Single Parents

Single Parents
GARA-GARA JARUM SUNTIK.



Di samping brangkar tempat Hisyam berbaring, Alia terus bermondar-mandir, menunggu kedatangan nyonya Farida dari ruangan Dokter Daniel.


Sejak Hisyam di pindahkan ke ruang VVIP, tempat Hisyam di rawat sekarang, tak pernah sekalipun Alia meninggalkan suaminya meski sekadar keluar untuk mengisi perut.


Lelah menungggu kedatangan nyonya Farida, Alia pun kembali duduk di samping Hisyam.


Alia menatap sendu wajah Hisyam, wajah yang tadi pucat seakan tak di aliri darah, kini perlahan pulih.


Dengan ragu Alia mengulurkan tangan, ingin menyentuh kening Hisyam, tapi pada akhirnya di urungkan juga niatnya itu.


Alia menghela napas dan hanya bisa duduk termangu melihat kondisi Hisyam yang entah tertidur atau pingsan setelah mendapat penanganan medis dari Dokter Daniel.


"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi pada tuan, hm?" Bisik Alia yang penuh kekhawatiran.


Meski pelan dan hampir tak terdengar, namun bisa membuat lengkungan samar di bibir Hisyam.


Beberapa menit kemudian pintu di buka, menampilkan sosok Dokter Daniel dan nyonya Farida melangkah memasuki ruang rawat Hisyam yang di lengkapi dangan berbagai fasilitas mewah di dalamnya.


"Mah! Apa yang terjadi? Dokter Daniel, kenapa dia belum sadar juga" Alia bangkit, tanpa sabar ia melontarkan pertanyaan beruntun untuk Dokter Daniel dan mama mertuanya.


"Kami telah memeriksa hasil tes-nya, dan Hisyam mengalami keracunan makanan" Jawab Dokter Daniel sambil memindai wajah cantik wanita yang pernah tertera dalam daftar pencarian cintanya beberapa waktu lalu.


"Jangan khawatir, Alia, sekarang Hisyam hanya tidur, dia baik-baik saja, beruntung Dokter Daniel bisa mengeluarkan semua sisa makanan dalam tubuhnya" Bujuk Farida.


"Ta-tapi, mah, keracunan makanan? Bagaimana bisa?"


Sejenak Alia berpikir, heran, setaunya, selain masakan bik Ina, Hisyam hanya memakan makanan dari restoran langganannya, bahkan ia tak mengijinkan makanan cepat saji terhidang di meja makannya, lantas bagaimana ia bisa mengalami keracunan makanan?


"Begini, Alia, kami telah melakukan serangkaian tes dari makanan yang telah ia konsumsi, dan di temukan beberapa makanan tersebut menggunakan bahan yang keamanannya masih di ragukan"


"Beberapa makanan? Tapi tuan Hisyam hanya.... tunggu dulu! apa jajanan pasar yang kemarin....."


Alia membulatkan matanya, menatap Hisyam yang tengah terbaring, ia ingat sekarang, ternyata Hisyam juga ikut melahap gorengan yang di belinya di pasar kemarin.


"Alia....!" Panggilan Farida membuyarkan lamunan Alia.


"Ya.....?"


"Kenapa kamu diam, kemarin kalian tidur di luar, apa ada sesuatu yang terjadi dan mama tidak tahu?"


Farida mulai takut, pasalnya putra sulungnya itu begitu teliti dalam memilih makanan, hingga ia berpikir ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai Hisyam, apa lagi putranya itu memang memiliki banyak saingan bisnis termasuk dari kalangan mafia.


"Sebenarnya.... kemarin sebelum kami pulang, aku dan tuan Hisyam sempat mencicipi makanan pasar gitu...." Jelas Alia sambil menundukkan kepala, takut jika mertuanya menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa putranya.


"Makanan pasar!" Daniel heboh.


"Maksudmu makanan yang di jual di pinggir jalan itu?" Timpal Farida kemudian menatap Daniel, tak percaya jika Hisyam melakukan hal itu.


Alia mengangguk, "Ini semua salahku, awalnya tuan Hisyam menolak permintaanku yang ingin menyicipi jajanan pasar, tapi, aku terus memaksanya dan akhirnya dia juga ikut melahapnya...."


"Alia! Kalian sudah menikah cukup lama, seharusnya kamu sudah tahu, makanan apa yang baik dan aman untuknya!"


Dokter Daniel menimpali, tak percaya dengan apa yang di katakan Alia barusan.


"Maaf, seharusnya aku tau semua itu berbahaya untuk kesehatanya, tapi aku malah...."


"Sudah, sudah! jangan berdebat di sini, ayo kita pulang, biarkan Hisyam beristirahat" Saran Farida sembari meraih sling bagnya.


"Mah" Panggil Alia saat Farida sedang menaikkan selimut putranya.


"Mama pulang saja, biar Alia yang menemani tuan Hisyam disini" Tambah Alia begitu Farida menoleh ke arahnya.


Mendapat saran dari menantunya membuat Farida berpikir sejenak sebelum menitipkan putranya pada menantu kesayangannya itu.


"Baiklah, tapi jangan lupa hubungi mama jika sesuatu terjadi padanya"


Pesan Farida sebelum meninggalkan pasangan suami istri itu berdua.


Alia terduduk lesu di samping suaminya, setelah hanya tinggal dirinya dan Hisyam di kamar itu ia pun kembali di hampiri rasa bersalah atas apa yang menimpa Hisyam hari ini.


"Maaf.... ku pikir selama ini tuan hanya ingin pamer.... seharusnya aku tahu kenapa selama ini tuan begitu pemilih soal makanan" Ungkap Alia sambil menyandarkan kepalanya di lengan Hisyam.


Alia terus merutuki dirinya, mengungkapkan semua penyesalan atas apa yang menimpa suaminya hingga akhirnya pria itu harus terbaring di ranjang rumah sakit itu.


"Jadi selama ini pikiranmu masih tetap buruk padaku? Hm....!"


Meski dengan kondisi yang masih lemah, Hisyam yang sudah terbangun sejak tadi, akhirnya angkat bicara di ikuti helaan kasar tanda kekecawaannya pada Alia.


"Bu-bukan seperti itu.... tuan sudah bangun? Apa yang tuan rasakan? Ada yang sakit? Biar ku panggilkan dokter Daniel!"


"Tidak perlu" Cegat Hisyam seraya menyambar tangan Alia.


"Nanti saja, duduklah di sini, kita bisa memberi tahu perawat hanya dengan menekan tombol ini" Jelas Hisyam sambil menunjukkan sebuah tombol pada Alia.


"Tapi itu untuk darurat saja"


"Jadi menurutmu, aku tidak membutuhkan hal seperti itu disini!"


"Bu-bukan seperti itu, maksudku adalah...."


Alia menghentikan kata-katanya ketika dokter Daniel yang di ikuti beberapa perawat di belakangnya menerobos masuk tanpa permisi.


"Ada apa! Kenapa dokter membawa begitu banyak perawat kemari!" Tanya Alia heran dan tak mengerti dengan situasi saat itu.


"Bukankah kamu menekan tombol darurat, itu sebabnya aku kemari" Daniel tak kalah heran.


Sementara Alia yang semakin bingung hanya bisa menatap Hisyam dengan alis yang sedikit terangkat ke atas.


"What? Itu...."


Hisyam merasa terpojok dengan tatapan Daniel dan Alia yang secara bersamaan menuntut jawaban darinya.


"Dia bilang keadaanku tak separah itu, so, i called you to axplain my situation"


Jelas Hisyam yang sedikit mengedipkan matanya, berharap sahabatnya itu bisa memahami kode yang di berikannya.


"Aaaa.... benar!" Si dokter akhirnya mengerti.


"Hahaha....! Seharusnya aku memeriksanya terlebih dahulu"


Gelak Daniel seraya menempelkan stetoskop di telinganya, pura-pura memeriksa detak jantung Hisyam yang sebenarnya baik-baik saja.


"Tidak terjadi apa-apa kan, Dok?" Tanya Alia khawatir.


"Of course, eh.... i mean no!"


Daniel gelagapan menjawab pertanyaan istri dari sahabatnya itu, apalagi tangan Hisyam sudah siap menancapkan jarum suntik yang diam-diam di dapatnya dari salah satu perawat yang tadi ikut masuk bersamanya.


"Maksud dokter apa?"


"Uh, begini...." Daniel memutar otak mencari jawaban yang di inginkan oleh Hisyam.


"Um.... begini Alia, karna Hisyam mengalami keracunan makanan yang cukup parah, jadi efeknya tidak serta merta akan hilang, so, saya sarankan dia harus menginap beberapa hari lagi di sini, huft..."


Jelas Daniel seraya menghela nafas lega, selain bisa membuat Alia percaya dengan penjelasannya, ia juga lega, Hisyam akhirnya melepaskan jarum yang hampir tertanam pada bokongnya.


"Oh, begitu ya...." Jawab Alia sedih.


Ekspresinya terlihat begitu menyesal dengan apa yang menimpa suaminya, apalagi Hisyam sampai harus di rawat beberapa hari di rumah sakit hingga kondisinya kembali membaik.


Setelah merasa penjelasan dokter Daniel sudah cukup jelas, Alia pun meminta ijin untuk mengabari Farida tentang keadaan Hisyam saat ini.


Dua sahabat itu nampak berbincang serius, hinggalah hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.


"Kamu sengaja ingin menyiksaku, ya? Hanya beberapa hari katamu! You know i dont like here!"


Amarah Hisyam akhirnya meledak, untung saja ruangan itu kedap suara, jadi Alia tak mungkin mendengar lengkingan Hisyam pada sahabat sekaligus dokter kepercayaan keluarganya itu.


"Sorry boss, tapi, aku benar-benar bingung harus memberi alasan apa padanya, belum lagi jarum suntik itu hampir saja menodai bokongku yang mulus ini" Daniel berusaha membela diri.


"Hm....! Aku tidak mau tahu, cari cara agar aku bisa keluar secepatnya dari sini!" Titah Hisyam.


"Dengan cara apa lagi, Hisyam! Aku sudah bemberi alasan yang cukup masuk akal padanya, mustahil ia akan mempercayaiku lagi kali ini....


Lagi pula, bukankah ini momen yang pas untuk kalian berdua, tanpa nyonya Farida, tanpa anak-anak" Daniel menjeda kata-katanya mendekatkan wajahnya ke telinga Hisyam.


"You know what, bercinta di rumah sakit itu, punya sensasi yang berbeda.... oh, how romantic isn't it?"


Goda Daniel dengan pandangan yang menerawang jauh entah kemana.


"PLAAKKK!"


Lengan Danial di pukul kuat oleh Hisyam, sehingga membuat dokter itu seketika kembali ke alam sadarnya.


"Romantic apanya? Yang ada aku bisa gila di kurung bersamamu di sini" Sembur Hisyam sambil menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan pola pikir si playboy karatan itu.


"Cih! Bercinta di rumah sakit? Bisa-bisa aku ikutan gila jika mengikuti pola pikir si brengsek ini"


Umpat Hisyam.


Memikirkan kata-kata Daniel membuat hatinya tersentil lucu, apa lagi saat wajah lugu Alia seketika muncul dalam pikiran mesum-nya.