Single Parents

Single Parents
MENJADI SEORANG IBU.



Setelah keluar dari kamar mandi, tak ada siapapun selain dirinya di kamar besar itu.


Karna merasa bosan Alia pun memutuskan untuk keluar dan menghampiri kamar Ozan yang berada di samping kamar Hisyam.


Alia melangkah perlahan mendekati dua bocah kecil yang sedang bermain ria sesekali berceloteh bersama pengasuh baru yang di pekerjakan oleh nyonya Farida.


Alia menatap lamat-lamat wajah bocah yang memiliki tahun dan tanggal lahir yang sama.


Kedua malaikat kecil itulah yang menjadi alasannya, mengapa dirinya begitu yakin dengan keputusannya untuk menerima tawaran dari nyonya Farida waktu itu.


"Nyonya disini?" Tanya wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahunan itu.


Sementara Alia hanya tersenyum sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya dan ikut duduk melantai di samping pengasuh itu.


"Oh...." Pengasuh itu ber oh ria saja sembari mengangguk tanda mengerti dengan kode yang di berikan oleh Alia.


Tapi memang dua bocil itu sangat pintar, hingga dengan cepat menyadari kehadiran Alia di belakan mereka.


Karna sudah terlanjur ketahuan, Alia pun serta merta merentangkan tangannya pada dua bocah yang sudah tak memperdulikan tumpukan mainan di hadapannya.


Setelah menyadari kehadiran mamanya, membuat Ozan dan Assyifa berlomba-lomba memeluk Alia dengan penuh kasih sayang.


"Sepertinya Ozan sangat merindukan nyonya"


Ucap si pengasuh sembari bangkit untuk membereskan tumpukan mainan ke dalam box.


"Biar saya yang membereskannya, sebaiknya kakak istirahat saja"


Titah Alia sopan dan lembut pada pengasuh yang memang terlihat tua darinya.


Seakan bisa merasakan lelah yang di rasakan pengasuh itu, Alia pun menyarankan agar pengasuh itu beristirahat.


"Tidak apa-apa, nyonya, lagi pula ini hari terakhir saya bekerja disini, jadi saya akan melakukan yang terbaik sampai akhir"


"Hari terakhir, kenapa? Apa kamu tidak betah disini?" Tanya Alia beruntun.


"Oh, bukan begitu nyonya, ini memang perjanjiannya" Jelas si pengasuh.


"Maksudnya?"


Alia mulai berpikir nyonya Farida sengaja membuat perjanjian seperti itu karna dirinya sudah kembali dan menurutnya mengurus Ozan memang seharusnya sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Um... begini, karna saat ini begitu sulit untuk menemukan pengasuh yang bisa di percaya, nyonya Farida meminta bantuan majikan saya agar saya bisa menjaga Ozan sampai waktu yang di tentukan, dan besok saya akan kembali ke pekerjaanku" Jelas si pengasuh.


"Owh, begitu..." Jawab Alia singkat.


"Bagus juga aku bertanya padanya, dengan begitu aku tidak akan salah paham dengan sikap baik nyonya Farida padaku...


Argh.... Alia apa yang kamu pikirkan, meski pun nyonya Farida memintamu untuk menikah dengan putranya, bukan berarti beliau benar-benar menginginkanmu untuk menjadi menantunya...."


"Nyonya! Apa anda baik-baik saja?"


"Ah, ya, saya baik-baik saja, kamu bisa pergi sekarang, biar saya yang mengurus Ozan dan Assyifa" Jawab Alia gugup.


"Kalau begitu saya keluar dulu"


Ucap si pengasuh sebelum meninggalkan ibu muda itu bersama kedua anak-anaknya.


-


Suara riuh terdengar dari kamar mandi saat nyonya Farida memasuki kamar Ozan, terlihat pintu kamar mandi sedikit terbuka, membuat wanita paruh baya itu penasaran untuk mengintip aktivitas dua balita yang sedang menikmati saat-saat bersama mamanya.


Nyonya Farida tersenyum lembut melihat keceriaan di depan mata yang telah lama ia nantikan dalam hidupnya.


"Betapa bahagianya masa tuaku andai saja Hisyam bisa melupakan kekecewaannya di masa lalu dan menerima serta mencintai Alia dengan tulus....


Dengan begitu aku tak akan khawatir tentang ibu sambung yang buruk, seperti di film-film yang pernah aku tonton..."


Bisik nyonya Farida sambil bergidik ngeri membayangkan serial televisi yang selalu menjadi gambarannya setiap kali memikirkan masa depan cucunya jika putra sulungnya sampai mendapatkan istri seperti Renata lagi.


"Tapi menurut Hisyam dia tak akan menikah lagi, apa mungkin.... putraku sudah tak tertarik lagi pada wanita?


Argh.... jika memang benar Hisyam seperti itu, apa kata orang jika tahu putra sulung keluarga Ozmand yang handsome dan kharismatik itu ternyata....."


"Ternyata apa, mom?" Hisyam tiba-tiba saja menyela.


Ternyata putra sulung nyonya Farida yang handsome dan kharismatik itu sudah mendengarkan ocehan mamanya sedari tadi namun memilih untuk diam dan menunggu.


"Honey! Sejak kapan kamu di sini?" Tanya nyonya Farida basa-basi.


"Aku mendengar semuanya, sejak mama mulai berimajinasi seperti seorang penulis novel, sampailah, mama menuduhku dengan kecurigaan mama yang tak mendasar itu"


Jelas Hisyam sambil melipat tangan di dada, meski sedikit mengejek, ekspresi Hisyam masih terlihat serius dan datar.


"Lalu, katakan, kamu juga mendengar apa keinginan terbesar mama tadi, kan?" Tanya Farida antusias.


"Oh, come on, honey, you know what i mean.... (ayolah nak, kamu tahu apa yang mama maksud)"


Cegah nyonya Farida dengan nada memelas.


"Nyonya, tuan, sejak kapan kalian di sini?"


Tanya Alia heran mendapati ibu dan anak itu tiba-tiba masuk tanpa di sadarinya.


"Ah, kami baru saja masuk, honey....


Astaga Alia! Apa yang kamu lakukan di dalam sana, kenapa kamu basah kuyup seperti itu, nak?"


"Oh, Alia baru saja selesai memandikan Ozan dan Assyifa, dan mereka tak ingin berhenti bermain air"


Jelas Alia sambil memegang tangan mungil anak-anaknya di kiri dan kanannya.


"Meski mereka sangat suka bermain air, tapi mereka juga bisa terserang flu jika terlalu lama bermain air"


Hisyam tiba-tiba menyela membuat nyonya Farida spontan melirik tajam ke arah putranya.


"Kamu tidak tahu saja, kalau anak-anak sangat menyukai air" Sindir mamanya sambil mendekati menantunya.


"Memang kamu tidak kerepotan? Seharusnya kamu memanggil pengasuh atau salah satu maid untuk membantumu" Saran nyonya Farida.


"Terima kasih nyonya, tapi untuk masalah Ozan dan Assyifa Alia sama sekali tidak merasa kerepotan, ini kan memang tugas Alia"


"Baiklah, itu terserah kamu, tapi jika merasa kesulitan kamu jangan segan untuk meminta bantuan....


Uh, dan satu hal lagi! Tadi kamu masih memanggil saya, nyonya, dan memanggil suamimu dengan sebutan, tuan, kan?"


Lagi-lagi nyonya Farida heboh, kali ini wanita paruh baya itu bukan lagi mempermasalahkan cara Alia memanggil dirinya dengan sebutan, nyonya, tapi dia juga tak ingin jika Alia terus-terusan memanggil suaminya dengan sebutan, tuan.


"Mom, ayolah, kenapa harus mempermasalahkannya lagi, mungkin saja nona Alia labih nyaman dengan...."


"What! Even you, too!"


"(Apa! Bahkan Kamu, juga!)"


Bentak Farida tak percaya jika putranya ikut-ikutan menyebut istrinya dengan sebutan nona.


"Sudahlah, mom, biarkan semuanya berjalan seperti biasanya"


Hisyam kembali menyuarakan pendapatnya dan Alia hanya bisa terdiam mendengarkan.


Kini ibu muda itu semakin merasa buruk karna telah memulai perdebatan di antara ibu dan anak itu.


"Bagaimana menurutmu, Alia?"


"Apa!"


Alia kelabakan pasalnya ia tak terlalu menyimak pembicaraan dua beranak itu apalagi ingin ikut campur dalam permasalahan keluarga yang seserius itu.


"Bagaimna menurutmu, Alia? Bukankah akan jadi rumit jika ada pelayan yang mendengar kamu memanggil suamimu dengan sebutan itu, padahal mereka tahu kalau kalian sudah menikah?"


Nyonya Farida membujuk menantunya agar berpihak padanya.


"Oke, jadi apa yang mama inginkan?" Tanya Hisyam.


"Mama ingin pernikahan kalian di umumkan ke publik!"


"What! Mom! No.... oke, aku akan mengubah caraku memanggilnya dan bersikap layaknya suami istri di depan para maid, tapi tidak untuk publik!" Hisyam kembali menawar.


" Tapi, Hisyam....."


"Mom, aku akan memastikan tak ada seseorang pun di rumah ini yang berani membocorkan rahasia ini!" Tantang Hisyam dan tetap teguh pada pendiriannya.


"Really? Apa kamu yakin tak akan ada masalah lagi dengan segerombolan wartawan?


Dan, apa kamu lupa bagaimana perseteruanmu dengan Hamish bisa di ketahui publik, juga foto-foto kedekatanmu dengan Alia waktu itu? Itu karna tanpa kita sadari ada seseorang yang diam-diam mengawasi kita...."


Nyonya Farida terlihat serius ia kembali mengingatkan putranya bagaimana foto-fotonya bersama Alia bisa di gunakan untuk mengancam keluarganya waktu itu.


Padahal foto itu di ambil di kamar Ozan dan waktu itu hanya ada putranya dan Alia lah yang berada di tempat itu.


Hisyam dan Alia terdiam, setelah mendengar penjelasan dari mamanya, Hisyam tampak memutar otak, menurutnya apa yang di katakan mamanya memang benar dan ada seseorang di antara mereka yang perlu di waspadai.


"Mama harap kali ini kalian bisa lebih waspada dan berhati-hati dengan tindakan kalian"


Nyonya Farida kembali mengingatkan sembari menghampiri pintu.


"Oya, Alia, mama mengundang tuan Farhan dan keluarganya untuk makan malam dengan kita, dan Hisyam bantulah Alia menyiapkan Ozan dan Assyifa layaknya seorang suami dan ayah yang baik!" Titah nyonya Farida.


Sambil tersenyum menggoda putranya, wanita paruh baya itu kembali melanjutkan langkahnya dan tinggallah sepasang suami istri itu bersama kedua balita mungilnya.