Single Parents

Single Parents
Beby El



Pasti akan ada ketenangan setelah badai datang.


Sinar matahari perlahan mulai menghilang keperaduan, berganti dengan indahnya sinar rembulan malam dan kemerlip bintang.


Ruang rawat VVIP itu kini terlihat hening, sang pasien tuan muda Dean Wilson saat ini tengah terlelap usai mengalami kesakitan yang luar biasa.


Hanya ada Semmy sang asisten yang setia menemaninya saat ini. Sedangkan kedua orang tuanya tengah kembali kerumahnya untuk menyelesaikan beberapa hal.


Ceklek


Dokter Arya perlahan masuk kedalam, melakukan pengecekan untuk yang terakhir kali pada hari ini.


"permisi tuan.." sapanya pada Semmy yang tengah fokus pada benda tipis bernama laptop didepannya.


"silahkan dokter." ujar Semmy tanpa mengalihkan fokusnya.


Setelah melakukan pengecekkan dokter Arya membereskan peralatannya dan mohon pamit pada Semmy.


"tunggu dok, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, duduklah dulu." titah Semmy.


Dengan hati yang berkecamuk, perlahan dokter Arya berjalan mendekat dan duduk bersebrangan dengan Semmy. Ia mencoba menenangkan diri agar tidak gugup, berkali-kali terdengar helaan nafas dari dokter Arya.


"tidak usah gugup dok, saya hanya ingin bertanya beberapa hal saja." seolah tau apa yang dirasakan dokter Arya, Semmy mencoba bersikap bersahabat.


"iya tuan."


"dokter Arya, disini andalah yang paling tahu akan kondisi tuan Dean, jadi.. anda pasti tau kan apa yang ingin saya tau?!." walaupun Semmy berkata dengan ringan tapi disetiap katanya mengandung penekanan, meminta penjelasan.


"tuan, itu.."


ceklek


Belum sempat dokter Arya menjelaskan, kedua orang tua Dean telah datang.


"kita bicarakan besok lagi dok." ujar Semmy.


"iya tuan, kalau begitu saya permisi, mari tuan nyonya.." dokter Arya melangkah meninggalkan ruangan rawat Dean setelah berpamitan pada nyonya dan tuan besar.


🏠


🏠


🏠


Bandung


"ihh.. lucunya.. gemes deh.." Clara berkali-kali mencium pipi gembul bayi yang baru lahir beberapa jam itu.


"kalo bangun tinggal di kembaliin pada yang punya." deretan gigi putih Clara pamerkan pada sang mama, "jadi pengen deh mah, lucu banget.." ujarnya gemes.


"hus!, nikah dulu!."


"ya iyalah ma nikah dulu, ya kali Clara.."


"udah-udah kamu taruh lagi tuh bayinya biar tidurnya nyenyak." potong Seli.


"iya mah.."


Belum sempat Clara meletakkan kembali, bayi mungil itu malah menangis keras, dan itu sukses membuat Clara panik.


"cup.. cup.. duh gimana ini ma.. gak mau diem dia.." Clara menimang-nimang bayi itu dalam gendongannya.


"tuh kan mama bilang juga apa." Seli mengambil alih bayi Dira, tapi sayangnya bayi itu juga tidak mau diam di gendongan Seli, membuat dirinya juga ikut pusing.


"ada apa sih.." Dira mengucek pelan sudut matanya, merasa tidurnya terganggu dengan kebisingan yang ada.


"nak Dira, kamu kasih ASI dulu ya bayi kamu.." Seli menyerahkan bayi itu pada Dira.


"iya Tante."


"uluh.. uluh.. anak mommy aus ya cayang.. sini minum dulu ya nak.." Dira mulai memberi ASI pertamanya, sudut bibirnya tertarik keatas takala melihat bayinya minum dengan rakus.


"uluh uluh.. aus banget ini ya ponakan onty.." dengan jahilnya Clara menoel pipi gembul bayi yang tengah meng ASI itu.


"Clara, biar minum dulu." lagi-lagi Seli memperingati.


"iya iya ma.."


"Dira, kamu sudah kasih nama belum sama bebymu ini?." Seli mengusap lembut bayi Dira yang sudah selesai minum.


"udah Tante, namanya Excel Giovano, panggilannya Beby El."


"wah.. nama yang bagus, halo Beby El, aku onty Clara."


"halo onty aku beby El emes.." jawab Dira dengan menirukan suara anak kecil.


Dira, Clara dan juga Seli menyambut hangat kehadiran Beby El dengan suka cita, setelah tadi banyak drama yang ada..


"welcome to the world Beby El.'


🖤