
Hisyam terus mengusap ubun Alia yang mesih bergetar dan sesenggukan, sedang tangan yang satunya menepuk lembut punggung pengasuh itu.
Meski sikapnya menunjukkan kelembutan tapi raut wajahnya tetap terlihat sangar menatap Mike yang sudah terkulai tak berdaya.
Setelah memerhatikan Mike dengan raut kebencian, Hisyam beralih menatap Davis dan mengisyaratkan sesuatu padanya.
Hanya dengan satu gerakan kepala Davis langsung mengangguk tanda mengerti dan membiarkan beberapa pria berjas hitam masuk dan membawa pergi Mike dan Sarah yang belum sadarkan diri.
Asisten Davis menghampiri Hisyam dan berbisik sesuatu di telinga bosnya hingga Hisyam menanggapinya dengan helaan panjang.
"Tunggulah beberapa menit hingga situasi di luar aman, aku akan memastikan tak akan ada satupun media yang tahu tentang hal ini"
Bisik Davis sambil memerhatikan Alia yang masih betah dalam dekapan bossnya.
"Apa dia baik-baik saja?"
Tanya Davis heran saat pengasuh itu tak merespon jika Hisyam memeluknya cukup intim seperti itu.
Hisyam menghentikan usapan tangannya saat menyadari wanita yang sedang dalam dekapannya tak lagi bergetar dan sesenggukan.
"Alia! Did you hear me?"
Hisyam mengguncang tubuh mungil Alia namun tak ada respon yang di tunjukkan pengasuh itu.
"Bring me a doctor here, now!"
Seru Hisyam panik, dengan sigap Davis mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol dial.
"Aku akan menelpon Daniel, aku harap dia masih berada di gedung ini..."
"Jangan dia! Aku membutuhkan seorang dokter wanita disini..."
Tolak Hisyam, sedang Davis hanya terpaku menatap bossnya penuh tanda tanya"
"Apa kamu tidak mengerti juga! Lihat keadaan dia sekarang! Dia baru saja..."
Hisyam geram dengan ketidakpekaan Davis hingga berulang kali mengusap kasar wajahnya.
"I got it..."
Jawab Davis tegas dan kembali fokus pada ponselnya.
"Tokk... tokk...!"
Berapa menit kemudian, suara ketukan di balik pintu mengalihkan perhatian Hisyam dan Davis dari wanita yang sedang terbaring di depannya.
Seorang wanita berpenampilan modis melangkah masuk di ikuti dua pria berjas di samping kiri dan kanannya.
"Introduce yourself!" Ucap Davis.
"I am doctor Natasha, apa dia baik-baik saja?"
Natasha menghampiri Alia yang masih terbaring tanpa mempedulikan keberadaan Hisyam di sana.
"Dia pingsan setelah mengalami..."
"Hhmm... aku mengerti tapi, aku baru saja kembali dari suatu tempay dan langsung kesini setelah mendengar pengumumannya, jadi perlengkapan medisku akan tiba sebentar lagi...
Sementara menunggu suamiku datang membawanya, aku akan mengganti pakaiannya, jadi bisakah anda menunggu di luar? Um.... maaf, apa dia mengalami hal mengerikan itu di tempat ini?"
Hisyam dan Davis kompak menatap satu sama lain lalu mengangguk berat, diikuti helaan napas Dokter Natasha yang tak kalah berat, prihatin dengan apa yang menimpa Alia.
"Sebaiknya dia di pindahkan ke tempat yang lain, aku takut keadaan sekitar akan semakin memicu traumanya"
Jelas Dokter Natasha, dan mulai menyiapkan Alia untuk segera pindah ke kamar lain.
-
Setelah melalui proses yang cukup rumit Davis berhasil membubarkankan kericuhan para penghuni hotel dan mungkin di antaranya ada paparazzi yang berusaha memanfaatkan situasi itu.
Beberapa menit melalu akses khusus yang langsung mengarah ke kamar VVIP, tibalah mereka di kamar Presidential suit yang khusus di siapkan jika sewaktu waktu Hisyam berkunjung ke hotel itu.
"Kenapa dia belum sadar juga! dan di mana peralatan....!"
Hisyam menghampiri Dokter Natasha dengan kesal, hingga akhirnya ia bungkam saat melihat Dokter itu sedang membersihkan luka di bibir dan serta beberapa tanda merah di leher Alia.
"Dia pasti sangat ketakutan melalui ini semua"
Ungkap Natasha prihatin, seraya mengelus rambut panjang Alia sedang Hisyam hanya bisa menyesali tindakannya yang berujung bencana.
"Tuan! Tamu untuk Dokter Natasha sudah datang"
"Kami akan menemuinya"
Hisyam mengangguk kemudian mempersilahkan Dokter Natasha lebih dulu.
Hisyam kaget melihat tamu yang di tunggu Natasha adalah pria yang tadi bersama Alia di depan lift.
"Apa kalian sudah kenal! Honey?"
Natasha mengerling dua pria di sampingnya dan kembali meminta penjelasan pada suaminya.
"Benar, ingat pria kasar yang ku ceritakan di telepon tadi? That's him" Beber sang suami.
"Dan wanita muda yang membantumu menenangkan putri kita, apa dia orangnya?"
Natasha menunjuk ke arah Alia dan perlahan suaminya pun menghampiri wanita yang terbaring di tempat tidur itu.
"Dasar pria arogan! Apa semua ini karna cemburu butamu yang tak mendasar itu? Sudahkah kamu mencari tahu kebenarannya sebelum menyiksanya seperti itu?"
"Stop it! Bisakah kalian keluar dan menyelesaikannya? Aku ingin memeriksa wanita itu dengan aman tanpa gangguan"
Natasha melerai dua pria yang masih bersitegang sebelum ia kembali menghampiri Alia dan mulai memeriksa keadaan wanita malang itu.
-
Selesai dengan tugasnya Natasha pun kembali menghampiri dua pria yang sedang duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Honey! Apa kamu sudah meluruskan kesalahpahamannya pada tuan Hisyam?" Tanya Natasha pada suaminya.
"Aku tak perlu menjelaskan apapun pada pria arogan sepertinya, itu tak akan berhasil, bisakah kita pulang sekarang?"
"Aku juga tak butuh penjelasan dari dia! Doctor, we need to talk for a second, just us!"
Hisyam bangkit dan berlalu tanpa menoleh, di ikuti Natasha yang hanya bisa mengisyaratkan suaminya untuk bersabar menanggapi sikap dingin Hisyam si penguasa.
"Apa yang terjadi padanya? Dia baik-baik saja, kan?"
Tanya Hisyam sesaat setelah melabuhkan bokongnya di sofa.
"Selain memar di tubuhnya, saya tidak mendapati adanya ***********, untungnya anda datang di saat yang tepat"
"Hufftt... syukurlah tapi, kenapa dia belum bangun juga?" tanya Hisyam.
"Itulah yang ingin saya tanyakan, apa selama ini dia sering mengalami stres, khawatir, atau overprotektif pada orang terdekatnya?"
"Maksud dokter?" Hisyam masih tak mengerti.
"Sepertinya peristiwa yang di alaminya tadi telah memicu traumanya di masa lalu, dan itu bisa berdampak buruk pada kesehatan psikologisnya"
"Hhmm... dia memang khawatir dengan segala hal, terutama soal putrinya, apa karena itu emosinya pun sering berubah ubah..."
Hisyam bergumam sambil mengusap kasar wajahnya, lagi-lagi ia menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa pengasuh itu, kalau saja dulu ia mempercayai kata-kata adik dan mamanya, pasti semua ini tak akan terjadi dan Alia tak akan menjadi korban kebenciannya pada mantan istrinya.
"Dia masih sangat muda dan sudah memiliki seorang putri?" Natasha menanggapi kata-kata Hisyam
"Dia wanita baik-baik, jangan salah paham dia pernah menikah dan memiliki seorang putri!"
Hisyam berusaha menjelaskannya pada Natasha, tak ingin wanita itu juga salah menilai Alia.
"Sorry, aku tau apa maksudmu, aku hanya mengaitkan kondisinya dangan kehidupan pribadinya, dan sekarang aku tahu apa penyebab stresnya, tak mudah bagi seorang ibu untuk hidup jauh dari anak anaknya..."
"Then, what should i do?" Tanya Hisyam.
"Trauma merupakan hal yang sensitif untuk di bicarakan atau di bagi kepada orang lain, namun semakin dia menyimpannya, semakin parah pula dampak traumanya...
Untuk itu, cobalah membuatnya lebih terbuka dan menceritakan masalahnya kepada orang lain, karena hal itu akan sangat membantu memulihkan traumanya"
Terang Natasha sembari meraih tas perlengkapan medisnya.
"Aku akan kembali ke kamarku, anda bisa memanggilku jika terjadi sesuatu padanya"
Pesan Dokter Natasha sebelum berlalu meninggalkan Hisyam seorang diri.
-
POV HISYAM.
Aku berjalan menghampiri Alia, dan duduk di samping wanita yang masih terbaring lemah di tempat tidur milikku.
Hening terasa namun tidak dengan hatiku yang sedang berseteru dengan keegoisa dan tentang bagaimana aku harus bersikap untuk mengungkapkan rasa bersalah ini.
Wajah itu begitu teduh dan aku hampir merusak hidupnya dengan sekelip mata, bagaimana aku bisa sekejam ini pada orang yang telah memberi kehidupan untuk putraku
Aku membatin dan tak sengaja pandanganku tertuju pada pergelangan tangannya yang membiru, bekas merah ada di mana-mana, dan luka di bibir itu, membuatku seketika mengingat di mana aku sering menyerangnya dengan kata-kata buruk dan perlakuan kasar yang melukai perasaannya.
Andai saja mesin waktu benar-benar ada, maka aku akan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah ku perbuat, termasuk membawa kembali Hamish, satu-satunya orang yang bisa membuatmu menceritakan semua keluh kesahmu.