Single Parents

Single Parents
BERSITEGANG.



Malam seakan begitu lambat berlalu, Hisyam menatap langi-langit kamar dengan perasaan yang ia sendiri tak mengerti.


Setelah seminggu menikah, sepertinya ia telah terbiasa tidur dengan seseorang di sampingnya.


Meski sebenarnya ada Assyifa yang membatasi mereka tapi menatap dua wajah seiras itu sebelum tidur, sudah menjadi kebiasaannya selama beberapa hari terakhir.


"Argh.... buat apa aku memikirkan mereka, bukankah sudah lama aku menginginkan ruang yang luas ini, lagi pula belum tentu mereka memikirkan tentangku"


Hisyam bergumam sembari bangkit, meraih botol obat yang selalu di konsumsinya sebelum ia tidur.


"Apa gadis indo itu sengaja meletakkan gelas kosong ini untukku? Argh.... ini benar-benar menyebalkan!"


Hisyam berkacak pinggang sambil memerhatikan gelas kosong yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya.


Pria itu keluar dari kamarnya dengan wajah kusut dan gontai ia menyusuri setiap sudut ruang dapur mencari sebotol air mineral yang tak kunjung di temukannya.


"Kenapa susah sekali untuk menemukannya? Aku bahkan tak bisa menemukan dispenser atau semacamnya di sini"


Hisyam bergumam kesal sambil memijit kepalanya, merasa stres dengan situasi yang tengah ia hadapi.


Seumur hidupnya ia tak pernah berpikir akan mengalami kesulitan seperti itu.


"Kenapa tuan ada di sini, apa tuan membutuhkan sesuatu?"


Tanya Alia, namun hanya mendapat helaan berat dari pria yang nampak kesal itu.


Alia menurunkan pandangannya tak mampu menatap tatapan tajam dari suaminya.


"Oh....!"


Sekilas Alia melihat gelas kosong dalam genggaman Hisyam, bergegas ia menghampiri sebua gentong yang terbuat dari tanah liat tepat di belakang Hisyam.


"Maaf tuan, saya lupa menyiapkan air putih untuk tuan" Ucap Alia menyesal.


Seharusnya ia bersikap baik pada Hisyam, karna telah mengizinkan Assyifa untuk ikut dengannya.


Tapi apa yang di lakukannya sekarang, dirinya malah menambah masalah baru, bisa di lihat dari sorot mata Hisyam yang tajam memandangnya.


Meski begitu Alia tetap mengambil gelas kosong di tangan Hisyam dan mengisinya lalu memberikannya kembali.


Sekilas Hisyam menatap gelas yang di berikan oleh Alia lalu menyambutnya, tanpa ucapan sekalipun ia berlalu perlahan, berharap Alia mengatakan sesuatu padanya.


"Huh! Setidaknya berterima kasihlah, meskipun apa yang kulakukan bukanlah hal besar!"


"Terima kasih...."


Baru saja Hisyam bergumam protes, skhirnya apa yang ingin di dengarnya kini di ucapkan oleh Alia secara tunai.


Hisyam menbalikkan tubuhnya dengan santai, begitupun dengan ekspresinya yang datar, tak ingin jika Alia tahu bahwa ia sebenarnya sudah menantikan kata-kata itu.


"Terima kasih, untuk apa?" Hisyam seakan berada di atas angin sekarang.


"Karna mengizinkanku membawa Assyifa dan juga untuk....


Hadiah ulang tahun yang tuan kirimkan untuk Assyifa beberapa hari yang lalu" Ungkap Alia tulus.


Jujur tak terpikirkan olehnya jika pria angkuh seperti Hisyam bisa memikirkan hal sebesar itu untuk Assyifa.


"Ah, gaun itu.... ingat setelan jas mini untuk Ozan?" Alia mengangguk mendengarkan.


"Terakhir aku mendapati mereka memberikan diskon jika mengambil dalam jumlah yang lebih banyak.... so i think, that's not bad....( Jadi ku pikir itu tidak buruk)" Jawab Hisyam santai.


"Owh.... benarkah?"


Jawab Alia kecewa, berharap begitu besar jika Hisyam memberikan hadiah itu dengan tulus bukan karna diskon.


Sementara Hisyam yang merasa sukses mengerjai istri polosnya, kini mengatur langkahnya meninggalkan ruang dapur.


Hisyam sangat puas, itu terlihat dari raut wajahnya yang menampakkan lengkungan di sudut bibirnya.


-


Alia meninggalkan kamar mamanya saat terdengar adzan subuh mulai berkumandang.


Dengan perlahan Alia melangkahkan kaki ke dalam kamarnya agar tak mengganggu Hisyam yang mungkin masih memimpikan pekerjaannya.


"Kenapa berjinjit seperti pencuri!"


"ASTAGHFIRULLAH!!"


Baru saja Alia meraih mukenanya, suara bariton Hisyam membuatnya berjingkrak kaget.


"Kenapa tuan sudah bangun sepagi ini? Apa tuan juga mau ikut sholat? Ups...."


Karna masih merasa kaget ia pun lupa menjaga ucapannya yang bisa saja sensitif bagi Hisyam yang tak pernah di lihatnya melakukan sholat.


Karna sudah terlanjur mengangkat topik keagamaan, Alia pun kembali bertanya.


"Um.... apa tuan ingin menjadi imamku? Um, maksudku.... menjadi imam dalam menuntut sholat, ya, itu maksud ku...."


Alia terbata-bata meluruskan maksudnya yang bisa saja di artikan lain oleh Hisyam.


"Jangan perdulikan aku! Lanjutkan saja sholatmu!"


Keluh Hisyam, dan tak sengaja menolak ajakan Alia dengan kesal, bukan hanya malu tapi merasa menyesal karna lalai dari kewajibannya selama ini, bahkan ia sendiri tidak yakin apa dirinya masih mengingat dengan baik semua bacaan dalam sholat yang di ajarkan orang tuanya dahulu.


-


Pagi-pagi sekali Alia sudah menyiapkan sarapan, membereskan pakaian Assyifa dan pakaiannya ke dalam bag yang sama, sedang pakaian milik Hisyam akan di masukkannya ke dalam koper terpisah.


Setelah sarapan Alia bergegas menyiapkan Assyifa setelah itu baru ia mulai mengurus dirinya sendiri.


Di ruang tamu, Hisyam bermondar-mandir menunggu Alia yang masih tak kunjung menampakkan diri.


Perjalanan yang hampir memakan waktu sekitar emam hingga tujuh jam untuk sampai ke bandara, membuat Alia mempersiapkan perlengkapan Assyifa dengan teliti dan penuh pertimbangan.


Apalagi perjalanan ini merupakan perjalanan pertama Assyifa, hingga ia harus membuat putri kecilnya senyaman mungkin agar tak membuat Hisyam kesal dan mengatakan hal yang buruk untuk di dengar.


Alia akhirnya keluar sambil menggendong Assyifa, di susul Amel dan buk Retno yang masing-masing membawa sebuah tas di tangannya.


"What the.... haruskah kita membawa seisi rumah ini!"


Protes Hisyam sambil memperhatikan satu persatu tas yang berukuran besar yang berjumlah tiga buah termasuk koper miliknya.


"Tuan Hisyam, bukankah koper ini terlalu berat untuk seorang wanita"


Sindir Amel sembari meletakkan koper milik Hisyam dengan kasar, dan hampir mengenai kaki abang iparnya itu.


"Amel....!"


Tegur buk Retno melihat tingkah putrinya yang kasar, sementara Alia berusaha menyembunyikan tawanya, tentu akan jadi masalah lagi jika Hisyam sampai melihatnya.


"Maaf tuan, tapi saya harus mengambil beberap tas lagi yang masih tertinggal di dalam"


Jawab Amel dengan nada mengejek namun tatapannya mengarah pada Hisyam yang masih pusing memikirkan barang yang akan mereka bawa, padahal tak ada satupun pelayan apalagi asisten yang akan membantunya.


"Alia! Apa kalian sudah siap"


Suara Doni mengagetkan Alia yang sedang pusing memikirkan perseteruan antara suami dan adiknya.


"Kak Doni, ngapain kakak disini?"


Tanya Alia, sambil menghampiri pria yang semapat menaruh hati padanya dulu.


"Amel yang meminta bantuan kak Doni untuk mengantar kakak ke bandara"


Jawab Amel dengan tergopoh-gopoh menenteng tas dari dalam rumah.


Hingga Doni yang melihatnya ber-inisiatif untuk menawarkan diri untuk membantu.


"Apa nggak merepotkan? Kak Doni kan harus kerja"


Tanya Alia pada adiknya, merasa tidak enak, jika harus merepotkan pria yang selama ini menjadi teman baiknya itu.


Apa lagi jika mengingat bagaimana Doni menentang orang tuanya yang selalu mempermasalahkan statusnya sebagai janda beranak satu waktu itu.


"Aku nggak sempat datang saat kalian menikah, anggap saja mengantarmu ke bandara adalah hadiah pernikahan dariku"


Ungkap Doni tulus, sambil menatap Alia dengan tatapan kerinduan.


Melihat keakraban Alia dengan pria baru itu, membuat perasaan Hisyam tak karuan hingga tanpa berpikir lagi ia menderapkan langkah menuju ke arah dua sahabat itu.


"Alia! Apa mobilnya sudah siap?" Ucap Hisyam basa basi.


Melihat Hisyam mendekatinya dengan tatapan mesra, membuat Alia bergidik ngeri, apalagi saat Hisyam semakin mengikis jarak di antara mereka.


"Um.... kak Doni, ini tuan...."


"Hisyam, suami Alia..... bisa kita berangkat sekarang?"


Potong Hisyam, tiba-tibal menyambar tangan Doni yang tadinya ingin memberi selamat kepada Alia atas pernikahan mereka.


"Hai, anda pasti orang baik, sehingga bisa memiliki wanita baik seperti Alia, oya, saya Doni, teman Alia" Jawab Doni sopan.


"Cih, teman apa yang memiliki tatapan semesra itu!"


Cibir Hisyam dalam hati, meski Doni mengaku sebagai teman Alia, tapi sebagai seseorang yang lebih dewasa tentunya Hisyam tahu, perhatian seperti apa yang di tunjukkan oleh Doni pada istrinya.


-


Suasana sedih mulai menyelimuti keluarga Alia saat ibu muda itu berpamitan pada mama dan adiknya.


Pertahanan Alia mulai runtuh, air matanya semakin menderas saat pesan dan tulusnya nasehat papanya kini di ucapkan oleh mamanya, hingga rindu pada sosok yang di kenalnya sebagai ayah pun semakin membuncah.


"Sudah, masuklah ke mobil, kasihan nak Doni sudah menunggu kalian dari tadi"


Titah buk Retno pada anak dan menantunya hingga dengan berat Alia melangkah menuju mobil.


Belum hilang rasa sedih yang menyelimuti perasaan Alia, Hisyam pun mulai bertingkah, membiarkan Doni duduk seorang diri di depan layaknya seorang sopir.


"What?"


Tanya Hisyam saat mendapati Alia sedang melotot ke arahnya.


"Apa tuan bercanda! Bukankah tuan sendiri yang bilang, duduk seorang diri di depan saat ada orang lain di belakang membuat tuan terlihat seperti seorang supir?" Ungkap Alia kesal.


"So, what's the metter?" (Lalu, apa masalahnya?) Aku akan membayarnya berapapun yang dia inginkan"


"Doni bukan seorang sopir, kenapa tuan membiarkannya duduk seorang diri di sana! Dan satu hal lagi, uang anda tidak berpengaruh disini!"


Alia semakin kesal dengan sikap semena mena Hisyam, hingga dengan kasar ia membuka pintu depan namun segera di tepis oleh Hisyam.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak berniat untuk duduk di samping pria itu bersama Assyifa, kan?"


"Kenapa? Bukankah aku harus duduk dengan dia yang setara denganku"


Ucap Alia dengan suara bergetar, antara marah dan sedih, namun yang pasti ia merasa sakit dengan ucapannya sendiri.


Hisyam menghela napas dalam, melihat luka dalam tatapan istrinya yang berkaca-kaca entah mengapa membuat hatinya ikut merasakan sakit kali ini.


"Duduklah di belakang...."


Titah Hisyam dengan nada sedikit merendah, namun Alia bersikeras bahkan masih bergeming di tempatnya.


"Please, ini untuk kenyamanan Assyifa.... aku akan pindah ke depan seperti yang kamu inginkan"


Keegoisan Hisyam seakan luntur hingga ia memutuskan untuk mengalah.