Single Parents

Single Parents
MEMULAI AWAL YANG BARU.



SEBELUMNYA.


Sepeninggalan Alia tak menyurutkan emosi dua beradik yang masih berseteru, mempertahankan argumennya masing-masing


"Bruukk!"


Hisyam terdiam merasakan pukulan Hamish yang kedua kalinya mendarat di tulang pipinya.


Merah lebam yang berbekas di wajahnya tak membuat Hisyam berpikir untuk membalas perlakuan Hamish padanya.


Dirinya memang salah, ia sangat tahu itu, tapi membiarkan Alia hidup bersamanya sama saja ia menghalangi cinta dua anak muda itu.


Tapi saat ini bukan itu masalahnya, karna semua hanyalah salah faham dan masalah sebenarnya adalah, apakah wanita itu bisa bertahan dengannya?


Hisyam sekarang tak punya apa-apa lagi, tentunya ia hanya akan menghancurkan masa depan wanita muda itu, di tambah lagi sikap arogannya yang selalu menyakiti hati Alia yang lemah lembut.


"Hisyam Al Jaziri Osmand, seorang pebisnis handal dengan pencapaian yang tak di ragukan lagi.....


Namun sayang, kamu begitu buruk dalam urusan wanita"


Sindir Hamish sambil meregangkan otot tangannya.


"What you know about women, aku bahkan melepasnya untuk pria muda dan ber-aset sepertimu, so, aku kurang mengerti apa lagi, coba.... " Jawab Hisyam dari sudut pandang dan pengalamannya.


"Mungkin, untuk segelintir wanita, tapi, apa kamu tahu bagaimana cara pikir wanita seperti Alia, ia akan berubah pikiran secepat ia mengganti pakaian jika...


Jika keputusannya untuk menikah tak selaras dengan hati nuraninya, meski harta dan kekayaan sudah ada di depan matanya" Jelas Hamish seolah sedang menyampaikan pidato pada kakaknya.


Dan dengan air muka serius, putra kedua dari keluarga Osmand itu berlalu meninggalkan kakaknya yang masih mencerna setiap kata yang terasa tamparan keras baginya, bahkan lebih keras dari pukulan Hamish pada tulang pipinya yang kian berubah membiru.


-


PLASH BACK OFF.


Setelah memastikan suara Hisyam tak terdengar lagi, Alia akhirnya keluar setelah hampir sejam berdiam diri di kamar mandi.


Setelah pembicaraan tadi, Alia sengaja menghindar dari pria itu, nyatanya penolakan yang di terima dari Hisyam membuatnya tak memiliki keberanian untuk persitatap dengan pria itu.


Alia keluar dari kamar mandi dengan mengendap endap, tapi setelah melihat Hisyam sudah tertidur pulas, barulah ia bisa bernapas lega.


Alia tau Hisyam sedang menunggunya untuk menyelesaikan pembicaraan mereka yang selalu tak berujung.


Tapi karna wanita itu tak kunjung keluar, akhirnya Hisyam pun tertidur di atas sofa tanpa mengenakan bantal maupun selimut.


"Hm.... andai aku bisa memendam rasa ini lebih lama lagi, pasti kami tak akan berada dalam situasi canggung seperti ini"


Batin Alia, saat menatap suaminya yang sudah terlelap.


Setelah meletakkan selimut di ujung kaki Hisyam, Alia pun kembali ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di atas spring bed king size di kamar itu.


Alia mengeliat ke sana ke mari namun pikirannya terus berkelana entah kemana, pikirannya berkecamuk hingga butuh waktu lama untuk bisa terbang ke alam mimpi.


-


Subuh itu, Hisyam terbangun lebih dulu sebelum Alia, ia bergegas membersihkan diri dan mengambil wudhu sebelum menghampiri Alia yang masih tertidur pulas.


Perlahan ia mendekati wanita yang tertidur pulas di tempat tidur yang seharusnya menjadi miliknya semalam.


"Aku bahkan tak tahu seberapa besar dampak dari peristiwa buruk yang kamu alami sehingga membuatmu begitu takut saat aku membawamu kemari"


Ucap Hisyam dalam hati, dengan diam-diam ia memperhatikan wajah teduh istrinya di saat wanita itu masih berselancar di alam mimpi.


Alia mengeliat pelan dari balik selimut yang terasa hangat mengubur tubuh kecilnya.


Meski matanya terasa berat tapi ia harus bangun sebelum waktu subuh terlewatkan dengan sia-sia.


Tapi, bukan lagi mengeliat, Alia bahkan terjungkal saat memdapati Hisyam sedang memerhatikannya dari jarak yang sangat dekat.


"Ke-kenapa tuan ada di sini?"


Tanya Alia sambil menarik selimutnya hingga ke dada.


"Tadinya aku ingin membangunkanmu tapi, ku lihat tidurmu begitu nyenyak sampai aku tak berani mengganggumu"


"Membangunkanku? Kenapa?"


"Tentu saja untuk sholat, apa kamu berpikir aku membangunkanmu hanya untuk berbicara...."


"Uh, iya, tentu saja, sudah waktunya untuk sholat subuh, kan?"


Alia menjawab pertanyaannya sendiri takut topik pembicaraan mereka jadi merembet ke mana-mana.


Dengan senyum yang sengaja di buat-buat, Alia bergegas meninggalkan Hisyam dan berlari ke kamar mandi, malu dengan tingkahnya sendiri.


Sudah berapa menit Hisyam sudah menunggu kedatangan Alia dengan sabar, namun wanita itu masih bergeming menatap pantulan dirinya di dalam cermin.


Terlalu malu untuk menampakkan diri, membuat Alia berandai-andai untuk kabur lewat jendela, tapi bagaimana bisa ia melakukan hal itu jika dirinya sedang berada di kamar hotel yang ia sendiri tak tahu seberapa tinggi gedung yang menjulang itu.


"Alia! Apa masih lama?"


Teriakan Hisyam menyadarkan Alia dari lamunannya, hingga dengan kalang kabut wanita itu keluar dan hampir bertubrukan dengan suaminya.


"Maaf saya tidak....."


"Tidak apa-apa, bisa kita sholat sekarang?"


Alia mengangguk lalu menggapai mukena yang di berikan oleh Hisyam dengan ragu-ragu.


"Sengaja saya memintanya saat pelayan membawakan makan malam ke sini"


Mengerti apa yang ada dalam benak Alia, Hisyam pun menjawab sambil menunjuk sebuah makanan yang terletak di atas meja sejak semalam.


"Semalam? Jadi sejak semalam makanannya...."


Hisyam hanya mengangguk mendapat pertanyaan dari Alia yang terlihat menyesal sekaligus tak percaya akan penjelasan Hisyam, di tambah lagi ia sama sekali tak mencium aroma makanan di ruangan itu.


"Ah.... itu bukan apa-apa, kita bisa menggantinya dengan yang ba...."


Hisyam tak melanjutkan kata-katanya, ia tahu Alia sangat benci pemborosan apa lagi soal makanan, karna menurutnya masih banyak orang di luar sana yang bekerja mati-matian hanya untuk sesuap nasi.


Tanpa melanjutkan kata-katanya, Hisyam berlalu mengambil posisi di depan, menjadi imam bagi Alia untuk yang kedua kalinya.


Setelah memanjatkan doanya yang terakhir Hisyam berbalik mengulurkan tangannya yang di sambut ragu oleh Alia.


Setelah mencium tangan suaminya dengan takzim Hisyam berinisiatif mendekati Alia dan mencium pucuk kepala istrinya dengan hangat.


Selain saat akad nikah, ini pertama kalinya Alia mendapat kecupan dari suaminya, terasa hangat dan menentramkan namun Alia segera menyadarkan diri agar tak terlena oleh perlakuan lembut suaminya.


"Duduklah, kita perlu membicarakan ini?" Hisyam membuka suara saat Alia bergegas ingin segera bangkit.


"Alia please, jawab aku dengan jujur... apa kamu benar-benar yakin dengan perasaanmu?"


Alia akhirnya mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan dari suaminya.


"Maksudku adalah.... apa kamu tak akan menyesal dengan keputusanmu ini?"


Lagi-lagi Hisyam memastikan, takut jika Alia keliru dengan perasaannya.


"Um.... sudah pagi, bisakah tuan melupakan saja masalah ini"


Alia mengalihkan pembicaraan, ia bergegas bangkit saat melihat Hisyam sedang menatap lekat ke bola matanya.


"Ayo mulai semuanya dari awal!"


Teriak Hisyam dan ikut bangkit dari duduknya.


"Beri aku kesempatan, aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk Assyifa"


Hisyam mendekati Alia yang masih mematung, dalam hatinya wanita yang masih mengenakan gaun biru itu merasa ragu, apa Hisyam berubah pikiran hanya karna takut kehilangan sosok pengasuh seperti dirinya atau pria itu benar-benar sudah menerima kehadirannya?Tak ada yang tau hati seseorang.


"Kamu mau, kan, memberiku kesempatan kedua"


Dengan ragu Hisyam meraih tangan Alia berharap wanita di hadapannya bisa merasakan kesungguhan hatinya.


"Sebenarnya.... aku tidak yakin" Lirih Alia lalu kembali menatap marmer di ujung kakinya.


"Tidak yakin? Tapi semalam bukankah kamu...."


"Memang benar! Tapi sekarang aku tidak yakin apa aku bisa menjadi seorang istri yang tuan inginkan?" Jawab Alia yang masih menunduk.


"Ah, benar kata Hamish, pikiran wanita bisa dengan cepat berubah"


Pikir Hisyam sambil menyunggingkan senyum simpul di bibirnya.


"Bagaimana dengan perkataanmu yang mengatakan kalau kamu merasa nyaman dan terlindungi saat berada di sisiku?" pancing Hisyam lagi.


"Um itu.... kupikir aku mengatakan hal itu karna merasa takut jika harus menjalani hidup sebagai seorang ibu tunggal lagi...." Tepis Alia lagi.


"Hm... justru itu, ayo kita mencobanya sekali lagi, mungkin dengan kesempata kedua ini, kita bisa lebih mengenal satu sama lain"


Bujuk Hisyam.


Melihat senyum tipis di bibir istrinya membuat pria itu sedikit membungkuk menelisik wajah Alia yang merona bak kepiting rebus.