Single Parents

Single Parents
Lembaran baru



Semburat warna jingga nampak begitu apik terlihat di langit senja.


Hembusan angin sepoi-sepoi menambah ketenangan bagi setiap insan yang merasakannya.


Ditengah hamparan pohon teh terdapat dua pemuda yang tengah menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan.


Keduanya berjalan beriringan, sesekali tangan itu memetik dan menghirup aroma daun teh tersebut.


"bukankah disini sangat menenangkan Sem.." seru pemuda yang berjalan didepan orang yang ia panggil Sem.


"iya bos.."


Terdengar kekehan pelan dari orang tersebut. "kita hanya berdua tak perlu seformal itu Sem.."


"apa kau sudah mencari tau tentangnya?." tanyanya lagi.


"menurut orang suruhanku, sudah dua hari ini dia tidak berangkat kerja. Aku juga sudah mendapatkan alamatnya." jelas Semmy.


"bagus, kapan kita kembali kesana?."


"malam ini kita sudah bisa kembali, tapi.."


"aku sudah tidak apa-apa Sem, baiklah kita kembali ke hotel dan bersiap-siap." Dean memutar langkah kakinya, kembali kehotel dan bersiap kembali ke ibu kota.


Setengah jam berlalu, keduanya kini sudah berada didalam mobil.


"Dean, apa kau yakin?, aku khawatir dengan kondisimu." terlihat jelas rasa khawatir dari wajah Semmy.


"aku tidak apa-apa Sem, ayo berangkat."


yah, sudah dua hari ini kesehatan Dean menurun, mungkin efek karena terlalu banyak pekerjaan dan kurangnya istirahat.


Ia mengeluh pusing dan sedikit mual terhadap bau-bau tertentu, tidak parah memang, tapi itu mampu membuat Semmy khawatir tingkat dewa. Pasalnya Dean tidak akan pernah mengeluh jika sakitnya tidak parah.


Ia juga sudah memeriksakannya, dan jawaban dokter hanya kelelahan dan butuh istirahat, syukurlah.


Mobil yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan kawasan hotel mewah di kota Bandung.


Turut berjibun dengan kendaraan lainnya, membelah jalan raya menuju ibu kota.


🚗


🚗


🚗


"kau siap?." Clara melihat wajah Dira yang duduk disampingnya.


"yah, aku siap, siap memulai lembar hidup baru. Makasih Cla.." ia menatap sahabatnya dengan raut wajah yang entah apa.


"huh.. oke, les go.."


Mobil itu membelah jalan raya yang menyebalkan. Tau sendirilah jika pagi itu seperti apa padatnya.


Semalam Dira telah memikirkan matang-matang akan hal ini. Benar apa yang Clara ucapkan, ia pasti akan digunjing banyak orang jika perutnya membesar nanti, apalagi sekarang ia sendirian, ya.. walaupun Clara selalu ada untuk membelanya.


Setelah megirim surat pengunduran dirinya tadi malam, ia menitipkan pada salah satu ojol untuk mengirimkannya ketempat ia kerja.


Tak lupa ia juga berpamitan pada tetangga kanan kirinya jika ia dipindah tugaskan kecabang cafe lainnya.


"huh.." terdengar hembusan nafas dari mulut Dira.


"keputusan mu udah bener Dir." Clara menepuk tangan Dira pelan.


"iya.." Dira menoleh dan tersenyum pada Clara.


Tak ada percakapan lagi diantara keduanya.


Clara tengah fokus dengan jalanan, sedangkan Dira memilih membuang pandangannya kejalan raya.


Perjalanan yang cukup melelahkan, kini mereka telah sampai di kota Bandung.


Melintasi hamparan sawah dan pepohonan yang menjulang, Clara mematikan AC nya dan membuka jendela kaca mobilnya.


Hembusan angin menerpa keduanya, sangat menyejukkan.


Merek melewati jalan yang berliku-liku. Dira melihat dua buah gapura besar didepannya.


"nah, sebentar lagi kita sampai." Clara menunjuk gapura didepannya.


Dira hanya mengangguk pelan.


Mereka melewati rumah-rumah penduduk yang masih sangat jarang, jarak antara satu rumah ke rumah yang lainnya sangatlah jauh. Namun, walaupun begitu kondisi jalannya tetap halus seperti jalan raya.


Mobil Clara berhenti tepat di depan rumah yang tidak terlalu mewah, dengan halaman yang lumayan luas, mungkin mampu menampung 10 mobil disana.


Keduanya turun dari mobil dan disambut hangat oleh mamahnya Clara yang sudah berada di teras rumah.


🖤