba-tiba memberi solusi, mendengar putranya bergumam bingung, nyonya Farida menjawab dengan antusias, berharap kali ini rencananya akan berjalan dengan lancar.